Terkapar di dipan besar, tempat aku biasa terlelap saat malam bersama
ke-lima kakakku. Jarak kelahiran yang berdekatan memungkinkan enam bersaudara
untuk berbagi ranjang yang sama. Membuang pandang ke setiap sudut ruang, kuperhatikan
setiap orang yang hadir memberiku tatapan yang sama. Untuk sesaat aku masih bisa
merasakan dekapan hangat ibuku yang tak henti meneteskan air mata menangis saat
akhirnya melepasku dari buaiannya. Dibaringkannya tubuh mungilku dan merapikan
selimut sampai menutupi seluruh wajahku. Masih bisa kudengar suara tangis bersahutan
memecah keheningan malam sebelum akhirnya yang kurasakan hanyalah kesunyian dan
kegelapan yang menakutkan.
Malam itu aku dinyatakan meninggal dunia. Usia yang masih terlalu
kecil tak sanggup melawan virus campak yang sedang mendera, setidaknya demikian
penjelasan ibuku saat membantu meluruskan kenangan semasa kecil yang terus membekas
dan terbawa hingga dewasa.
Meski tak bisa mengingat persis berapa usiaku saat itu, tapi tembang
Gelas-gelas kaca membantuku mengingat tahun kejadiannya karena ibuku baru saja
membeli album dari artis favoritnya tersebut sebelum aku anfal di malam
berikutnya.
Panas, hanya itu yang bisa kurasakan. Di mata, telinga, bahkan saat
bernapas pun rasanya seperti menyemburkan api naga. Satu yang kuingat sebelum
semua berubah menjadi titik-titik hitam bertebaran di udara adalah kotoran
hidung yang menempel di ujung jari telunjukku. Benar, persis seperti Suneo yang
senang mengumpulkan kotoran hidungnya, kala itu aku merasa sedikit terhibur saat
memainkan upil di antara jemariku. Pelipur rasa tersebut baru berubah menakutkan
ketika bola upil di jemari berubah menjadi bola besar dan berbalik menindihku.
Mungkin bobot bola yang menindih terlalu berat dan membuat tubuhku
tak lagi bisa bergerak. Tak juga mampu meronta saat ruang bernapasku kian terhalang
karena selimut tebal yang menutup seluruh badan. Sepertinya bola upil itu sudah
membuatku tak sadarkan diri karena sebelum melihat titik-titik hitam bertebaran
di sekelilingku, kulihat orang-orang yang sedang menungguiku pun ikut
mengambang.
Kullu nafsin zaikatul maut. Setiap yang bernyawa pasti akan
merasakan mati, dalil tersebut tentu saja baru kuketahui setelah dewasa.
Penjelasan tentang tugas yang diemban oleh malaikat Izrail pun baru kuketahui
setelah duduk di bangku sekolah. Apa iya aku termasuk yang pernah mengalami
mati suri? Atau semua ingatan itu hanya sebatas mimpi buruk yang pertama kali
kudapat dan berbekas di hati.
Malaikat maut yang hanya menjalankan tugas sesuai perintah.
Mengucap salam, berlaku lembut kepada insan yang selama hidupnya senantiasa
berbuat kebaikan, dan sebaliknya, sang malaikat bertindak sebagai pemberi
peringatan pertama akan beratnya kehidupan setelah mati andai seorang hamba semasa
hidupnya lalai terhadap kewajiban utamanya di bumi.
“Mana panda Uni sama kaset balu Mamah?” tanyaku setelah berhasil
melarikan diri dari kejaran bola api.
Tertindih bola upil membuat penglihatanku menjadi terganggu, napas
yang tersengal membuat sekujur tubuh kesemutan dan terasa seperti ikan buntal.
