Tuesday, September 12, 2023

MIMPI PERTAMA

 

Terkapar di dipan besar, tempat aku biasa terlelap saat malam bersama ke-lima kakakku. Jarak kelahiran yang berdekatan memungkinkan enam bersaudara untuk berbagi ranjang yang sama. Membuang pandang ke setiap sudut ruang, kuperhatikan setiap orang yang hadir memberiku tatapan yang sama. Untuk sesaat aku masih bisa merasakan dekapan hangat ibuku yang tak henti meneteskan air mata menangis saat akhirnya melepasku dari buaiannya. Dibaringkannya tubuh mungilku dan merapikan selimut sampai menutupi seluruh wajahku. Masih bisa kudengar suara tangis bersahutan memecah keheningan malam sebelum akhirnya yang kurasakan hanyalah kesunyian dan kegelapan yang menakutkan.

Malam itu aku dinyatakan meninggal dunia. Usia yang masih terlalu kecil tak sanggup melawan virus campak yang sedang mendera, setidaknya demikian penjelasan ibuku saat membantu meluruskan kenangan semasa kecil yang terus membekas dan terbawa hingga dewasa.

Meski tak bisa mengingat persis berapa usiaku saat itu, tapi tembang Gelas-gelas kaca membantuku mengingat tahun kejadiannya karena ibuku baru saja membeli album dari artis favoritnya tersebut sebelum aku anfal di malam berikutnya.

Panas, hanya itu yang bisa kurasakan. Di mata, telinga, bahkan saat bernapas pun rasanya seperti menyemburkan api naga. Satu yang kuingat sebelum semua berubah menjadi titik-titik hitam bertebaran di udara adalah kotoran hidung yang menempel di ujung jari telunjukku. Benar, persis seperti Suneo yang senang mengumpulkan kotoran hidungnya, kala itu aku merasa sedikit terhibur saat memainkan upil di antara jemariku. Pelipur rasa tersebut baru berubah menakutkan ketika bola upil di jemari berubah menjadi bola besar dan berbalik menindihku.

Mungkin bobot bola yang menindih terlalu berat dan membuat tubuhku tak lagi bisa bergerak. Tak juga mampu meronta saat ruang bernapasku kian terhalang karena selimut tebal yang menutup seluruh badan. Sepertinya bola upil itu sudah membuatku tak sadarkan diri karena sebelum melihat titik-titik hitam bertebaran di sekelilingku, kulihat orang-orang yang sedang menungguiku pun ikut mengambang.

Kullu nafsin zaikatul maut. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dalil tersebut tentu saja baru kuketahui setelah dewasa. Penjelasan tentang tugas yang diemban oleh malaikat Izrail pun baru kuketahui setelah duduk di bangku sekolah. Apa iya aku termasuk yang pernah mengalami mati suri? Atau semua ingatan itu hanya sebatas mimpi buruk yang pertama kali kudapat dan berbekas di hati.

Malaikat maut yang hanya menjalankan tugas sesuai perintah. Mengucap salam, berlaku lembut kepada insan yang selama hidupnya senantiasa berbuat kebaikan, dan sebaliknya, sang malaikat bertindak sebagai pemberi peringatan pertama akan beratnya kehidupan setelah mati andai seorang hamba semasa hidupnya lalai terhadap kewajiban utamanya di bumi.

“Mana panda Uni sama kaset balu Mamah?” tanyaku setelah berhasil melarikan diri dari kejaran bola api.

