Monday, May 18, 2026

HARUSKAH MENYIMPAN DENDAM? (MISTERI TUMBAL DAN PATI)

Seperti apa rasanya menjadi korban collapse by design? Dahsyatnya lagi, tekanan mental yang didapat bukan hanya dari lingkungan di mana kita, tetapi juga dari dimensi lain yang bahkan kita sendiri tak selalu melihat keberadaannya. Dituduh, difitnah, dijadikan bulan-bulanan karena bentuk perlawanan yang bisa diberikan hanyalah diam seribu bahasa.

Diam dan berusaha untuk tetap terlihat tenang meski sudut hati terus bergejolak menuntut keadilan. Dibenci dan dimusuhi tanpa alasan bukan hanya oleh orang-orang di sekelilingku, tetapi juga oleh entitas yang hanya kulihat sekilas. Tak heran lagi kenapa bisa orang-orang yang mendapat ujian hidup sepertiku berujung pada vonis gangguan bipolar.

Pernah di satu titik, aku merasa seperti ayam tulang lunak sampai-sampai tak berani lagi keluar rumah. Setiap hari hanya bisa menangis dan ikut mengutuk diri sendiri dan mengamini setiap prasangka buruk yang tak putus disematkan padaku. Wajah manis hati kudis, munafik, muka babi ngepet karena dinilai senang mengadudomba lantaran menolak berpihak pada salah satu kubu dari remaja masjid yang sedang berseteru. Ah, masih banyak jejak luka yang ingin rasanya kuluapkan semua andai bisa mengurangi beban di dada.

Hidup, tapi tidak bisa merasakan nikmatnya menjalani kehidupan. Entah kenapa warna kelabu terus membungkus hari-hariku meski Hijau, biru, putih, dan coklat sudah kutetapkan sebagai warna favoritku. Cara kerja semesta pun sudah kupraktekkan jauh sebelum buku The Secret laris di pasaran. Berpikir hanya yang baik-baik saja, focus pada kelimpahan, yakin dengan adanya keajaiban.

Berdoa dan selalu berprasangka baik pada Sang Khaliq, seringnya kusederhanakan dengan cara demikian. Namun, seiring bertambah usia aku justru mendapati semesta merespon energi positif yang kukirim dengan kebalikannya. Dilema dan ujian hidup membuat keberadaanku seperti tak pernah diterima. Aku merasa hidupku adalah sebuah ketidakberuntungan untuk orang-orang yang kusayang.

Gagal menjadi pembawa tongkat estafet dalam dunia dakwah tentunya menjadi pukulan terberat bagi orang tua, terutama ayahku. Meski tak pernah mereka sampaikan secara langsung, tapi aku bisa menangkapnya dengan jelas tiap kali bapak menunjukkan raut wajah serius. Andai saja saat itu lisanku tidak terlalu kelu untuk menyampaikan apa yang saja yang telah kualami, mungkin berita yang beredar tentang aku yang hanya bermalas-malasan selama di pesantren akan sedikit lebih berimbang.

Selalu, tentang keterangan jin dan manusia yang diciptakan hidup berdampingan. Entah di bagian mana yang membuatku seolah-olah menolak keterangan, itu. Mendapati makhluk tak kasat mata yang juga sibuk beerkatifitas di lingkungan pondok pun aku selalu berusaha melihatnya dari sudut pandang positif. Tentunya mereka pun datang untuk memperdalam dan menimba ilmu agama. Bahkan, saat ada satu momen yang membuatku merasa kecewa dan mulai meragukan iamnku sendiri karena pelecehan yang kudapat di tahun pertama. Tak bisa cerita, karena kuyakin mustahil ada yang percaya karena gangguan itu datang bukan dari dunia manusia.

