Perjalanan ketiga. Bulan Agustus, tahun 2008. Baru beberapa hari mencoba mengejar ketertinggalanku memaknai hadis himpunan dengan
mengikuti pesantren kilat. Kupikir, fokus menimba ilmu mungkin akan membantu
mengalihkan aktifitas sisi miring yang rasanya kian aktif. Namun, prasangka
baikku ternyata meleset. Dua panca indra-ku justru semakin aktif begitu melangkah
memasuki area pondok. Telinga justru semakin bising dan penglihatan ini ...
huft.
Entitas yang sesekali sengaja menunjukkan keberadaannya masih bisa
kuanulir dengan memutar nasehat lama saat pertama kali menjadi santri di tahun
1997. Menjadikan keberadaan mereka sebagai bentuk ospek pribadi bahwa memang
benar manusia dan jin dicipttakan untuk hidup berdampingan. Seperti halnya aku
yang berusaha memperdalam ilmu agama, jadi sudah seharusnya aku pun menghormati
keberadaan entitas yang juga ikut serta dalam kegiatan pondok di tengah-tengah
kami.
Fokusku baru mulai terpecah setelah kembang tidur aneh kembali
merekah. Tidur sambil brjalan. Lebih tepatnya, aku melihat ragaku pulas
terlelap sementara bagian diriku yang lain seakan-akan mengambang di udara dan
baru berhenti bergerak ketika sampai pada satu titik yang dituju.
Seorang teman lama tiba-tiba saja datang berkunjung. Teman lama yang
memang sudah jarang sekali berkomunikasi semenjak ia menikah dan pindah domisili.
Di mimpi sebelumnya kupikir itu hanya sekadar rasa rindu yang terkoneksi di
ruang mimpi. Namun, kehadirannya yang berturut-turut membuat hati tak tenang
dan kekhawatiran tersebut ternyata berujung duka yang dalam. Waktu istirahat
yang sengaja kuisi dengan melakukan sambungan telpon dengan orang rumah membuat
napasku sedikit tercekat. Mimpi buruk yang sekuat mungkin kusamarkan ternyata tetap
memilih wujud yang menakutkan. Suara di seberang sambungan telpon mengabari bahwa
nama yang sempat kutanyakan kabarnya baru saja tutup usia karena sakit ginjal.
Sebut saja namanya Dilla, teman baru yang kukenal lewat forum
pengajian. Remaja cantik yang enerjik, datang dari desa dan bertujuan mengais
rejeki di Jakarta. Sama seperti aku yang tak memiliki ijazah tinggi,
semangatnya mengubah nasib hanya bisa membuatnya bekerja sebagai asisten rumah
tangga dan dari situlah awal mula kami sering bertukar cerita.
Berbeda dengan aku yang tinggal bersama orang tua, merantau tanpa
sanak saudara yang mendampingi membuatnya memutuskan untuk nikah muda. Dilla
yang usianya jauh lebih muda dariku sudah memiliki dua orang anak di tahun 2008.
Terakhir kami bertemu, dia bercerita tentang profesi barunya yang sedang ia
tekuni selain menjadi pembantu.
“Sekarang aku ngojek khusus Perempuan. Lumayan, buat tambahan,”
katanya, saat kami sama-sama sedang menunggu antrian nasi goreng dekat rumah.
“Muka makin putih, aja. Pake produk apa? Inget, jangan pake produk
yang aneh-aneh atau seetidaknya kamu lihat dulu komposisi bahannya. Sesuai
standar BPOM apa enggak. Jangan sampe ngorbanin kesehatan cuma gara-gara pengen
cantik,” kubilang setelah melihat perubahan wajahnya yang mencolok.
“Hehee …. Ben mas Was tambah cinta,” Seperti biasa, ia akan
menanggapi setiap nasihat yang kuberikan dengan candaan.
Tak pernah menyangka bahwa hari itu akan menjadi pertemuan dan
perbincangan terakhir kami.
