Friday, May 15, 2026

DUIT GOCAP VS RAJA KURA-KURA TUA(MISTERI TUMBAL DAN PATI)

 

Raja kura-kura tua dan aku, si Cikrak Sapuijuk. Meskipun dalam keseharian terlihat seperti Tom & Jerry, tapi nyatanya banyak kesamaan yang kami miliki. Serasa dunia milik berdua setiap kali mendapat kesempatan untuk berbincang dengannya, dan aku kian bersemangat ketika beliau mulai membahas tentang pengalaman sisi miring-nya. Adapun cerita yang akan kubagikan selanjutnya adalah tentang pengalaman unik yang kami alami tak lama setelah menghuni keluargaku rumah kontrakan yang baru dan tentu saja ceritanya masih akan berhubungan dengan misteri tumbal dan pati.

Sedikit gambaran tentang rumah keong terbaru kami Lumayan besar meski bangunannya masih semi jadi. Terdiri dari lima ruangan. Satu ruangan yang paling luas difungsikan sebagai ruang tamu dan sedikit tempat untuk meletakkan peralatan dapur yang tak semuanya cukup jika ditempatkan di ruangan paling kecil, tapi dibuat memanjang dan bersekat, satu ruangan untuk kamar mandi dan sisanya difungsikan untuk kegiatan perdapuran. Ada dua kamar tidur yang juga bisa dibilang cukup luas, meski belum berdaun pintu, tetapi untuk kami yang terbiasa mengalihfungsikan satu ruangan sesuai kebutuhan tentu saja kamar tersebut tetap terlihat istimewa. Sebagian dinding masih berupa peluran kasar sama seperti lantainya yang dengan sukarela orangtuaku merogoh saku lebih dalam demi kenyamanan bersama, mengingat kami memang terbiasa tidur menghampar hambal di lantai. Langit-langit belum berplavon dan itu membuat penampakan rumah agak sedikit menyeramkan saat pertama kali melihatnya karena banyak sarang laba-laba serta debu yang terperangkap di setiap serabutnya menggantung pada kayu kusen. Penghuni sebelumnya sedikit kurang bertanggungjawab dan membuat rumah itu terlihat semakin tak terurus, demikian informasi yang kudengar dari pemilik rumah ketika menyerahkan kunci pada ibuku.

Beberapa meter dari rumah ada dua pohon besar tumbuh bersisian, dahan serta ranting yang saling bertaut membuat kedua pohon besar itu terlihat seperti sebuah gapura. Bapak bilang, pohon Jamblang dan pohon nangka itu ditanam berdampingan bukan tanpa alasan. Oleh orang-orang zaman dulu, kedua pohon tersebut digunakan sebagai penanda perbedaan alam. “Gerbang menuju alam lain,” ujar bapak saat mencoba menegaskan keterangannya.

Masih berdasarkan cerita bapak. Lokasi yang melewati kedua pohon termasuk bangunan yang kami tempati dulunya adalah salah satu tempat berkumpulnya pasukan gaib Prabu Siliwangi. Mau tidak percaya, tapi aku terlanjur tahu sebagian kisah hidup bapak semasa muda yang lekat dengan dunia Khurafat dari cerita ibuku. Meski belum pernah melihat penampakan kumpulan harimau seperti yang bapak lihat, tapi setidaknya aku sudah sempat berkenalan dengan penghuni salah satu pohon besar, itu.

Namun, catatan ini bukan untuk membahas tentang penunggu pohon besar ataupun pasukan gaib yang masih aktif berpatroli melainkan merekam ulang aksi lucu bapak yang sengaja menggoda seseorang yang ia ketahui ingin menjadi kaya dengan cara instan.

***

"Terus, Nie’ perhatiin berapa hari ini pas tidur Bapak kayak orang ketindihan, gitu. Itu kenapa, dah? Udah gitu kayak orang lagi berantem juga," tanyaku penasaran, segera setelah kesehatannya terlihat mulai membaik.

Jadi, setelah kami pindah, bapak punya kebiasaan baru. Berburu pakaian bekas di Pasar Senen. Bukan tanpa alasan. Krisis moneter memberi dampak lebih panjang untuk keluarga kami. Bapak tak lagi memiliki pekerjaan tetap, ibuku terpaksa ikut banting tulang dengan menjadi buruh cuci, anak-anak yang seharusnya bisa sedikit dijadikan sandaran terjebak dilemanya sendiri-sendiri karena putus sekolah, termasuk aku. Meski begitu, ibuku masih meletakkan harap pada si bungsu agar tak sampai putus sekolah seperti kakak-kakaknya.

Usia pasangan hidup yang juga tak lagi muda, tapi dipaksa untuk kembali hidup menderita mungkin membuat getir hati bapak dan untuk mengurangi penyesalannya tersebut beliau mencoba berwirausaha dengan sedikit tabungan yang ia punya. Semua peluang sudah dicoba, dimulai dari mengikuti langkahku yang iseng berjualan es sarang burung dengan mengembangkan usaha kecil yang kurintis. Mengganti lapak seadanya dengan gerobak dan tempat duduk yang lebih layak. Sedikit demi sedikit menambah varian dagangan yang semula hanya menjual es sarang burung, menjadi jus aneka buah.