Jin timur tengah yang sedang mabuk kepayang. Keterangan itu tentu saja baru kudapat bertahun-tahun setelahnya. Beberapa tahun setelah akhirnya keluargaku ikut membuktikan bahwa apa yang selama ini aku coba sampaikan bukan sebatas isapan jempol, semata. Gangguan metafisik itu benar adanya dan aku sudah bertahan sekian lama demi mendapat sedikit perhatian.

Berkali-kali mencoba menegaskan pada diri sendiri kalau semua memang sudah bagian dari permainan takdir karena sejujurnya hati ini terus berbalik pada momen di mana aku berharap orang tuaku bisa menyewa rumah kontrakan yang kusuka. Bukan rumah petakan seperti yang biasa kami huni, tapi bangunan yang bisa kami sebut sebagai rumah meski tetap membayar sewa setiap bulannya.

“Andai aku tak berdoa agar pemiliknya tak menawarkan rumah itu pada bapak. Andai kami tak menghuni rumah besar, itu. Mungkin semua akan baik-baik, saja. Mungkin adikku bisa mengisi masa tua bersama-sama kami.”

Terlalu banyak kata mungkin dan itu membuatku sadar akan ikhlasnya yang terus saja menepi. Entah sama atau tidak. Namun, aku tak bermaksud menyalahkan takdir melainkan menyalahkan diri sendiri. Memaki ketidakcakapanku dalam melatih akal. Menyalahkan diri sendiri karena selalu gagal memberi respon yang baik untuk setiap cobaan yang menghampiri.

Seiring bertambah usia, caraku menyapa pagi tak bisa lagi sama seperti saat kecil, dulu. Terlalu berfokus pada penjelasan dari istilah-istilah baru yang kudapat. De javu, indigo, penerus jin nasab. Semua kata-kata baru itu akhirnya membuatku lupa pada tujuan utama dari kehidupan yang dititipkan, ini.

Aku lupa dengan definisi ibadah yang hakiki. Aku lupa kalau setiap gerak sendi tetap bernilai ibadah ketika memulainya dengan menyebut asma Allah. Cukup beranikah mengatakan bahwa kebodohan yang terus kuulang ini bagian dari qaradullah karena aku hanya sibuk menyusun skenario di kepala agar bisa membawakan peran dengan sebaik-baiknya, tetapi pada kenyataannya terus memanjangkan hayal.

Terus terpaku pada masa-masa yang telah terlewati. Masa-masa yang mungkin akan berjalan sedikit lebih baik andai aku tak terlalu menahan diri. Yakin pada biiznillah yang kupercaya. Yakin pada fi amanillah selama yang kutapaki adalah jalan menuju kebaikan.

“Belajar buat move on.” Demikian suamiku sering memberi saran. “Coba bikin cerita baru, jangan mbulet di cerita lama terus. Pembacamu lama-lama juga bisa bosan kalau tahu yang kamu rombak ternyata cerita yang itu-itu, aja,” sarannya.

Aku terima karena memang sengaja membuka pintu seluas mungkin untuk setiap kritik dan saran, tapi ada satu alasan kenapa aku memilih untuk terus kembali pada cerita lama. Karena ada luka yang berusaha aku sembuhkan. Ada permintaan maaf yang terlambat kusampaikan. Ada banyak harapan indah yang masih berusaha kurajut meski tahu tak mungkin lagi bisa memberi akhir yang sama. Aku tahu semua usahaku itu hanya membuang-buang waktu percuma, tetapi setidaknya ini bisa menjadi cara mencari kesembuhan.

***

“Ada apaan emangnya, Wan?!” Orangtuaku keluar rumah bersamaan ketika mendengar suara warga ramai di dekat pohon kembar yang tak serupa. Sebagian sibuk mencari di semak-semak di dekat pohon nangka, sebagian lagi menyusuri rerumputan di sekitaran pohon jamblang.

