Tuesday, September 12, 2023

HALO, INDIGO

     

Dilema hidup para penghuni sisi miring, yang keberadaannya seringkali dipandang sebelah mata karena cenderung kurang bisa bergaul dan dinilai anti sosial. Bahkan, tak sedikit yang menyebut mereka skizofrenia. Namun, masih ada bagian yang paling melukai hati, yaitu ketika mendengar penjelasan beberapa ahli yang menangani kasus semacam ‘ini’ dan menarik kesimpulan setelah melakukan serangkaian observasi dengan memilih istilah ‘penyakit’ dan memperlakukan anak-anak indigo layaknya mutan.

“Tidak perlu dilakukan pengeksploitasian secara berlebih ketika tahu anaknya memiliki bakat atau kelebihan itu, karena pada dasarnya mereka sama saja seperti anak-anak seusia mereka,” jawab Kak Seto ketika dimintai pendapatnya terkait fenomena indigo saat diundang sebagai nara sumber di acara Show-Imah.  “Maka, tidak menutup kemungkinan mereka akan menjumpai dan terjebak dalam kebingungan sepanjang hidup mereka dan itu terkadang yang membuat para indigo dewasa memiliki kepribadian ganda,” terangnya lebih lanjut.

Menyimak penjelasan tersebut membantu menemukan simpul dari ikatan yang membelengguku sekian lama. Rasanya seperti menemukan kembali bagian yang hilang dalam diriku. Rasanya mendapat secercah cahaya, petunjuk baru tentang alasan kenapa aku kian terjebak dalam kebingungan justru setelah semua petunjuk yang kuminta telah kudapatkan. Penampakan yang kujumpai saat berziarah ke makam nenek buyut, segel garansi dari lisan seseorang yang mengklaim dirinya sebagai wakil Tuhan di bumi, pertemuanku dengan seorang pemulung yang memberiku sekuntum kembang Sepatu. Sehelai bulu yang jatuh mengisi telapak tanganku ketika sedang berdoa dan memohon petunjuk-Nya.

Kebingungan kian mendera saat dihadapkan pada dua pilihan. “Tetap mempertahankan dengan segala konsekuensinya atau mengubur dalam-dalam dan melupakan bahwa warna itu juga pernah menjadi bagian dalam hidupmu?”

Ah, masihkah aku terjebak dalam kebingungan setelah berhasil merampungkan BUKU HARIAN BAXY dan menyelesaikan catatan ini? Lalu, pilihan mana kiranya yang akan kusimpan untuk mengisi kisah hidupku selanjutnya? Murtad atau menjadi gila, seperti sugesti-sugesti negatif yang selama ini terpaksa kutelan bersama nyeri di hati.

Terlena oleh bisikan-bisikan. Jumawa karena bisa mengetahui apa yang seharusnya menjadi rahasia. Menjelajah ruang dan waktu tanpa perlu membawa serta raga kasarku. Diberi kesempatan mengintip kehidupan setelah kedatangan pati. La haula wala quwata illa billah.

Musyrik! Fasiq! Pengikut Khurafat! Andai mereka tahu betapa sakitnya hatiku setiap kali mengingat makian, itu. Sebegitu sulitkah berusaha memahami atau setidaknya bertabayun dengan yang bersangkutan sebelum tergesa-gesa menghukumi. Menjadikannya ruang untuk bermuhasabah diri dan memikirkan siapa kiranya yang paling memiliki kendali atas segala sesuatu yang terjadi di muka bumi, ini.

Terhitung sejak April tahun 2006, aku mulai mengumpulkan semua keterangan yang berhubungan dengan anak-anak indigo. Beruntung, istri dari bos di tempat kakakku bekerja termasuk pegiat sosial yang aktif mengurusi ‘anak-anak unik’ ini, dari beliau pula aku mendapatkan semua informasi yang kubutuhkan termasuk kesempatan untuk mengikuti seminar Indigo meski tak pernah sekali pun kudatangi. Ya, tentu saja karena khawatir dengan penghukuman yang kudapat.

Walaupun gagal mendapat bimbingan resmi dari para ahli, tapi aku tetap bersyukur karena mengetetahui bahwa aku tidak sendirian dalam keanehan, ini. Hidup dalam keterasingan pun sebenarnya jsutru memberiku ruang dan memperluas sudut pandang saat mengamati alur dari setiap kejadian di sekelilingku.

