“Ajak adek Loe ke mari, Yok. Biar kepegang ilmunye. Entar Ane kasih
amalan, sukur-sukur die mau jadi murid Ane. Bahaya itu kalo kagak ada yang
megang. Lagian, adek Loe beguru di mane, emangnye? Loe bilangin, dah, kalo ngilmu
mah kagak usah tinggi-tinggi, nyang penting cocok ame diri, badan juga kuat
ngebawanye. Nih, Ane kasih amalan pertama. Sampe’in dah, jangan ampe kagak.
Nah, ‘nti seminggu lagi, Loe bawa dah die ke marih. Penasaran Ane, ngilmu ape
sih sebenernye adek ente, ‘ntuh,” ucap ibuku menirukan aksen anak keduanya yang
memang cukup kental setelah menikahi pilihan hatinya yang asli betawi.
Aku terkekeh mendengarnya. Alih-alih menanggapi dengan serius, aku
justru balik bertanya kenapa pesan itu tidak disampaikan langsung oleh kakakku.
Toh, aku juga ada di rumah saat ia datang bersama istrinya.
“Takut,” jawab ibuku karena mereka tahu aku anti membahas hal-hal
yang berbau syirik.
Kejadian ini sebenarnya berhubungan dengan kondisi kesehatan
adikku. Di antara usaha kami mencari kesembuhan dengan jalan alternatif yang
membuatku bertemu dengan bang Jali; sang pemilik pesan. Sebelumnya aku memberi
izin kakak keduaku untuk membawa adik kami berobat pada kenalannya tersebut
karena sebelumnya dijelaskan kalau media pengobatannya hanya menggunakan air
putih serta salawat nabi, aku pun baru bertemu beliau setelah pertemuan kedua,
dan entah kenapa selalu saja muncul sensasi yang sama tiap kali berhadapan
dengan orang-orang yang sengaja mendalami dunia supranatural. Seperti dua kutub
magnet senama yang didekatkan, seringnya energi praktisi supranatural yang
sudah kutemui semakin membuatku tak nyaman, dengan alasan itu pula aku enggan mendampingi
adikku pada pertemuan-pertemuan berikutnya.
“Ngilmu apa? Beguru di mana? Nyang ada juga Nie' ngglosor di atas
sejadah tiap hari. Tuh, guru Nie’ bejejer di rak buku, Qur’an sama Hadis jilidan,
itu juga khatam cap asrama. Aneh-aneh aja, dah.” Sengaja menggerutu saat
dipaksa ibuku untuk membuka secarik kertas yang datang bersama pesan lisan.
Membaca pesan yang tertulis. Tak lagi bisa menahan rasa yang
menggelitik ulu hati, aku pun akhirnya melepas tawa. Bukan menertawakan niat
baik bang Jali, untuk menjadikan aku muridnya, tapi lebih kepada tawa seorang
pecundang. Aku menertawakan alur kehidupan yang semakin tak kupahami terlebih
setelah selesai membaca rincian amalan yang harus bisa kukuasai dalam waktu
singkat.
Beberapa poin di antara dua
belas amalan yang dicantumkan sesungguhnya telak menusuk hati karena tak berbeda
jauh dengan sembilan amalan yang pernah diberikan oleh empat ulama yang mencoba
membantuku sebelum bertemu bang Jali. Zikir dan salawat mengisi tiga poin
pertama. Istighfar seribu kali, membaca kalimat Tahlil dan salawat nabi
sebanyak-banyaknya. Puasa mutih, errr ... syukurnya tak tercantum mandi kembang
tujuh rupa dengan air dari tujuh sumur yang berbeda setiap malam jum’at kliwon
di dalamnya.
Zikir dan salawat. Dua amalan itu memang sedang sengaja kutinggalkan
setelah pertemuanku dengan bapak Leo Lumanto. Adegan ala-ala Andre Stinky dalam
film Kiamat Sudah Dekat di tengah lapangan Gledek sepulang dari sana membuatku
memutuskan untuk menjauhi Zat yang telah mengenalkanku pada cinta tak bersyarat.
Untuk pertama kalinya bertemu praktisi supranatural dengan energi selaras,
kutub magnet yang diarahkan menyambutku ramah. Namun, nanar mata batin kian
menjadi ketika untuk beberapa detik aku diberi izin untuk ikut menjelajah ruang
batinnya.
Sedemikian pilu dan menyakitkan. Endapan rasa yang beliau simpan
saat memutuskan untuk menjalankan peran sebagai penghuni sisi miring dengan
sebaik-baiknya kian menguatkan alasanku mengapa selalu kubilang, kami yang
diberi jatah peran membahas dunia Khurafat bukan abai atau sengaja uji nyali dengan
ancaman yang terus mengintai. Hanya saja, hati kami memang sudah terlanjur
terpatri pada Sang Al-Haq. Apa pun peran asalkan itu adalah bagian dari bentuk
peghambaan dan hati kami tak dihalangi dari mengimani sifat Arrahiim-Nya, maka
La haula wala quwata illa billah.
