Friday, April 24, 2026

MELEBUR DALAM GELAP

 

Luapan rasa di tengah lapangan Gledek sebenarnya tak murni hanya karena petualangan memasuki dimensi yang digunakan pak Leo untuk berkultivasi, tetapi juga karena dilema kisah cinta yang enggan menunggu giliran. Seperti halnya Fandy yang mulai putus asa dengan setiap usaha yang ia lakukan demi menunjukkan itikad baiknya pada haji Romli, berjalan kaki menuju perumahan Bintaro di jalan Maleo pun aku tergerak karena alasan serupa.

Patah hati. Bukan, bukan karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi karena setiap detail yang terjadi sama persis seperti yang kujumpai dalam tidurku. Semakin kuat berusaha mengakali agar tak sampai terbawa ke dunia nyata, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Setiap usaha yang aku lakukan, bahkan saat mencoba menyampaikan alur cerita dengan sejujurnya baik pada yang bersangkutan mauupun pada setiap telinga yang telah menangkap kabar kalau aku tengah menjadi punguk merindukan bulan pun kian mempertegas benang merah kenapa pada akhirnya aku jatuh tersungkur dalam kubangan lumpur dan terlilit kawat berduri.

Mungkin saat itu aku memang dilupakan kalau tak akan ada yang mau mempercayai cerita Khurafat, apalagi menerima kemungkinan bahwa ada orang yang bisa mengetahui sesuatu sebelum itu terjadi seperti di film-film. Itu mengapa, tingkah anehku disebut sebagai gejala patah hati. Keputusan untuk mempertahankan alibi yang kupunya justru dijadikan bukti kalau mentalku mulai terganggu karena putus cinta, bahkan saat akhirnya duduk berhadapan dengan bapak Leo Lumanto pun bahasan pertama yang beliau pilih sebagai pembuka percakapan adalah sosok laki-laki yang telah membuatku mencoreng arang di wajah sendiri.

Di titik ini aku lupa dengan adegan Fandy yang akhirnya memahami rahasia ilmu Ikhlas. Ikhlas yang tak bersyarat. Ikhlas yang tanpa batas. Harga diri kala itu kupasang terlalu tinggi, lagi-lagi bukan karena merasa direndahkan oleh isu yang liar beredar, tetapi karena terlalu banyak yang menanggapi ceritaku sebagai ebuah kebohongan.

Terobsesi membuat kisah cinta terindah meski hanya lingkup desa, tempat aku tinggal. Berharap bisa membuktikan bahwa kisah manis antara Sayidina Ali dan Sayyidah Fatimah masih bisa direka ulang. Merajut cinta hanya melalui doa-doa yang dipanjatkan. Menguatkan rasa dalam keheningan sepertiga malam dan saling membangun kepercayaan meski hanya sekilas memandang.

Drama kutu loncat cinta. Akan menjadi terlalu panjang jika babak romansa ini kumulai dari akarnya. Alkisah yang dimulai dari cerita sang kumbang dengan banyak kuntum bunga yang menanti dihampiri, sementara aku hanyalah upik abu yang mengamati dari balik pintu. Menampung cerita, menyemangati, menghujani kuntum bunga yang mulai layu dengan racikan serbuk ajaib yang kusalin dari kisah negri Utopi. Namun, semua bentuk perhatian yang kucurahkan justru membuat drama percintaan menjadi berkepanjangan. Pola cinta sang kumbang pun berubah menjadi bentuk segi tiga tak beraturan hingga akhirnya aku memutuskan untuk turut serta dalam ajang petik bunga dengan satu hajat yang kupatri. ‘Menunjukkan pada mereka yang meragukan kekuatan doa.’

Lucid dream untuk kesekian kali. Lucid dream yang sedikit berbeda dengan penjelasan yang kudapat dari mesin pencarian. Aku sama sekali tak punya kendali saat memasukinya, tak juga sempat membuat cetak biru dan menyisipkannya ke alam bawah sadar agar bisa menjadi bunga tidurku. Seperti mengalami pengulangan, susunan cerita tersaji jelas, sama seperti yang kulihat sehari sebelum nenekku meninggal. Setiap detail yang terjadi saat aku terjaga bisa sama persis seperti yang kulihat dalam mimpi, bahkan aku masih dibuat kebingungan saat benar-benar memeluk jenazah nenekku yang selesai dikafani.

Memeluk erat kakinya dan memaksa nenekku untuk bangun karena merasa ia sudah tidur terlalu lama. Mencoba menghalangi dengan mengeraskan tangisan saat mengetahui orang-orang dewasa akan memindahkannya ke keranda karena jika sudah begitu, berarti selanjutnya aku juga akan berjalan sendirian di antara gedebog pisang yang masih tercecer. Melihat langit yang seketika benar berubah gelap saat langkah pembawa tandu semakin jauh dari rumah pun ikut mengukir trauma masa kecil.

Itu alasannya mengapa lisan ini tak bisa berhenti bicara meski sadar situasi sudah tidak baik-baik, saja. Sebenarnya sederhana, kupikir karena sudah dewasa maka penglihatanku akan lebih mudah diterima. Selain itu, langkah yang kuambil termasuk cara yang kugunakan untuk mengikis jejak luka masa kecil.

“Mengubah apa yang tidak bisa kuubah di alam mimpi,” batinku.

Namun, lihatlah apa yang terjadi.

Arang di wajah, berkubang lumpur, dililit pagar berduri, hijab dilepas paksa oleh badai yang tak henti menerjang. Jari telunjuk yang terus menuding. Sorot mata tajam yang dipasang memincing, sampai akhirnya hukum social membuatku terlihat seperti seonggok kotoran. Bagian tersedih, perlahan aku pun kehilangan keyakinan dengan apa yang selama ini selalu kubangga-banggakan.

Ud’uni astajib lakum. Aku ikut menghukum diriku sendiri dengan berhenti berdoa dan mulai memasang prasangka pada Sang pemilik semesta. Mengamini setiap tuduhan dengan menjadikan ketetapan-nya sebagai kambing hitam.

Ikhlas dengan imbuhan 'tapi' di belakangnya. Ikhlas yang bertepi. Benteng pertahan ego kian kutinggikan. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa setiap nasehat baik yang datang selalu gagal kucerna, termasuk saat pak Leo berkali-kali menekankan kalau yang kubutuhkan saat itu hanyalah hati yang tenang.

Sejatinya hatiku bisa menerima, tetapi entah mengapa ego menuntut untuk mempertahankan alur yang sudah terbangun separuh jalan. Tak rela pula merombak hajat yang sudah susah payah kususun dengan lebih hati-hati. “Kali ini tanpa angan yang berkepanjangan. Tak pula tercampuri bisikan setan.” Setidaknya, itulah prasangka baik yang kupasang.

Mana tahu keputusan untuk mencurahkan isi hati pada Sang Mahawelas sebelum menyusun hajat masih bisa disusupi oleh hawa nafsu yang ternyata diam-diam tetap menggebu di dasar hati. Balas dendam terselubung karena merasa tak terima dengan perlakuan semesta yang lebih mengamini prasangka terbanyak.

Tak sekadar jadi bahan candaan, tapi juga berubah menjadi contoh negatif di forum pengajian dengan sebutan manusia yang gagal total karena tak lulus saat menghadapi ujian rasa. Nekat menggadaikan keimanan dan kunci surga yang sudah ada dalam genggaman hanya untuk urusan syahwat belaka.

Wa kafa billahi syahida.

No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...