“Mas Was nggak rida. Mas Was nggak rida.” Hanya itu yang bisa
kudengar jelas setelah tubuhku yang mengambang berhenti di tempat yang
menakutkan.
Gekap. Hitam pekat. Kabut tebal yang menyelimuti sesekali memudar
dan membuatku melihat apa yang sebelumnya hanya kutemukan di dalam komik
bergambar Petruk. Ternyata banyak orang dan entah kenapa kebanyakan yang ada di
sana adalah Perempuan. Setiap orang disibukkan dengan kegiatannya
sendiri-sendiri, di hadapan mereka ada sebuah tungku dan kuali yang besarnya
seakan mengimbangi ukuran tubuh mereka. Seberapa besar? Sungguh, aku tak bisa
menggambarkannya dengan kata-kata,
Meski ini bukan perjalanan pertama bagiku, tetapi keraguan tetap
saja menjadi rantai di kaki. Sengaja berjingkat saat mencari asal suara dengan
harapan kali ini aku salah mengenali. Namun, apalah daya. Mungkinkah manusia bisa
menipu Zat Yang Maha Berupadaya? Yaa jabaruti wal izzah, la ilaha illa anta
subhanaka inni kuntu minazzalimiin.
Sekali lagi, mematung bukan hanya karena mendapati pemilik suara
ternyata benar adalah milik orang yang kukenal, tetapi juga karena aku mendapat
pengulangan yang sama setelah akal dan hati jauh lebih dewasa untuk mencerna.
Diberi kesempatan untuk membuktikan setiap janji indah dan kabar penakut saat
masih menghuni bumi. Akan benar-benar menjadi hamba yang merugi andai aku tak juga
pandai membawa diri.
Sama seperti penghuni lainnya, aku pun melihat temanku berdiri di
hadapan sebuah kuali dan tungku dengan kobaran api. Nyali kian mengerut ketika
akhirnya bisa melihat dengan jelas kegiatan mereka di tempat menyeramkan, itu.
Ternyata, bukan kuali yang diletakkan di atas tungku yang membara, melainkan
orang-orang tersebut yang dipaksa untuk duduk di atas tungku sementara tangan
mereka tak berhenti mengaduk isi di dalam kuali. Entah apa yang ada di
dalamnya, tetapi temanku terus saja mengulang kalimat yang sama dan baru berhenti
saat menyadari keberadaanku. Tatapannya sama seperti yang kujumpai saat kecil sebelum
akhirnya ia pun menyampaikan sesuatu seperti yang pernah dilakukan nenekku,
dulu.
Menitipkan sebuah pesan untuk sang suami yang tak bisa langsung
kusampaikan bukan karena tak amanah, tetapi karena situasi yang sudah berubah.
Aku bukan lagi anak kecil yang lugu, yang perkataan absurdnya bisa ditolerir
dengan mudah. Belum lagi label negatif yang seakan menjadi permanen membuatku
berpikir dua kali untuk menyampaikan sesuatu yang mengandung unsur Khurafat.
Rasa bersalah yang membebani baru terangkat ketika di tahun
berikutnya mendengar kabar bahwa sang suami akan kembali membangun biduk rumah
tangga. Cara kerja takdir yang misterius tak hanya membantu mempertemukan kami,
tetapi juga memberi ruang untuk kami lama berbincang. Mencoba mengkonfirmasi
sedikit informasi yang hanya diketahui oleh temanku dan suaminya, saja.
Bersyukur, tapi juga merasa sedih. Bersyukur karena mengetahui informasi
yang kudapat bukanlah hasil karangan bawah sadar. Sedih, lebih tepatnya merasa
bersalah karena aku lebih memilih mengutamakan citra diri dari pada bergegas
membantu andai memang aku diberi kesempatan untuk membantu orang lain dengan
cara yang sedikit berbeda.
No comments:
Post a Comment