Friday, April 24, 2026

MELEBUR DALAM GELAP

 

Luapan rasa di tengah lapangan Gledek sebenarnya tak murni hanya karena petualangan memasuki dimensi yang digunakan pak Leo untuk berkultivasi, tetapi juga karena dilema kisah cinta yang enggan menunggu giliran. Seperti halnya Fandy yang mulai putus asa dengan setiap usaha yang ia lakukan demi menunjukkan itikad baiknya pada haji Romli, berjalan kaki menuju perumahan Bintaro di jalan Maleo pun aku tergerak karena alasan serupa.

Patah hati. Bukan, bukan karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi karena setiap detail yang terjadi sama persis seperti yang kujumpai dalam tidurku. Semakin kuat berusaha mengakali agar tak sampai terbawa ke dunia nyata, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Setiap usaha yang aku lakukan, bahkan saat mencoba menyampaikan alur cerita dengan sejujurnya baik pada yang bersangkutan mauupun pada setiap telinga yang telah menangkap kabar kalau aku tengah menjadi punguk merindukan bulan pun kian mempertegas benang merah kenapa pada akhirnya aku jatuh tersungkur dalam kubangan lumpur dan terlilit kawat berduri.

Mungkin saat itu aku memang dilupakan kalau tak akan ada yang mau mempercayai cerita Khurafat, apalagi menerima kemungkinan bahwa ada orang yang bisa mengetahui sesuatu sebelum itu terjadi seperti di film-film. Itu mengapa, tingkah anehku disebut sebagai gejala patah hati. Keputusan untuk mempertahankan alibi yang kupunya justru dijadikan bukti kalau mentalku mulai terganggu karena putus cinta, bahkan saat akhirnya duduk berhadapan dengan bapak Leo Lumanto pun bahasan pertama yang beliau pilih sebagai pembuka percakapan adalah sosok laki-laki yang telah membuatku mencoreng arang di wajah sendiri.

Di titik ini aku lupa dengan adegan Fandy yang akhirnya memahami rahasia ilmu Ikhlas. Ikhlas yang tak bersyarat. Ikhlas yang tanpa batas. Harga diri kala itu kupasang terlalu tinggi, lagi-lagi bukan karena merasa direndahkan oleh isu yang liar beredar, tetapi karena terlalu banyak yang menanggapi ceritaku sebagai ebuah kebohongan.

Terobsesi membuat kisah cinta terindah meski hanya lingkup desa, tempat aku tinggal. Berharap bisa membuktikan bahwa kisah manis antara Sayidina Ali dan Sayyidah Fatimah masih bisa direka ulang. Merajut cinta hanya melalui doa-doa yang dipanjatkan. Menguatkan rasa dalam keheningan sepertiga malam dan saling membangun kepercayaan meski hanya sekilas memandang.

Drama kutu loncat cinta. Akan menjadi terlalu panjang jika babak romansa ini kumulai dari akarnya. Alkisah yang dimulai dari cerita sang kumbang dengan banyak kuntum bunga yang menanti dihampiri, sementara aku hanyalah upik abu yang mengamati dari balik pintu. Menampung cerita, menyemangati, menghujani kuntum bunga yang mulai layu dengan racikan serbuk ajaib yang kusalin dari kisah negri Utopi. Namun, semua bentuk perhatian yang kucurahkan justru membuat drama percintaan menjadi berkepanjangan. Pola cinta sang kumbang pun berubah menjadi bentuk segi tiga tak beraturan hingga akhirnya aku memutuskan untuk turut serta dalam ajang petik bunga dengan satu hajat yang kupatri. ‘Menunjukkan pada mereka yang meragukan kekuatan doa.’

Lucid dream untuk kesekian kali. Lucid dream yang sedikit berbeda dengan penjelasan yang kudapat dari mesin pencarian. Aku sama sekali tak punya kendali saat memasukinya, tak juga sempat membuat cetak biru dan menyisipkannya ke alam bawah sadar agar bisa menjadi bunga tidurku. Seperti mengalami pengulangan, susunan cerita tersaji jelas, sama seperti yang kulihat sehari sebelum nenekku meninggal. Setiap detail yang terjadi saat aku terjaga bisa sama persis seperti yang kulihat dalam mimpi, bahkan aku masih dibuat kebingungan saat benar-benar memeluk jenazah nenekku yang selesai dikafani.

