Raja kura-kura tua dan aku, si Cikrak Sapuijuk. Meskipun dalam
keseharian terlihat seperti Tom & Jerry, tapi nyatanya banyak kesamaan yang
kami miliki. Serasa dunia milik berdua setiap kali mendapat kesempatan untuk berbincang
dengannya, dan aku kian bersemangat ketika beliau mulai membahas tentang
pengalaman sisi miring-nya. Adapun cerita yang akan kubagikan
selanjutnya adalah tentang pengalaman unik yang kami alami tak lama setelah menghuni
keluargaku rumah kontrakan yang baru dan tentu saja ceritanya masih akan berhubungan
dengan misteri tumbal dan pati.
Sedikit gambaran tentang rumah keong terbaru kami Lumayan besar
meski bangunannya masih semi jadi. Terdiri dari lima ruangan. Satu ruangan yang
paling luas difungsikan sebagai ruang tamu dan sedikit tempat untuk meletakkan
peralatan dapur yang tak semuanya cukup jika ditempatkan di ruangan paling
kecil, tapi dibuat memanjang dan bersekat, satu ruangan untuk kamar mandi dan
sisanya difungsikan untuk kegiatan perdapuran. Ada dua kamar tidur yang juga
bisa dibilang cukup luas, meski belum berdaun pintu, tetapi untuk kami yang terbiasa
mengalihfungsikan satu ruangan sesuai kebutuhan tentu saja kamar tersebut tetap
terlihat istimewa. Sebagian dinding masih berupa peluran kasar sama seperti lantainya
yang dengan sukarela orangtuaku merogoh saku lebih dalam demi kenyamanan bersama,
mengingat kami memang terbiasa tidur menghampar hambal di lantai. Langit-langit
belum berplavon dan itu membuat penampakan rumah agak sedikit menyeramkan saat
pertama kali melihatnya karena banyak sarang laba-laba serta debu yang
terperangkap di setiap serabutnya menggantung pada kayu kusen. Penghuni sebelumnya
sedikit kurang bertanggungjawab dan membuat rumah itu terlihat semakin tak
terurus, demikian informasi yang kudengar dari pemilik rumah ketika menyerahkan
kunci pada ibuku.
Beberapa meter dari rumah ada dua pohon besar tumbuh bersisian,
dahan serta ranting yang saling bertaut membuat kedua pohon besar itu terlihat
seperti sebuah gapura. Bapak bilang, pohon Jamblang dan pohon nangka itu
ditanam berdampingan bukan tanpa alasan. Oleh orang-orang zaman dulu, kedua
pohon tersebut digunakan sebagai penanda perbedaan alam. “Gerbang menuju alam
lain,” ujar bapak saat mencoba menegaskan keterangannya.
Masih berdasarkan cerita bapak. Lokasi yang melewati kedua pohon
termasuk bangunan yang kami tempati dulunya adalah salah satu tempat
berkumpulnya pasukan gaib Prabu Siliwangi. Mau tidak percaya, tapi aku
terlanjur tahu sebagian kisah hidup bapak semasa muda yang lekat dengan dunia
Khurafat dari cerita ibuku. Meski belum pernah melihat penampakan kumpulan
harimau seperti yang bapak lihat, tapi setidaknya aku sudah sempat berkenalan
dengan penghuni salah satu pohon besar, itu.
Namun, catatan ini bukan untuk membahas tentang penunggu pohon
besar ataupun pasukan gaib yang masih aktif berpatroli melainkan merekam ulang aksi
lucu bapak yang sengaja menggoda seseorang yang ia ketahui ingin menjadi kaya
dengan cara instan.
***
"Terus, Nie’ perhatiin berapa hari ini pas tidur Bapak kayak
orang ketindihan, gitu. Itu kenapa, dah? Udah gitu kayak orang lagi berantem
juga," tanyaku penasaran, segera setelah kesehatannya terlihat mulai
membaik.
Jadi, setelah kami pindah, bapak punya kebiasaan baru. Berburu
pakaian bekas di Pasar Senen. Bukan tanpa alasan. Krisis moneter memberi dampak
lebih panjang untuk keluarga kami. Bapak tak lagi memiliki pekerjaan tetap,
ibuku terpaksa ikut banting tulang dengan menjadi buruh cuci, anak-anak yang
seharusnya bisa sedikit dijadikan sandaran terjebak dilemanya sendiri-sendiri
karena putus sekolah, termasuk aku. Meski begitu, ibuku masih meletakkan harap
pada si bungsu agar tak sampai putus sekolah seperti kakak-kakaknya.
Usia pasangan hidup yang juga tak lagi muda, tapi dipaksa untuk kembali
hidup menderita mungkin membuat getir hati bapak dan untuk mengurangi penyesalannya
tersebut beliau mencoba berwirausaha dengan sedikit tabungan yang ia punya.
Semua peluang sudah dicoba, dimulai dari mengikuti langkahku yang iseng
berjualan es sarang burung dengan mengembangkan usaha kecil yang kurintis.
Mengganti lapak seadanya dengan gerobak dan tempat duduk yang lebih layak. Sedikit
demi sedikit menambah varian dagangan yang semula hanya menjual es sarang
burung, menjadi jus aneka buah.
