Luapan rasa di tengah lapangan Gledek sebenarnya tak murni hanya
karena petualangan memasuki dimensi yang digunakan pak Leo untuk berkultivasi, tetapi
juga karena dilema kisah cinta yang enggan menunggu giliran. Seperti halnya
Fandy yang mulai putus asa dengan setiap usaha yang ia lakukan demi menunjukkan
itikad baiknya pada haji Romli, berjalan kaki menuju perumahan Bintaro di jalan
Maleo pun aku tergerak karena alasan serupa.
Patah hati. Bukan, bukan karena cinta yang bertepuk sebelah tangan,
tapi karena setiap detail yang terjadi sama persis seperti yang kujumpai dalam
tidurku. Semakin kuat berusaha mengakali agar tak sampai terbawa ke dunia nyata,
tapi yang terjadi justru sebaliknya. Setiap usaha yang aku lakukan, bahkan saat
mencoba menyampaikan alur cerita dengan sejujurnya baik pada yang bersangkutan mauupun
pada setiap telinga yang telah menangkap kabar kalau aku tengah menjadi punguk merindukan
bulan pun kian mempertegas benang merah kenapa pada akhirnya aku jatuh
tersungkur dalam kubangan lumpur dan terlilit kawat berduri.
Mungkin saat itu aku memang dilupakan kalau tak akan ada yang mau
mempercayai cerita Khurafat, apalagi menerima kemungkinan bahwa ada orang yang
bisa mengetahui sesuatu sebelum itu terjadi seperti di film-film. Itu mengapa,
tingkah anehku disebut sebagai gejala patah hati. Keputusan untuk mempertahankan
alibi yang kupunya justru dijadikan bukti kalau mentalku mulai terganggu karena
putus cinta, bahkan saat akhirnya duduk berhadapan dengan bapak Leo Lumanto pun
bahasan pertama yang beliau pilih sebagai pembuka percakapan adalah sosok laki-laki
yang telah membuatku mencoreng arang di wajah sendiri.
Di titik ini aku lupa dengan adegan Fandy yang akhirnya memahami
rahasia ilmu Ikhlas. Ikhlas yang tak bersyarat. Ikhlas yang tanpa batas. Harga
diri kala itu kupasang terlalu tinggi, lagi-lagi bukan karena merasa
direndahkan oleh isu yang liar beredar, tetapi karena terlalu banyak yang menanggapi
ceritaku sebagai ebuah kebohongan.
Terobsesi membuat kisah cinta terindah meski hanya lingkup desa,
tempat aku tinggal. Berharap bisa membuktikan bahwa kisah manis antara Sayidina
Ali dan Sayyidah Fatimah masih bisa direka ulang. Merajut cinta hanya melalui
doa-doa yang dipanjatkan. Menguatkan rasa dalam keheningan sepertiga malam dan
saling membangun kepercayaan meski hanya sekilas memandang.
Drama kutu loncat cinta. Akan menjadi terlalu panjang jika babak
romansa ini kumulai dari akarnya. Alkisah yang dimulai dari cerita sang kumbang
dengan banyak kuntum bunga yang menanti dihampiri, sementara aku hanyalah upik
abu yang mengamati dari balik pintu. Menampung cerita, menyemangati, menghujani
kuntum bunga yang mulai layu dengan racikan serbuk ajaib yang kusalin dari
kisah negri Utopi. Namun, semua bentuk perhatian yang kucurahkan justru membuat
drama percintaan menjadi berkepanjangan. Pola cinta sang kumbang pun berubah
menjadi bentuk segi tiga tak beraturan hingga akhirnya aku memutuskan untuk
turut serta dalam ajang petik bunga dengan satu hajat yang kupatri. ‘Menunjukkan
pada mereka yang meragukan kekuatan doa.’