Memeluk erat kakinya dan memaksa nenekku untuk bangun karena merasa ia sudah tidur terlalu lama. Mencoba menghalangi dengan mengeraskan tangisan saat mengetahui orang-orang dewasa akan memindahkannya ke keranda karena jika sudah begitu, berarti selanjutnya aku juga akan berjalan sendirian di antara gedebog pisang yang masih tercecer. Melihat langit yang seketika benar berubah gelap saat langkah pembawa tandu semakin jauh dari rumah pun ikut mengukir trauma masa kecil.

Itu alasannya mengapa lisan ini tak bisa berhenti bicara meski sadar situasi sudah tidak baik-baik, saja. Sebenarnya sederhana, kupikir karena sudah dewasa maka penglihatanku akan lebih mudah diterima. Selain itu, langkah yang kuambil termasuk cara yang kugunakan untuk mengikis jejak luka masa kecil.

“Mengubah apa yang tidak bisa kuubah di alam mimpi,” batinku.

Namun, lihatlah apa yang terjadi.

Arang di wajah, berkubang lumpur, dililit pagar berduri, hijab dilepas paksa oleh badai yang tak henti menerjang. Jari telunjuk yang terus menuding. Sorot mata tajam yang dipasang memincing, sampai akhirnya hukum social membuatku terlihat seperti seonggok kotoran. Bagian tersedih, perlahan aku pun kehilangan keyakinan dengan apa yang selama ini selalu kubangga-banggakan.

Ud’uni astajib lakum. Aku ikut menghukum diriku sendiri dengan berhenti berdoa dan mulai memasang prasangka pada Sang pemilik semesta. Mengamini setiap tuduhan dengan menjadikan ketetapan-nya sebagai kambing hitam.

Ikhlas dengan imbuhan 'tapi' di belakangnya. Ikhlas yang bertepi. Benteng pertahan ego kian kutinggikan. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa setiap nasehat baik yang datang selalu gagal kucerna, termasuk saat pak Leo berkali-kali menekankan kalau yang kubutuhkan saat itu hanyalah hati yang tenang.

Sejatinya hatiku bisa menerima, tetapi entah mengapa ego menuntut untuk mempertahankan alur yang sudah terbangun separuh jalan. Tak rela pula merombak hajat yang sudah susah payah kususun dengan lebih hati-hati. “Kali ini tanpa angan yang berkepanjangan. Tak pula tercampuri bisikan setan.” Setidaknya, itulah prasangka baik yang kupasang.

Mana tahu keputusan untuk mencurahkan isi hati pada Sang Mahawelas sebelum menyusun hajat masih bisa disusupi oleh hawa nafsu yang ternyata diam-diam tetap menggebu di dasar hati. Balas dendam terselubung karena merasa tak terima dengan perlakuan semesta yang lebih mengamini prasangka terbanyak.

Tak sekadar jadi bahan candaan, tapi juga berubah menjadi contoh negatif di forum pengajian dengan sebutan manusia yang gagal total karena tak lulus saat menghadapi ujian rasa. Nekat menggadaikan keimanan dan kunci surga yang sudah ada dalam genggaman hanya untuk urusan syahwat belaka.

Wa kafa billahi syahida.

Thursday, April 23, 2026

SETIAP ILMU HARUS ADA GURU

 

“Ajak adek Loe ke mari, Yok. Biar kepegang ilmunye. Entar Ane kasih amalan, sukur-sukur die mau jadi murid Ane. Bahaya itu kalo kagak ada yang megang. Lagian, adek Loe beguru di mane, emangnye? Loe bilangin, dah, kalo ngilmu mah kagak usah tinggi-tinggi, nyang penting cocok ame diri, badan juga kuat ngebawanye. Nih, Ane kasih amalan pertama. Sampe’in dah, jangan ampe kagak. Nah, ‘nti seminggu lagi, Loe bawa dah die ke marih. Penasaran Ane, ngilmu ape sih sebenernye adek ente, ‘ntuh,” ucap ibuku menirukan aksen anak keduanya yang memang cukup kental setelah menikahi pilihan hatinya yang asli betawi.

