Friday, May 26, 2023

PESONA JIN NASAB

 “Kok bisa ya lihat makhluk kaya gitu. Kapan hari saya ditanya sama tetangga; "Mbak kemaren malem jam sebelas lagi ngapain di kolam belakang sendirian?” Lah, selama saya di sini belum pernah nongkrong malem-malem di pinggir kolam. Gelap, takut ada ular.”

Kolom komentar segera bertuan tak lama setelah membagikan catatan lama yang selesai kurevisi ke beranda Facebook.

“Biasanya efek para leluhur yang pernah bikin perjanjian 'aneh' jadi anak turunnya terkadang ikutan kena segel Kyubi,” kujawab tanpa lupa menyertakan avatar tepok jidat.

Padahal Syawal baru masuk hitungan minggu pertama, tapi beberapa penghuni sisi miring seperti sudah tak sabar menunjukkan eksistensi mereka. Meet and greet tak terduga dengan entitas yang cosplay jadi lord Voldemort versi berambut bikin bulu kuduk merinding disko. Ngeri-ngeri seru. Physical touch saat baku hantam masih tetap memberi efek yang sama. Penjelasan bahwa yang diciptakan tak kasat mata akan memiliki kelemahan yang sama saat memutuskan mengambil wujud kasar layaknya manusia.

“Jalan ngelewatin koridor. Posisi ruangannya ada di ujung. Pokok pintu terakhir.”

Merinding disko. Bulu roma seketika berdansa. Cuaca panas yang juga menyapa kota wisata Batu seakan-akan menghadirkan udara super dinginnya kembali setelah lokasi yang sempat kulihat saat berjalan dalam tidurku terkonfirmasi.

“Galak, itu. Kucekek aja, dah, akhirnya.” Kembali berbalas pesan dengan salah satu kakakku yang menjadi target keusilan entitas di tempatnya bekerja.

“Penghuni lama, kali, ya?” respon kakakku yang diselingi dengan candaan.

“Bisa jadi,” kubalas tanpa lupa menyisipkan emoji lucu ditambah sedikit petuah sok bijak untuk tidak terfokus pada energi negatif yang sedang posesif mendekatinya.

Sugoi! Sensasi saat memutuskan untuk melakukan perlawanan dengan mencekam balik batang leher entitas, masih terasa sama persis seperti saat bersitegang dengan kuntilanak merah dan yang lainnya. Ah, sepertinya aku sudah sering menyampaikan reaksi pertamaku saat film The-Sixth Sense dicantumkan dalam daftar bioskop Trans-TV. Jangan ditanya berapa banyak jejak luka dan lebam yang tertinggal di badan, entah itu bekas cakaran atau tetes darah yang mulai mengering, persis di tempat yang berhasil ‘mereka’ lukai.

Masyaallah. Nggak kerasa sudah sepuluh tahun lebih ternyata aku berhasil mengabaikan sisi miring, tersebut. Berusaha menutup setiap celah yang bisa membuatku bersinggungan kembali dengan para penghuni sisi miring meski tanpa bantuan professional seperti yang masih sering disarankan oleh beberapa kerabat yang mengetahui alur cobaanku, ini.

“Jadikan sabar dan Salat sebagai penolongmu.’ Maka itu adalah jalan yang kutempuh untuk mencari kesembuhan.

Anyway, setidaknya meet and greet dadakan dengan penghuni sisi miring di bulan Syawal ini membawa dampak positif. Aku jadi tergerak untuk membuka file lama dan mulai membenahi naskah yang menggantung tanpa ujung.

Naskah di bawah ini adalah salah satunya.

Catatan ini sebelumnya pernah kuikutsertakan dalam event menulis di salah satu grup literasi. Sengaja memilih pengalaman pribadi karena salah satu dari ketiga gambar yang dicantumkan panitia sebagai tema membuatku seakan-akan sedang bercermin.

Nuansa suram. Ada satu boneka beruang diletakkan di atas meja. Duduk menghadap jendela, Menangkap pemandangan di luar sana dengan perasaan hampa.