Lucid dream untuk kesekian kali. Lucid dream yang sedikit berbeda
dengan penjelasan yang kudapat dari mesin pencarian. Aku sama sekali tak punya
kendali saat memasukinya, tak juga sempat membuat cetak biru dan menyisipkannya
ke alam bawah sadar agar bisa menjadi bunga tidurku. Seperti mengalami
pengulangan, susunan cerita tersaji jelas, sama seperti yang kulihat sehari
sebelum nenekku meninggal. Setiap detail yang terjadi saat aku terjaga bisa
sama persis seperti yang kulihat dalam mimpi, bahkan aku masih dibuat
kebingungan saat benar-benar memeluk jenazah nenekku yang selesai dikafani.
Memeluk erat kakinya dan memaksa nenekku untuk bangun karena merasa
ia sudah tidur terlalu lama. Mencoba menghalangi dengan mengeraskan tangisan
saat mengetahui orang-orang dewasa akan memindahkannya ke keranda karena jika
sudah begitu, berarti selanjutnya aku juga akan berjalan sendirian di antara
gedebog pisang yang masih tercecer. Melihat langit yang seketika benar berubah
gelap saat langkah pembawa tandu semakin jauh dari rumah pun ikut mengukir
trauma masa kecil.
Itu alasannya mengapa lisan ini tak bisa berhenti bicara meski
sadar situasi sudah tidak baik-baik, saja. Sebenarnya sederhana, kupikir karena
sudah dewasa maka penglihatanku akan lebih mudah diterima. Selain itu, langkah
yang kuambil termasuk cara yang kugunakan untuk mengikis jejak luka masa kecil.
“Mengubah apa yang tidak bisa kuubah di alam mimpi,” batinku.
Namun, lihatlah apa yang terjadi.
Arang di wajah, berkubang lumpur, dililit pagar berduri, hijab
dilepas paksa oleh badai yang tak henti menerjang. Jari telunjuk yang terus
menuding. Sorot mata tajam yang dipasang memincing, sampai akhirnya hukum
social membuatku terlihat seperti seonggok kotoran. Bagian tersedih, perlahan
aku pun kehilangan keyakinan dengan apa yang selama ini selalu
kubangga-banggakan.
Ud’uni astajib lakum. Aku ikut menghukum diriku sendiri dengan
berhenti berdoa dan mulai memasang prasangka pada Sang pemilik semesta.
Mengamini setiap tuduhan dengan menjadikan ketetapan-nya sebagai kambing hitam.
Ikhlas dengan imbuhan 'tapi' di belakangnya. Ikhlas yang bertepi. Benteng pertahan ego kian kutinggikan. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa setiap nasehat baik yang datang selalu gagal kucerna,
termasuk saat pak Leo berkali-kali menekankan kalau yang kubutuhkan saat itu
hanyalah hati yang tenang.
Sejatinya hatiku bisa menerima, tetapi entah mengapa ego menuntut
untuk mempertahankan alur yang sudah terbangun separuh jalan. Tak rela pula
merombak hajat yang sudah susah payah kususun dengan lebih hati-hati.
“Kali ini tanpa angan yang berkepanjangan. Tak pula tercampuri bisikan setan.”
Setidaknya, itulah prasangka baik yang kupasang.
Mana tahu keputusan untuk mencurahkan isi hati pada Sang Mahawelas sebelum menyusun hajat masih bisa disusupi oleh hawa nafsu
yang ternyata diam-diam tetap menggebu di dasar hati. Balas dendam terselubung
karena merasa tak terima dengan perlakuan semesta yang lebih mengamini
prasangka terbanyak.
Tak sekadar jadi bahan candaan, tapi juga berubah menjadi contoh negatif
di forum pengajian dengan sebutan manusia yang gagal total karena tak lulus
saat menghadapi ujian rasa. Nekat menggadaikan keimanan dan kunci surga yang
sudah ada dalam genggaman hanya untuk urusan syahwat belaka.
Wa kafa billahi syahida.
No comments:
Post a Comment