Mungkin itu juga yang membuat telinga ikutan buntu dan tak lagi bisa menangkap
suara di sekelilingku. Hening dalam sekejap, yang bisa kulihat hanya warna hitam
pekat. Tak lagi berani meronta karena ukuran bola upil akan semakin membesar
tiap kali aku membuat satu gerakan. Dalam kesendirian, kebingungan, dan ketakutan,
yang bisa kulakukan hanya mengikuti satu-satunya suara yang masih bisa
tertangkap telinga. Sebuah bisikan lembut yang menuntunku untuk tetap tenang
Umumnya balita yang penurut, aku lantas mengikuti instruksi. Diam
dan tenang meski bola upil terus mengurangi jatah napasku, sambil berharap
ibuku akan segera menimangku kembali dalam buaiannya. Baru berani membuat
gerakan saat melihat setitik cahaya yang bergerak perlahan mendekatiku. Mencoba
membebaskan diri sekali lagi dan ternyata berhasul!
Berlari mengikuti gerak sinar indah, itu. Riang untuk sesaat karena
hangat kasih ibuku kembali menyertai sebelum akhirnya rasa yang membingungkan
kembali hadir setelah Langkah mungilku berhasi mengejar sang penuntun jalan dan
berhasil menggapainya. Cahaya yang lebih indah dari kilau mutiara membuatku
terhisap lubang cacing Ketika jemariku menyentuhnya. Mungkin seperti yang
digambarkan dalam cerita perjalanan lorong waktu karena dalam sekejap aku telah
berpindah tempat. Kali ini aku sudah berdiri di tempat yang benar-benar
berbeda.
Sebuah tempat yang begitu indah. Rembulan yang bersinar terlihat
jauh lebih terang dari purnama yang biasa ditunjukkan ibuku. Pohon-pohon besar,
pantai, wahana bermain, di setiap sudut yang kupandang adalah pemandangan yang
menyenangkan hati. Meski sendirian, tapi entah kenapa yang terasa hanyalah
kegembiraan. Aku senang karena tak lagi merasakan panas dan nyeri di sekujur
badan sesak napas pun tak lagi kurasa. Berlarian di tempat yang menyerupai
taman kanak-kanak. Ada ayunan, jungkat-jungkit, perosotan, dan jenis permainan
lainnya yang tak kujumpai di TK dekat rumah.
Bosan dengan wahana bermain, rasa penasaran mengajakku menjelajahi
setiap sudut yang kulihat. Taman bunga, air terjun, tebing tinggi. Berjalan
tanpa alas kaki membuatku bisa merasakan lembutnya rerumputan yang kupijak. Saking
lembutnya seperti berjalan di atas tumpukan roti kasur. Pepohonan yang kupandangi,
dedaunan yang kuamati, dan keuntum bunga yang kusentuh, semuanya terlihat hampir
sama dengan yang digambarkan dalam buku dongeng Tuan kelinci dan Nona Alice
pemberian nyonya Salette; bosnya bapak. Pemandangan indah dan dihias oleh bias
pelangi membuatku berpikir mungkin saat itu aku juga sedang menghuni Wonderland.
Langkah mungilku kali ini telah sampai pada tebing tinggi yang
sejak awal memang menarik perhatianku. Meski terbersit rasa takut, tetapi
pemandangan yang tertangkap mata membuatku kerasan dan sengaja berlama-lama di
sana. Debur ombak yang menyapu pantai, kilau air laut di bawah sinar bulan. Rembulan
dengan ukuran seperti fenomena super moon yang sering didapati beberapa tahun
belakangan, ini.
Masih terhanyut dengan keindahan yang tersaji. Tak hentinya kegirangan
saat memandangi kilau air laut dan sinar purnama secara bergantian, bahkan kian
tenggelam dalam kegembiraan ketika menyadari kehadiran seseorang yang berdiri
di samping kananku.
Pria berjubah hitam keabuan itu terus menatapku dengan senyuman. Mulai
merasa tak nyaman dan berniat kembali ke tempat bermain. Namun, sebelum
beranjak, aku sempatkan menyapa orang asing itu dengan sedikit senyuman dan
kulihat yang kusapa membalasnya dengan kedipan mata.
Entah kenapa, niat berpindah tempat urung kujalankan. Sebaliknya,
aku justru sengaja berbantalan tangan saat memiringkan kepala di atas tumpukan
batu pembatas antara tebing dan jurang kemudian melanjutkan kegiatanku
menikmati pemandangan. Namun, kali ini kuselingi dengan memainkan kerikil di
kakiku. Bukan tanpa alas an, rasa hati ingin segera beranjak pergi, tapi badanku
terasa seperti saat ditindih bola upil. Terlebih, setelah melihat benda di
tangan orang asing, itu.
