Saturday, May 23, 2026

CINTA MATI(6)

 

[Sini, liat my baby. Namanya Orlin.]

Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan anak keenam, di tahun 2016. Menyusul beberapa foto bayi mungil terbungkus kain bedong instan berwarna merah muda. Aku terharu saat memandangi potretnya yang sedang menggelayut manja pada bahu sang Arjuna. Ikut merasakan kebahagiaan menyaksikan indahnya buah manis yang didapat sebagai hadiah dari kesabarannya selama ini.

Sementara aku? Ah, tanpa kusadari, aku telah membuat hati ini patah dengan mengamini banyaknya prasangka buruk setelah kisah cinta beda organisasiku terendus dan terus berkembang saat mengetahui bahwa aku tetap meneruskan niatku untuk menikah meski rambu-rambu bahaya telah dipasang. Lemah. Ternyata aku tak cukup berlapang dada meski menyadari bahwa doa baik yang kuharapkan datang saat duduk di pelaminan akan diiringi kalimat istirja dan guratan kekecewaan. Sempat berpikir pula bahwa aku yang tak kunjung menimang buah hati memang dari hukuman yang harus kuterima karena nekat melanggar ijtihad keimaman.

Baju, ini. Organisasi yang seharusnya menjadi penyatu umat dan penguat bangsa justru terasa seperti duri dalam daging. Janji yang kubuat setelah Dodot menghempasku agar menjauh dari puasaran cahaya yang menghisapnya. Berjanji untuk melipat baju yang kami kenakan setelah mengetahui penyebab ia mendapat penganiayaan semasa bertugas menjadi abdi negara. Sungguh, aku terus berusaha untuk menepatinya. Mencari cara untuk bisa memutus mata rantai, ini. Berharap tak ada lagi khilaf seperti yang dialami suami sahabatku.

Perpecahan, perseteruan. Ringan mengalirkan darah hanya karena fanatik buta. Mengambil keuntungan pribadi dengan mengatasnamakan agama.

Perdebatan klasik tentang Mazhab yang terus dilestarikan, sifat Mahmuda dan Karima yang terus dibuat seakan-akan tak mungkin bisa disandingkan. Hawa nafsu kita sebagai manusia, membuat jalan yang lurus menjadi terkesan bercabang dan sulit untuk dilalui. Dengan begitu banyaknya keterangan tentang keadaan akhir zaman, kita seolah-olah dipaksa meyakini bahwa semakin lama umat yang meyakini risalah sang nabi memang tak ubahnya seperti buih di lautan.

Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya. Benar, aku meyakini setiap keterangan yang pernah kudapat, tetapi aku pun mempercayai akal dan hati yang dititipkan dalam raga ini. Berusaha menjaga dan menggunakan ajal yang kumiliki dengan sebaik-baiknya. Agar saat jatah napasku diminta kembali bisa kukembalikan dengan tenang karena telah memenuhi kewajibanmya ketika diminta untuk merenungi setiap Keesaan Sang Khaliq.

Seberat biji sawi. Ya Hakkam-Ya ‘Adl, dua Sifat yang semakin kuat kupatri dalam hati sejak mendapat sebutan ‘Anjing neraka.’ Mahasuci Allah dengan segala Kebijaksanaan-Nya, aku semakin memahami arti sebuah peran. Tak lagi berani menyimpan amarah apalagi memaki, terlebih kepada insan yang telah dipilih untuk menjadi perantara rusaknya mutiara terindah di bumi.

Tergores ego. Tamak. Jumawanya kita sebagai manusia. Menjadi ternoda hanya karena perbedaan sudut pandang dan cara yang kita pilih dalam menyikapi nubuat sang nabi.

Entah reaksi apa yang akan kudapati setelah membagikan endapan rasa, ini. Namun, hati telah bertekad untuk menepati janji. Melipat baju yang ada dan kembali mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh Sang Pencipta karena organiasi hanya sebatas wadah dan sebaik-baiknya pakaian yang disebutkan hanyalah ketakwaan

Wa kafa billahi syahida; ayat indah yang kupilih sebagai tameng andai dua kalimat syahadatku tetap diragukan. Muhammadarasulullah; tetap kujaga kedua ayat suci tersebut meskipun semakin banyak yang meragukan keimananku.

CINTA MATI(5)

 

“Coba, Yan … Gue mau buktiin, Loe beneran punya indera keenam apa enggak.” Sahabatku mendadak menghentikan sepeda motor yang membawa kami dan kedua anaknya menuju daerah Cimone di perempatan jalan.

“Heh? Maksudnya apa, ya? Awas, syirik loh percaya sama yang begituan. Kan tadi pas berangkat dari rumah bilangnya kita cuma mau ketemuan sama Cimon, aja. Nggak ada tuh keterangan bakalan ada sesi uji nyali segala.” Sengaja menyelipkan tawa saat menjawab karena mendapati wajahnya yang tersipu setelah mendengar nama tambatan hatinya disebut.

“Udah, deh. Diterima nggak nih tantangannya? Kalo enggak, kita bakalan berenti di pangkalan ojek ini sampe Kamu setuju.”

“Lah … Kamu nggak kasian sama anak-anak? Panas-panasan gini di pinggir jalan. Kalo Aku mah udah biasa.”

Sengaja menggoda dan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang ingin ia sampaikan sementara ekor mataku terus saja mengawasi seorang pria yang pipi gembilnya dihiasi rambut halus yang lumayan lebat di seberang jalan. Mengenakan setelan biru berbahan parasit, uduk di antara tukang ojek yang sedang menunggu penumpang.

“Ah, Oyan … seriusan, nih. Gue cuma pengen tau, pilihan hati Gue ini beneran jodoh Gue apa bukan. Gue sih sebenernya udah yakin, tapi kalo Elo bisa nerima tantanga ini, kan, bisa bikin Gue tambah yakin kalo pangeran tampan gue ini emang beneran ganti yang dipilihin sama almarhum, juga.”

“Hmmh … Iya, iya. Udah cepetan, apa tantangannya? Kasian ini anak-anak, keburu kepanasan.” Akhirnya menyerah karena tak tega mendengar kedua peri kecilnya yang mulai merengek kepanasan.

“Siip! Nggak susah-susah kok. Gue cuma pengen loe nebak, kira-kira di antara cowok yang nongkrong di seberang jalan sono, menurut Loe, ada pangeran Gue, nggak?” Lalu menunjuk tempat yang dimaksud dengan gerakan kepalanya.

“Ada. Itu, cowok brewokan yang pake setelan parasit warna biru.”

“Ih, kok Elo tau sih, Yan,” ujarnya gemas, lalu melambaikan tangan ke arah pria yang lantas merespon panggilannya.

“Haelah, yang begitu mah nggak perlu pake indera keenam juga bisa kali, Bund. Wong dari awal kita masuk gang sini juga udah keliatan. Masa iya, ada tukang ojek mukanya langsung tersipu-sipu gitu ngeliat orang yang nggak dikenal.”

“Woy! Dia duduk di seberan jalan, kali, Jeung. Masa iya Kamu jeli ngeliatin ekspresi orang satu-satu. Padahal dia duduknya juga di tengah-tengah orang banyak, loh. Bisaan, ya, kalo ngeles. Udah kaya bajaj, aja. Hahaa ….”

Kompak terkekeh dan baru berhenti saat pangeran Cimone yang dimaksud menghampiri kami dengan sepeda motor yang ia bawa.

Musim asramaan memang sudah selesai, tetapi temu kangen masih terus berlanjut. Ya, setidaknya sampai hasil keputusan peserta pendidikan kilat yang akan kuikuti diumumkan. Sebisa mungkin memanfaatkan waktu di masa-masa penantianku, itu. Tak hanya mengisi waktu dengan mengulang kenangan semasa mondok, tetapi juga mendadak menjadi nyamuk untuk dua sejoli yang sama-sama tengah dimabuk cinta kedua. Ihiiir ….

Rasanya seperti disuguhkan langsung drama percintaan ala sinetron. Namun, apalah dayaku yang meskipun usia sudah menjelang kepala tiga, tetapi tetap tak mengerti apa itu cinta. Walhasil, aku hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala setiap kali kawan karibku ini memulai sesi curahan hati.

