Tanggal 13 Desember 2008, lagi-lagi sukma ditarik paksa, dibawa
masuk ke dalam sebuah pesawat terbang. Sengaja memperhatikan setiap penumpang
yang berpakaian serba putih, siapa tahu ada seseorang yang kukenal. Lama
mencari, tetapi tak ada satu pun wajah yang dapat kukenali.
"Lalu, untuk apa aku dibawa ke sini?" Bertanya-tanya dalam hati saat perlahan menuju kursi penumpang
paling depan.
Bisa jadi karena memang tak pernah naik pesawat sebelumnya, jadi
wajar jika kukatakan pesawat itu agak sedikit aneh karena sebelum ditarik
masuk, aku masih sempat melihat bagian luar armada yang memang terlihat seperti
pesawat terbang. Tapi, setelah masuk penampakan di dalamnya terlihat seperti
lantai dansa kapal Titanic. Deru mesin yang terdengar pun lebiih mirip laju
kereta api, dan air muka setiap penumpang yang kuamati membuatku merasa sedang
menaiki kereta hantu.
Rona wajah yang sama. Biru, pucat pasi, tatapan mata yang kosong
kian menguatkan kesan pilunya kehidupan setelah mati andai gagal mempersiapkan
bekal dengan sebaik-baiknya. Setelah semakin sering mengalami lucid dream, baru
kali ini aku mendapat pengalaman yang berbeda karena ‘mereka’ yang kulihat
seperti menyadari keberadaanku, beberapa penumpang bahkan mencoba berinteraksi,
ada yang berusaha meraih tanganku, ada juga yang seperti sengaja memasang raut memelas
ketika mendekatkan wajah mereka di depan hidungku. Di tengah kebingungan,
datang satu pramugari yang kutahu sejak awal juga memperhatikan aku ikut
memberiku tatapan yang membuat hati ini teringat gambaran penyesalan karena
telah menyia-nyiakan kesempatan hidup di dunia.
Gerak bola matanya seolah memberi isyarat agar aku terus bergerak
maju. Tak ingin banyak tanya, aku lantas bergerak sesuai arahan dan diam
menunggu, di sana. Tak berselang lama, datang balita lucu menghampiri, menggayut
manja di kaki tanpa berhenti menatapku. Tergoda hati ini untuk menimangnya
setelah bocah kecil itu memberikan senyum lugunya. Tersentuh dengan tingkah
comelnya, naluri keibuan menggerakkan tanganku untuk menimangnya dalam buaian. Namun,
sebelum sempat meraih tubuh mungilnya, berdiri seorang pria yang juga memberiku
senyuman tak kalah ramah.
Entah apa ada hubungannya. Namun, tak lama setelah melihat senyuman
itu, aku merasa berada di ruang hampa udara. Para penumpang yang kulihat menjadi
seperti balon udara yang terlepas dari tangan. Semua melayang, termasuk pria di
hadapanku, juga bocah lucu yang sudah dalam gendongannya. Aku terpaku.
"Titip Wiwik, jaga dia baik-baik. Bilang, kami baik-baik, aja.
Sampein ke dia, jangan suka naek ke atap rumah orang kalau tengah malem. Kalau
kangen aku, suruh liat aja mata Reihan. O, iya, ini anak bungsu kami. Kamu belum
sempet liat, kan? Kami harus pergi sekarang. Janji jaga Wiwik, yah …."
Air mata mengalir memandangi bocah lucu yang meringkuk nyaman dalam
buaian sang ayah. Tak dapat mengucap sepatah kata pun saat menjumpai pusaran
udara di depan mata yang kian membesar. Sinar putihnya terlihat begitu
cemerlang, belum pernah aku melihat warna seindah itu, bahkan seberkas sinar
yang pernah menuntunku saat mati suri dulu pun masih kalah terang.
Hati mengerut saat menyaksikan setiap pemunpang yang ada terhisap masuk
ke dalamnya karena ingatan mengajakku kembali pada momen ditindih bola upil dan
menghilang di dunia mimpi yang panjang. Sekujur
tubuh menggigil saat Netra tak lepas memperhatikan setiap penumpang yang
memasuki pusaran tersebut dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang masuk dengan
begitu mudahnya, ada yang seolah-olah tak terpengaruh dengan dahsyatnya pusaran
dan justru sengaja melenggang mendekati titik masuk, tapi tak sedikit pula yang
meronta, melakukan perlawanan sekuat tenaga dengan meraih benda-benda yang bisa
menahan badan agar tak sampai tertarik masuk ke dalam pusaran.
