Dilema hidup para penghuni sisi miring, yang keberadaannya seringkali dipandang sebelah mata karena cenderung kurang bisa bergaul dan dinilai anti sosial. Bahkan, tak sedikit yang menyebut mereka skizofrenia. Namun, masih ada bagian yang paling melukai hati, yaitu ketika mendengar penjelasan beberapa ahli yang menangani kasus semacam ‘ini’ dan menarik kesimpulan setelah melakukan serangkaian observasi dengan memilih istilah ‘penyakit’ dan memperlakukan anak-anak indigo layaknya mutan.
“Tidak perlu dilakukan pengeksploitasian secara berlebih ketika
tahu anaknya memiliki bakat atau kelebihan itu, karena pada dasarnya mereka
sama saja seperti anak-anak seusia mereka,” jawab Kak Seto ketika dimintai pendapatnya
terkait fenomena indigo saat diundang sebagai nara sumber di acara
Show-Imah. “Maka, tidak menutup
kemungkinan mereka akan menjumpai dan terjebak dalam kebingungan sepanjang
hidup mereka dan itu terkadang yang membuat para indigo dewasa memiliki kepribadian
ganda,” terangnya lebih lanjut.
Menyimak penjelasan tersebut membantu menemukan simpul dari ikatan yang
membelengguku sekian lama. Rasanya seperti menemukan kembali bagian yang hilang
dalam diriku. Rasanya mendapat secercah cahaya, petunjuk baru tentang alasan kenapa
aku kian terjebak dalam kebingungan justru setelah semua petunjuk yang kuminta
telah kudapatkan. Penampakan yang kujumpai saat berziarah ke makam nenek buyut,
segel garansi dari lisan seseorang yang mengklaim dirinya sebagai wakil Tuhan
di bumi, pertemuanku dengan seorang pemulung yang memberiku sekuntum kembang
Sepatu. Sehelai bulu yang jatuh mengisi telapak tanganku ketika sedang berdoa
dan memohon petunjuk-Nya.
Kebingungan kian mendera saat dihadapkan pada dua pilihan. “Tetap mempertahankan
dengan segala konsekuensinya atau mengubur dalam-dalam dan melupakan bahwa
warna itu juga pernah menjadi bagian dalam hidupmu?”
Ah, masihkah aku terjebak dalam kebingungan setelah berhasil merampungkan
BUKU HARIAN BAXY dan menyelesaikan catatan ini? Lalu, pilihan mana kiranya yang
akan kusimpan untuk mengisi kisah hidupku selanjutnya? Murtad atau menjadi
gila, seperti sugesti-sugesti negatif yang selama ini terpaksa kutelan bersama
nyeri di hati.
Terlena oleh bisikan-bisikan. Jumawa karena bisa mengetahui apa
yang seharusnya menjadi rahasia. Menjelajah ruang dan waktu tanpa perlu membawa
serta raga kasarku. Diberi kesempatan mengintip kehidupan setelah kedatangan
pati. La haula wala quwata illa billah.
Musyrik! Fasiq! Pengikut Khurafat! Andai mereka tahu betapa sakitnya
hatiku setiap kali mengingat makian, itu. Sebegitu sulitkah berusaha memahami
atau setidaknya bertabayun dengan yang bersangkutan sebelum tergesa-gesa
menghukumi. Menjadikannya ruang untuk bermuhasabah diri dan memikirkan siapa kiranya
yang paling memiliki kendali atas segala sesuatu yang terjadi di muka bumi,
ini.
Terhitung sejak April tahun 2006, aku mulai mengumpulkan semua
keterangan yang berhubungan dengan anak-anak indigo. Beruntung, istri dari bos
di tempat kakakku bekerja termasuk pegiat sosial yang aktif mengurusi
‘anak-anak unik’ ini, dari beliau pula aku mendapatkan semua informasi yang
kubutuhkan termasuk kesempatan untuk mengikuti seminar Indigo meski tak pernah
sekali pun kudatangi. Ya, tentu saja karena khawatir dengan penghukuman yang kudapat.
Walaupun gagal mendapat bimbingan resmi dari para ahli, tapi aku
tetap bersyukur karena mengetetahui bahwa aku tidak sendirian dalam keanehan,
ini. Hidup dalam keterasingan pun sebenarnya jsutru memberiku ruang dan
memperluas sudut pandang saat mengamati alur dari setiap kejadian di
sekelilingku.