“Jadi, menurut feeling Loe gimana, Yan? Akhir kisah cinta Gue ini bakalan gimana? Gue sih sebenernya nyantai aja, tapi wajarkan kalo Gue ngerasa sedikit sakit hati. Gue udah simpen semua buktinya, Yan. Rekamannya juga masih ada. Ya, Gue juga sadar, nggak bisa nyalahin apalagi marah sama keluarga Gue. Gue anggep aja ini bagian dari qadar. Satu lagi rintangan buat nguji ketulusan niat Gue sama doi buat nikah,” ungkap sahabatku suatu hari, di saat membahas dilema kisah cintanya yang hanya bisa dipendam seorang diri.

Maaf, jika aku tak dapat menceritakan secara rinci di bagian ini karena saat meminta izin untuk mengangkat kisah hidupnya menjadi bagian dari Catatan Sisi Miring-ku ini pun, kuniati hanya mengambil kisah yang bisa menjadi pelajaran bersama. Jujur, apa yang sempat dialami sahabatku untuk kembali menyempurnakan agamanya, telah memberiku pelajaran tersendiri. Pelajaran yang sangat berarti dalam menghayati peran agama dalam kehidupan. Ada di dalam satu wadah keyakinan yang sama ternyata tetap tak bisa menjamin kita untuk mendapat kisah cinta seindah Sayyidina Ali dan Fatimah.

Dogma. Bahkan keterangan tentang Islam yang akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan pun ternyata bisa disesuaikan dengan kebutuhan para pemangku kepentingan. Aku yang telah susah payah menjaga dan merawat tunas cinta yang mulai bertumbuh reflkes menutup pintu hati kembali dan mulai memajukan logika dalam beragama. Mungkin benar seorang hamba tak ubahnya seperti sapi yang keluh, hanya diminta menurut saat diarahkan.

Namun, manusia bukanlah hewan dan gambaran tersebut tidak bisa mutlak dipraktekkan. Lalu, apa gunanya akal diberikan jika berpikir disebut sebagai bentuk pemberontakan. Di mana seharusnya menempatkan nurani, kebebasan berkehendak yang diiringi dengan kesadaran akan adanya pertanggungjawaban sikap jika setiap keputusan sudah ditetapkan bahkan sebelum langkah kita mulai. Peraturan yang dibuat begitu sesak dengan mengatasnamakan penyeragaman sementara Sang Khaliq sendiri menciptakan begitu banyak keragaman agar setiap hambanya dapat menggali dan mengenali warna sejati yang mereka yakini.

“Hmmh, kamu kan tau, Bund … biar kata udah setua ini tapi aku masih nggak ngerti apa itu cinta. Ndenger cerita begini aja malah bikin hati Aku makin ciut buat nikah. Apa kabarnya coba, kalo pengurus di tempatku juga akhirnya tahu kalo calon imam yang Aku pilih beda organisasi sedangkan Kamu yang udah sama-sama ngaji aja harus nemuin batu sandungan macam begini. Terus, kalo ngomongin feeling, Kamu sendiri kan tau apa jawaban Aku kalo mbahas tentang keyakinan. Prinsip Aku dari dulu, satu-satunya konsekuensi dari niat baik, ya, cuma pahala.  Kalau pun dirasa langkah yang kita buat dinilai salah, tapi selama yang kita sebut di awal itu namanya Allah, yakin aja, Allah pasti ngejaga. Udah, gampangnya Kamu fokus aja sama pesen Cimon, fokus sama niat kalian nyempurnain agama. Kan, Allah juga emang nggak tidur, Bund.”

Hanya itu jawaban yang bisa kuberikan pada perjumpaan terakhir kami dan berusaha mengenali pil pahit yang mulai terbayang di pelupuk mata.

Friday, May 22, 2026

CINTA MATI(4)

Tanggal 13 Desember 2008, lagi-lagi sukma ditarik paksa, dibawa masuk ke dalam sebuah pesawat terbang. Sengaja memperhatikan setiap penumpang yang berpakaian serba putih, siapa tahu ada seseorang yang kukenal. Lama mencari, tetapi tak ada satu pun wajah yang dapat kukenali.

"Lalu, untuk apa aku dibawa ke sini?" Bertanya-tanya dalam hati saat perlahan menuju kursi penumpang paling depan.

Bisa jadi karena memang tak pernah naik pesawat sebelumnya, jadi wajar jika kukatakan pesawat itu agak sedikit aneh karena sebelum ditarik masuk, aku masih sempat melihat bagian luar armada yang memang terlihat seperti pesawat terbang. Tapi, setelah masuk penampakan di dalamnya terlihat seperti lantai dansa kapal Titanic. Deru mesin yang terdengar pun lebiih mirip laju kereta api, dan air muka setiap penumpang yang kuamati membuatku merasa sedang menaiki kereta hantu.

Rona wajah yang sama. Biru, pucat pasi, tatapan mata yang kosong kian menguatkan kesan pilunya kehidupan setelah mati andai gagal mempersiapkan bekal dengan sebaik-baiknya. Setelah semakin sering mengalami lucid dream, baru kali ini aku mendapat pengalaman yang berbeda karena ‘mereka’ yang kulihat seperti menyadari keberadaanku, beberapa penumpang bahkan mencoba berinteraksi, ada yang berusaha meraih tanganku, ada juga yang seperti sengaja memasang raut memelas ketika mendekatkan wajah mereka di depan hidungku. Di tengah kebingungan, datang satu pramugari yang kutahu sejak awal juga memperhatikan aku ikut memberiku tatapan yang membuat hati ini teringat gambaran penyesalan karena telah menyia-nyiakan kesempatan hidup di dunia.

Gerak bola matanya seolah memberi isyarat agar aku terus bergerak maju. Tak ingin banyak tanya, aku lantas bergerak sesuai arahan dan diam menunggu, di sana. Tak berselang lama, datang balita lucu menghampiri, menggayut manja di kaki tanpa berhenti menatapku. Tergoda hati ini untuk menimangnya setelah bocah kecil itu memberikan senyum lugunya. Tersentuh dengan tingkah comelnya, naluri keibuan menggerakkan tanganku untuk menimangnya dalam buaian. Namun, sebelum sempat meraih tubuh mungilnya, berdiri seorang pria yang juga memberiku senyuman tak kalah ramah.

Entah apa ada hubungannya. Namun, tak lama setelah melihat senyuman itu, aku merasa berada di ruang hampa udara. Para penumpang yang kulihat menjadi seperti balon udara yang terlepas dari tangan. Semua melayang, termasuk pria di hadapanku, juga bocah lucu yang sudah dalam gendongannya. Aku terpaku.

"Titip Wiwik, jaga dia baik-baik. Bilang, kami baik-baik, aja. Sampein ke dia, jangan suka naek ke atap rumah orang kalau tengah malem. Kalau kangen aku, suruh liat aja mata Reihan. O, iya, ini anak bungsu kami. Kamu belum sempet liat, kan? Kami harus pergi sekarang. Janji jaga Wiwik, yah …."

Air mata mengalir memandangi bocah lucu yang meringkuk nyaman dalam buaian sang ayah. Tak dapat mengucap sepatah kata pun saat menjumpai pusaran udara di depan mata yang kian membesar. Sinar putihnya terlihat begitu cemerlang, belum pernah aku melihat warna seindah itu, bahkan seberkas sinar yang pernah menuntunku saat mati suri dulu pun masih kalah terang.

Hati mengerut saat menyaksikan setiap pemunpang yang ada terhisap masuk ke dalamnya karena ingatan mengajakku kembali pada momen ditindih bola upil dan menghilang di dunia mimpi yang panjang.  Sekujur tubuh menggigil saat Netra tak lepas memperhatikan setiap penumpang yang memasuki pusaran tersebut dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang masuk dengan begitu mudahnya, ada yang seolah-olah tak terpengaruh dengan dahsyatnya pusaran dan justru sengaja melenggang mendekati titik masuk, tapi tak sedikit pula yang meronta, melakukan perlawanan sekuat tenaga dengan meraih benda-benda yang bisa menahan badan agar tak sampai tertarik masuk ke dalam pusaran.

Wajah-wajah yang melakukan perlawanan, itu. Tatapan terakhir yang mereka arahkan sebelum menghilang sepenuhnya, seakan-akan aku dapat menangkap apa yang mereka coba sampaikan. Rasa takut yang tak berujung, kebingungan yang tak bertepi. Penyesalan yang tak memiliki akhir. Perasaan yang sebenarnya tak jauh berbeda seperti yang kurasakan saat memasuki tidur panjangku, dulu.