Aku terkekeh mendengarnya. Alih-alih menanggapi dengan serius, aku justru balik bertanya kenapa pesan itu tidak disampaikan langsung oleh kakakku. Toh, aku juga ada di rumah saat ia datang bersama istrinya.

“Takut,” jawab ibuku karena mereka tahu aku anti membahas hal-hal yang berbau syirik.

Kejadian ini sebenarnya berhubungan dengan kondisi kesehatan adikku. Di antara usaha kami mencari kesembuhan dengan jalan alternatif yang membuatku bertemu dengan bang Jali; sang pemilik pesan. Sebelumnya aku memberi izin kakak keduaku untuk membawa adik kami berobat pada kenalannya tersebut karena sebelumnya dijelaskan kalau media pengobatannya hanya menggunakan air putih serta salawat nabi, aku pun baru bertemu beliau setelah pertemuan kedua, dan entah kenapa selalu saja muncul sensasi yang sama tiap kali berhadapan dengan orang-orang yang sengaja mendalami dunia supranatural. Seperti dua kutub magnet senama yang didekatkan, seringnya energi praktisi supranatural yang sudah kutemui semakin membuatku tak nyaman, dengan alasan itu pula aku enggan mendampingi adikku pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

“Ngilmu apa? Beguru di mana? Nyang ada juga Nie' ngglosor di atas sejadah tiap hari. Tuh, guru Nie’ bejejer di rak buku, Qur’an sama Hadis jilidan, itu juga khatam cap asrama. Aneh-aneh aja, dah.” Sengaja menggerutu saat dipaksa ibuku untuk membuka secarik kertas yang datang bersama pesan lisan.

Membaca pesan yang tertulis. Tak lagi bisa menahan rasa yang menggelitik ulu hati, aku pun akhirnya melepas tawa. Bukan menertawakan niat baik bang Jali, untuk menjadikan aku muridnya, tapi lebih kepada tawa seorang pecundang. Aku menertawakan alur kehidupan yang semakin tak kupahami terlebih setelah selesai membaca rincian amalan yang harus bisa kukuasai dalam waktu singkat.

 Beberapa poin di antara dua belas amalan yang dicantumkan sesungguhnya telak menusuk hati karena tak berbeda jauh dengan sembilan amalan yang pernah diberikan oleh empat ulama yang mencoba membantuku sebelum bertemu bang Jali. Zikir dan salawat mengisi tiga poin pertama. Istighfar seribu kali, membaca kalimat Tahlil dan salawat nabi sebanyak-banyaknya. Puasa mutih, errr ... syukurnya tak tercantum mandi kembang tujuh rupa dengan air dari tujuh sumur yang berbeda setiap malam jum’at kliwon di dalamnya.

Zikir dan salawat. Dua amalan itu memang sedang sengaja kutinggalkan setelah pertemuanku dengan bapak Leo Lumanto. Adegan ala-ala Andre Stinky dalam film Kiamat Sudah Dekat di tengah lapangan Gledek sepulang dari sana membuatku memutuskan untuk menjauhi Zat yang telah mengenalkanku pada cinta tak bersyarat. Untuk pertama kalinya bertemu praktisi supranatural dengan energi selaras, kutub magnet yang diarahkan menyambutku ramah. Namun, nanar mata batin kian menjadi ketika untuk beberapa detik aku diberi izin untuk ikut menjelajah ruang batinnya.

Sedemikian pilu dan menyakitkan. Endapan rasa yang beliau simpan saat memutuskan untuk menjalankan peran sebagai penghuni sisi miring dengan sebaik-baiknya kian menguatkan alasanku mengapa selalu kubilang, kami yang diberi jatah peran membahas dunia Khurafat bukan abai atau sengaja uji nyali dengan ancaman yang terus mengintai. Hanya saja, hati kami memang sudah terlanjur terpatri pada Sang Al-Haq. Apa pun peran asalkan itu adalah bagian dari bentuk peghambaan dan hati kami tak dihalangi dari mengimani sifat Arrahiim-Nya, maka La haula wala quwata illa billah.

