Thursday, April 23, 2026

SETIAP ILMU HARUS ADA GURU

 

“Ajak adek Loe ke mari, Yok. Biar kepegang ilmunye. Entar Ane kasih amalan, sukur-sukur die mau jadi murid Ane. Bahaya itu kalo kagak ada yang megang. Lagian, adek Loe beguru di mane, emangnye? Loe bilangin, dah, kalo ngilmu mah kagak usah tinggi-tinggi, nyang penting cocok ame diri, badan juga kuat ngebawanye. Nih, Ane kasih amalan pertama. Sampe’in dah, jangan ampe kagak. Nah, ‘nti seminggu lagi, Loe bawa dah die ke marih. Penasaran Ane, ngilmu ape sih sebenernye adek ente, ‘ntuh,” ucap ibuku menirukan aksen anak keduanya yang memang cukup kental setelah menikahi pilihan hatinya yang asli betawi.

Aku terkekeh mendengarnya. Alih-alih menanggapi dengan serius, aku justru balik bertanya kenapa pesan itu tidak disampaikan langsung oleh kakakku. Toh, aku juga ada di rumah saat ia datang bersama istrinya.

“Takut,” jawab ibuku karena mereka tahu aku anti membahas hal-hal yang berbau syirik.

Kejadian ini sebenarnya berhubungan dengan kondisi kesehatan adikku. Di antara usaha kami mencari kesembuhan dengan jalan alternatif yang membuatku bertemu dengan bang Jali; sang pemilik pesan. Sebelumnya aku memberi izin kakak keduaku untuk membawa adik kami berobat pada kenalannya tersebut karena sebelumnya dijelaskan kalau media pengobatannya hanya menggunakan air putih serta salawat nabi, aku pun baru bertemu beliau setelah pertemuan kedua, dan entah kenapa selalu saja muncul sensasi yang sama tiap kali berhadapan dengan orang-orang yang sengaja mendalami dunia supranatural. Seperti dua kutub magnet senama yang didekatkan, seringnya energi praktisi supranatural yang sudah kutemui semakin membuatku tak nyaman, dengan alasan itu pula aku enggan mendampingi adikku pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

“Ngilmu apa? Beguru di mana? Nyang ada juga Nie' ngglosor di atas sejadah tiap hari. Tuh, guru Nie’ bejejer di rak buku, Qur’an sama Hadis jilidan, itu juga khatam cap asrama. Aneh-aneh aja, dah.” Sengaja menggerutu saat dipaksa ibuku untuk membuka secarik kertas yang datang bersama pesan lisan.

Membaca pesan yang tertulis. Tak lagi bisa menahan rasa yang menggelitik ulu hati, aku pun akhirnya melepas tawa. Bukan menertawakan niat baik bang Jali, untuk menjadikan aku muridnya, tapi lebih kepada tawa seorang pecundang. Aku menertawakan alur kehidupan yang semakin tak kupahami terlebih setelah selesai membaca rincian amalan yang harus bisa kukuasai dalam waktu singkat.

 Beberapa poin di antara dua belas amalan yang dicantumkan sesungguhnya telak menusuk hati karena tak berbeda jauh dengan sembilan amalan yang pernah diberikan oleh empat ulama yang mencoba membantuku sebelum bertemu bang Jali. Zikir dan salawat mengisi tiga poin pertama. Istighfar seribu kali, membaca kalimat Tahlil dan salawat nabi sebanyak-banyaknya. Puasa mutih, errr ... syukurnya tak tercantum mandi kembang tujuh rupa dengan air dari tujuh sumur yang berbeda setiap malam jum’at kliwon di dalamnya.

Zikir dan salawat. Dua amalan itu memang sedang sengaja kutinggalkan setelah pertemuanku dengan bapak Leo Lumanto. Adegan ala-ala Andre Stinky dalam film Kiamat Sudah Dekat di tengah lapangan Gledek sepulang dari sana membuatku memutuskan untuk menjauhi Zat yang telah mengenalkanku pada cinta tak bersyarat. Untuk pertama kalinya bertemu praktisi supranatural dengan energi selaras, kutub magnet yang diarahkan menyambutku ramah. Namun, nanar mata batin kian menjadi ketika untuk beberapa detik aku diberi izin untuk ikut menjelajah ruang batinnya.

Sedemikian pilu dan menyakitkan. Endapan rasa yang beliau simpan saat memutuskan untuk menjalankan peran sebagai penghuni sisi miring dengan sebaik-baiknya kian menguatkan alasanku mengapa selalu kubilang, kami yang diberi jatah peran membahas dunia Khurafat bukan abai atau sengaja uji nyali dengan ancaman yang terus mengintai. Hanya saja, hati kami memang sudah terlanjur terpatri pada Sang Al-Haq. Apa pun peran asalkan itu adalah bagian dari bentuk peghambaan dan hati kami tak dihalangi dari mengimani sifat Arrahiim-Nya, maka La haula wala quwata illa billah.