Pendaringan kami sedikit teramankan untuk sesaat karena dagangan yang ramai tak menjamin banyaknya pendapatan yang bisa diraih. Istilah dagangan habis, uang pun habis ternyata benar adanya. Belakangan setelah lama gulung tikar, bapak baru berani jujur padauk bahwa di saat pendapatan kami sedang meningkat, beliau tergiur dengan tawaran sales bank keliling yang menawarkan pinjaman modal tanpa bunga untuk mengembangkan usaha. Bapak bilang, dari modal satu juta yang dipinjamkan hanya dipotong seratus ribu sebagai penanda transaksi pertama dimulai untuk selanjutnya terus membayar 100 ribu sampai genap dua belas bulan.

Hasbunallah wa nikmal wakiil. Hanya bisa tertawa meski menahan haru dalam hati saat mendengar beliau bercerita. Dalam satu momen aku diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa ancaman riba benar nyata, sekaligus mempelajari tentang hubungan unik yang terjalin antara anak dan orang tua. Aku yang terlanjur menyerap alur Growing Pains sebagai dasar pemikiran untuk hubungan kekeluargaan sedikit mendapat celah baru ketika mendengar bapak menjelaskan tujjuan utamanya menerima tawaran pinjaman modal, tersebut.

Dari jualan es, bapak beralih jadi pedagang buah musiman. Tak hanya buah, apa pun yang lagi trend di Tanah Abang selalu berhasil bapak bawa pulang. Celana boim, sendal amphibi, sampai akhirnya berburu barang loak di Pasar Senen, itu.

"Hahaa ... lagian, buaya mau dikadalin. Mana ada sih duit jatoh, tapi bentukannya licin, gitu? Tapi, biar kata cuma gocap juga lumayan,” jawabnya sambil sesekali meneguk teh hangat yang kusuguhkan.

Nah, dalam salah satu perjalanan thriftingnya itulah yang membawa kita pada cerita, ini. Jadi, ceritanya pagi sebelum demam tinggi, bapak nemu uang waktu mau berangkat ke stasiun. Uang jatuh yang tidak masuk akal karena uang tersebut tidak dalam bentuk layaknya uang yang terjatuh dari saku atau dompet.

“Lempeng. Kayak duit baru keluar dari Bank.” Demikian beliau menggambarkan.

Kembali, bapak yang masa mudanya diisi dengan pernak-pernik klenik dan mistik memudahkannya menganalisa situasi yang sedang beliau hadapi. “Eits, aku langsung injek, aja. Padahal ada sopirnya, tuh, lagi nyuci mobil. Dia kira kita kagak ngerti sama yang begituan. Hahaa …,” lanjutnya yang tak bisa lagi menahan tawa.

Dan tak menunggu lama, lembar lima puluh ribuan yang beliau pungut di jalan telah membuatnya bertaruh nyawa.

 Begitu pulang dari Pasar Senen, bapak langsung demam tinggi meski sudah dikompres dan minum obat andalannya dan selama tiga hari aku jadi satpam dadakan sepanjang malam karena seringnya bapak merintih kesakitan di saat seisi rumah sudah terlelap. Selalu tidur ayam karena khawatir bapak kembali merintih seperti orang ketindihan tiap tengah malam. Tidak bisa tidur bukan hanya karena rintihan bapak yang terdengar menakutkan, tapi juga karena suasana rumah yang ikut berubah. Rasanya sama seperti waktu bapak membawa pulang batu api pemberian kawan lamanya saat masih jadi sopir taxi gelap di Stasiun Gambir.

"Terus, uangnya dikemanain? Emang kalo langsung dibelanjain, kenapa?"  tanyaku penasaran.

"Ini, ada. Udah lewat tiga hari, mah, udah aman buat dibelanjain. Lumayan, besok bisa buat beli pisang Lampung, di Tenabang," jawabnya antusias sambil memamerkan uang temuannya, itu.

Selanjutnya, bapak menjelaskan apa saja yang beliau alami setelah memungut uang tersebut. Bapak bilang, dirinya langsung dikuntit oleh sosok hitam begitu uang tersebut ia masukkan ke saku celana dan puncaknya ternyata terjadi di malam ketiga ketika aku mendengar rintihannya semakin menakutkan.

"Dia sengaja, tuh … beraksinya nungguin aku tidur. Lah, enak aja, siapa suruh naro duit di jalanan. Lagian, murah amat nuker nyawa orang pake duit gocap. Hahaa …." Tawanya kembali pecah dan kali ini mengiringinya dengan gerakan ekstra.

Bapak mendemonstrasikan adegan ketika beradu fisik dengan sosok yang merasa telah mendapat jatah tumbalnya tanpa kuminta.

Aku hanya tersenyum melihat aksinya. Merasa lega karena semangat hidup dan tingkah lucunya telah kembali meski itu artinya aku juga harus kembali mempersiapkan diri untuk bersitegang dengannya sewaktu-waktu. Tapi, tak mengapa selama aku bisa tetap bisa berinteraksi dengannya meski tanpa banyak kata. Sengaja merekam gaya santainya dalam menyikapi dimensi lain dan berharap bisa kuterapkan dalam dilema sisi miring yang kupunya.

No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...