Bergegas menyeka air mata yang sempat ikut meluncur bebas bersamaan dengan tawa yang kulepas. Ego melarangku menangisi babak sisi miring ini begitu juga dengan tatapan memelas ibuku yang berharap aku menerima tawaran, itu. Alih-alih setuju, aku justru sengaja meremas dan merobek surat itu di hadapannya lalu melenggang keluar rumah mencari tempat sampah, berharap babak aneh dalam hidupku ini ikut menghilang setelah membuangnya.

Sejenak mengamati langit sebelum benar-benar memasukkan serpihan kertas itu ke keranjang sampah di depan rumah. Berharap Sang Pemilik Arsy nan Agung menangkap rupa hatiku kala menyimak pesan, itu. Berharap Ia nan Mahaagung menangkap setiap perubahan irama pada denyut nadiku setiap kali menyadari peran yang ingin kupilih.

Hmm … dunia. Panggung sandiwara ekstravaganza. Meski diri sudah berusaha menjalani kehidupan sesederhana mungkin dan menjaganya agar tetap di dalam garis aman yang telah disebutkan. Namun, apalah daya jika Sang Pemilik panggung sendiri yang justru menyiapkan kisah kejutan dan merubah alur yang telah kita susun.

Saat kejujuran, ketulusan, dan kasih sayang sudah kupilih untuk menjadi modal utama memainkan peran. Ketika dengan sepenuh hati mengakui bahwa yang berkuasa hanyalah Ia Sang Mahatunggal. Maka, seharusnya aku tak perlu terkejut berlebihan jika intrik dengki dan unsur penyakit hati lainnya tiba-tiba saja hadir layaknya sebuah iklan.

Masih terekam jelas awal mula hidupku menjadi seperti ada di dalam wahana uji nyali. Pertemuan dengan beberapa ahli supranatural yang mencoba membantuku dengan semua keanehan, ini. Ada satu pesan yang sama meski terucap dalam susunan kalimat yang berbeda, dan ternyata masih kembali kujumpai lewat perpanjangan lisan bang Jali. Sebuah pesan yang membuatku semakin merasa bahwa aku memang tidak diterima hidup di bumi, ini.

‘Semua ilmu yang ada di bumi ini harus memiliki guru dan mereka yang tidak percaya dengan ketetapan Allah diminta untuk angkat kaki dari bumi.’

Lalu, ke mana aku harus pergi jika sudah lebih dari tiga orang yang tak saling kenal mengatakan hal serupa? Sementara mereka yang kuharapkan dapat membantuku melewati proses ini justru ikut menabur benih-benih kebencian. Tidak ada yang mau percaya meski aku telah menyampaikan duduk perkara dengan sebenar-benarnya.

“Semua cuma karena aku jatuh cinta pada Allah! Sesederhana itu, sebenarnya. Tapi kenapa Allah justru bikin hidup aku makin aneh kayak gini?! Semakin aku berusaha njelasin tentang kondisi aku dengan sejujur-jujurnya, aku malah dibilang mulai gila gara-gara patah hati. Berulangkali yang kuminta cuma hati yang tenang, tapi Allah malah bikin hati ini pontang-panting gak karuan. Aku malu, Allah ….”

Tak pernah terbayang kalau aku pun bisa melakukan adengan seperti Fandy. Meluapkan semua beban hati di tengah lapangan, tak peduli meski banyak mata memandang heran. Namun, dengan gerakan yang sedikit berbeda dari tokoh yang diperankan oleh Andre Stinky, aku sengaja mengajak keningku berada di titik terendah seorang hamba tanpa berpikir terlebih dahulu untuk menyesuaikan arah kiblat karena yang kutahu lututku tak lagi mampu membantu menopang langkahku. Seiring tubuh yang kian gemetar karena momen perjalanan astral dengan pak Leo masih melekat kuat dalam ingatan. Tak ada pilihan selain menyembunyikan tangis dalam sujud.

Hening, sejenak. Damai menelusup hati meski sesaat, tetapi di waktu yang singkat itu terselip benih kesadaran yang bertumbuh. Benar, selalu saja tentang empat Maqadirullah yang kujadikan sebagai kambing hitam untuk membenarkan ketidakdewasaanku dalam menyikapi tantangan hidup yang tak mampu kujalani dengan baik. Di tengah perdebatan klasik antara qadar dan doa, tentang mana di antara keduanya yang lebih berperan dalam kehidupan, maka tak ada jalan lain bagiku selain menjadikan keridaan sebagai hakim garisnya. Wa rida bil qadar adalah kata kunci yang selalu kumainkan ketika mulai kehilangan kendali atas hati dan akal sebab semua keanehan, ini.