“Ada Banaspati terbang, Bu Acang! Tadi sih, saya liat pecahannya terbang ke arah sini. Dari abis Isya’ tadi udah saya perhatiin, kok ada bola api terbang muterin sekitaran masjid. Orang saya mikirnya, tuh Banaspati lagi bingung kali, ya’. Lupa ama targetnya, apa. Eh, kagak lama dia pecah jadi dua. Satu terbang ke arah pu’un asem di belakang sono, satu lagi terbang ke sini. Makanya, saya buru-buru kejar. Orang-orang di rumah belakang kagak ada yang kenapa-napa, kan?” Kudengar yang disebut namanya memberi penjelasan panjang lebar di teras depan rumah.

“Kagak ada, sih. Cuma si Uping lagi ngerawit noh, di dalem. Abangnya dari pulang kerja ngaco terus ngomongnya. Kayak orang kesambet. Tapi, alhamdulillah udah sadar sekarang mah,” sahut ibuku.

“Ya, syukur, dah. Bilangin dah pada, suruh banyak doa. Saya juga jadi khawatir, jangan-jangan ada orang iseng pengen kaya tapi ogah capek. Kepepet ngasih jatah, jadi sembarangan nyari jalan keluarnya,” ujar anak dari sesepuh desa, tersebut.

Sementara aku terus menyimak perbincangan mereka dari dalam rumah karena belum berani meninggalkan kakakku yang baru tenang, sendirian. Masih terbayang wajahnya yang sengaja mengejek ketika aku mulai membaca doa. Kalimat-kalimat yang diucapkannya, gerakan tangan saat berusaha melawan dan menjelaskan siapa yang tengah mengambil alih kesadarannya saat itu. Entah apa benar ada hubungannya, antara teror Banaspati dengan uang yang bapak pungut di jalan, yang jelas, gangguan-gangguan mistik itu memang mulai berdatangan tak lama setelah aksi jahil bapak, itu.

Iya, aku jadi mengingat semua dan mulai menemukan benang merahnya. Amarah yang ditunjukkan makhluk tersebut sebelum menggunakan jurus Kage bunshin no jutsu untuk menyerangku. Makian serta ancaman yang dilontarkan seakan-akan kami memang sudah pernah bersinggungan sebelumnya. Mana tahu kalau aku pun telah ikut campur saat ia sedang meneror bapak. Mana tahu aku telah menghalangi tuannya untuk menunaikan perjanjian dengan doa-doa yang kubaca ketika melihat kakakku bertingkah aneh dan mulai meracau sepulang kerja. Mana tahu kalau kebiasaanku mengamati adik kelasku semasa SMP, yang sempat membuat orang berpikir kalau aku termasuk penghuni negri belok ternyata telah mengganggu tugas mereka.

Allahuakbar. Mahasuci Allah dengan segala Keesaan-Nya. Entah sudah lewat berapa tahun, tapi sepertinya sosok itu masih memegang ucapannya.

Maaf yang terlambat terucap. Penyesalan yang selalu datang terlambat. Hatiku nyeri tiap kali mengingat sosok hitam itu, termasuk sosok yang terus menguntit dua hari sebelum adikku tutup usia. Sibuk bertanya-tanya, mungkinkah itu sosok yang sama, yang pernah mengancamku karena gagal menyakiti bapak? Sosok yang sengaja mengganggu kakakku karena lagi-lagi mempersulit tugas mereka? La syarikalahu wabizalika umirtu wa ana minalmuslimiin. Semoga Allah senantiasa menguatkan dasar hatiku dan membuatku berhenti berpikir kalau perantara Sawan yang diderita adikku adalah karena dendam Banaspati.

Untuk kesekian kalinya, aku hanya mampu menyeringai layu dan berusaha tetap melanjutkan hidup. Meskipun hati terus diliputi rasa bersalah karena tak mampu menjaga adikku dengan baik. Namun, aku juga sadar, terus menyalahkan diri sendiri atas kematiannya pun tetap tak akan bisa membuatnya hidup kembali. 

     

No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...