Constantine memangku kucing kliennya dengan harapan dapat
mempermudah jalan memasuki dimensi lain melalui kedua mata hewan lucu, itu. Dan
benar saja, bahkan sebelum Angela menutup pintu, ia sudah melenggang santai di
tengah kobaran api dan mulai mencari keberadaan saudara kembar kliennya. Tak
menunggu lama, makhluk-makhluk yang menyimpan dendam karena telah dikirim kembali
ke neraka pun segera menyadari keberadaannya. Constantine pun mempercepat
langkahnya. Namun, bukan karena menyadari musuh kian mengepung melainkan telah melihat
sosok yang ia cari. Membuat satu lompatan dengan tangan kanan meremas dada
kirinya yang terasa nyeri sementara tangan kirinya berusaha meraih jejak yang
sengaja ditinggalkan Isabel, saudara kembar Angela. Detik berikutnya ia kembali
dengan membawa bukti bahwa saudara kembar kliennya tersebut memang wafat karena
bunuh diri.
***
Kesan pertama yang
kudapat saat menyaksikan adegan, ini? Tentu saja sontak bersorak.
“Aha! Ternyata aku memang
tidak seaneh, itu!” Tapi, tentu saja dengan suara hati dan logika yang lantas
ikut berunjuk rasa. “Ah, jika banyak orang bisa dibuat terkesima dengan kisah
mistik yang dikemas dalam sebuah sinema, lalu mengapa mereka menolak untuk
percaya dan jstru antipati ketika menjumpainya hal serupa dalam kehidupan
nyata?”
Mengamati situasi yang digambarkan saat Constantine berjalan di
Neraka, aku lantas membandingkan dengan tempat serupa yang juga pernah kulihat
saat kecil. Kobaran api mahadasyat, mungkin ini juga alasannya kenapa aku bisa langsung
percaya ketika menjumpai keterangan yang menggambarkan tentang api neraka.
Seribu tahun pertama dinyalakan berwarna merah, lalu dinyalakan seribu tahun
lagi sampai berwarna putih, sampai seribu tahun kemudian api itu berubah
menjadi hitam dan gelap. Wallahu a’lamu bishawab.
Tujuh tahun kurang tiga bulan, tepatnya Februari minggu terakhir
tahun 1988 saat pertama kali diperlihatkan pemandangan memilukan, itu. Janji
yang menyesakkan hati bagi hamba yang diqadar terlahir dari aliran keringat
tangan sebelah kiri milik bapak para manusia di bumi. Jilatan api yang tak bisa
kugambarkan, karena warna merahnya terlihat berbeda dengan kobaran api unggun. Meski
begitu, aku tetap berusaha mendekat karena melihat seseorang yang kusayang
tengah menjerit kesakitan di antara kobaran api, tersebut.
Antara takut dan bingung saat melihatnya sama sekali tak mengenakan
busana, tetapi terbungkus kain tipis transparan. Meski beliau menjerit oanas
dan kesakitan, tetapi kobaran api tersebut tak benar-benar menyentuhnya. Kain
tipis itu seakan bertindak seperti zirah para punggawa yang membentengi tuannya
dari serangan. Tapi, aku tetap tak mengerti apa yang membuat beliau terlihat begitu
menderita.
“Apa mungkin kanker di payudaranya kambuh, lagi? Tapi mama bilang,
kalau sudah ketemu Allah itu artinya sudah sembuh dan tidak akan pernah
merasakan sakit, lagi.”
Tak tega melihatnya yang terus menjerit kesakitan, aku memaksa diri
untuk terus bergerak dan berusaha mendekat sampai akhirnya aku berada di tengah-tengah
kobaran api yang sama dengannya. Langkah terhenti ketika jarak yang memisahkan
kami hanyalah selaput tipis, tersebut. Ternyata, benar. Aku tak salah dalam
mengenali wajah serta bahu yang biasa tersangkut kain panjang di antara kedua
pundaknya saat menggendongku. Aroma kayu putih bercampur rivanol yang biasa
digunakan ibuku untuk membersihkan luka di payudara wanita yang melahirkannya dapat
dengan mudah kukenali.
Tangan kecilku mulai berusaha menggapai-gapai. Berpikir, mungkin jika
aku bisa merobek kain tipis itu maka aku bisa membawanya keluar dari tempat
menakutkan, tersebut. Namun, genggamanku seolah-olah hanya merobek udara,
suaraku yang mencoba berteriak sekuat tenaga saat memanggilnya pun seakan-akan
tenggelam dalam ruang kedap udara. Sampai akhirnya diri dipaksa membeku seperti
ketika tertindih bola upil pertama kali dan hanya bisa terpaku menatap sosok
yang biasa melimpahiku dengan kasih sayangnya. Sampai akhirnya, perlahan
gendang telinga kembali menangkap suara.
Satu suara berisi kalimat yang sama dan terus berulang. Semakin
lama semakin jelas, sampai aku sendiri bertanya-tanya ada apa sebenarnya antara
ibu dan anak semata wayangnya, itu? Karena seingatku, keduanya hidup penuh
kasih dan ibuku pun merawatnya dengan penuh kesabaran. Namun bgitu, usiaku
terlalu kecil untuk mencampuri urusan orang dewasa. Jadi, meski tak sepenuhnya
mengerti dengan situasi yang tengah kuhadapi, tetapi aku tetap berusaha untuk
menetapi janji seperti yang sudah kuberikan.
“Pesan itu harus bisa kusampaikan sebelum kain tipis itu habis
terbakar.”
Tidur sambil berjalan. Ibuku bilang, aku memang punya kebiasaan
ngelindur karenanya menganggap tingkahku yang sempat ia lihat di malam seetelah
pemakaman ibunya adalah bagian dari kebiasaan burukku. Tutur kata dan bahasa
tubuhnya lembut seperti biasanya, tetapi tidak dengan air muka yang berusaha ia
sembunyikan setelah aku selesai menyampaikan pesan yang kubawa. Tak ada
penjelasan lebih lanjut karena beliau hanya memelukku dengan erat setelah bertanya
tentang bagaimana caranya aku bisa mengetahui rahasia mereka.
No comments:
Post a Comment