Wajah-wajah yang melakukan perlawanan, itu. Tatapan terakhir yang
mereka arahkan sebelum menghilang sepenuhnya, seakan-akan aku dapat menangkap
apa yang mereka coba sampaikan. Rasa takut yang tak berujung, kebingungan yang
tak bertepi. Penyesalan yang tak memiliki akhir. Perasaan yang sebenarnya tak
jauh berbeda seperti yang kurasakan saat memasuki tidur panjangku, dulu.
Mungkin bedanya saat mengalaminya dulu aku masih berupa lembar
putih yang bersih, jadi ketakutan yang kurasa saat itu sepertinya lebih
sederhana. Terjebak kebingungan karena sebelum menghilang dalam gelap sempat
melihat ibuku menangis dan menutupi seluruh wajahku dengan selimut. Aku
ketakutan karena setelah melihat banyak orang menungguiku di kamar, tapi dalam
sekejapan mata tiba-tiba saja aku hanya sendirian dan tak lagi berada di tempat
yang sama, dan satu-satunya penyesalanku saat itu hanyalah saat menuruti ajakan
orang asing untuk memandang rembulan yang selesai ia panah.
Belum lepas merekam ulang rasa, lagi-lagi dibuat terkejut karena
beberapa penumpang yang sebelumnya sempat mengajak berinteraksi ternyata bisa menyentuhku,
tatapan mata mereka benar-benar membuat hati ngilu. Tak ada niat untuk menepis
genggaman mereka dan menurut saja saat dituntun untuk berjalan mendekati
pusaran. Perlahan tubuhku pun mulai terasa seperti seringan kapas, rasa takjub pada
sinar indah itu membuatku ingin juga memasuki pusarannya. Namun, tanpa kuduga,
pria yang menggendong balita tadi sengera mendorongku.
“Ini bukan waktunya kamu! Titip Wiwik!” hardiknya sebelum menghilang
di balik pusaran.
Dan seperti biasa, seakan-akan dientak alat pacu jantung, akhirnya
aku pun terjaga.
"Ah, Dot …. Kalau emang benar yang dateng dalam mimpi itu
kamu, aku harus apa buat nepatin janji aku?”
Lama termenung menatap langit-langit rumah yang tak berplavon dan
baru tersadar ketika dering gawai berbunyi.
Satu pesan baru masuk di waktu sepertiga malam. Bergegas menuju
kamar mandi untuk berwudu setelah mengetahui siapa yang mengirim pesan dan
membaca isi kabar yang diberikan. Satu kabar bahagia yang sedang kami tunggu akhirnya
datang juga, tepat di hari lahir sahabatku. Hasil sidang telah diputuskan, ia mendapatkan
kembali hak asuh untuk kedua anaknya.
***
Asrama rutin Kutubussita menjadi sarana menambah ilmu sekaligus
ajang reuni. O, iya, tentang Penjara Suci, aku dan sahabatku terbiasa
menggunakan istilah itu selama kami tinggal di pondok pesantren. Dulu, ia
sengaja memilih kata-kata itu untuk menghibur dan menyemangati aku saat masih menjadi
santriwati baru.
“Jangan mikir kalo kamu lagi mondok, anggap aja kita lagi tinggal
di penjara suci, Yan. Kita di sini bukan dihukum atau diasingkan, tapi justru
sama Allah kita dijadiin orang-orang pilihan. Fokus nimba ilmu, fokus ibadah,
nanti lama-lama pasti nemuin jalan kamu sendiri buat jatuh cinta sama agama
ini. Ayo, ah … semangat!”
(Hey, Bund. Kalau kamu sempat membaca catatanku ini, terbukti aku
masih mengingat dengan baik petuah bijak yang pernah kamu kasih, bukan?)
Musim Asrama tahun 2009, Pondok mini Nurul Aini kembali penuh sesak
dengan para pencari ilmu dan di antara para penyampai agama itulah aku mencoba
memberanikan diri-mengejar ketertinggalanku meskipun tanpa ijazah resmi sebagai
seorang da’i.
"Ini Dewa, Yan. Taun kemaren pas Loe ke sini kan anak gue
masih ikut ibu mertua di Surabaya. Alhamdulillah, taun ini udah bisa kumpul
bareng lagi sama kakaknya. Eh, tapi biasanya cuma almarhum yang manggil dia
Dewa. Loe panggil dia Rehan juga nggak papah.” Segera mengenalkan buah hatinya
yang kedua, setibanya di rumah.