Mungkin bedanya saat mengalaminya dulu aku masih berupa lembar putih yang bersih, jadi ketakutan yang kurasa saat itu sepertinya lebih sederhana. Terjebak kebingungan karena sebelum menghilang dalam gelap sempat melihat ibuku menangis dan menutupi seluruh wajahku dengan selimut. Aku ketakutan karena setelah melihat banyak orang menungguiku di kamar, tapi dalam sekejapan mata tiba-tiba saja aku hanya sendirian dan tak lagi berada di tempat yang sama, dan satu-satunya penyesalanku saat itu hanyalah saat menuruti ajakan orang asing untuk memandang rembulan yang selesai ia panah.

Belum lepas merekam ulang rasa, lagi-lagi dibuat terkejut karena beberapa penumpang yang sebelumnya sempat mengajak berinteraksi ternyata bisa menyentuhku, tatapan mata mereka benar-benar membuat hati ngilu. Tak ada niat untuk menepis genggaman mereka dan menurut saja saat dituntun untuk berjalan mendekati pusaran. Perlahan tubuhku pun mulai terasa seperti seringan kapas, rasa takjub pada sinar indah itu membuatku ingin juga memasuki pusarannya. Namun, tanpa kuduga, pria yang menggendong balita tadi sengera mendorongku.

“Ini bukan waktunya kamu! Titip Wiwik!” hardiknya sebelum menghilang di balik pusaran.

Dan seperti biasa, seakan-akan dientak alat pacu jantung, akhirnya aku pun terjaga.

"Ah, Dot …. Kalau emang benar yang dateng dalam mimpi itu kamu, aku harus apa buat nepatin janji aku?”

Lama termenung menatap langit-langit rumah yang tak berplavon dan baru tersadar ketika dering gawai berbunyi.

Satu pesan baru masuk di waktu sepertiga malam. Bergegas menuju kamar mandi untuk berwudu setelah mengetahui siapa yang mengirim pesan dan membaca isi kabar yang diberikan. Satu kabar bahagia yang sedang kami tunggu akhirnya datang juga, tepat di hari lahir sahabatku. Hasil sidang telah diputuskan, ia mendapatkan kembali hak asuh untuk kedua anaknya.

***

Asrama rutin Kutubussita menjadi sarana menambah ilmu sekaligus ajang reuni. O, iya, tentang Penjara Suci, aku dan sahabatku terbiasa menggunakan istilah itu selama kami tinggal di pondok pesantren. Dulu, ia sengaja memilih kata-kata itu untuk menghibur dan menyemangati aku saat masih menjadi santriwati baru.

“Jangan mikir kalo kamu lagi mondok, anggap aja kita lagi tinggal di penjara suci, Yan. Kita di sini bukan dihukum atau diasingkan, tapi justru sama Allah kita dijadiin orang-orang pilihan. Fokus nimba ilmu, fokus ibadah, nanti lama-lama pasti nemuin jalan kamu sendiri buat jatuh cinta sama agama ini. Ayo, ah … semangat!”

(Hey, Bund. Kalau kamu sempat membaca catatanku ini, terbukti aku masih mengingat dengan baik petuah bijak yang pernah kamu kasih, bukan?)

Musim Asrama tahun 2009, Pondok mini Nurul Aini kembali penuh sesak dengan para pencari ilmu dan di antara para penyampai agama itulah aku mencoba memberanikan diri-mengejar ketertinggalanku meskipun tanpa ijazah resmi sebagai seorang da’i.

"Ini Dewa, Yan. Taun kemaren pas Loe ke sini kan anak gue masih ikut ibu mertua di Surabaya. Alhamdulillah, taun ini udah bisa kumpul bareng lagi sama kakaknya. Eh, tapi biasanya cuma almarhum yang manggil dia Dewa. Loe panggil dia Rehan juga nggak papah.” Segera mengenalkan buah hatinya yang kedua, setibanya di rumah.

Hahaa, masih dengan siklus asrama seperti tahun sebelumnya. Nekat mencuri waktu istirahat dan mengisinya dengan bernostalgia.

"Emh, Wenk ... kamu kalo tengah malem hobi naek ke genteng rumah orang, ya? O, iya … Dodot juga sempet bilang, kalo kamu tiba-tiba ngerasa kangen pengen ketemu dia, disuruh liat matanya Dewa, aja__”

"Heh …? Loe tau dari mana kalo mata Rehan mirip almarhum, Yan? Kan Elo baru ketemu Rehan hari, ini? Ketemu almarhum juga cuma sekali pas nikahan doang. Iya, kan? Ah, Elo mah dari dulu aneh, Yan. Loe jangan kelewat aneh, dong … takut gue jadinya.”

Aku terkekeh melihat ekspresi wajahnya yang tiba-tiba mengerut.

"Iih … gemes, deh. Penasaran, Gue. Kok Elo bisa tau, sih? Bukan genteng orang juga kalee, cuma nyambung aja. Sini, sini … Gue kasih tahu tempat rahasia yang selalu Gue datengin sepeninggal almarhum. Tapi Elo harus janji, kasih tau Gue, dari mana Loe bisa tau rahasia ini." Lalu ia menarik tanganku dan bersama-sama naik ke lantai dua. "Ini tempat salat, itu kamar ade Aku yang cowo. Nah, dan Elo tau apa yang ada di balik pintu ini ...?" Sambil menunjuk satu pintu mungil yang ada di ruangan, tersebut.

Aku menggeleng, kemudian ia pun memutar gagang pintu itu yang ternyata menuju loteng. Padatnya rumah penduduk di daerah Kreo membuat atap setiap rumah terlihat berdekatan dan saling menyatu. Ditariknya tanganku dan kami berjalan sedikit merapat ke dinding. Hahaa ... bak duo Spidergirl saja kami saat itu. Berpetualang di atas atap rumah orang.

"Singgasana Gue kalo malem, Yan. Kalo lagi kangen suami pasti langsung naek ke sini. Duduk sendirian, apalagi kalo pas ada bulan, Gue betah duduk lama-lama di sini. Ngomong sama bintang, sama bulan, mandangin langit sambil mbayangin dia lagi ngeliatin Aku dari langit sana. Kadang, Gue ngerasa udah kaya orang gila, aja. Ngomong-ngomong sendiri, entar ketawa sendiri tiap inget kebiasaan almarhum pas pulang. Masyaallah, deh, suami Aku, tuh. Hmm …. Tapi, semua itu udah berlalu, Yan. Sekarang yang ada cuma tinggal kenangannya, aja."

Hanya bisa menjadi pendengar yang baik dan ikut menikmati pemandangan kota Jakarta menjelang senja dari ketinggian sambil sesekali memandangi wajah tangguhnya saat bercerita. Tak berani lagi menyinggung tentang mimpi-mimpi lain yang kudapat, jauh sebelum kami dipertemukan kembali.

"Kan masih ada Vio sama Rehan, Wenk. Masa Kamu mau egois nikmatin perasaan yang Kamu lagi rasa'in sekarang. Pantes aja pesennya almarhum Kamu disuruh berhenti dari kebiasaan ini. Selain bahaya, keseringan kena udara malem juga kan nggak baik buat kesehatan Kamu. Terus, kalo Kamu sakit, siapa yang bakal ngurus peri-peri kecilmu, hayo? Bukannya sok tau, tapi Aku yakin Allah udah nyiapin banyak hal indah buat Kamu setelah hari ini. Janji yah … setelah hari ini Kamu nggak boleh naek-naek ke sini lagi, jadi Aku juga bisa netepin janji ke almarhum."

“Maksud Loe, apa? Janji apaan? Pasti rahasia lagi, deh ….”

“Eh, enggak-enggak. Anggep aja barusan Aku ngelantur. Turun, yuk.”

Hahaa ... maaf bila membuat para pembaca kecewa, tetapi memang tak ada adegan berpelukan diiringi derai air mata sebagai penutup kisah kami di sore, itu. Selain harus bergegas kembali ke tempat asrama, aku sendiri memang kurang bisa mengekspresikan gambaran jiwa. Menangis sambil berpelukan, untukku … itu adalah sesuatu yang hanya biasa dilakukan dalam sebuah telenovela.


Wednesday, May 20, 2026

CINTA MATI(3)

 

Dua tahun berlalu. Hari-hari yang kujalani menjadi seperti terjebak dalam sinema Poltergeist. Akal sehat rasanya kian menjauh dari ambang kesadaran. Kembali tenggelam dalam duniaku sendiri. Mengamati kehidupan yang berjalan dari kedua sisi. Dunia yang kuhuni dan sisi miring yang tak mengizinkan aku untuk melangkah keluar. Percayalah, semua itu sungguh menguras energi dan memang sedikit mengusik ketenangan mentalku.