Siapa berperan sebagai apa. Protagonist, antagonis, hypocrite, Yod, finger of God, atau apalah istilah lainnya yang bisa membuat kepala ini bertambah pusing. Ada satu keyakinan yang selalu kutanamkan sebagai penyemangat diri yaitu keyakinan bahwa setiap insan yang terlahir ke bumi adalah hamba yang beruntung karena mendapat kesempatan untuk membuktikan langsung saat Sang Mahabijak merangkai kisah dan mengatur laju dunia.

Wednesday, April 22, 2026

FENOMENA UNGU VIOLET

 

Ternyata bukan hanya Marsha, tetapi ada juga yang namanya Peter CS, Esmeralda, Chika. Ah, entah ada berapa banyak nama lagi makhluk tak kasat mata yang ikut meramaikan panggung hiburan tanah air. Hahaa … pak suami auto wanti-wanti begitu tahu aku rutin mantengin Jurnal Risa. Ultimatum menakutkan pun segera diluncurkan kalau tayangan itu sampai membuka kembali gerbang sisi miring-ku.

 Ayayoy. Jurus merayu pun segera kukerahkan karena tak rela kehilangan rida suami. Aku paham dengan kekhawatirannya, tetapi aku juga tak mau melepas kesempatan untuk mengurai benang merah yang masih terlihat kusut melalui penjelasan-penjelasan yang disampaikan tim Jurnal Risa. Bukan dengan cara-cara seperti yang dikhawatirkan oleh suami, tetapi cukup dengan mengamati setiap kisah yang dibagikan. Mereka yang berani menunjukkan jati diri, mampu berdamai dengan semua keanehan yang ada dan berhenti melarikan diri. Menjalani peran tanpa takut bulian atau disebut manusia halu karena selalu membahas sesuatu di luar nalar manusia.

Hmmm … mataku reflex membundar ketika pertama kali melihat Frislly Herlind berubah jadi Marsha. Stunning kaget begitu melihat anggota Peter CS diundang mediasi.  William, Hans, ah … aku belum hapal semua nama teman-teman unik Risa Saraswati.

Jiwa-jiwa lara. Hantu gentayangan. Apakah benar itu adalah ruh yang belum rela menutup kisah hidupnya di dunia atau lagi-lagi termasuk bagian dari upadaya makhluk ciptaan yang mendapat peran sebagai musuh abadi umat manusia.

Lalu, apa kabar si Kuning yang dulu pernah mengajak berjabat tangan sebagai simbol pertemanan? Pocong sanggul Sailormoon yang mengajak muroja’ah di waktu sepertiga malam? Kakek jenggot panjang dengan tongkatnya uniknya, yang tak lama kemudian membuatku bersitegang dengan ‘ia’ yang biasa digambarkan sebagai penguasa laut selatan. Nenek bersanggul yang setiap kali datang selalu saja memasang wajah marah, atau sosok seperti Dementor yang membantuku melawan siluman kera.

Berapa banyak penampakan dari bentuk kasar yang mereka ambil ketika mengajakku berinteraksi sudah tak lagi kuhitung. Seperti dua sisi mata uang, mereka selalu hadir hampir bersamaan. Ada yang datang karena memang diperintah untuk menyakiti dan selang waktu berikutnya hadir sosok yang memperkenalkan diri sebagai pelindungku.

Argh! Menghuni sisi miring ini, entah aku yang sengaja mengetuk pintu dan menetap di sana atau memang diberi kesempatan yang sama seperti Khurafat tanpa kuminta. Mendapat izin mengamati secara langsung seperti apa laju kehidupan para hamba yang diciptakan tak kasat mata. Memetik hikmah dari arti keimanan melalui cara yang banyak orang menyebutnya sebagai cabang penyekutuan meski sudah berkali-kali kusampaikan tentang apa yang kualami justru membantuku membuktikan bahwa keterangan wa ma kholaqtul jinna wal ins aitu benar adanya.

