Wednesday, April 22, 2026

FENOMENA UNGU VIOLET

 

Ternyata bukan hanya Marsha, tetapi ada juga yang namanya Peter CS, Esmeralda, Chika. Ah, entah ada berapa banyak nama lagi makhluk tak kasat mata yang ikut meramaikan panggung hiburan tanah air. Hahaa … pak suami auto wanti-wanti begitu tahu aku rutin mantengin Jurnal Risa. Ultimatum menakutkan pun segera diluncurkan kalau tayangan itu sampai membuka kembali gerbang sisi miring-ku.

 Ayayoy. Jurus merayu pun segera kukerahkan karena tak rela kehilangan rida suami. Aku paham dengan kekhawatirannya, tetapi aku juga tak mau melepas kesempatan untuk mengurai benang merah yang masih terlihat kusut melalui penjelasan-penjelasan yang disampaikan tim Jurnal Risa. Bukan dengan cara-cara seperti yang dikhawatirkan oleh suami, tetapi cukup dengan mengamati setiap kisah yang dibagikan. Mereka yang berani menunjukkan jati diri, mampu berdamai dengan semua keanehan yang ada dan berhenti melarikan diri. Menjalani peran tanpa takut bulian atau disebut manusia halu karena selalu membahas sesuatu di luar nalar manusia.

Hmmm … mataku reflex membundar ketika pertama kali melihat Frislly Herlind berubah jadi Marsha. Stunning kaget begitu melihat anggota Peter CS diundang mediasi.  William, Hans, ah … aku belum hapal semua nama teman-teman unik Risa Saraswati.

Jiwa-jiwa lara. Hantu gentayangan. Apakah benar itu adalah ruh yang belum rela menutup kisah hidupnya di dunia atau lagi-lagi termasuk bagian dari upadaya makhluk ciptaan yang mendapat peran sebagai musuh abadi umat manusia.

Lalu, apa kabar si Kuning yang dulu pernah mengajak berjabat tangan sebagai simbol pertemanan? Pocong sanggul Sailormoon yang mengajak muroja’ah di waktu sepertiga malam? Kakek jenggot panjang dengan tongkatnya uniknya, yang tak lama kemudian membuatku bersitegang dengan ‘ia’ yang biasa digambarkan sebagai penguasa laut selatan. Nenek bersanggul yang setiap kali datang selalu saja memasang wajah marah, atau sosok seperti Dementor yang membantuku melawan siluman kera.

Berapa banyak penampakan dari bentuk kasar yang mereka ambil ketika mengajakku berinteraksi sudah tak lagi kuhitung. Seperti dua sisi mata uang, mereka selalu hadir hampir bersamaan. Ada yang datang karena memang diperintah untuk menyakiti dan selang waktu berikutnya hadir sosok yang memperkenalkan diri sebagai pelindungku.

Argh! Menghuni sisi miring ini, entah aku yang sengaja mengetuk pintu dan menetap di sana atau memang diberi kesempatan yang sama seperti Khurafat tanpa kuminta. Mendapat izin mengamati secara langsung seperti apa laju kehidupan para hamba yang diciptakan tak kasat mata. Memetik hikmah dari arti keimanan melalui cara yang banyak orang menyebutnya sebagai cabang penyekutuan meski sudah berkali-kali kusampaikan tentang apa yang kualami justru membantuku membuktikan bahwa keterangan wa ma kholaqtul jinna wal ins aitu benar adanya.

Jinna wal Insa. Manusia dengan kulit pembungkus tulang, dengan rupa dan raga yang dapat dikenali. Sedangkan Jin, yang terkadang kehadirannya diketahui hanya berupa semilir angin dan perubahan suasana. Maka, seharusnya tak perlu heran berlebihan ketika tanpa sengaja terjadi persinggungan atau justru ada yang sengaja membangun komunikasi antara kedua belah pihak karena terdorong rasa penasaran. Ya, usil meneliti kehidupan makhluk lain.

Hmmm … sisi miring. Meski aku tahu kisah hidupku tak sekeren kisah hidup tim Jurnal Risa atau Frislly Herlind. Tapi, setidaknya izinkan aku untuk ikut berpartisipasi membagikan secuil kisah sisi miring yang kupunya.

No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...