Bayang-bayang jin timur tengah yang mengancam akan tetap mempersuntingku meski sudah tak lagi tinggal di pesantren sesekali datang menghantui, ditambah lagi dengan efek berantai yang datang setelah drama antara bapak dan uang tumbal yang beliau ambil di jalan. Seakan-akan gangguan metafisik yang kudapat terus bertambah semenjak menghuni rumah besar, itu.

Belum putus menyusuri lorong Poltergeist, datang satu kabar di pertengahan tahun 2006 yang membuatku seketika terkulai. Kesulitan bernapas bukan karena asma yang mendadak kambuh sebab gagal menahan efek kejut yang tertangkap telinga, tapi karena kabar yang datang telah mematahkan keyakinan bahwa selama satu tahun ke belakang aku hanya sedang mengalami delusi.

“Tapi Mbak harus janji dulu, asmanya nggak boleh kambuh. Kalau Mbak Wie’ aja kuat ngejalaninnya, Mbak sebagai sahabatnya juga harus kuat ndenger ceritanya.”

Sang pembawa pesan kembali menekankan syarat yang diajukan jika aku ingin mendengar keseluruhan cerita meski sebenarnya sudah lebih dari cukup bagiku mendengar kalimat pembuka.

“Suami mba Iwenk meninggal.”

Cukup dengan mendengar kabar bahwa suami sahabatku itu telah tiada, rasanya tak ingin lagi mendengar kelanjutan cerita terlebih tentang apa yang menjadi perantara maut menjemputnya. Tak sabar rasanya hati menunggu jadwal asrama Kutubusitta gelombang berikutnya karena memang hanya lewat kegiatan rutin tahunan itu satu-satunya peluang yang kupunya untuk bisa bertemu dengannya.

Setelah menunggu selama satu tahun, waktu yang kunanti-nanti itupun akhirnya tiba. Meski sadar niat yang kubawa tak murni untuk menimba ilmu. Namun, aku tetap bersyukur telah mengambil kesempatan untuk ikut mengkaji hadis Muslim yang belum pernah terisi.

Pak Pur, sang penyampai hadis sudah bersiap di mimbar. Rasa hati dibawa bernostalgia melihat penampilan dan mendengar suaranya yang khas, masih sama seperti saat aku masih menjadi santriwatinya di tahun 1997. Hahaa … siswinya inipun masih dengan dilema yang sama. Kantuk selalu saja bergegas menggelitik pelupuk mata setiap kali berusaha fokus mencatat setiap keterangan penyampai. Namun, di sela kantuk kali ini datang seorang ibu muda yang menghampiriku.

"Ya ampuun, Jeung ...." Hanya itu yang terucap saat menyapa lantas duduk di sampingku dan mengeluarkan Mushaf miliknya dari dalam tas.

Sengaja mengerutkan kening dan melirik ke samping kirinya. Ada balita imut mengenakan baju model lebah madu yang terus menempel padanya. Baru setelah itu, kembali memandangi wajah sang ibu yang terlihat mirip sekali dengan artis Inneke Koesherawati.

Aku takut salah mengingat karena orang yang kukenal dan memang sedang kutunggu memiliki lensa mata seperti umumnya pribumi. Akan tetapi, kenapa orang yang menyapaku bermata biru?

" Iwenk ...?" Si pemilik nama hanya mencubit pipiku kemudian fokus menyimak kajian tanpa sekali pun berbincang.

Peluang untuk berbagi cerita baru terbuka saat waktu istirahat makan siang, tiba. Aku yang bukan peserta resmi otomatis tidak mendapat jatah makan dan berniat menghabiskan waktu dengan mencari makan di luar pondok. Namun, entah ide dari mana dan tanpa sedikit pun rasa gengsi, sahabat Ivory-ku itu mengisi jatah piringnya dengan porsi yang cukup untuk disantap bertiga. Jujur, momen mengantri jatah makan membuatku menahan marah karena melihat banyak ikhwan yang menggodanya saat sahabatku ikut berbaris di dekat meja prasmanan yang diletakkan bersisian tanpa tabir pembatas. Ya, meski tahu dengan status barunya, tapi aku masih mengingkari kabar yang pernah kudengar. Aku menolak percaya sebelum mendengar langsung darinya.

Di hadapan makan siang porsi jumbo akhirnya kami bernostalgia. Mengulang kisah semasa tinggal di penjara suci. Wajahnya terlihat begitu ceria sepanjang bercerita. Masih sama seperti Iwenk selebriti yang kukenal dulu, bahkan senyumnya pun masih sama persis seperti yang kulihat dalam mimpi. Tak berani menyinggung kabar yang telah kudengar, apalagi menceritakan mimpi-mimpi yang kudapat. Cukuplah dengan melihat wajahnya yang ceria untuk menguatkan keyakinan bahwa cerita yang kudapat hanya kabar burung dan mimpi-mimpi gelap itu hanyalah bagian dari bunga tidurku yang layu.

 "Nggak dianter suami, Wenk?" Setelah lama erbincang, akhirnya aku memberanikan diri menyebutkan kalimat itu.

"Enggak, suami aku lagi istirahat." Menjawab dengan ringan tanpa berhenti menyantap makanan dan sesekali menyuapi buah hatinya.

"Baru pulang dines, kah?" Aku kembali bertanya.

"Iya, selesai dines. Selamanya, insyaallah. Suami aku enak banget, Yan. Selesai tugas langsung dapet hadiah. Sekarang dia lagi tidur di atas kasur yang empuuk ... banget. Selimutnya juga alus banget_”

"Bunda!" Lebah kecil tiba-tiba saja menghardik sang bunda.

 "Apa sih, Vio ...?" jawabnya sambil menjulurkan lidah pada sang buah hati, tapi kemudian memutus cerita dan menyeruput sup kimlo yang tersisa.

"Dapet hadiah springbed, gituh? Terus, tempat tidur kamu yang dulu nggak dipake lagi, dong? O, iya … pantesan waktu itu aku sempet mimpiin kamu, tuh. Eh, nggak jadi, deh …." Urung melanjutkan cerita ketika menyadari tatapan tajam lebah mungil kali ini tertuju padaku.

"Eh? Loe masih suka ngimpi-ngimpi gitu, ya, Jeung? Kamu mimpiin apa tentang aku? Bagus, nggak? Ngimpiin suami aku juga, nggak?" tanyanya dengan nada riang.

Sungguh, aku dibuat penasaran dengan tingkah sahabatku saat itu karena dari waktu-waktu mengaji yang beberapa kali kami curi dengan sengaja melarikan diri dan mengisinya dengan acara temu kangen pribadi, tak sekali pun menunjukkan bahwa dirinya tengah tertimpa kesusahan. Hari-hari selalu kami lalui dengan canda dan tawa, sampai akhirnya kebenaran itu datang.

Kebenaran yang kutunggu, tetapi berharap tak pernah terucap darinya agar aku bisa terus mengingkari kabar itu. Sungguh, aku berharap semua itu hanyalah salah satu kisah yang ada dalam drama telenovela. Namun, sang pemilik cerita itu kini duduk di sampingku. Bercerita di atas dipan besar yang terbuat dari kayu jati. Di atas ranjang yang sama seperti yang pernah kulihat dalam mimpi, dengan orang yang sama dan sedang mengucapkan kalimat yang sama. Meski tanpa kuntum bunga yang layu, seprai dan nuansa kamarnya pun dihias dengan warna kesukaannya yang tak berubah. Ungu. Tapi, kenyataan bahwa kali ini tidak sedang mengalami lucid dream membuat persendianku seolah lumpuh layu.

"Pertamanya sih, gue emang nggak bisa terima,” lanjutnya. “Gue sempet nanya ke Allah, kenapa semua ini harus menimpa aku? Salah gue apa coba, kamu bayangin aja ... suami gue dipanggil pas gue baru ngerasa'in jatuh cinta. Kan kamu tau sendiri, dulu pas nikah boro-boro kita ada waktu buat saling kenal, ketemu juga cuma sekali, itu juga almarhum yang duluan ngeliat. Lah, aku...? Tau-tau dikasih surat lamaran sama bokap, terus langsung disuruh nerima. Tapi, ya udahlah, yah … kalo ngingetnya mundur terus ke belakang, bisa-bisa kita nggak sabar nerima cobaan. Jadi, yang bikin gue, eh, aku … bisa tetep semangat dan husnuzon billah sampe hari ini selain karena malaikat-malaikat kecil aku, tapi juga karena kata-kata yang diucap almarhum sebelum meninggal.”