Jinna wal Insa. Manusia dengan kulit pembungkus tulang, dengan rupa dan raga yang dapat dikenali. Sedangkan Jin, yang terkadang kehadirannya diketahui hanya berupa semilir angin dan perubahan suasana. Maka, seharusnya tak perlu heran berlebihan ketika tanpa sengaja terjadi persinggungan atau justru ada yang sengaja membangun komunikasi antara kedua belah pihak karena terdorong rasa penasaran. Ya, usil meneliti kehidupan makhluk lain.

Hmmm … sisi miring. Meski aku tahu kisah hidupku tak sekeren kisah hidup tim Jurnal Risa atau Frislly Herlind. Tapi, setidaknya izinkan aku untuk ikut berpartisipasi membagikan secuil kisah sisi miring yang kupunya.

Tuesday, April 21, 2026

BIRAHMATIKA ASTAGHITS(2)

 

Perjalanan ketiga. Bulan Agustus, tahun 2008. Baru beberapa hari mencoba mengejar ketertinggalanku memaknai hadis himpunan dengan mengikuti pesantren kilat. Kupikir, fokus menimba ilmu mungkin akan membantu mengalihkan aktifitas sisi miring yang rasanya kian aktif. Namun, prasangka baikku ternyata meleset. Dua panca indra-ku justru semakin aktif begitu melangkah memasuki area pondok. Telinga justru semakin bising dan penglihatan ini ... huft.

Entitas yang sesekali sengaja menunjukkan keberadaannya masih bisa kuanulir dengan memutar nasehat lama saat pertama kali menjadi santri di tahun 1997. Menjadikan keberadaan mereka sebagai bentuk ospek pribadi bahwa memang benar manusia dan jin dicipttakan untuk hidup berdampingan. Seperti halnya aku yang berusaha memperdalam ilmu agama, jadi sudah seharusnya aku pun menghormati keberadaan entitas yang juga ikut serta dalam kegiatan pondok di tengah-tengah kami.

Fokusku baru mulai terpecah setelah kembang tidur aneh kembali merekah. Tidur sambil brjalan. Lebih tepatnya, aku melihat ragaku pulas terlelap sementara bagian diriku yang lain seakan-akan mengambang di udara dan baru berhenti bergerak ketika sampai pada satu titik yang dituju.

Seorang teman lama tiba-tiba saja datang berkunjung. Teman lama yang memang sudah jarang sekali berkomunikasi semenjak ia menikah dan pindah domisili. Di mimpi sebelumnya kupikir itu hanya sekadar rasa rindu yang terkoneksi di ruang mimpi. Namun, kehadirannya yang berturut-turut membuat hati tak tenang dan kekhawatiran tersebut ternyata berujung duka yang dalam. Waktu istirahat yang sengaja kuisi dengan melakukan sambungan telpon dengan orang rumah membuat napasku sedikit tercekat. Mimpi buruk yang sekuat mungkin kusamarkan ternyata tetap memilih wujud yang menakutkan. Suara di seberang sambungan telpon mengabari bahwa nama yang sempat kutanyakan kabarnya baru saja tutup usia karena sakit ginjal.

Sebut saja namanya Dilla, teman baru yang kukenal lewat forum pengajian. Remaja cantik yang enerjik, datang dari desa dan bertujuan mengais rejeki di Jakarta. Sama seperti aku yang tak memiliki ijazah tinggi, semangatnya mengubah nasib hanya bisa membuatnya bekerja sebagai asisten rumah tangga dan dari situlah awal mula kami sering bertukar cerita.

Berbeda dengan aku yang tinggal bersama orang tua, merantau tanpa sanak saudara yang mendampingi membuatnya memutuskan untuk nikah muda. Dilla yang usianya jauh lebih muda dariku sudah memiliki dua orang anak di tahun 2008. Terakhir kami bertemu, dia bercerita tentang profesi barunya yang sedang ia tekuni selain menjadi pembantu.

“Sekarang aku ngojek khusus Perempuan. Lumayan, buat tambahan,” katanya, saat kami sama-sama sedang menunggu antrian nasi goreng dekat rumah.