Sebuah busur panah. Perlahan, benda di tangan kirinya terangkat,
menyusul tangan kanan yang menempatkan anak panah. Aku tahu benda itu karena
kakak laki-lakiku punya mainan semacam itu, hanya bentuk dan ukurannya saja
yang berbeda. Setelah memastikan target yang akan dibidik, orang itu lagi-lagi
mengedipkan mata dan seakan-akan mengajakku melihat aksinya dengan menganggukan
kepalanya.
Meski takut, tapi aku hanya bisa menurut. Anak panah pun melesat, terbang
tinggi ke angkasa. Aku sempat bersorak demi melihat atraksi memanah yang lebih
bagus dari kakakku, tapi kegembiraan itu memudar setelah melihat anak panah yang
menyentuh sasaran.
Konsisten melihat rumput yang kupijak saat orang itu memintaku
untuk kembali menatap langit bersamanya meski penolakanku tak bertahan lama. Kupandangi
satu-satunya orang yang kutemui di tempat itu. Mengamati gurat di wajahnya,
lalu kembali meneliti busur panah dalam genggamannya. Kulihat satu sisinya telah
kembali menyentuh tanah, jadi kupikir busur itu sudah selesai digunakan dan tak
akan ada lagi anak panah berikutnya yang akan dilesatkan.
Detik berikutnya, kemilau purnama berubah menakutkan. Merah
membara, lingkaran yang semula terlihat seperti cincin pernikahan perlahan
membelah diri, satu bagian berada tetap di tempatnya dan kembali bersinar
seperti semula, sementara bagian yang lain terjun bebas dan meluncur jatuh ke
bumi.
Tubuh mungilku kembali menggigil seperti saat dikejar bola upil. Mulai
kembali berkeringat seperti saat merasakan semburan api naga tiap kali bernapas.
Rasa takut kian menjalar ketika menyadari potongan rembulan yang telah sampai
ke bumi mulai menggelinding dan bergerak cepat mengejarku.
Untuk terakhir kalinya aku memberanikan diri menatap lurus sang
pemanah dan memberinya tatapan yang biasa kugunakan sebagai jurus andalan saat merajuk.
Entah orang tersebut marah atau bahkan justru balik menggoda karena guratan di
wajahnya justru terlihat lucu. Aku tak peduli karena yang kupikirkan saat itu
hanyalah melarikan diri.
“Enggak ...! Mamah bilang
nggak boleh deket-deket sama orang yang belum kita kenal. Mamah ... Mamah ...?
Mamaah ...!” Berteriak sekuat tenaga begitu teringat pesan ibuku agar tidak
berbicara dengan orang asing.
Memaksa diri untuk berlari dan berusaha mencari tempat bersembunyi
karena rembulan yang mengejar terus bertambah jumlahnya. “Dua, tiga, lima,
tujuh. Kenapa bulan itu berubah jadi bola api? Kenapa bisa jadi banyak? Kenapa
aku yang dikejar, kenapa bukan bapak itu? Bukan aku yang bikin bulan itu jatuh.
Bukan aku!”
“Mamaaah ...!” Aku terus berusaha berteriak sekuat tenaga meski tak
sekali pun menghasilkan suara.
Mamah. Teringat raut sedih di wajahnya, air mata yang ikut
membasahi pipiku, dekapan hangat yang beliau berikan sebelum aku menghilang ke
dalam dunia mimpi sepenuhnya.
Cahaya putih, lubang cacing, bola upil, titik-titik hitam. Semuanya
seperti berjalan mundur dan entah bagaimana caranya bisa kembali ke tempat aku
dibaringkan. Melihat senyuman di wajah ibu dan nenek, memandangi satu persatu kelima
kakakku dan para tetangga yang setia mendampingi. Memeluk erat panda kesayangan,
tak ketinggalan kaset biru milik ibuku.
No comments:
Post a Comment