Aku hanya mengulum senyum sepanjang mendengarnya bercerita. Sengaja memandangi wajahnya lebih dalam setiap kali tawa renyahnya terlepas.

"Aku baru tau kejadian yang sebenernya, ya, waktu temen-temen satu regunya nengokin almarhum di rumah sakit, terus minta maaf sambil nangis. Shock tau ga sih, Yan. Almarhum malah cuma bilang, ‘yang udah lewat ya udah, lupa'in aja. Angggep aja itu cuma kekhilafan kita sebagai manusia biasa,’ gituh. Kadang aku heran, tapi juga bersyukur. Kok bisa ada orang yang sabarnya kayak almarhum. Udah jelas-jelas dizolimi, tapi masih bisa maafin terus ndoain kebaikan buat mereka. Gue bakalan inget terus hari itu, Yan. Waktu di pemakaman, semua itu nggak bakal ilang dari ingatan gue.”

Selanjutnya, apa yang disampaikannya semakin membuat hati ngilu. Beberapa bulan setelah sang suami wafat, buah cinta mereka yang ketiga pun ternyata ikut menyusul kepergian sang ayah. Dari keterangan dokter yang menangani persalinannya menerangkan bahwa duka mendalam ternyata ikut dirasakan oleh janin di rahimnya dan tanpa disadari telah kehilangan anak bungsunya sejak bulan kelima.

Aku dibuat semakin termangu ketika cerita sampai pada detik-detik ajal menjemput sang suami. Mahabesar Allah dengan segala Sifat-Nya. Penguat, Penolong, Pemberi petunjuk. Aku turut bersyukur karena Allah senantiasa menguatkan Keberadaan-Nya di saat-saat tersulit sahabatku

"Ada jarum alus-alus bener di apel yang aku kupas, Yan. Untungnya suami aku nggak ngeliat karena sebelum meninggal almarhum kehilangan penglihatannya. Do'i juga udah nggak bisa jalan, jadi kemana-mana aku dorong pake kursi roda. Loe juga pasti nggak bakal percaya, kan? Gue, eh aku. Ah, Oyaaan ... ribet banget tau nggak, sih, ngomong sama Loe mah. Harus pake aku-kamu. Gue pake bahasa gue yang biasa aja, yah. Elo mah terserah kalo mau tetep berbinar sendirian.”

“Hahahaa ...." Spontan ikut tertawa melihat mimik wajahnya setiap kali tersandung aku-kamu untuk mengimbangi cara bicaraku.

Tak mungkin tidak percaya karena dari setiap cerita membuatku seperti disuguhkan potongan cerita yang hilang. Sedikit menangkap arti dari mimpi-mimpi yang kudapat. Namun, tak mungkin juga lantas menyampaikan semua cerita dari versi yang kudapat karena berpikir, apa yang telah terjadi di dalam mimpi maka biarlah tetap menjadi bunga tidur. Adapun apa-apa yang belum terjadi, jika bisa kucegah di dunia nyata maka itu yang akan aku coba lakukan.

Hasbunallah wa nikmal wakiil, nikmal maula wa nikmannashiir. Entah apa status orang seperti aku ini di dalam hukum agama karena yang bisa kumengerti hanyalah menjalankan peran dengan sebaik-baiknya. Jika hidupku ternyata diarahkan untuk menyusuri jalan di dekat jurang penyekutuan maka buat hati ini rida menapakinya selama itu menjadi bentuk penghambaan yang bisa kuberikan.

Diberi kesempatan membuktikan keberadaan dimensi lain tanpa harus melakoni tapa geni dan semacamnya. Berdialog dengan jiwa-jiwa lara yang masih berkelana di bumi tanpa menjadikan dupa dan kemenyan sebagai media pemanggil. Membuktikan dunia yang pernah diminta Khurafat agar ditampakkan lewat doanya hanya dengan meyakini bahwa niat beliau berdoa seperti itu hanyalah untuk membuktikan bahwa jin dan manusia benar hidup berdampingan.

Lucid dream terpanjangku, entah benar ruh almarhum suami sahabatku mendapat izin untuk ikut mengisi alam mimpiku dan menyampaikan endapan rasa yang ikut terbawa saat beliau menutup mata atau sebatas jin qorin yang juga mendapat izin untuk merekam ulang setiap adegan yang pernah disaksikannya, maka yang bisa kulakukan hanyalah berusaha semampuku untuk menepati janji. Setidaknya sampai belahan jiwa kembali menemukan tambatan hati.

Tuesday, May 19, 2026

CINTA MATI(2)

Masih di tahun yang sama, lucid dream itu datang seperti cerita berseri. Sosok pria yang sama rutin mengintervensi tidurku hanya bedanya aura yang dibawa jauh lebih bersahabat jika dibandingkan dengan kehadirannya pertama kali. Kali ini, aku pun bisa melihatnya dengan lebih jelas. Datang selalu dengan pakaian yang sama, nampak seperti seragam tantara, tapi sayang, dia selalu menyembunyikan wajah dengan topinya. Meski masih tanpa sepatah kata yang terucap di sepanjang perjalanan kami, tetapi aku tetap berperan layaknya adik yang penurut dan terus mengekor di belakangnya.

Setelah cukup jauh berjalan, kuduga kami telah tiba pada tempat yang dituju karena ia seketika berhenti. Masih membisu, aku hanya bisa membuang pandangan ke segala penjuru. Maksud hati berusaha mencari tahu lokasi tempat kami berdiri.

Suasana yang gelap membatasi jarak pandang dan hanya mampu menangkap buram penampakan tembok-tembok tinggi dengan jalinan besi yang dibuat seperti pagar berduri. Ada sebuah drum besar dengan api yang menyala di dalamnya, samar-samar kulihat pula beberapa pemuda dengan postur tubuh yang sama. Tinggi dan tegap, sama seperti pemandu perjalananku. Kulihat mereka berkumpul dalam beberapa barisan dan tak lama kemudian merubah formasi menjadi dua kelompok besar.

Sempat terlintas dalam hati saat melihat perubahan formasi, tersebut. “Oke, mungkin sebenarnya alam bawah sadarku hanya sedang mereka ulang adegan dua gangster yang siap berseteru yang pernah kutonton.”

Laga pun dimulai, aku yang memang kurang suka dengan tayangan bertema kekerasan sontak mengalihkan perhatian. Anehnya, suasana yang samar di sekelilingku sepertinya tak berlaku ketika adegan itu terjadi karena ke mana pun arah pandangan kubuang, aku tetap saja menjumpai penglihatan yang sama. Sebuah adegan baku hantam dengan lawan yang tak seimbang.

Dua kubu yang semula terlihat sedang berseteru, tiba-tiba menyatukan diri dalam satu lingkaran besar dan hanya menyisakan dua pemuda berdiri di tengahnya. Bergantian dipukuli tanpa bisa memberikan perlawanan. Terus seperti itu, hingga tersisa satu pemuda yang tetap berusaha untuk bangkit meskipun telah berulangkali jatuh tersungkur. Sementara teman yang semula menemaninya menahan derita, kulihat ia telah ikut mengisi lingkaran.

Tak dapat mendekat, tak pula bisa segera melarikan diri ketika kulihat lebam memenuhi wajah yang sedang dijadikan target. Warna kulitnya pun mulai berubah, tertutupi merahnya darah. Lawan yang tak seimbang itu akhirnya tumbang dan sebelum akhirnya jatuh tersungkur sempat memberikan tatapan yang tak akan pernah bisa kulupakan.

Kelu, menyaksikan seseorang dipukuli tanpa bisa berbuat sesuatu untuk menolongnya. Hanya bisa menahan marah pada wajah-wajah yang merasa memiliki kuasa untuk berbuat semena-mena sambil berusaha menemukan pemandu jalan, berharap dia juga menyaksikannya. Kupikir, mengenakan pakaian yang sama bisa sedikit membantu meredakan situasi, andai ia mampu untuk mendekat.

Namun, harapanku pupus karena yang kucari ternyata bertingkah tak jauh berbeda denganku. Diam mematung. Tak hanya itu, pria misterius itupun sempat memberi efek terapi kejut setelah melepas topinya. Wajahnya, tatapan yang ia berikan, kenapa bisa sama persis seperti sang korban.

"Tatapan macam apa, itu? Apa maksudnya? Siapa sih kamu ini, sebenernya? Seenaknya nyuruh aku ke sana kemari. Ugh! Mana yang aku liat bawaannya bikin emosi melulu!" Aku mulai menggerutu.