Dari tumpukan makalah hasil seminar yang sengaja dibawakan ibu baik hati itu membuatku sadar ternyata cobaanku ini sesungguhnya tidaklah terlalu berat, sementara dari sudut pandang pribadi aku belajar menarik kesimpulan. Cara termudah melihat tekanan cobaan seseorang kian bertambah berat ternyata bisa dilihat dari latar belakang keluarga. Dalam hal ini tentu saja berkaitan dengan kesejahteraan dan kedudukan social.

Sebutan musyrik, fasiq, dan semacamnya akan sangat mudah dilontarkan ketika yang mendapat cobaan semacam itu berasal dari keluarga kurang mampu. Dinilai semua yang dialami hanya sebatas cara untuk melarikan diri dari kenyataan hidup yang gagal memenuhi kebutuhan lahir maupun batin. Lain ceritanya jika yang memiliki kemampuan mengaktifkan indra keenamnya berasal dari keluarga berada. Kecukupan gizi dan kemampuan intelektual yang terjamin perkembangannya menjadi jaminan semua yang dikatakan adalah sebuah kebenaran.

Hmm … dinding pemisah yang jelas terlihat meski sengaja dibangun tak kasat mata. Bahaya pengkelasan, jurang pemisah antara si miskin dan si kaya. Garis tebal antara kaum terpelajar dan mereka yang selamanya dipaksa menemukan jarum di antara tumpukan jerami. Entah kenapa laju dunia seakan-akan sengaja dibuat agar yang miskin menderita dan yang kaya leluasa mereguk segala kenikmatan bumi.

 “Itu penyakit! Jangan disanjung bahkan harus segera ditangani. Tidak ada itu yang namanya indigo melainkan penyakit Sawan yang telah akut! Silakan buktikan, ruqyah mereka yang mengaku indigo, jika tidak muntah, mereka pasti akan mengamuk parah."

Kurang lebih seperti itu rangkaian kalimat yang rutin menyapa gendang telinga sejak memberanikan diri bercerita dan berusaha mencari jalan keluar untuk segala keanehan, ini. Sebuah penghukuman yang pelit solusi karena mereka terus berbicara hanya dari satu sudut pandang, saja. Menilai hanya berdasarkan pengalaman dari umumnya pasien yang mereka jumpai tanpa tergerak membuka peluang bahwa mungkin ada pasien datang dengan cerita yang sedikit berbeda.

“Itu Jin yang menunggangi, ilmu-ilmu leluhur yang enggan kabur dan berat memutus hubungan dengan keturunan-keturunan dari pengikut setianya. Akhirnya mereka mengintai, rela menanti beberapa generasi sampai akhirnya menemukan keturunan yang pas di hati. Untuk dibimbing, diajari, memberi bisikan tentang kisah masa lalu dan rahasia masa depan. Berperan memberi pandangan untuk yang hidup bersisian, tetapi tanpa raga kasar seperti yang dimiliki manusia pada umumnya.”

Aku menyetujui keterangan ini karena telah melewati proses tersbut. Jatuh bangun sendiri sementara beberapa orang yang sebelumnya sempat menawarkan bantuan dan ikut turun tangan dalam proses mencari kesembuhan memilih balik badan dan bergegas cuci tangan setelah dihadapkan dengan beratnya kemungkinan imbas yang akan mereka tanggung.

Kupikir akan benar-benar bisa melepas semua beban dan kembali bernapas dengan lega setelah mengunjungi makam leluhur untuk mengembalikan apa yang telah mengikutiku sejak dalam kandungan. Tapi, ternyata babak sisi miring dalam buku kehidupanku masih sudah menyiapkan musim berikutnya. Cuci tangannya orang-orang yang sebelumnya membantu membuat setiap usaha yang sudah kulakukan kembali ke titik awal.

Hati kembali menjadi sedingin salju ketika orang-orang yang sebelumnya kukira bisa dijadikan sebagai saksi secara langsung menegaskan bahwa mereka tak ingin dilibatkan lagi dengan urusan berbau Khurafat, ini. Tak hanya cuci tangan, tapi juga secara terang-terangan menutup mata dan telinga mereka meskipun aku merajuk saat menyampaikan bahwa aku tetap memiliki hak untuk menyampaikan apa yang kurasakan sepanjang menjalani proses meraih kesembuhan.