Tertindih bola upil membuat penglihatanku menjadi terganggu, napas yang tersengal membuat sekujur tubuh kesemutan dan terasa seperti ikan buntal. Mungkin itu juga yang membuat telinga ikutan buntu dan tak lagi bisa menangkap suara di sekelilingku. Hening dalam sekejap, yang bisa kulihat hanya warna hitam pekat. Tak lagi berani meronta karena ukuran bola upil akan semakin membesar tiap kali aku membuat satu gerakan. Dalam kesendirian, kebingungan, dan ketakutan, yang bisa kulakukan hanya mengikuti satu-satunya suara yang masih bisa tertangkap telinga. Sebuah bisikan lembut yang menuntunku untuk tetap tenang

Umumnya balita yang penurut, aku lantas mengikuti instruksi. Diam dan tenang meski bola upil terus mengurangi jatah napasku, sambil berharap ibuku akan segera menimangku kembali dalam buaiannya. Baru berani membuat gerakan saat melihat setitik cahaya yang bergerak perlahan mendekatiku. Mencoba membebaskan diri sekali lagi dan ternyata berhasul!

Berlari mengikuti gerak sinar indah, itu. Riang untuk sesaat karena hangat kasih ibuku kembali menyertai sebelum akhirnya rasa yang membingungkan kembali hadir setelah Langkah mungilku berhasi mengejar sang penuntun jalan dan berhasil menggapainya. Cahaya yang lebih indah dari kilau mutiara membuatku terhisap lubang cacing Ketika jemariku menyentuhnya. Mungkin seperti yang digambarkan dalam cerita perjalanan lorong waktu karena dalam sekejap aku telah berpindah tempat. Kali ini aku sudah berdiri di tempat yang benar-benar berbeda.

Sebuah tempat yang begitu indah. Rembulan yang bersinar terlihat jauh lebih terang dari purnama yang biasa ditunjukkan ibuku. Pohon-pohon besar, pantai, wahana bermain, di setiap sudut yang kupandang adalah pemandangan yang menyenangkan hati. Meski sendirian, tapi entah kenapa yang terasa hanyalah kegembiraan. Aku senang karena tak lagi merasakan panas dan nyeri di sekujur badan sesak napas pun tak lagi kurasa. Berlarian di tempat yang menyerupai taman kanak-kanak. Ada ayunan, jungkat-jungkit, perosotan, dan jenis permainan lainnya yang tak kujumpai di TK dekat rumah.

Bosan dengan wahana bermain, rasa penasaran mengajakku menjelajahi setiap sudut yang kulihat. Taman bunga, air terjun, tebing tinggi. Berjalan tanpa alas kaki membuatku bisa merasakan lembutnya rerumputan yang kupijak. Saking lembutnya seperti berjalan di atas tumpukan roti kasur. Pepohonan yang kupandangi, dedaunan yang kuamati, dan keuntum bunga yang kusentuh, semuanya terlihat hampir sama dengan yang digambarkan dalam buku dongeng Tuan kelinci dan Nona Alice pemberian nyonya Salette; bosnya bapak. Pemandangan indah dan dihias oleh bias pelangi membuatku berpikir mungkin saat itu aku juga sedang menghuni Wonderland.

Langkah mungilku kali ini telah sampai pada tebing tinggi yang sejak awal memang menarik perhatianku. Meski terbersit rasa takut, tetapi pemandangan yang tertangkap mata membuatku kerasan dan sengaja berlama-lama di sana. Debur ombak yang menyapu pantai, kilau air laut di bawah sinar bulan. Rembulan dengan ukuran seperti fenomena super moon yang sering didapati beberapa tahun belakangan, ini.

Masih terhanyut dengan keindahan yang tersaji. Tak hentinya kegirangan saat memandangi kilau air laut dan sinar purnama secara bergantian, bahkan kian tenggelam dalam kegembiraan ketika menyadari kehadiran seseorang yang berdiri di samping kananku.

Pria berjubah hitam keabuan itu terus menatapku dengan senyuman. Mulai merasa tak nyaman dan berniat kembali ke tempat bermain. Namun, sebelum beranjak, aku sempatkan menyapa orang asing itu dengan sedikit senyuman dan kulihat yang kusapa membalasnya dengan kedipan mata.

Entah kenapa, niat berpindah tempat urung kujalankan. Sebaliknya, aku justru sengaja berbantalan tangan saat memiringkan kepala di atas tumpukan batu pembatas antara tebing dan jurang kemudian melanjutkan kegiatanku menikmati pemandangan. Namun, kali ini kuselingi dengan memainkan kerikil di kakiku. Bukan tanpa alas an, rasa hati ingin segera beranjak pergi, tapi badanku terasa seperti saat ditindih bola upil. Terlebih, setelah melihat benda di tangan orang asing, itu.

