Seperti apa rasanya menjadi korban collapse by design? Dahsyatnya
lagi, tekanan mental yang didapat bukan hanya dari lingkungan di mana kita,
tetapi juga dari dimensi lain yang bahkan kita sendiri tak selalu melihat
keberadaannya. Dituduh, difitnah, dijadikan bulan-bulanan karena bentuk
perlawanan yang bisa diberikan hanyalah diam seribu bahasa.
Diam dan berusaha untuk tetap terlihat tenang meski sudut hati
terus bergejolak menuntut keadilan. Dibenci dan dimusuhi tanpa alasan bukan
hanya oleh orang-orang di sekelilingku, tetapi juga oleh entitas yang hanya kulihat
sekilas. Tak heran lagi kenapa bisa orang-orang yang mendapat ujian hidup
sepertiku berujung pada vonis gangguan bipolar.
Pernah di satu titik, aku merasa seperti ayam tulang lunak sampai-sampai
tak berani lagi keluar rumah. Setiap hari hanya bisa menangis dan ikut mengutuk
diri sendiri dan mengamini setiap prasangka buruk yang tak putus disematkan
padaku. Wajah manis hati kudis, munafik, muka babi ngepet karena dinilai senang
mengadudomba lantaran menolak berpihak pada salah satu kubu dari remaja masjid
yang sedang berseteru. Ah, masih banyak jejak luka yang ingin rasanya kuluapkan
semua andai bisa mengurangi beban di dada.
Hidup, tapi tidak bisa merasakan nikmatnya menjalani kehidupan. Entah
kenapa warna kelabu terus membungkus hari-hariku meski Hijau, biru, putih, dan
coklat sudah kutetapkan sebagai warna favoritku. Cara kerja semesta pun sudah
kupraktekkan jauh sebelum buku The Secret laris di pasaran. Berpikir
hanya yang baik-baik saja, focus pada kelimpahan, yakin dengan adanya
keajaiban.
Berdoa dan selalu berprasangka baik pada Sang Khaliq, seringnya
kusederhanakan dengan cara demikian. Namun, seiring bertambah usia aku justru
mendapati semesta merespon energi positif yang kukirim dengan kebalikannya.
Dilema dan ujian hidup membuat keberadaanku seperti tak pernah diterima. Aku merasa
hidupku adalah sebuah ketidakberuntungan untuk orang-orang yang kusayang.
Gagal menjadi pembawa tongkat estafet dalam dunia dakwah tentunya
menjadi pukulan terberat bagi orang tua, terutama ayahku. Meski tak pernah
mereka sampaikan secara langsung, tapi aku bisa menangkapnya dengan jelas tiap
kali bapak menunjukkan raut wajah serius. Andai saja saat itu lisanku tidak
terlalu kelu untuk menyampaikan apa yang saja yang telah kualami, mungkin berita
yang beredar tentang aku yang hanya bermalas-malasan selama di pesantren akan
sedikit lebih berimbang.
Selalu, tentang keterangan jin dan manusia yang diciptakan hidup
berdampingan. Entah di bagian mana yang membuatku seolah-olah menolak
keterangan, itu. Mendapati makhluk tak kasat mata yang juga sibuk beerkatifitas
di lingkungan pondok pun aku selalu berusaha melihatnya dari sudut pandang
positif. Tentunya mereka pun datang untuk memperdalam dan menimba ilmu agama.
Bahkan, saat ada satu momen yang membuatku merasa kecewa dan mulai meragukan
iamnku sendiri karena pelecehan yang kudapat di tahun pertama. Tak bisa cerita,
karena kuyakin mustahil ada yang percaya karena gangguan itu datang bukan dari
dunia manusia.
Jin timur tengah yang sedang mabuk kepayang. Keterangan itu tentu
saja baru kudapat bertahun-tahun setelahnya. Beberapa tahun setelah akhirnya keluargaku
ikut membuktikan bahwa apa yang selama ini aku coba sampaikan bukan sebatas
isapan jempol, semata. Gangguan metafisik itu benar adanya dan aku sudah
bertahan sekian lama demi mendapat sedikit perhatian.