Pendaringan kami sedikit teramankan untuk sesaat karena dagangan
yang ramai tak menjamin banyaknya pendapatan yang bisa diraih. Istilah dagangan
habis, uang pun habis ternyata benar adanya. Belakangan setelah lama gulung
tikar, bapak baru berani jujur padauk bahwa di saat pendapatan kami sedang
meningkat, beliau tergiur dengan tawaran sales bank keliling yang menawarkan
pinjaman modal tanpa bunga untuk mengembangkan usaha. Bapak bilang, dari modal
satu juta yang dipinjamkan hanya dipotong seratus ribu sebagai penanda
transaksi pertama dimulai untuk selanjutnya terus membayar 100 ribu sampai genap
dua belas bulan.
Hasbunallah wa nikmal wakiil. Hanya bisa tertawa meski menahan haru
dalam hati saat mendengar beliau bercerita. Dalam satu momen aku diberi
kesempatan untuk membuktikan bahwa ancaman riba benar nyata, sekaligus mempelajari
tentang hubungan unik yang terjalin antara anak dan orang tua. Aku yang
terlanjur menyerap alur Growing Pains sebagai dasar pemikiran untuk hubungan
kekeluargaan sedikit mendapat celah baru ketika mendengar bapak menjelaskan tujjuan
utamanya menerima tawaran pinjaman modal, tersebut.
Dari jualan es, bapak beralih jadi pedagang buah musiman. Tak hanya
buah, apa pun yang lagi trend di Tanah Abang selalu berhasil bapak bawa pulang.
Celana boim, sendal amphibi, sampai akhirnya berburu barang loak di Pasar
Senen, itu.
"Hahaa ... lagian, buaya mau dikadalin. Mana ada sih duit
jatoh, tapi bentukannya licin, gitu? Tapi, biar kata cuma gocap juga lumayan,”
jawabnya sambil sesekali meneguk teh hangat yang kusuguhkan.
Nah, dalam salah satu perjalanan thriftingnya itulah yang membawa
kita pada cerita, ini. Jadi, ceritanya pagi sebelum demam tinggi, bapak nemu
uang waktu mau berangkat ke stasiun. Uang jatuh yang tidak masuk akal karena
uang tersebut tidak dalam bentuk layaknya uang yang terjatuh dari saku atau
dompet.
“Lempeng. Kayak duit baru keluar dari Bank.” Demikian beliau
menggambarkan.
Kembali, bapak yang masa mudanya diisi dengan pernak-pernik klenik
dan mistik memudahkannya menganalisa situasi yang sedang beliau hadapi. “Eits,
aku langsung injek, aja. Padahal ada sopirnya, tuh, lagi nyuci mobil. Dia kira
kita kagak ngerti sama yang begituan. Hahaa …,” lanjutnya yang tak bisa lagi
menahan tawa.
Dan tak menunggu lama, lembar lima puluh ribuan yang beliau pungut
di jalan telah membuatnya bertaruh nyawa.
Begitu pulang dari Pasar
Senen, bapak langsung demam tinggi meski sudah dikompres dan minum obat
andalannya dan selama tiga hari aku jadi satpam dadakan sepanjang malam karena
seringnya bapak merintih kesakitan di saat seisi rumah sudah terlelap. Selalu
tidur ayam karena khawatir bapak kembali merintih seperti orang ketindihan tiap
tengah malam. Tidak bisa tidur bukan hanya karena rintihan bapak yang terdengar
menakutkan, tapi juga karena suasana rumah yang ikut berubah. Rasanya sama seperti
waktu bapak membawa pulang batu api pemberian kawan lamanya saat masih jadi
sopir taxi gelap di Stasiun Gambir.
"Terus, uangnya dikemanain? Emang kalo langsung dibelanjain,
kenapa?" tanyaku penasaran.
"Ini, ada. Udah lewat tiga hari, mah, udah aman buat dibelanjain.
Lumayan, besok bisa buat beli pisang Lampung, di Tenabang," jawabnya
antusias sambil memamerkan uang temuannya, itu.
Selanjutnya, bapak menjelaskan apa saja yang beliau alami setelah
memungut uang tersebut. Bapak bilang, dirinya langsung dikuntit oleh sosok
hitam begitu uang tersebut ia masukkan ke saku celana dan puncaknya ternyata
terjadi di malam ketiga ketika aku mendengar rintihannya semakin menakutkan.
"Dia sengaja, tuh … beraksinya nungguin aku tidur. Lah, enak
aja, siapa suruh naro duit di jalanan. Lagian, murah amat nuker nyawa orang
pake duit gocap. Hahaa …." Tawanya kembali pecah dan kali ini
mengiringinya dengan gerakan ekstra.
Bapak mendemonstrasikan adegan ketika beradu fisik dengan sosok
yang merasa telah mendapat jatah tumbalnya tanpa kuminta.
Aku hanya tersenyum melihat aksinya. Merasa lega karena semangat
hidup dan tingkah lucunya telah kembali meski itu artinya aku juga harus
kembali mempersiapkan diri untuk bersitegang dengannya sewaktu-waktu. Tapi, tak
mengapa selama aku bisa tetap bisa berinteraksi dengannya meski tanpa banyak
kata. Sengaja merekam gaya santainya dalam menyikapi dimensi lain dan berharap
bisa kuterapkan dalam dilema sisi miring yang kupunya.
No comments:
Post a Comment