Hidup yang absurd. Hari-hari yang kujalani tak pernah bisa seperti anak seusiaku, pada umumnya. Bukan, bukan mengklaim diri istimewa atau semacamnya, sebaliknya aku justru mulai mematri satu label yang paling sering kudengar sedari kecil. ‘ANEH!’

Apalah daya, meski hidupku diwarnai dengan hal-hal ekstravaganza, tetapi nyatanya aku tak cukup berani untuk menyampaikannya, kembali. Jangankan pada dunia, pada orang-orang terdekat pun sengaja kusimpan rapat. Sampai pada satu hari, aku menemukan satu gambar berisi kata-kata motivasi.

“You don’t really know who you are until you stop being who you aren’t.”

Detik itu aku tersadar bahwa sudah terlalu lama aku berdiam di satu titik yang membosankan. Sekuat tenaga mencoba melarikan diri dari apa yang sebenarnya membuatku merakan arti kehidupan dan perjalanan terakhir yang ingin kutuju. Segala penghukuman dan sebutan aneh yang terus terbawa hingga dewasa kian membuatku hilang arah. Melihat aapa yang seharusnya tidak bisa dilihat, merasakan apa yang tidak bisa dirasakan kebanyakan orang, Memilih memandang kehidupan bukan sebatas dogma, tetapi dari setiap sudut yang bisa kutemukan. Demikian pula cara yang kugunakan untuk mengenali Zat yang harus kusembah.

Pengikut Khurafat. Label tersebut pun sejujurnya telah membawaku selangkah lebih dekat dengan apa yang tengah kucari sepanjang hidupku.

Andai benar hidup hanyalah sebuah pengulangan kisah dan setiap pemeran yang baru hanya diminta untuk memperhatikan kisah sebelumnya agar tak mengulangi kesalahan yang sama, maka itulah sesungguhnya yang selama ini aku coba terapkan. Mencoba menangkap pelajaran hidup bukan sebatas lewat yang sudah tersurat, tetapi juga dari setiap pesan kehidupan yang terus disiratkan.

Jika bukan diri sendiri yang mengubah kisah hidup kita menjadi sebuah cerita, maka kita hanya akan menjadi bagian dari cerita orang lain. Dan apa yang kudapat dari kepercayaan diriku yang lemah selama puluhan tahun, ini? Aku berhenti menggubah kisah hidupku hanya karena tak tahan terus disebut manusia konyol dan ratu drama.

            Bertahun-tahun lamanya hidup dalam kepura-puraan dan masih saja enggan tersadar meski kerutan halus di wajah kian menegaskan keberadaannya. Usia kepala empat yang terus bertambah, bahkan kini telah dihadapkan dengan fase yang membuat hati seorang wanita tanpa zuriyat kian mengerut. Di satu sisi aku berusaha fokus mempersiapkan bekal untuk menyambut kehidupan abadi. Namun, di sisi yang lain terus terperangkap dalam pencarian jati diri.

            Berpura-pura tidak tahu atau mungkin memang tidak mengerti sama sekali dengan alur hidupku. Termasuk tentang babak hidup yang akan kubagikan berikut, ini. Tentang perjanjian terlarang. Tentang perangkap jin nasab yang membuatku tumbuh menjadi remaja kelabu dan manusia kadang-kadang. 

Thursday, May 18, 2023

BIRAHMATIKA ASTAGHITS

Constantine memangku kucing kliennya dengan harapan dapat mempermudah jalan memasuki dimensi lain melalui kedua mata hewan lucu, itu. Dan benar saja, bahkan sebelum Angela menutup pintu, ia sudah melenggang santai di tengah kobaran api dan mulai mencari keberadaan saudara kembar kliennya. Tak menunggu lama, makhluk-makhluk yang menyimpan dendam karena telah dikirim kembali ke neraka pun segera menyadari keberadaannya. Constantine pun mempercepat langkahnya. Namun, bukan karena menyadari musuh kian mengepung melainkan telah melihat sosok yang ia cari. Membuat satu lompatan dengan tangan kanan meremas dada kirinya yang terasa nyeri sementara tangan kirinya berusaha meraih jejak yang sengaja ditinggalkan Isabel, saudara kembar Angela. Detik berikutnya ia kembali dengan membawa bukti bahwa saudara kembar kliennya tersebut memang wafat karena bunuh diri.