Berkali-kali mencoba menegaskan pada diri sendiri kalau semua
memang sudah bagian dari permainan takdir karena sejujurnya hati ini terus
berbalik pada momen di mana aku berharap orang tuaku bisa menyewa rumah
kontrakan yang kusuka. Bukan rumah petakan seperti yang biasa kami huni, tapi
bangunan yang bisa kami sebut sebagai rumah meski tetap membayar sewa setiap
bulannya.
“Andai aku tak berdoa agar pemiliknya tak menawarkan rumah itu pada
bapak. Andai kami tak menghuni rumah besar, itu. Mungkin semua akan baik-baik,
saja. Mungkin adikku bisa mengisi masa tua bersama-sama kami.”
Terlalu banyak kata mungkin dan itu membuatku sadar akan ikhlasnya
yang terus saja menepi. Entah sama atau tidak. Namun, aku tak bermaksud
menyalahkan takdir melainkan menyalahkan diri sendiri. Memaki ketidakcakapanku dalam
melatih akal. Menyalahkan diri sendiri karena selalu gagal memberi respon yang
baik untuk setiap cobaan yang menghampiri.
Seiring bertambah usia, caraku menyapa pagi tak bisa lagi sama
seperti saat kecil, dulu. Terlalu berfokus pada penjelasan dari istilah-istilah
baru yang kudapat. De javu, indigo, penerus jin nasab. Semua kata-kata baru itu
akhirnya membuatku lupa pada tujuan utama dari kehidupan yang dititipkan, ini.
Aku lupa dengan definisi ibadah yang hakiki. Aku lupa kalau setiap gerak
sendi tetap bernilai ibadah ketika memulainya dengan menyebut asma Allah. Cukup
beranikah mengatakan bahwa kebodohan yang terus kuulang ini bagian dari
qaradullah karena aku hanya sibuk menyusun skenario di kepala agar bisa
membawakan peran dengan sebaik-baiknya, tetapi pada kenyataannya terus
memanjangkan hayal.
Terus terpaku pada masa-masa yang telah terlewati. Masa-masa yang
mungkin akan berjalan sedikit lebih baik andai aku tak terlalu menahan diri.
Yakin pada biiznillah yang kupercaya. Yakin pada fi amanillah selama yang kutapaki
adalah jalan menuju kebaikan.
“Belajar buat move on.” Demikian suamiku sering memberi saran. “Coba
bikin cerita baru, jangan mbulet di cerita lama terus. Pembacamu lama-lama juga
bisa bosan kalau tahu yang kamu rombak ternyata cerita yang itu-itu, aja,”
sarannya.
Aku terima karena memang sengaja membuka pintu seluas mungkin untuk
setiap kritik dan saran, tapi ada satu alasan kenapa aku memilih untuk terus
kembali pada cerita lama. Karena ada luka yang berusaha aku sembuhkan. Ada
permintaan maaf yang terlambat kusampaikan. Ada banyak harapan indah yang masih
berusaha kurajut meski tahu tak mungkin lagi bisa memberi akhir yang sama. Aku tahu
semua usahaku itu hanya membuang-buang waktu percuma, tetapi setidaknya ini bisa
menjadi cara mencari kesembuhan.
***
“Ada apaan emangnya, Wan?!” Orangtuaku keluar rumah bersamaan ketika
mendengar suara warga ramai di dekat pohon kembar yang tak serupa. Sebagian
sibuk mencari di semak-semak di dekat pohon nangka, sebagian lagi menyusuri
rerumputan di sekitaran pohon jamblang.