Sebuah busur panah. Perlahan, benda di tangan kirinya terangkat, menyusul tangan kanan yang menempatkan anak panah. Aku tahu benda itu karena kakak laki-lakiku punya mainan semacam itu, hanya bentuk dan ukurannya saja yang berbeda. Setelah memastikan target yang akan dibidik, orang itu lagi-lagi mengedipkan mata dan seakan-akan mengajakku melihat aksinya dengan menganggukan kepalanya.

Meski takut, tapi aku hanya bisa menurut. Anak panah pun melesat, terbang tinggi ke angkasa. Aku sempat bersorak demi melihat atraksi memanah yang lebih bagus dari kakakku, tapi kegembiraan itu memudar setelah melihat anak panah yang menyentuh sasaran.

Konsisten melihat rumput yang kupijak saat orang itu memintaku untuk kembali menatap langit bersamanya meski penolakanku tak bertahan lama. Kupandangi satu-satunya orang yang kutemui di tempat itu. Mengamati gurat di wajahnya, lalu kembali meneliti busur panah dalam genggamannya. Kulihat satu sisinya telah kembali menyentuh tanah, jadi kupikir busur itu sudah selesai digunakan dan tak akan ada lagi anak panah berikutnya yang akan dilesatkan.

Detik berikutnya, kemilau purnama berubah menakutkan. Merah membara, lingkaran yang semula terlihat seperti cincin pernikahan perlahan membelah diri, satu bagian berada tetap di tempatnya dan kembali bersinar seperti semula, sementara bagian yang lain terjun bebas dan meluncur jatuh ke bumi.

Tubuh mungilku kembali menggigil seperti saat dikejar bola upil. Mulai kembali berkeringat seperti saat merasakan semburan api naga tiap kali bernapas. Rasa takut kian menjalar ketika menyadari potongan rembulan yang telah sampai ke bumi mulai menggelinding dan bergerak cepat mengejarku.

Untuk terakhir kalinya aku memberanikan diri menatap lurus sang pemanah dan memberinya tatapan yang biasa kugunakan sebagai jurus andalan saat merajuk. Entah orang tersebut marah atau bahkan justru balik menggoda karena guratan di wajahnya justru terlihat lucu. Aku tak peduli karena yang kupikirkan saat itu hanyalah melarikan diri.

 “Enggak ...! Mamah bilang nggak boleh deket-deket sama orang yang belum kita kenal. Mamah ... Mamah ...? Mamaah ...!” Berteriak sekuat tenaga begitu teringat pesan ibuku agar tidak berbicara dengan orang asing.

Memaksa diri untuk berlari dan berusaha mencari tempat bersembunyi karena rembulan yang mengejar terus bertambah jumlahnya. “Dua, tiga, lima, tujuh. Kenapa bulan itu berubah jadi bola api? Kenapa bisa jadi banyak? Kenapa aku yang dikejar, kenapa bukan bapak itu? Bukan aku yang bikin bulan itu jatuh. Bukan aku!”

“Mamaaah ...!” Aku terus berusaha berteriak sekuat tenaga meski tak sekali pun menghasilkan suara.

Mamah. Teringat raut sedih di wajahnya, air mata yang ikut membasahi pipiku, dekapan hangat yang beliau berikan sebelum aku menghilang ke dalam dunia mimpi sepenuhnya.

Cahaya putih, lubang cacing, bola upil, titik-titik hitam. Semuanya seperti berjalan mundur dan entah bagaimana caranya bisa kembali ke tempat aku dibaringkan. Melihat senyuman di wajah ibu dan nenek, memandangi satu persatu kelima kakakku dan para tetangga yang setia mendampingi. Memeluk erat panda kesayangan, tak ketinggalan kaset biru milik ibuku.

No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...