Dari tumpukan makalah hasil seminar yang sengaja dibawakan ibu baik
hati itu membuatku sadar ternyata cobaanku ini sesungguhnya tidaklah terlalu
berat, sementara dari sudut pandang pribadi aku belajar menarik kesimpulan. Cara
termudah melihat tekanan cobaan seseorang kian bertambah berat ternyata bisa
dilihat dari latar belakang keluarga. Dalam hal ini tentu saja berkaitan dengan
kesejahteraan dan kedudukan social.
Sebutan musyrik, fasiq, dan semacamnya akan sangat mudah
dilontarkan ketika yang mendapat cobaan semacam itu berasal dari keluarga
kurang mampu. Dinilai semua yang dialami hanya sebatas cara untuk melarikan diri
dari kenyataan hidup yang gagal memenuhi kebutuhan lahir maupun batin. Lain
ceritanya jika yang memiliki kemampuan mengaktifkan indra keenamnya berasal
dari keluarga berada. Kecukupan gizi dan kemampuan intelektual yang terjamin
perkembangannya menjadi jaminan semua yang dikatakan adalah sebuah kebenaran.
Hmm … dinding pemisah yang jelas terlihat meski sengaja dibangun
tak kasat mata. Bahaya pengkelasan, jurang pemisah antara si miskin dan si kaya.
Garis tebal antara kaum terpelajar dan mereka yang selamanya dipaksa menemukan
jarum di antara tumpukan jerami. Entah kenapa laju dunia seakan-akan sengaja
dibuat agar yang miskin menderita dan yang kaya leluasa mereguk segala
kenikmatan bumi.
“Itu penyakit! Jangan
disanjung bahkan harus segera ditangani. Tidak ada itu yang namanya indigo
melainkan penyakit Sawan yang telah akut! Silakan buktikan, ruqyah mereka yang
mengaku indigo, jika tidak muntah, mereka pasti akan mengamuk parah."
Kurang lebih seperti itu rangkaian kalimat yang rutin menyapa
gendang telinga sejak memberanikan diri bercerita dan berusaha mencari jalan
keluar untuk segala keanehan, ini. Sebuah penghukuman yang pelit solusi karena
mereka terus berbicara hanya dari satu sudut pandang, saja. Menilai hanya
berdasarkan pengalaman dari umumnya pasien yang mereka jumpai tanpa tergerak membuka
peluang bahwa mungkin ada pasien datang dengan cerita yang sedikit berbeda.
“Itu Jin yang menunggangi, ilmu-ilmu leluhur yang enggan kabur dan
berat memutus hubungan dengan keturunan-keturunan dari pengikut setianya.
Akhirnya mereka mengintai, rela menanti beberapa generasi sampai akhirnya menemukan
keturunan yang pas di hati. Untuk dibimbing, diajari, memberi bisikan tentang
kisah masa lalu dan rahasia masa depan. Berperan memberi pandangan untuk yang
hidup bersisian, tetapi tanpa raga kasar seperti yang dimiliki manusia pada
umumnya.”
Aku menyetujui keterangan ini karena telah melewati proses tersbut.
Jatuh bangun sendiri sementara beberapa orang yang sebelumnya sempat menawarkan
bantuan dan ikut turun tangan dalam proses mencari kesembuhan memilih balik
badan dan bergegas cuci tangan setelah dihadapkan dengan beratnya kemungkinan imbas
yang akan mereka tanggung.
Kupikir akan benar-benar bisa melepas semua beban dan kembali
bernapas dengan lega setelah mengunjungi makam leluhur untuk mengembalikan apa
yang telah mengikutiku sejak dalam kandungan. Tapi, ternyata babak sisi miring dalam
buku kehidupanku masih sudah menyiapkan musim berikutnya. Cuci tangannya
orang-orang yang sebelumnya membantu membuat setiap usaha yang sudah kulakukan
kembali ke titik awal.