Bergegas menyeka air mata yang sempat ikut meluncur bebas bersamaan
dengan tawa yang kulepas. Ego melarangku menangisi babak sisi miring ini begitu
juga dengan tatapan memelas ibuku yang berharap aku menerima tawaran, itu. Alih-alih
setuju, aku justru sengaja meremas dan merobek surat itu di hadapannya lalu melenggang
keluar rumah mencari tempat sampah, berharap babak aneh dalam hidupku ini ikut
menghilang setelah membuangnya.
Sejenak mengamati langit sebelum benar-benar memasukkan serpihan
kertas itu ke keranjang sampah di depan rumah. Berharap Sang Pemilik Arsy nan
Agung menangkap rupa hatiku kala menyimak pesan, itu. Berharap Ia nan Mahaagung
menangkap setiap perubahan irama pada denyut nadiku setiap kali menyadari peran
yang ingin kupilih.
Hmm … dunia. Panggung sandiwara ekstravaganza. Meski diri sudah
berusaha menjalani kehidupan sesederhana mungkin dan menjaganya agar tetap di
dalam garis aman yang telah disebutkan. Namun, apalah daya jika Sang Pemilik
panggung sendiri yang justru menyiapkan kisah kejutan dan merubah alur yang
telah kita susun.
Saat kejujuran, ketulusan, dan kasih sayang sudah kupilih untuk
menjadi modal utama memainkan peran. Ketika dengan sepenuh hati mengakui bahwa
yang berkuasa hanyalah Ia Sang Mahatunggal. Maka, seharusnya aku tak perlu
terkejut berlebihan jika intrik dengki dan unsur penyakit hati lainnya
tiba-tiba saja hadir layaknya sebuah iklan.
Masih terekam jelas awal mula hidupku menjadi seperti ada di dalam
wahana uji nyali. Pertemuan dengan beberapa ahli supranatural yang mencoba
membantuku dengan semua keanehan, ini. Ada satu pesan yang sama meski terucap dalam
susunan kalimat yang berbeda, dan ternyata masih kembali kujumpai lewat
perpanjangan lisan bang Jali. Sebuah pesan yang membuatku semakin merasa bahwa
aku memang tidak diterima hidup di bumi, ini.
‘Semua ilmu yang ada di bumi ini harus memiliki guru dan mereka
yang tidak percaya dengan ketetapan Allah diminta untuk angkat kaki dari bumi.’
Lalu, ke mana aku harus pergi jika sudah lebih dari tiga orang yang
tak saling kenal mengatakan hal serupa? Sementara mereka yang kuharapkan dapat
membantuku melewati proses ini justru ikut menabur benih-benih kebencian. Tidak
ada yang mau percaya meski aku telah menyampaikan duduk perkara dengan
sebenar-benarnya.
“Semua cuma karena aku jatuh cinta pada Allah! Sesederhana itu,
sebenarnya. Tapi kenapa Allah justru bikin hidup aku makin aneh kayak gini?!
Semakin aku berusaha njelasin tentang kondisi aku dengan sejujur-jujurnya, aku
malah dibilang mulai gila gara-gara patah hati. Berulangkali yang kuminta cuma
hati yang tenang, tapi Allah malah bikin hati ini pontang-panting gak karuan.
Aku malu, Allah ….”
Tak pernah terbayang kalau aku pun bisa melakukan adengan seperti Fandy.
Meluapkan semua beban hati di tengah lapangan, tak peduli meski banyak mata
memandang heran. Namun, dengan gerakan yang sedikit berbeda dari tokoh yang
diperankan oleh Andre Stinky, aku sengaja mengajak keningku berada di titik
terendah seorang hamba tanpa berpikir terlebih dahulu untuk menyesuaikan arah
kiblat karena yang kutahu lututku tak lagi mampu membantu menopang langkahku.
Seiring tubuh yang kian gemetar karena momen perjalanan astral dengan pak Leo masih
melekat kuat dalam ingatan. Tak ada pilihan selain menyembunyikan tangis dalam
sujud.
Hening, sejenak. Damai menelusup hati meski sesaat, tetapi di waktu
yang singkat itu terselip benih kesadaran yang bertumbuh. Benar, selalu saja
tentang empat Maqadirullah yang kujadikan sebagai kambing hitam untuk
membenarkan ketidakdewasaanku dalam menyikapi tantangan hidup yang tak mampu
kujalani dengan baik. Di tengah perdebatan klasik antara qadar dan doa, tentang
mana di antara keduanya yang lebih berperan dalam kehidupan, maka tak ada jalan
lain bagiku selain menjadikan keridaan sebagai hakim garisnya. Wa rida bil
qadar adalah kata kunci yang selalu kumainkan ketika mulai kehilangan kendali
atas hati dan akal sebab semua keanehan, ini.
Siapa berperan sebagai apa. Protagonist, antagonis, hypocrite, Yod,
finger of God, atau apalah istilah lainnya yang bisa membuat kepala ini bertambah
pusing. Ada satu keyakinan yang selalu kutanamkan sebagai penyemangat diri yaitu
keyakinan bahwa setiap insan yang terlahir ke bumi adalah hamba yang beruntung
karena mendapat kesempatan untuk membuktikan langsung saat Sang Mahabijak
merangkai kisah dan mengatur laju dunia.
No comments:
Post a Comment