Bergegas menyeka air mata yang sempat ikut meluncur bebas bersamaan dengan tawa yang kulepas. Ego melarangku menangisi babak sisi miring ini begitu juga dengan tatapan memelas ibuku yang berharap aku menerima tawaran, itu. Alih-alih setuju, aku justru sengaja meremas dan merobek surat itu di hadapannya lalu melenggang keluar rumah mencari tempat sampah, berharap babak aneh dalam hidupku ini ikut menghilang setelah membuangnya.

Sejenak mengamati langit sebelum benar-benar memasukkan serpihan kertas itu ke keranjang sampah di depan rumah. Berharap Sang Pemilik Arsy nan Agung menangkap rupa hatiku kala menyimak pesan, itu. Berharap Ia nan Mahaagung menangkap setiap perubahan irama pada denyut nadiku setiap kali menyadari peran yang ingin kupilih.

Hmm … dunia. Panggung sandiwara ekstravaganza. Meski diri sudah berusaha menjalani kehidupan sesederhana mungkin dan menjaganya agar tetap di dalam garis aman yang telah disebutkan. Namun, apalah daya jika Sang Pemilik panggung sendiri yang justru menyiapkan kisah kejutan dan merubah alur yang telah kita susun.

Saat kejujuran, ketulusan, dan kasih sayang sudah kupilih untuk menjadi modal utama memainkan peran. Ketika dengan sepenuh hati mengakui bahwa yang berkuasa hanyalah Ia Sang Mahatunggal. Maka, seharusnya aku tak perlu terkejut berlebihan jika intrik dengki dan unsur penyakit hati lainnya tiba-tiba saja hadir layaknya sebuah iklan.

Masih terekam jelas awal mula hidupku menjadi seperti ada di dalam wahana uji nyali. Pertemuan dengan beberapa ahli supranatural yang mencoba membantuku dengan semua keanehan, ini. Ada satu pesan yang sama meski terucap dalam susunan kalimat yang berbeda, dan ternyata masih kembali kujumpai lewat perpanjangan lisan bang Jali. Sebuah pesan yang membuatku semakin merasa bahwa aku memang tidak diterima hidup di bumi, ini.

‘Semua ilmu yang ada di bumi ini harus memiliki guru dan mereka yang tidak percaya dengan ketetapan Allah diminta untuk angkat kaki dari bumi.’

Lalu, ke mana aku harus pergi jika sudah lebih dari tiga orang yang tak saling kenal mengatakan hal serupa? Sementara mereka yang kuharapkan dapat membantuku melewati proses ini justru ikut menabur benih-benih kebencian. Tidak ada yang mau percaya meski aku telah menyampaikan duduk perkara dengan sebenar-benarnya.

“Semua cuma karena aku jatuh cinta pada Allah! Sesederhana itu, sebenarnya. Tapi kenapa Allah justru bikin hidup aku makin aneh kayak gini?! Semakin aku berusaha njelasin tentang kondisi aku dengan sejujur-jujurnya, aku malah dibilang mulai gila gara-gara patah hati. Berulangkali yang kuminta cuma hati yang tenang, tapi Allah malah bikin hati ini pontang-panting gak karuan. Aku malu, Allah ….”

Tak pernah terbayang kalau aku pun bisa melakukan adengan seperti Fandy. Meluapkan semua beban hati di tengah lapangan, tak peduli meski banyak mata memandang heran. Namun, dengan gerakan yang sedikit berbeda dari tokoh yang diperankan oleh Andre Stinky, aku sengaja mengajak keningku berada di titik terendah seorang hamba tanpa berpikir terlebih dahulu untuk menyesuaikan arah kiblat karena yang kutahu lututku tak lagi mampu membantu menopang langkahku. Seiring tubuh yang kian gemetar karena momen perjalanan astral dengan pak Leo masih melekat kuat dalam ingatan. Tak ada pilihan selain menyembunyikan tangis dalam sujud.

Hening, sejenak. Damai menelusup hati meski sesaat, tetapi di waktu yang singkat itu terselip benih kesadaran yang bertumbuh. Benar, selalu saja tentang empat Maqadirullah yang kujadikan sebagai kambing hitam untuk membenarkan ketidakdewasaanku dalam menyikapi tantangan hidup yang tak mampu kujalani dengan baik. Di tengah perdebatan klasik antara qadar dan doa, tentang mana di antara keduanya yang lebih berperan dalam kehidupan, maka tak ada jalan lain bagiku selain menjadikan keridaan sebagai hakim garisnya. Wa rida bil qadar adalah kata kunci yang selalu kumainkan ketika mulai kehilangan kendali atas hati dan akal sebab semua keanehan, ini.

Siapa berperan sebagai apa. Protagonist, antagonis, hypocrite, Yod, finger of God, atau apalah istilah lainnya yang bisa membuat kepala ini bertambah pusing. Ada satu keyakinan yang selalu kutanamkan sebagai penyemangat diri yaitu keyakinan bahwa setiap insan yang terlahir ke bumi adalah hamba yang beruntung karena mendapat kesempatan untuk membuktikan langsung saat Sang Mahabijak merangkai kisah dan mengatur laju dunia.

No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...