Hati kembali menjadi sedingin salju ketika orang-orang yang
sebelumnya kukira bisa dijadikan sebagai saksi secara langsung menegaskan bahwa
mereka tak ingin dilibatkan lagi dengan urusan berbau Khurafat, ini. Tak hanya
cuci tangan, tapi juga secara terang-terangan menutup mata dan telinga mereka
meskipun aku merajuk saat menyampaikan bahwa aku tetap memiliki hak untuk
menyampaikan apa yang kurasakan sepanjang menjalani proses meraih kesembuhan.
Andai mereka tahu, aku pun geram pada leluhurku. Namun, amarah itu berangsur
pudar setelah mengingat bahwa masing-masing diri sejatinya hanya menjalankan peran.
Memutar kisah istri Imran dan doa nabi Ibrahim untuk keturunannya di dalam
benak, kujadikan sebagai pengingat diri bahwa anak-anak yang dilahirkan bisa
saja menjadi istimewa bukan semata-mata karena pengaruh jin nasab, tetapi lebih
karena kuatnya doa dan pengharapan orang tua mereka.
Ah, sepertinya hati ini memang rawan terluka dengan kata-kata.
Haruskah dipukul rata bahwa seluruh penghuni barisan Nila adalah wabah
yang harus segera divaksinasi? Menjadi sangat berbahaya karena akar penyekutuan
terberat dapat berdatangan dari arah mereka. Lalu, mengapa tak tergerak untuk
memilah, mana Nila yang ditunggangi atau mungkin murni mendapat sedikit percikan
dari Nur Sang Ilahi.
“Pembakar dupa. Penabur
kemenyan. Berkawan dengan jin dan memilih kembali menapaki jalan kemusyrikan!”
Sakit! Sungguh tuduhan itu teramat keji, terlebih ketika sindiran-sindiran
itu sengaja dilontarkan dalam forum pengajian, tempat yang seharusnya bisa menjadi
perantara menemukan kedamaian hati. Saling berbisik ketika mengetahui ternyata aku
masih punya nyali mendatangi majlis ilmu meski berita miring tentang keanehanku
telah tersebar. Dinilai terlalu tebal muka karena meski telah mengtahui ancaman
orang yang mendatangi dan mempercayai dukun adalah kembali pada kekufuran, tapi
aku masih percaya diri mengikuti pengajian dan mendatangi salat berjamaah
setiap harinya.
La haula wala quwata illa billah. Mengapa tak ada yang mau mencoba
untuk mengerti bahwa semua yang terjadi tak mungkin ada tanpa izin dari Sang
Mahakuasa. Aku disebut telah menjadi bagian dari perdukunan, apakah mereka
melihatnya dengan mata kepala sendiri? Lagipula, bagaimana bisa aku membakar
dupa dan kemenyan jika mencium baunya saja sudah merasa terganggu?
Penghukuman tanpa memberi jalan keluar. Huft, anggap saja mereka belum
pernah merasakan seperti apa rasanya dihadapkan langsung pada tepian jurang
antara keimanan dan menyekutukan. Terselip langkah sedikit saja, maka kami yang
disebut berpenyakit ini sadar di mana akan ditempatkan.
Seperti anak domba yang terpisah dari kumpulannya, aku berjalan
sendirian di tengah lapangan yang luas dan tak berujung. Menjalani hari-hari
seperti orang linglung. Menatap langit, batin ini selalu menjerit. Berpijak
pada bumi, sekuat hati menahan air mata agar tidak terus membasahi pipi.
Meski begitu, aku tak boleh berhenti menyemangati diri sendiri. Sebisa
mungkin melatih diri agar bisa menjadi pemandu sorak untuk mereka yang masih
kehilangan arah, sama seperti yang pernah kualami. Setidaknya dengan cara itu
aku membantu meyakinkan diri sendiri bahwa jika mampu memahami peran yang telah
kita dapatkan maka petunjuk akan selalu disediakan. Benar, berhenti ragu-ragu
dalam mengukuhkan langkah dan usahakan tetap menikamkan jejak meski berada di
tepian jurang agar mereka yang sibuk menghukumi bisa ikut menyaksikan betapa
banyak keajaiban yang bisa kita buat bersama-sama.
Jadi, sudilah kiranya meluangkan waktu untuk sekadar memahami kami. Dengarkan cerita yang kami punya. Bantu kami menjelaskan kisah yang selama ini hanya bisa kami pendam dalam kesunyian.
No comments:
Post a Comment