Tak peduli apakah suaraku didengar, atau lagi-lagi hanya berbicara dengan diri sendiri. Sudah pasrah, karena kutahu tak bisa terjaga mengikuti mauku.

Lama sengaja mematung dan memandang lurus pria, itu. Sengaja pasang aksi seperti bocah cilik yang sedang merajuk saat menolak melanjutkan perjalanan. Semakin ia memaksa, berulangkali pula kutegaskan bahwa aku hanya ingin pulang.

Benar-benar seperti sedang beradu akting, mungkin pengalamanku ini akan lebih mudah diterima jika berjalan dalam sebuah sinema. Tak ada bukti yang dapat menguatkan petualangan sisi miring yang kubagikan. Satu-satunya alasan untuk tetap membagikan kisah hidupku hanyalah keyakinan bahwa aku juga punya hak hidup yang sama dan ini adalah kisah hidup yang kujalani. Percaya atau tidak, tapi tidak sedikit orang-orang baru yang hadir dalam hidupku sebelumnya telah lebih dulu mengisi bunga tidurku.

Kembali pada dua pengelana dimensi lain yang tengah beradu ego. Kami terus terpaku pada keinginan masing-masing, sampai akhirnya pertahanan egoku lebih dulu runtuh bersamaan dengan robohnya dinding pembatas jalan yang berada tak jauh dari tempat kami berdiri. Tak ada guncangan hebat ataupun benda berat yang menghantam tembok besar itu, tetapi tiba-tiba runtuh begitu saja. Dari celah-celah dinding yang tersisa itulah, aku kembali melihat sahabatku. Berdiri sendirian di seberang jalan. Bingung dan ketakutan.

"Wenk ... jangan ke situ!" Aku berusaha memperingatinya.

Sontak berlari melompati puing-puing yang menghalangi langkahku ketika melihatnya mengayunkan langkah tanpa memperhatikan arah. Aku khawatir, trotoar tempatnya berdiri terlalu tinggi dan dia bisa saja terjatuh jika tidak memperhatikan langkahnya dengan benar. Bukan hanya itu, entah kenapa aku merasa di depannya telah disiapkan sebuah perangkap yang bisa membahayakan hidupnya.

Meskipun masih tak mengerti sepenuhnya dengan situasi yang sedang kuhadapi, tapi sebisa mungkin aku berusaha menepati janji yang kuucap pada perjalanan, sebelumnya. Tak jauh berbeda dengan Alice saat menghitung semua kejadian aneh yang pernah dilaluinya demi bisa menghadapi serangan Jabberwocky, seperti itu pula yang biasa kulakukan agar tetap bisa menjaga akal sehatku setiap kali terjebak mimpi aneh semacam, ini.

Teringat pada sang pemandu jalan, aku segera balik badan dan berniat membujuknya untuk menolong sahabatku. Namun, lagi-lagi ia mengecewakanku karena ternyata tak lagi ada di dekatku.

 Setelah bersusah payah, akhirnya berhasil melewati semua puing yang berserakan dan berjalan mendekati sahabatku. Betapa terkejutnya aku ketika melihat sosok yang kucari ternyata sudah berdiri di sisi kawan karibku. Hati semakin sibuk menduga-duga, siapa sebenarnya orang ini. Seorang penolong, kah? Atau justru sedang berniat tidak baik pada sahabatku.

Tak kurang dari sepuluh langkah, kini aku dapat melihat sahabat yang selalu kurindukan dari dekat. Tatapan matanya, raut wajahnya masih terlihat sama seperti saat ia mengatakan bahwa suaminya tak akan pernah pulang.

"Wenk … jangan takut, kamu nggak sendirian. Ada Dodot yang selalu nemenin di samping kamu." Lisan seketika tercekat ketika nama itu tiba-tiba saja terucap saat reflex beradu pandang dengan sosok yang kini berdiri semakin dekat, dengannya.

"Kalo Iwenk nggak bisa denger suara aku, paling nggak aku bisa mbantu njaga dia dari sesuatu yang nggak bisa dia liat."

Kembali membulatkan tekad dan mulai mempersiapkan diri dengan kemungkinan yang akan terjadi karena aku mulai merasakan sensasi setiap kali sosok-sosok negatif mulai mengganggu.

Dan benar saja, aura gelap yang meliputi sahabatku semakin terasa dan kini ikut mengepungku. Bersamaan dengan kabut pekat yang datang, kulihat sekumpulan anjing hitam menyeruak keluar. Mereka menyerang pemandu perjalananku yang sedang berusaha melindungi sahabatku meski seketika itu juga ia terjatuh. Tubuhnya menjadi tak berupa karena terkoyak taring-taring tajam gerombolan hewan liar, itu. Isi perutnya terburai, bagian tubuhnya tercerai-berai, dan darah tercecer di mana-mana.

Tubuhku seketika membeku ketika cipratan noda merah itu juga mengenai wajahku. Rasa basah, hangat, licin, dan lengket yang kurasakan di telapak kaki membuatku menyadari tengah berdiri di atas genangan darah. Namun, tetap tak bisa berpindah tempat.

Selesai dengan pemandu perjalanan, mereka tengah bersiap pada target berikutnya. Bergerak bersamaan mendekati sahabatku yang kini berdiri tanpa perlindungan. Tak mungkin tinggal diam, tetapi juga tak tahu apa yang harus kulakukan. Memintanya untuk segera pergi dari tempat itu pun sepertinya sia-sia karena ia sama sekali tak menyadari keberadaanku.

Seperti dibuat mati kutu karena meski tahu apa yang sedang kualami hanya sebatas mimpi, tapi anyirnya darah yang terciprat di wajah membuat semua terasa begitu nyata. Masih berusaha mencari jalan keluar meski benda yang bisa kutemukan hanyalah pecahan batu bata putih dari tembok yang runtuh. Aku mencoba mengambil beberapa dan melemparkannya ke arah mereka.

"Pergi kalian! Awas aja kalo berani macem-macem! Pergi sana ... pergi!"

Aku terus melempari kumpulan anjing hitam itu sampai akhirnya terjaga. Tepat di saat berhasil menarik perhatian mereka yang akhirnya berbalik arah dan bersiap menyerangku.


CINTA MATI

 

Sedikit berbagi informasi tentang lucid dream dan istilah-istilah dalam dunia metafisika yang kuperoleh dari berbagai sumber, termasuk lewat mesin pencarian di internet.

Out-of-body experience (OBE) adalah sensasi kesadaran atau jiwa seseorang seolah-olah terpisah dan keluar dari tubuh fisiknya, seringkali disertai pengalaman melihat tubuh sendiri dari sudut pandang eksternal (terapung di atas). Fenomena ini terkadang dikaitkan dengan astral projection, bisa terjadi saat tidur, meditasi, atau situasi darurat. Para ahli saraf menganggap OBE sebagai hasil dari gangguan integrasi sinyal tubuh (melihat, mendengar, merasakan) di otak, yang menyebabkan representasi diri di luar tubuh. Ini terkadang dianggap sebagai sensasi "anggota tubuh hantu" (phantom limb) untuk seluruh tubuh. Meskipun terdengar mistis, sekitar 5% populasi pernah mengalami satu atau dua kali OBE dalam hidup mereka.

Lucid dream sendiri adalah fenomena di mana seseorang sadar sepenuhnya bahwa mereka sedang bermimpi saat mimpi itu sedang berlangsung. Dalam keadaan ini, pemimpi sering kali dapat mengendalikan jalan cerita, lingkungan, dan karakter dalam mimpi mereka. Fenomena ini umumnya terjadi pada fase Rapid Eye Movement (REM). Lucid dream termasuk pengalaman umum dan survei menunjukkan sekitar 55% orang dewasa pernah mengalaminya, setidaknya sekali.

Bulan Oktober tahun 2005 menjadi pengalaman lucid dream terpanjang yang kualami selain petualanganku bersama Prameswari; jabang bayi yang menyapa mimpiku di tahun 2012 dan terus mengajakku bertualang dan baru berakhir di tahun 2016. Seperti diajak terlibat dalam proses syuting sinetron kejar tayang yang dipersiapkan untuk beberapa musim, aku pun bertanya-tanya kapan kiranya perjalanan kali ini akan berakhir.

Masih terbayang jelas kobaran api maha dasyat yang kulihat empat bulan sebelum usiaku genap tujuh tahun. Perubahan warna apinya membuatku seketika percaya ketika mengkaji kitab jannawannar yang menerangkan tentang perubahan warna api neraka. Lidah api yang saling menjilat. Celakanya diri, andai semua penampakan itu tetap tak mampu menumbuhkan keimanan dan menguatkan keyakinan akan adanya hari pembalasan.