“Ada Banaspati terbang, Bu Acang! Tadi sih, saya liat pecahannya terbang
ke arah sini. Dari abis Isya’ tadi udah saya perhatiin, kok ada bola api terbang
muterin sekitaran masjid. Orang saya mikirnya, tuh Banaspati lagi bingung kali,
ya’. Lupa ama targetnya, apa. Eh, kagak lama dia pecah jadi dua. Satu terbang
ke arah pu’un asem di belakang sono, satu lagi terbang ke sini. Makanya, saya
buru-buru kejar. Orang-orang di rumah belakang kagak ada yang kenapa-napa, kan?”
Kudengar yang disebut namanya memberi penjelasan panjang lebar di teras depan
rumah.
“Kagak ada, sih. Cuma si Uping lagi ngerawit noh, di dalem.
Abangnya dari pulang kerja ngaco terus ngomongnya. Kayak orang kesambet. Tapi, alhamdulillah
udah sadar sekarang mah,” sahut ibuku.
“Ya, syukur, dah. Bilangin dah pada, suruh banyak doa. Saya juga
jadi khawatir, jangan-jangan ada orang iseng pengen kaya tapi ogah capek.
Kepepet ngasih jatah, jadi sembarangan nyari jalan keluarnya,” ujar anak dari
sesepuh desa, tersebut.
Sementara aku terus menyimak perbincangan mereka dari dalam rumah karena
belum berani meninggalkan kakakku yang baru tenang, sendirian. Masih terbayang
wajahnya yang sengaja mengejek ketika aku mulai membaca doa. Kalimat-kalimat
yang diucapkannya, gerakan tangan saat berusaha melawan dan menjelaskan siapa
yang tengah mengambil alih kesadarannya saat itu. Entah apa benar ada
hubungannya, antara teror Banaspati dengan uang yang bapak pungut di jalan, yang
jelas, gangguan-gangguan mistik itu memang mulai berdatangan tak lama setelah
aksi jahil bapak, itu.
Iya, aku jadi mengingat semua dan mulai menemukan benang merahnya. Amarah
yang ditunjukkan makhluk tersebut sebelum menggunakan jurus Kage bunshin no
jutsu untuk menyerangku. Makian serta ancaman yang dilontarkan seakan-akan kami
memang sudah pernah bersinggungan sebelumnya. Mana tahu kalau aku pun telah
ikut campur saat ia sedang meneror bapak. Mana tahu aku telah menghalangi
tuannya untuk menunaikan perjanjian dengan doa-doa yang kubaca ketika melihat
kakakku bertingkah aneh dan mulai meracau sepulang kerja. Mana tahu kalau kebiasaanku
mengamati adik kelasku semasa SMP, yang sempat membuat orang berpikir kalau aku
termasuk penghuni negri belok ternyata telah mengganggu tugas mereka.
Allahuakbar. Mahasuci Allah dengan segala Keesaan-Nya. Entah sudah
lewat berapa tahun, tapi sepertinya sosok itu masih memegang ucapannya.
Maaf yang terlambat terucap. Penyesalan yang selalu datang
terlambat. Hatiku nyeri tiap kali mengingat sosok hitam itu, termasuk sosok
yang terus menguntit dua hari sebelum adikku tutup usia. Sibuk bertanya-tanya,
mungkinkah itu sosok yang sama, yang pernah mengancamku karena gagal menyakiti
bapak? Sosok yang sengaja mengganggu kakakku karena lagi-lagi mempersulit tugas
mereka? La syarikalahu wabizalika umirtu wa ana minalmuslimiin. Semoga Allah senantiasa
menguatkan dasar hatiku dan membuatku berhenti berpikir kalau perantara Sawan
yang diderita adikku adalah karena dendam Banaspati.
Untuk kesekian kalinya, aku hanya mampu menyeringai layu dan
berusaha tetap melanjutkan hidup. Meskipun hati terus diliputi rasa bersalah
karena tak mampu menjaga adikku dengan baik. Namun, aku juga sadar, terus menyalahkan
diri sendiri atas kematiannya pun tetap tak akan bisa membuatnya hidup kembali.
No comments:
Post a Comment