***

            Kesan pertama yang kudapat saat menyaksikan adegan, ini? Tentu saja sontak bersorak.

 “Aha! Ternyata aku memang tidak seaneh, itu!” Tapi, tentu saja dengan suara hati dan logika yang lantas ikut berunjuk rasa. “Ah, jika banyak orang bisa dibuat terkesima dengan kisah mistik yang dikemas dalam sebuah sinema, lalu mengapa mereka menolak untuk percaya dan jstru antipati ketika menjumpainya hal serupa dalam kehidupan nyata?”

Mengamati situasi yang digambarkan saat Constantine berjalan di Neraka, aku lantas membandingkan dengan tempat serupa yang juga pernah kulihat saat kecil. Kobaran api mahadasyat, mungkin ini juga alasannya kenapa aku bisa langsung percaya ketika menjumpai keterangan yang menggambarkan tentang api neraka. Seribu tahun pertama dinyalakan berwarna merah, lalu dinyalakan seribu tahun lagi sampai berwarna putih, sampai seribu tahun kemudian api itu berubah menjadi hitam dan gelap. Wallahu a’lamu bishawab.

Tujuh tahun kurang tiga bulan, tepatnya Februari minggu terakhir tahun 1988 saat pertama kali diperlihatkan pemandangan memilukan, itu. Janji yang menyesakkan hati bagi hamba yang diqadar terlahir dari aliran keringat tangan sebelah kiri milik bapak para manusia di bumi. Jilatan api yang tak bisa kugambarkan, karena warna merahnya terlihat berbeda dengan kobaran api unggun. Meski begitu, aku tetap berusaha mendekat karena melihat seseorang yang kusayang tengah menjerit kesakitan di antara kobaran api, tersebut.

Antara takut dan bingung saat melihatnya sama sekali tak mengenakan busana, tetapi terbungkus kain tipis transparan. Meski beliau menjerit oanas dan kesakitan, tetapi kobaran api tersebut tak benar-benar menyentuhnya. Kain tipis itu seakan bertindak seperti zirah para punggawa yang membentengi tuannya dari serangan. Tapi, aku tetap tak mengerti apa yang membuat beliau terlihat begitu menderita.

“Apa mungkin kanker di payudaranya kambuh, lagi? Tapi mama bilang, kalau sudah ketemu Allah itu artinya sudah sembuh dan tidak akan pernah merasakan sakit, lagi.”

Tak tega melihatnya yang terus menjerit kesakitan, aku memaksa diri untuk terus bergerak dan berusaha mendekat sampai akhirnya aku berada di tengah-tengah kobaran api yang sama dengannya. Langkah terhenti ketika jarak yang memisahkan kami hanyalah selaput tipis, tersebut. Ternyata, benar. Aku tak salah dalam mengenali wajah serta bahu yang biasa tersangkut kain panjang di antara kedua pundaknya saat menggendongku. Aroma kayu putih bercampur rivanol yang biasa digunakan ibuku untuk membersihkan luka di payudara wanita yang melahirkannya dapat dengan mudah kukenali.

Tangan kecilku mulai berusaha menggapai-gapai. Berpikir, mungkin jika aku bisa merobek kain tipis itu maka aku bisa membawanya keluar dari tempat menakutkan, tersebut. Namun, genggamanku seolah-olah hanya merobek udara, suaraku yang mencoba berteriak sekuat tenaga saat memanggilnya pun seakan-akan tenggelam dalam ruang kedap udara. Sampai akhirnya diri dipaksa membeku seperti ketika tertindih bola upil pertama kali dan hanya bisa terpaku menatap sosok yang biasa melimpahiku dengan kasih sayangnya. Sampai akhirnya, perlahan gendang telinga kembali menangkap suara.