Kembali pada lucid dream di tahun 2005. Lelapku terganggu sebab kehadiran seorang pria yang terus saja menatap ke arahku seolah-olah kami sudah saling mengenal. Meski masih merasa asing, tapi anehnya aku lantas menghampirinya. Berjalan di keheningan malam tanpa tahu tujuan, kulihat semesta masih gelap gulita sementara teman seperjalananku tiba-tiba saja menghilang, entah ke mana. Dan tak lama kemudian, sensasi terseret lubang cacing itu kembali kurasakan.

Sekujur badan dibuat mengerut demikian pula dengan akal sehat yang seakan-akan ikut terlepas dari kendali. Belum lagi berhasil menata diri, tiba-tiba saja aku sudah ditempatkan dalam sebuah ruangan. Seperti kamar tidur karena aku melihat ranjang besar tak jauh dari tempatku berdiri. Mencoba mengajak persendian untuk kembali berfungsi, perlahan melangkah dan segera duduk di bibir ranjang yang ternyata dipenuhi aneka kuntum bunga.

Hening. Tak lama kemudian lampu kamar menyala, tetapi tetap tak mampu menundukkan gelap yang ada. Bukan hanya suhu di kamar yang terasa dingin, tapi rupanya ranjang besar itupun tak kalah dinginnya dan membuat sendi-sendiku bertambah ngilu. Sungguh tak mengerti, kenapa mendadak hati ini terasa nyeri.

“Kenapa bertabur bunga? Kenapa ditaburi bunga di atasnya, jika bunga yang ditabur adalah kuntum-kuntum yang telah layu? Siapa pemilik kamar, ini?” Aku sibuk dengan isi kepalaku.

Masih bertanya-tanya mengapa aku dibawa ke tempat, itu. Meski sadar semua hanya mimpi, tapi aku sungguh berharap bisa segera terjaga. Namun, seperti biasa, sekuat apa pun aku berusaha untuk bangun, tetap tak akan bisa.

Sementara gelap di dalam kamar kian merayap, udara dinginnya pun semakin membut tubuhku menggigil. Sengaja memeluk bantal-guling yang ada dan tetap kupertahankan dalam pelukan meski benda dalam pelukan tak kalah dinginnya dengan suhu yang mengepung. Mencoba mengalihkan perhatian dengan memperhatikan lebih seksama situasi dalam ruangan. Nampak kamar tersebut sebenarnya dihias layaknya kamar pengantin baru, tetapi nuansa yang diciptakan justru membuatnya terlihat kelabu. Ranjang yang dihias bunga menjadi tak selaras karena warna seprai yang dipilih terlalu gelap, begitu juga dengan kuntum-kuntum bunga yang didominasi mawar hitam yang telah layu membuat ruangan ranjang pengantin jadi terkesan sendu.

Sungguh, inginnya melarikan diri saat itu juga. Berusaha sekuat tenaga mendekati lubang yang telah menarikku dengan paksa. Namun, apalah daya.  Berulangkali mencoba, tapi terus saja gagal, aku pun akhirnya menyerah.

"Silakan, terserah apa maumu. Walaupun tidak menjamin bisa membantu, tapi setidaknya aku akan mencoba semampuku." Ah, bisa jadi kalimat tersebut memang sengaja kutujukan pada sang penunjuk jalan yang masih bertahan dalam persembunyiannya.

Tak lama berselang, satu-satunya pintu yang terlihat jelas meski terkurung pekat perlahan terbuka. Sinar yang dibawanya dari luar tetap tak dapat menembus ke dalam kamar yang sedang membuatku ketakutan. Dari balik pintu itu aku melihat siluet anggun berjalan mendekat.

Akhirnya dapat tersenyum lega ketika ternyata tak salah mengenali postur Anggun yang kini telah berdiri di sampingku. Benar, aku tak mungkin bisa melupakan sosok yang telah menjadi penguat sekaligus pemandu sorak terbaik selama hampir tiga tahun melewati hari-hari penuh tekanan saat menjadi santriwati.

"Iwenk?"  

Yang kusebut namanya hanya membalas sapaanku dengan senyuman, lalu duduk di sampingku dan ikut mendekap bantal yang tersisa. Memainkan kuntum-kuntum bunga kering dengan jemari tangan kanannya. "Dingin ya, Yan?" ucapnya, datar.

Ah, setelah sekian lama berpisah, ternyata ia masih saja memanggilku dengan nama panggilan itu. Oyan.

 "Iya, aku sampe nggigil gini. Liat deh ...," kujawab sambil menunjukkan tanganku yang gemetar. "Ini kamar kamu? Milih warna sepreinya nggak banget, sih? Ciee, romantis banget pake ditaburin bunga segala. Biar serasa jadi penganten baru terus, niyeee ...." Masih berusaha mencairkan suasana.

Lagi-lagi, sahabatku semasa mondok hanya menjawab dengan senyuman. Tatapan hampanya membuatku bertanya-tanya.

"Aku pulang ya, Wenk. Abis, dari tadi kamu cuma senyam-senyum, aja. Takut aku liatnya. Nggak enak juga sama suami kamu. Entar kalo dia pulang mau tidur di mana, hayo?"

Seketika, ia menarik dan menggenggam tanganku. Mengucapkan sesuatu yang membuatku semakin bertanya-tanya, "Dia nggak akan pulang, Yan. Dia udah punya rumah sendiri, sekarang."

Dan aku seketika terjaga setelah mendengarnya mengucapkan kalimat, itu.

Monday, May 18, 2026

HARUSKAH MENYIMPAN DENDAM? (MISTERI TUMBAL DAN PATI)

Seperti apa rasanya menjadi korban collapse by design? Dahsyatnya lagi, tekanan mental yang didapat bukan hanya dari lingkungan di mana kita, tetapi juga dari dimensi lain yang bahkan kita sendiri tak selalu melihat keberadaannya. Dituduh, difitnah, dijadikan bulan-bulanan karena bentuk perlawanan yang bisa diberikan hanyalah diam seribu bahasa.

Diam dan berusaha untuk tetap terlihat tenang meski sudut hati terus bergejolak menuntut keadilan. Dibenci dan dimusuhi tanpa alasan bukan hanya oleh orang-orang di sekelilingku, tetapi juga oleh entitas yang hanya kulihat sekilas. Tak heran lagi kenapa bisa orang-orang yang mendapat ujian hidup sepertiku berujung pada vonis gangguan bipolar.

Pernah di satu titik, aku merasa seperti ayam tulang lunak sampai-sampai tak berani lagi keluar rumah. Setiap hari hanya bisa menangis dan ikut mengutuk diri sendiri dan mengamini setiap prasangka buruk yang tak putus disematkan padaku. Wajah manis hati kudis, munafik, muka babi ngepet karena dinilai senang mengadudomba lantaran menolak berpihak pada salah satu kubu dari remaja masjid yang sedang berseteru. Ah, masih banyak jejak luka yang ingin rasanya kuluapkan semua andai bisa mengurangi beban di dada.

Hidup, tapi tidak bisa merasakan nikmatnya menjalani kehidupan. Entah kenapa warna kelabu terus membungkus hari-hariku meski Hijau, biru, putih, dan coklat sudah kutetapkan sebagai warna favoritku. Cara kerja semesta pun sudah kupraktekkan jauh sebelum buku The Secret laris di pasaran. Berpikir hanya yang baik-baik saja, focus pada kelimpahan, yakin dengan adanya keajaiban.

Berdoa dan selalu berprasangka baik pada Sang Khaliq, seringnya kusederhanakan dengan cara demikian. Namun, seiring bertambah usia aku justru mendapati semesta merespon energi positif yang kukirim dengan kebalikannya. Dilema dan ujian hidup membuat keberadaanku seperti tak pernah diterima. Aku merasa hidupku adalah sebuah ketidakberuntungan untuk orang-orang yang kusayang.

Gagal menjadi pembawa tongkat estafet dalam dunia dakwah tentunya menjadi pukulan terberat bagi orang tua, terutama ayahku. Meski tak pernah mereka sampaikan secara langsung, tapi aku bisa menangkapnya dengan jelas tiap kali bapak menunjukkan raut wajah serius. Andai saja saat itu lisanku tidak terlalu kelu untuk menyampaikan apa yang saja yang telah kualami, mungkin berita yang beredar tentang aku yang hanya bermalas-malasan selama di pesantren akan sedikit lebih berimbang.