“Muka makin putih, aja. Pake produk apa? Inget, jangan pake produk yang aneh-aneh atau seetidaknya kamu lihat dulu komposisi bahannya. Sesuai standar BPOM apa enggak. Jangan sampe ngorbanin kesehatan cuma gara-gara pengen cantik,” kubilang setelah melihat perubahan wajahnya yang mencolok.

“Hehee …. Ben mas Was tambah cinta,” Seperti biasa, ia akan menanggapi setiap nasihat yang kuberikan dengan candaan.

Tak pernah menyangka bahwa hari itu akan menjadi pertemuan dan perbincangan terakhir kami.

“Mas Was nggak rida. Mas Was nggak rida.” Hanya itu yang bisa kudengar jelas setelah tubuhku yang mengambang berhenti di tempat yang menakutkan.

Gekap. Hitam pekat. Kabut tebal yang menyelimuti sesekali memudar dan membuatku melihat apa yang sebelumnya hanya kutemukan di dalam komik bergambar Petruk. Ternyata banyak orang dan entah kenapa kebanyakan yang ada di sana adalah Perempuan. Setiap orang disibukkan dengan kegiatannya sendiri-sendiri, di hadapan mereka ada sebuah tungku dan kuali yang besarnya seakan mengimbangi ukuran tubuh mereka. Seberapa besar? Sungguh, aku tak bisa menggambarkannya dengan kata-kata,

Meski ini bukan perjalanan pertama bagiku, tetapi keraguan tetap saja menjadi rantai di kaki. Sengaja berjingkat saat mencari asal suara dengan harapan kali ini aku salah mengenali. Namun, apalah daya. Mungkinkah manusia bisa menipu Zat Yang Maha Berupadaya? Yaa jabaruti wal izzah, la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazzalimiin.

Sekali lagi, mematung bukan hanya karena mendapati pemilik suara ternyata benar adalah milik orang yang kukenal, tetapi juga karena aku mendapat pengulangan yang sama setelah akal dan hati jauh lebih dewasa untuk mencerna. Diberi kesempatan untuk membuktikan setiap janji indah dan kabar penakut saat masih menghuni bumi. Akan benar-benar menjadi hamba yang merugi andai aku tak juga pandai membawa diri.

Sama seperti penghuni lainnya, aku pun melihat temanku berdiri di hadapan sebuah kuali dan tungku dengan kobaran api. Nyali kian mengerut ketika akhirnya bisa melihat dengan jelas kegiatan mereka di tempat menyeramkan, itu. Ternyata, bukan kuali yang diletakkan di atas tungku yang membara, melainkan orang-orang tersebut yang dipaksa untuk duduk di atas tungku sementara tangan mereka tak berhenti mengaduk isi di dalam kuali. Entah apa yang ada di dalamnya, tetapi temanku terus saja mengulang kalimat yang sama dan baru berhenti saat menyadari keberadaanku. Tatapannya sama seperti yang kujumpai saat kecil sebelum akhirnya ia pun menyampaikan sesuatu seperti yang pernah dilakukan nenekku, dulu.

Menitipkan sebuah pesan untuk sang suami yang tak bisa langsung kusampaikan bukan karena tak amanah, tetapi karena situasi yang sudah berubah. Aku bukan lagi anak kecil yang lugu, yang perkataan absurdnya bisa ditolerir dengan mudah. Belum lagi label negatif yang seakan menjadi permanen membuatku berpikir dua kali untuk menyampaikan sesuatu yang mengandung unsur Khurafat.

Rasa bersalah yang membebani baru terangkat ketika di tahun berikutnya mendengar kabar bahwa sang suami akan kembali membangun biduk rumah tangga. Cara kerja takdir yang misterius tak hanya membantu mempertemukan kami, tetapi juga memberi ruang untuk kami lama berbincang. Mencoba mengkonfirmasi sedikit informasi yang hanya diketahui oleh temanku dan suaminya, saja.

Bersyukur, tapi juga merasa sedih. Bersyukur karena mengetahui informasi yang kudapat bukanlah hasil karangan bawah sadar. Sedih, lebih tepatnya merasa bersalah karena aku lebih memilih mengutamakan citra diri dari pada bergegas membantu andai memang aku diberi kesempatan untuk membantu orang lain dengan cara yang sedikit berbeda.

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...