“Kok bisa ya lihat makhluk kaya gitu. Kapan hari saya ditanya sama tetangga; "Mbak kemaren malem jam sebelas lagi ngapain di kolam belakang sendirian?” Lah, selama saya di sini belum pernah nongkrong malem-malem di pinggir kolam. Gelap, takut ada ular.”
Kolom komentar segera bertuan tak lama setelah membagikan catatan
lama yang selesai kurevisi ke beranda Facebook.
“Biasanya efek para leluhur yang pernah bikin perjanjian 'aneh'
jadi anak turunnya terkadang ikutan kena segel Kyubi,” kujawab tanpa lupa
menyertakan avatar tepok jidat.
Padahal Syawal baru masuk hitungan minggu pertama, tapi beberapa
penghuni sisi miring seperti sudah tak sabar menunjukkan eksistensi mereka. Meet
and greet tak terduga dengan entitas yang cosplay jadi lord Voldemort versi
berambut bikin bulu kuduk merinding disko. Ngeri-ngeri seru. Physical touch
saat baku hantam masih tetap memberi efek yang sama. Penjelasan bahwa yang
diciptakan tak kasat mata akan memiliki kelemahan yang sama saat memutuskan
mengambil wujud kasar layaknya manusia.
“Jalan ngelewatin koridor. Posisi ruangannya ada di ujung. Pokok
pintu terakhir.”
Merinding disko. Bulu roma seketika berdansa. Cuaca panas yang juga
menyapa kota wisata Batu seakan-akan menghadirkan udara super dinginnya kembali
setelah lokasi yang sempat kulihat saat berjalan dalam tidurku terkonfirmasi.
“Galak, itu. Kucekek aja, dah, akhirnya.” Kembali berbalas pesan
dengan salah satu kakakku yang menjadi target keusilan entitas di tempatnya
bekerja.
“Penghuni lama, kali, ya?” respon kakakku yang diselingi dengan
candaan.
“Bisa jadi,” kubalas tanpa lupa menyisipkan emoji lucu ditambah sedikit
petuah sok bijak untuk tidak terfokus pada energi negatif yang sedang posesif
mendekatinya.
Sugoi! Sensasi saat memutuskan untuk melakukan perlawanan dengan
mencekam balik batang leher entitas, masih terasa sama persis seperti saat bersitegang
dengan kuntilanak merah dan yang lainnya. Ah, sepertinya aku sudah sering
menyampaikan reaksi pertamaku saat film The-Sixth Sense dicantumkan
dalam daftar bioskop Trans-TV. Jangan ditanya berapa banyak jejak luka dan
lebam yang tertinggal di badan, entah itu bekas cakaran atau tetes darah yang
mulai mengering, persis di tempat yang berhasil ‘mereka’ lukai.
Masyaallah. Nggak kerasa sudah sepuluh tahun lebih ternyata aku
berhasil mengabaikan sisi miring, tersebut. Berusaha menutup setiap celah yang
bisa membuatku bersinggungan kembali dengan para penghuni sisi miring meski
tanpa bantuan professional seperti yang masih sering disarankan oleh beberapa
kerabat yang mengetahui alur cobaanku, ini.
“Jadikan sabar dan Salat sebagai penolongmu.’ Maka itu adalah jalan
yang kutempuh untuk mencari kesembuhan.
Anyway, setidaknya meet and greet dadakan dengan penghuni sisi
miring di bulan Syawal ini membawa dampak positif. Aku jadi tergerak untuk
membuka file lama dan mulai membenahi naskah yang menggantung tanpa ujung.
Naskah di bawah ini adalah salah satunya.
Catatan ini sebelumnya pernah kuikutsertakan dalam event menulis di
salah satu grup literasi. Sengaja memilih pengalaman pribadi karena salah satu
dari ketiga gambar yang dicantumkan panitia sebagai tema membuatku seakan-akan
sedang bercermin.
Nuansa suram. Ada satu boneka beruang diletakkan di atas meja.
Duduk menghadap jendela, Menangkap pemandangan di luar sana dengan perasaan
hampa.
Hidup yang absurd. Hari-hari yang kujalani tak pernah bisa seperti
anak seusiaku, pada umumnya. Bukan, bukan mengklaim diri istimewa atau
semacamnya, sebaliknya aku justru mulai mematri satu label yang paling sering kudengar
sedari kecil. ‘ANEH!’
Apalah daya, meski hidupku diwarnai dengan hal-hal ekstravaganza,
tetapi nyatanya aku tak cukup berani untuk menyampaikannya, kembali. Jangankan
pada dunia, pada orang-orang terdekat pun sengaja kusimpan rapat. Sampai pada satu
hari, aku menemukan satu gambar berisi kata-kata motivasi.
“You don’t really know who you are until you stop being who you
aren’t.”
Detik itu aku tersadar bahwa sudah terlalu lama aku berdiam di satu
titik yang membosankan. Sekuat tenaga mencoba melarikan diri dari apa yang
sebenarnya membuatku merakan arti kehidupan dan perjalanan terakhir yang ingin
kutuju. Segala penghukuman dan sebutan aneh yang terus terbawa hingga dewasa
kian membuatku hilang arah. Melihat aapa yang seharusnya tidak bisa dilihat,
merasakan apa yang tidak bisa dirasakan kebanyakan orang, Memilih memandang
kehidupan bukan sebatas dogma, tetapi dari setiap sudut yang bisa kutemukan.
Demikian pula cara yang kugunakan untuk mengenali Zat yang harus kusembah.
Pengikut Khurafat. Label tersebut pun sejujurnya telah membawaku
selangkah lebih dekat dengan apa yang tengah kucari sepanjang hidupku.
Andai benar hidup hanyalah sebuah pengulangan kisah dan setiap
pemeran yang baru hanya diminta untuk memperhatikan kisah sebelumnya agar tak
mengulangi kesalahan yang sama, maka itulah sesungguhnya yang selama ini aku
coba terapkan. Mencoba menangkap pelajaran hidup bukan sebatas lewat yang sudah
tersurat, tetapi juga dari setiap pesan kehidupan yang terus disiratkan.
Jika bukan diri sendiri yang mengubah kisah hidup kita menjadi
sebuah cerita, maka kita hanya akan menjadi bagian dari cerita orang lain. Dan
apa yang kudapat dari kepercayaan diriku yang lemah selama puluhan tahun, ini?
Aku berhenti menggubah kisah hidupku hanya karena tak tahan terus disebut
manusia konyol dan ratu drama.
Berpura-pura tidak tahu atau mungkin memang tidak mengerti sama sekali dengan alur hidupku. Termasuk tentang babak hidup yang akan kubagikan berikut, ini. Tentang perjanjian terlarang. Tentang perangkap jin nasab yang membuatku tumbuh menjadi remaja kelabu dan manusia kadang-kadang.
No comments:
Post a Comment