Thursday, May 18, 2023

BIRAHMATIKA ASTAGHITS

Constantine memangku kucing kliennya dengan harapan dapat mempermudah jalan memasuki dimensi lain melalui kedua mata hewan lucu, itu. Dan benar saja, bahkan sebelum Angela menutup pintu, ia sudah melenggang santai di tengah kobaran api dan mulai mencari keberadaan saudara kembar kliennya. Tak menunggu lama, makhluk-makhluk yang menyimpan dendam karena telah dikirim kembali ke neraka pun segera menyadari keberadaannya. Constantine pun mempercepat langkahnya. Namun, bukan karena menyadari musuh kian mengepung melainkan telah melihat sosok yang ia cari. Membuat satu lompatan dengan tangan kanan meremas dada kirinya yang terasa nyeri sementara tangan kirinya berusaha meraih jejak yang sengaja ditinggalkan Isabel, saudara kembar Angela. Detik berikutnya ia kembali dengan membawa bukti bahwa saudara kembar kliennya tersebut memang wafat karena bunuh diri.

***

            Kesan pertama yang kudapat saat menyaksikan adegan, ini? Tentu saja sontak bersorak.

 “Aha! Ternyata aku memang tidak seaneh, itu!” Tapi, tentu saja dengan suara hati dan logika yang lantas ikut berunjuk rasa. “Ah, jika banyak orang bisa dibuat terkesima dengan kisah mistik yang dikemas dalam sebuah sinema, lalu mengapa mereka menolak untuk percaya dan jstru antipati ketika menjumpainya hal serupa dalam kehidupan nyata?”

Mengamati situasi yang digambarkan saat Constantine berjalan di Neraka, aku lantas membandingkan dengan tempat serupa yang juga pernah kulihat saat kecil. Kobaran api mahadasyat, mungkin ini juga alasannya kenapa aku bisa langsung percaya ketika menjumpai keterangan yang menggambarkan tentang api neraka. Seribu tahun pertama dinyalakan berwarna merah, lalu dinyalakan seribu tahun lagi sampai berwarna putih, sampai seribu tahun kemudian api itu berubah menjadi hitam dan gelap. Wallahu a’lamu bishawab.

Tujuh tahun kurang tiga bulan, tepatnya Februari minggu terakhir tahun 1988 saat pertama kali diperlihatkan pemandangan memilukan, itu. Janji yang menyesakkan hati bagi hamba yang diqadar terlahir dari aliran keringat tangan sebelah kiri milik bapak para manusia di bumi. Jilatan api yang tak bisa kugambarkan, karena warna merahnya terlihat berbeda dengan kobaran api unggun. Meski begitu, aku tetap berusaha mendekat karena melihat seseorang yang kusayang tengah menjerit kesakitan di antara kobaran api, tersebut.

Antara takut dan bingung saat melihatnya sama sekali tak mengenakan busana, tetapi terbungkus kain tipis transparan. Meski beliau menjerit oanas dan kesakitan, tetapi kobaran api tersebut tak benar-benar menyentuhnya. Kain tipis itu seakan bertindak seperti zirah para punggawa yang membentengi tuannya dari serangan. Tapi, aku tetap tak mengerti apa yang membuat beliau terlihat begitu menderita.

“Apa mungkin kanker di payudaranya kambuh, lagi? Tapi mama bilang, kalau sudah ketemu Allah itu artinya sudah sembuh dan tidak akan pernah merasakan sakit, lagi.”

Tak tega melihatnya yang terus menjerit kesakitan, aku memaksa diri untuk terus bergerak dan berusaha mendekat sampai akhirnya aku berada di tengah-tengah kobaran api yang sama dengannya. Langkah terhenti ketika jarak yang memisahkan kami hanyalah selaput tipis, tersebut. Ternyata, benar. Aku tak salah dalam mengenali wajah serta bahu yang biasa tersangkut kain panjang di antara kedua pundaknya saat menggendongku. Aroma kayu putih bercampur rivanol yang biasa digunakan ibuku untuk membersihkan luka di payudara wanita yang melahirkannya dapat dengan mudah kukenali.

Tangan kecilku mulai berusaha menggapai-gapai. Berpikir, mungkin jika aku bisa merobek kain tipis itu maka aku bisa membawanya keluar dari tempat menakutkan, tersebut. Namun, genggamanku seolah-olah hanya merobek udara, suaraku yang mencoba berteriak sekuat tenaga saat memanggilnya pun seakan-akan tenggelam dalam ruang kedap udara. Sampai akhirnya diri dipaksa membeku seperti ketika tertindih bola upil pertama kali dan hanya bisa terpaku menatap sosok yang biasa melimpahiku dengan kasih sayangnya. Sampai akhirnya, perlahan gendang telinga kembali menangkap suara.

Satu suara berisi kalimat yang sama dan terus berulang. Semakin lama semakin jelas, sampai aku sendiri bertanya-tanya ada apa sebenarnya antara ibu dan anak semata wayangnya, itu? Karena seingatku, keduanya hidup penuh kasih dan ibuku pun merawatnya dengan penuh kesabaran. Namun bgitu, usiaku terlalu kecil untuk mencampuri urusan orang dewasa. Jadi, meski tak sepenuhnya mengerti dengan situasi yang tengah kuhadapi, tetapi aku tetap berusaha untuk menetapi janji seperti yang sudah kuberikan.

“Pesan itu harus bisa kusampaikan sebelum kain tipis itu habis terbakar.”

Tidur sambil berjalan. Ibuku bilang, aku memang punya kebiasaan ngelindur karenanya menganggap tingkahku yang sempat ia lihat di malam seetelah pemakaman ibunya adalah bagian dari kebiasaan burukku. Tutur kata dan bahasa tubuhnya lembut seperti biasanya, tetapi tidak dengan air muka yang berusaha ia sembunyikan setelah aku selesai menyampaikan pesan yang kubawa. Tak ada penjelasan lebih lanjut karena beliau hanya memelukku dengan erat setelah bertanya tentang bagaimana caranya aku bisa mengetahui rahasia mereka.









No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...