Hahaa, masih dengan siklus asrama seperti tahun sebelumnya. Nekat
mencuri waktu istirahat dan mengisinya dengan bernostalgia.
"Emh, Wenk ... kamu kalo tengah malem hobi naek ke genteng
rumah orang, ya? O, iya … Dodot juga sempet bilang, kalo kamu tiba-tiba ngerasa
kangen pengen ketemu dia, disuruh liat matanya Dewa, aja__”
"Heh …? Loe tau dari mana kalo mata Rehan mirip almarhum, Yan?
Kan Elo baru ketemu Rehan hari, ini? Ketemu almarhum juga cuma sekali pas
nikahan doang. Iya, kan? Ah, Elo mah dari dulu aneh, Yan. Loe jangan kelewat
aneh, dong … takut gue jadinya.”
Aku terkekeh melihat ekspresi wajahnya yang tiba-tiba mengerut.
"Iih … gemes, deh. Penasaran, Gue. Kok Elo bisa tau, sih?
Bukan genteng orang juga kalee, cuma nyambung aja. Sini, sini … Gue kasih tahu
tempat rahasia yang selalu Gue datengin sepeninggal almarhum. Tapi Elo harus
janji, kasih tau Gue, dari mana Loe bisa tau rahasia ini." Lalu ia menarik
tanganku dan bersama-sama naik ke lantai dua. "Ini tempat salat, itu kamar
ade Aku yang cowo. Nah, dan Elo tau apa yang ada di balik pintu ini ...?" Sambil
menunjuk satu pintu mungil yang ada di ruangan, tersebut.
Aku menggeleng, kemudian ia pun memutar gagang pintu itu yang
ternyata menuju loteng. Padatnya rumah penduduk di daerah Kreo membuat atap
setiap rumah terlihat berdekatan dan saling menyatu. Ditariknya tanganku dan
kami berjalan sedikit merapat ke dinding. Hahaa ... bak duo Spidergirl saja kami
saat itu. Berpetualang di atas atap rumah orang.
"Singgasana Gue kalo malem, Yan. Kalo lagi kangen suami pasti
langsung naek ke sini. Duduk sendirian, apalagi kalo pas ada bulan, Gue betah duduk
lama-lama di sini. Ngomong sama bintang, sama bulan, mandangin langit sambil
mbayangin dia lagi ngeliatin Aku dari langit sana. Kadang, Gue ngerasa udah
kaya orang gila, aja. Ngomong-ngomong sendiri, entar ketawa sendiri tiap inget
kebiasaan almarhum pas pulang. Masyaallah, deh, suami Aku, tuh. Hmm …. Tapi,
semua itu udah berlalu, Yan. Sekarang yang ada cuma tinggal kenangannya,
aja."
Hanya bisa menjadi pendengar yang baik dan ikut menikmati
pemandangan kota Jakarta menjelang senja dari ketinggian sambil sesekali
memandangi wajah tangguhnya saat bercerita. Tak berani lagi menyinggung tentang
mimpi-mimpi lain yang kudapat, jauh sebelum kami dipertemukan kembali.
"Kan masih ada Vio sama Rehan, Wenk. Masa Kamu mau egois
nikmatin perasaan yang Kamu lagi rasa'in sekarang. Pantes aja pesennya almarhum
Kamu disuruh berhenti dari kebiasaan ini. Selain bahaya, keseringan kena udara
malem juga kan nggak baik buat kesehatan Kamu. Terus, kalo Kamu sakit, siapa
yang bakal ngurus peri-peri kecilmu, hayo? Bukannya sok tau, tapi Aku yakin
Allah udah nyiapin banyak hal indah buat Kamu setelah hari ini. Janji yah …
setelah hari ini Kamu nggak boleh naek-naek ke sini lagi, jadi Aku juga bisa
netepin janji ke almarhum."
“Maksud Loe, apa? Janji apaan? Pasti rahasia lagi, deh ….”
“Eh, enggak-enggak. Anggep aja barusan Aku ngelantur. Turun, yuk.”
Hahaa ... maaf bila membuat para pembaca kecewa, tetapi memang tak
ada adegan berpelukan diiringi derai air mata sebagai penutup kisah kami di sore,
itu. Selain harus bergegas kembali ke tempat asrama, aku sendiri memang kurang
bisa mengekspresikan gambaran jiwa. Menangis sambil berpelukan, untukku … itu adalah
sesuatu yang hanya biasa dilakukan dalam sebuah telenovela.