Selalu, tentang keterangan jin dan manusia yang diciptakan hidup berdampingan. Entah di bagian mana yang membuatku seolah-olah menolak keterangan, itu. Mendapati makhluk tak kasat mata yang juga sibuk beerkatifitas di lingkungan pondok pun aku selalu berusaha melihatnya dari sudut pandang positif. Tentunya mereka pun datang untuk memperdalam dan menimba ilmu agama. Bahkan, saat ada satu momen yang membuatku merasa kecewa dan mulai meragukan iamnku sendiri karena pelecehan yang kudapat di tahun pertama. Tak bisa cerita, karena kuyakin mustahil ada yang percaya karena gangguan itu datang bukan dari dunia manusia.

Jin timur tengah yang sedang mabuk kepayang. Keterangan itu tentu saja baru kudapat bertahun-tahun setelahnya. Beberapa tahun setelah akhirnya keluargaku ikut membuktikan bahwa apa yang selama ini aku coba sampaikan bukan sebatas isapan jempol, semata. Gangguan metafisik itu benar adanya dan aku sudah bertahan sekian lama demi mendapat sedikit perhatian.

Berkali-kali mencoba menegaskan pada diri sendiri kalau semua memang sudah bagian dari permainan takdir karena sejujurnya hati ini terus berbalik pada momen di mana aku berharap orang tuaku bisa menyewa rumah kontrakan yang kusuka. Bukan rumah petakan seperti yang biasa kami huni, tapi bangunan yang bisa kami sebut sebagai rumah meski tetap membayar sewa setiap bulannya.

“Andai aku tak berdoa agar pemiliknya tak menawarkan rumah itu pada bapak. Andai kami tak menghuni rumah besar, itu. Mungkin semua akan baik-baik, saja. Mungkin adikku bisa mengisi masa tua bersama-sama kami.”

Terlalu banyak kata mungkin dan itu membuatku sadar akan ikhlasnya yang terus saja menepi. Entah sama atau tidak. Namun, aku tak bermaksud menyalahkan takdir melainkan menyalahkan diri sendiri. Memaki ketidakcakapanku dalam melatih akal. Menyalahkan diri sendiri karena selalu gagal memberi respon yang baik untuk setiap cobaan yang menghampiri.

Seiring bertambah usia, caraku menyapa pagi tak bisa lagi sama seperti saat kecil, dulu. Terlalu berfokus pada penjelasan dari istilah-istilah baru yang kudapat. De javu, indigo, penerus jin nasab. Semua kata-kata baru itu akhirnya membuatku lupa pada tujuan utama dari kehidupan yang dititipkan, ini.

Aku lupa dengan definisi ibadah yang hakiki. Aku lupa kalau setiap gerak sendi tetap bernilai ibadah ketika memulainya dengan menyebut asma Allah. Cukup beranikah mengatakan bahwa kebodohan yang terus kuulang ini bagian dari qaradullah karena aku hanya sibuk menyusun skenario di kepala agar bisa membawakan peran dengan sebaik-baiknya, tetapi pada kenyataannya terus memanjangkan hayal.

Terus terpaku pada masa-masa yang telah terlewati. Masa-masa yang mungkin akan berjalan sedikit lebih baik andai aku tak terlalu menahan diri. Yakin pada biiznillah yang kupercaya. Yakin pada fi amanillah selama yang kutapaki adalah jalan menuju kebaikan.

“Belajar buat move on.” Demikian suamiku sering memberi saran. “Coba bikin cerita baru, jangan mbulet di cerita lama terus. Pembacamu lama-lama juga bisa bosan kalau tahu yang kamu rombak ternyata cerita yang itu-itu, aja,” sarannya.

Aku terima karena memang sengaja membuka pintu seluas mungkin untuk setiap kritik dan saran, tapi ada satu alasan kenapa aku memilih untuk terus kembali pada cerita lama. Karena ada luka yang berusaha aku sembuhkan. Ada permintaan maaf yang terlambat kusampaikan. Ada banyak harapan indah yang masih berusaha kurajut meski tahu tak mungkin lagi bisa memberi akhir yang sama. Aku tahu semua usahaku itu hanya membuang-buang waktu percuma, tetapi setidaknya ini bisa menjadi cara mencari kesembuhan.

***

“Ada apaan emangnya, Wan?!” Orangtuaku keluar rumah bersamaan ketika mendengar suara warga ramai di dekat pohon kembar yang tak serupa. Sebagian sibuk mencari di semak-semak di dekat pohon nangka, sebagian lagi menyusuri rerumputan di sekitaran pohon jamblang.

“Ada Banaspati terbang, Bu Acang! Tadi sih, saya liat pecahannya terbang ke arah sini. Dari abis Isya’ tadi udah saya perhatiin, kok ada bola api terbang muterin sekitaran masjid. Orang saya mikirnya, tuh Banaspati lagi bingung kali, ya’. Lupa ama targetnya, apa. Eh, kagak lama dia pecah jadi dua. Satu terbang ke arah pu’un asem di belakang sono, satu lagi terbang ke sini. Makanya, saya buru-buru kejar. Orang-orang di rumah belakang kagak ada yang kenapa-napa, kan?” Kudengar yang disebut namanya memberi penjelasan panjang lebar di teras depan rumah.

“Kagak ada, sih. Cuma si Uping lagi ngerawit noh, di dalem. Abangnya dari pulang kerja ngaco terus ngomongnya. Kayak orang kesambet. Tapi, alhamdulillah udah sadar sekarang mah,” sahut ibuku.

“Ya, syukur, dah. Bilangin dah pada, suruh banyak doa. Saya juga jadi khawatir, jangan-jangan ada orang iseng pengen kaya tapi ogah capek. Kepepet ngasih jatah, jadi sembarangan nyari jalan keluarnya,” ujar anak dari sesepuh desa, tersebut.

Sementara aku terus menyimak perbincangan mereka dari dalam rumah karena belum berani meninggalkan kakakku yang baru tenang, sendirian. Masih terbayang wajahnya yang sengaja mengejek ketika aku mulai membaca doa. Kalimat-kalimat yang diucapkannya, gerakan tangan saat berusaha melawan dan menjelaskan siapa yang tengah mengambil alih kesadarannya saat itu. Entah apa benar ada hubungannya, antara teror Banaspati dengan uang yang bapak pungut di jalan, yang jelas, gangguan-gangguan mistik itu memang mulai berdatangan tak lama setelah aksi jahil bapak, itu.

Iya, aku jadi mengingat semua dan mulai menemukan benang merahnya. Amarah yang ditunjukkan makhluk tersebut sebelum menggunakan jurus Kage bunshin no jutsu untuk menyerangku. Makian serta ancaman yang dilontarkan seakan-akan kami memang sudah pernah bersinggungan sebelumnya. Mana tahu kalau aku pun telah ikut campur saat ia sedang meneror bapak. Mana tahu aku telah menghalangi tuannya untuk menunaikan perjanjian dengan doa-doa yang kubaca ketika melihat kakakku bertingkah aneh dan mulai meracau sepulang kerja. Mana tahu kalau kebiasaanku mengamati adik kelasku semasa SMP, yang sempat membuat orang berpikir kalau aku termasuk penghuni negri belok ternyata telah mengganggu tugas mereka.

Allahuakbar. Mahasuci Allah dengan segala Keesaan-Nya. Entah sudah lewat berapa tahun, tapi sepertinya sosok itu masih memegang ucapannya.

Maaf yang terlambat terucap. Penyesalan yang selalu datang terlambat. Hatiku nyeri tiap kali mengingat sosok hitam itu, termasuk sosok yang terus menguntit dua hari sebelum adikku tutup usia. Sibuk bertanya-tanya, mungkinkah itu sosok yang sama, yang pernah mengancamku karena gagal menyakiti bapak? Sosok yang sengaja mengganggu kakakku karena lagi-lagi mempersulit tugas mereka? La syarikalahu wabizalika umirtu wa ana minalmuslimiin. Semoga Allah senantiasa menguatkan dasar hatiku dan membuatku berhenti berpikir kalau perantara Sawan yang diderita adikku adalah karena dendam Banaspati.

Untuk kesekian kalinya, aku hanya mampu menyeringai layu dan berusaha tetap melanjutkan hidup. Meskipun hati terus diliputi rasa bersalah karena tak mampu menjaga adikku dengan baik. Namun, aku juga sadar, terus menyalahkan diri sendiri atas kematiannya pun tetap tak akan bisa membuatnya hidup kembali. 

     

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...