Satu suara berisi kalimat yang sama dan terus berulang. Semakin lama semakin jelas, sampai aku sendiri bertanya-tanya ada apa sebenarnya antara ibu dan anak semata wayangnya, itu? Karena seingatku, keduanya hidup penuh kasih dan ibuku pun merawatnya dengan penuh kesabaran. Namun bgitu, usiaku terlalu kecil untuk mencampuri urusan orang dewasa. Jadi, meski tak sepenuhnya mengerti dengan situasi yang tengah kuhadapi, tetapi aku tetap berusaha untuk menetapi janji seperti yang sudah kuberikan.

“Pesan itu harus bisa kusampaikan sebelum kain tipis itu habis terbakar.”

Tidur sambil berjalan. Ibuku bilang, aku memang punya kebiasaan ngelindur karenanya menganggap tingkahku yang sempat ia lihat di malam seetelah pemakaman ibunya adalah bagian dari kebiasaan burukku. Tutur kata dan bahasa tubuhnya lembut seperti biasanya, tetapi tidak dengan air muka yang berusaha ia sembunyikan setelah aku selesai menyampaikan pesan yang kubawa. Tak ada penjelasan lebih lanjut karena beliau hanya memelukku dengan erat setelah bertanya tentang bagaimana caranya aku bisa mengetahui rahasia mereka.









Saturday, May 6, 2023

PROLOG

 

 [ …. Bukan hanya sekadar dongeng belaka. Kisah tentang bulan terbelah kini juga disuguhkan dengan bukti-bukti nyata dan semakin memperkuat penjelasan ilmiah yang sudah ada.]

            ***

Penasaran setelah ikut menyimak isi narasi dari tayangan yang sedang dipantengi mas bojo usai salat Zuhur. Terpaksa membatalkan niat untuk muroja’ah dan bergegas melepas rukuh dan melipat sajadah. Menuang dan mngoleskan sedikit minyak zaitun untuk menghibur kulit wajah yang menjerit kekeringan karena belum terbiasa dengan dinginnya kota Batu, sebelum akhirnya ikut rebahan di samping suami dan memintanya memutar ulang tayangan, tadi.

Rasa takjub membuncah. Ilustrasi saat menggambarkan momen rembulan terbelah seketika mengajakku bernostalgia. Keterangan sang narrator, disertai bukti-bukti yang telah diklaim oleh para astronom tentang jejak yang tertinggal menjadi bukti nyata bahwa rembulan memang pernah terbelah.

Konon katanya, nabi Muhammad pernah memanah rembulan untuk menjawab sikap kaum Quraisy yang terus mendustakan dakwah beliau. Akan tetapi, meskipun kaum Quraisy telah mendapat jawaban dari tantangan tersebut, mereka tetap saja mencari-cari alasan untuk mengingkarinya. Namun, reaksi yang terjadi di luar kota Makkah justru sebaliknya. Mukjizat tersebut ternyata telah menumbuhkan keimanan di hati seorang raja dari luar jazirah Arab.

Lalu, apa hubungannya kisah bulan terbelah dengan catatan hidupku kali ini?

Hmmm … masih dengan getaran yang sama setiap kali mendapati penjelasan tentang kebenaran ayat-ayat di dalam Al-qur'an, juga kisah tentang para Salafussalih yang menapaki jalan Tuhan. Kiranya, yang manakah aku setelah mendapati banyak keterangan? Apakah menjadi kufur seperti Kafir Makkah meskipun telah dihadirkan sang pembimbing langsung di tengah-tengah mereka ataukah menyatakan diri beriman seperti raja India meski hanya sekilas melihat mukjizat tersebut dari halaman istananya?

DI BAWAH HUJAN BUNGA WARNA-WARNI

  “Bojomu iku sejenis mutan,” ujar suamiku saat mencoba menirukan penjelasan teman lamanya. Pilkada tahun 2018 menjadi momen reuni dadakan...