Tuesday, April 21, 2026

BIRAHMATIKA ASTAGHITS(2)

 

Perjalanan ketiga. Bulan Agustus, tahun 2008. Baru beberapa hari mencoba mengejar ketertinggalanku memaknai hadis himpunan dengan mengikuti pesantren kilat. Kupikir, fokus menimba ilmu mungkin akan membantu mengalihkan aktifitas sisi miring yang rasanya kian aktif. Namun, prasangka baikku ternyata meleset. Dua panca indra-ku justru semakin aktif begitu melangkah memasuki area pondok. Telinga justru semakin bising dan penglihatan ini ... huft.

Entitas yang sesekali sengaja menunjukkan keberadaannya masih bisa kuanulir dengan memutar nasehat lama saat pertama kali menjadi santri di tahun 1997. Menjadikan keberadaan mereka sebagai bentuk ospek pribadi bahwa memang benar manusia dan jin dicipttakan untuk hidup berdampingan. Seperti halnya aku yang berusaha memperdalam ilmu agama, jadi sudah seharusnya aku pun menghormati keberadaan entitas yang juga ikut serta dalam kegiatan pondok di tengah-tengah kami.

Fokusku baru mulai terpecah setelah kembang tidur aneh kembali merekah. Tidur sambil brjalan. Lebih tepatnya, aku melihat ragaku pulas terlelap sementara bagian diriku yang lain seakan-akan mengambang di udara dan baru berhenti bergerak ketika sampai pada satu titik yang dituju.

Seorang teman lama tiba-tiba saja datang berkunjung. Teman lama yang memang sudah jarang sekali berkomunikasi semenjak ia menikah dan pindah domisili. Di mimpi sebelumnya kupikir itu hanya sekadar rasa rindu yang terkoneksi di ruang mimpi. Namun, kehadirannya yang berturut-turut membuat hati tak tenang dan kekhawatiran tersebut ternyata berujung duka yang dalam. Waktu istirahat yang sengaja kuisi dengan melakukan sambungan telpon dengan orang rumah membuat napasku sedikit tercekat. Mimpi buruk yang sekuat mungkin kusamarkan ternyata tetap memilih wujud yang menakutkan. Suara di seberang sambungan telpon mengabari bahwa nama yang sempat kutanyakan kabarnya baru saja tutup usia karena sakit ginjal.

Sebut saja namanya Dilla, teman baru yang kukenal lewat forum pengajian. Remaja cantik yang enerjik, datang dari desa dan bertujuan mengais rejeki di Jakarta. Sama seperti aku yang tak memiliki ijazah tinggi, semangatnya mengubah nasib hanya bisa membuatnya bekerja sebagai asisten rumah tangga dan dari situlah awal mula kami sering bertukar cerita.

Berbeda dengan aku yang tinggal bersama orang tua, merantau tanpa sanak saudara yang mendampingi membuatnya memutuskan untuk nikah muda. Dilla yang usianya jauh lebih muda dariku sudah memiliki dua orang anak di tahun 2008. Terakhir kami bertemu, dia bercerita tentang profesi barunya yang sedang ia tekuni selain menjadi pembantu.

“Sekarang aku ngojek khusus Perempuan. Lumayan, buat tambahan,” katanya, saat kami sama-sama sedang menunggu antrian nasi goreng dekat rumah.

“Muka makin putih, aja. Pake produk apa? Inget, jangan pake produk yang aneh-aneh atau seetidaknya kamu lihat dulu komposisi bahannya. Sesuai standar BPOM apa enggak. Jangan sampe ngorbanin kesehatan cuma gara-gara pengen cantik,” kubilang setelah melihat perubahan wajahnya yang mencolok.

“Hehee …. Ben mas Was tambah cinta,” Seperti biasa, ia akan menanggapi setiap nasihat yang kuberikan dengan candaan.

Tak pernah menyangka bahwa hari itu akan menjadi pertemuan dan perbincangan terakhir kami.

“Mas Was nggak rida. Mas Was nggak rida.” Hanya itu yang bisa kudengar jelas setelah tubuhku yang mengambang berhenti di tempat yang menakutkan.

Gekap. Hitam pekat. Kabut tebal yang menyelimuti sesekali memudar dan membuatku melihat apa yang sebelumnya hanya kutemukan di dalam komik bergambar Petruk. Ternyata banyak orang dan entah kenapa kebanyakan yang ada di sana adalah Perempuan. Setiap orang disibukkan dengan kegiatannya sendiri-sendiri, di hadapan mereka ada sebuah tungku dan kuali yang besarnya seakan mengimbangi ukuran tubuh mereka. Seberapa besar? Sungguh, aku tak bisa menggambarkannya dengan kata-kata,

Meski ini bukan perjalanan pertama bagiku, tetapi keraguan tetap saja menjadi rantai di kaki. Sengaja berjingkat saat mencari asal suara dengan harapan kali ini aku salah mengenali. Namun, apalah daya. Mungkinkah manusia bisa menipu Zat Yang Maha Berupadaya? Yaa jabaruti wal izzah, la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazzalimiin.

Sekali lagi, mematung bukan hanya karena mendapati pemilik suara ternyata benar adalah milik orang yang kukenal, tetapi juga karena aku mendapat pengulangan yang sama setelah akal dan hati jauh lebih dewasa untuk mencerna. Diberi kesempatan untuk membuktikan setiap janji indah dan kabar penakut saat masih menghuni bumi. Akan benar-benar menjadi hamba yang merugi andai aku tak juga pandai membawa diri.

Sama seperti penghuni lainnya, aku pun melihat temanku berdiri di hadapan sebuah kuali dan tungku dengan kobaran api. Nyali kian mengerut ketika akhirnya bisa melihat dengan jelas kegiatan mereka di tempat menyeramkan, itu. Ternyata, bukan kuali yang diletakkan di atas tungku yang membara, melainkan orang-orang tersebut yang dipaksa untuk duduk di atas tungku sementara tangan mereka tak berhenti mengaduk isi di dalam kuali. Entah apa yang ada di dalamnya, tetapi temanku terus saja mengulang kalimat yang sama dan baru berhenti saat menyadari keberadaanku. Tatapannya sama seperti yang kujumpai saat kecil sebelum akhirnya ia pun menyampaikan sesuatu seperti yang pernah dilakukan nenekku, dulu.

Menitipkan sebuah pesan untuk sang suami yang tak bisa langsung kusampaikan bukan karena tak amanah, tetapi karena situasi yang sudah berubah. Aku bukan lagi anak kecil yang lugu, yang perkataan absurdnya bisa ditolerir dengan mudah. Belum lagi label negatif yang seakan menjadi permanen membuatku berpikir dua kali untuk menyampaikan sesuatu yang mengandung unsur Khurafat.

Rasa bersalah yang membebani baru terangkat ketika di tahun berikutnya mendengar kabar bahwa sang suami akan kembali membangun biduk rumah tangga. Cara kerja takdir yang misterius tak hanya membantu mempertemukan kami, tetapi juga memberi ruang untuk kami lama berbincang. Mencoba mengkonfirmasi sedikit informasi yang hanya diketahui oleh temanku dan suaminya, saja.

Bersyukur, tapi juga merasa sedih. Bersyukur karena mengetahui informasi yang kudapat bukanlah hasil karangan bawah sadar. Sedih, lebih tepatnya merasa bersalah karena aku lebih memilih mengutamakan citra diri dari pada bergegas membantu andai memang aku diberi kesempatan untuk membantu orang lain dengan cara yang sedikit berbeda.

No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...