Andai mereka tahu, aku pun geram pada leluhurku. Namun, amarah itu berangsur pudar setelah mengingat bahwa masing-masing diri sejatinya hanya menjalankan peran. Memutar kisah istri Imran dan doa nabi Ibrahim untuk keturunannya di dalam benak, kujadikan sebagai pengingat diri bahwa anak-anak yang dilahirkan bisa saja menjadi istimewa bukan semata-mata karena pengaruh jin nasab, tetapi lebih karena kuatnya doa dan pengharapan orang tua mereka.

Ah, sepertinya hati ini memang rawan terluka dengan kata-kata. Haruskah dipukul rata bahwa seluruh penghuni barisan Nila adalah wabah yang harus segera divaksinasi? Menjadi sangat berbahaya karena akar penyekutuan terberat dapat berdatangan dari arah mereka. Lalu, mengapa tak tergerak untuk memilah, mana Nila yang ditunggangi atau mungkin murni mendapat sedikit percikan dari Nur Sang Ilahi.

 “Pembakar dupa. Penabur kemenyan. Berkawan dengan jin dan memilih kembali menapaki jalan kemusyrikan!”

Sakit! Sungguh tuduhan itu teramat keji, terlebih ketika sindiran-sindiran itu sengaja dilontarkan dalam forum pengajian, tempat yang seharusnya bisa menjadi perantara menemukan kedamaian hati. Saling berbisik ketika mengetahui ternyata aku masih punya nyali mendatangi majlis ilmu meski berita miring tentang keanehanku telah tersebar. Dinilai terlalu tebal muka karena meski telah mengtahui ancaman orang yang mendatangi dan mempercayai dukun adalah kembali pada kekufuran, tapi aku masih percaya diri mengikuti pengajian dan mendatangi salat berjamaah setiap harinya.

La haula wala quwata illa billah. Mengapa tak ada yang mau mencoba untuk mengerti bahwa semua yang terjadi tak mungkin ada tanpa izin dari Sang Mahakuasa. Aku disebut telah menjadi bagian dari perdukunan, apakah mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri? Lagipula, bagaimana bisa aku membakar dupa dan kemenyan jika mencium baunya saja sudah merasa terganggu?

Penghukuman tanpa memberi jalan keluar. Huft, anggap saja mereka belum pernah merasakan seperti apa rasanya dihadapkan langsung pada tepian jurang antara keimanan dan menyekutukan. Terselip langkah sedikit saja, maka kami yang disebut berpenyakit ini sadar di mana akan ditempatkan.

Seperti anak domba yang terpisah dari kumpulannya, aku berjalan sendirian di tengah lapangan yang luas dan tak berujung. Menjalani hari-hari seperti orang linglung. Menatap langit, batin ini selalu menjerit. Berpijak pada bumi, sekuat hati menahan air mata agar tidak terus membasahi pipi.

Meski begitu, aku tak boleh berhenti menyemangati diri sendiri. Sebisa mungkin melatih diri agar bisa menjadi pemandu sorak untuk mereka yang masih kehilangan arah, sama seperti yang pernah kualami. Setidaknya dengan cara itu aku membantu meyakinkan diri sendiri bahwa jika mampu memahami peran yang telah kita dapatkan maka petunjuk akan selalu disediakan. Benar, berhenti ragu-ragu dalam mengukuhkan langkah dan usahakan tetap menikamkan jejak meski berada di tepian jurang agar mereka yang sibuk menghukumi bisa ikut menyaksikan betapa banyak keajaiban yang bisa kita buat bersama-sama.

Jadi, sudilah kiranya meluangkan waktu untuk sekadar memahami kami. Dengarkan cerita yang kami punya. Bantu kami menjelaskan kisah yang selama ini hanya bisa kami pendam dalam kesunyian.

MIMPI PERTAMA

 

Terkapar di dipan besar, tempat aku biasa terlelap saat malam bersama ke-lima kakakku. Jarak kelahiran yang berdekatan memungkinkan enam bersaudara untuk berbagi ranjang yang sama. Membuang pandang ke setiap sudut ruang, kuperhatikan setiap orang yang hadir memberiku tatapan yang sama. Untuk sesaat aku masih bisa merasakan dekapan hangat ibuku yang tak henti meneteskan air mata menangis saat akhirnya melepasku dari buaiannya. Dibaringkannya tubuh mungilku dan merapikan selimut sampai menutupi seluruh wajahku. Masih bisa kudengar suara tangis bersahutan memecah keheningan malam sebelum akhirnya yang kurasakan hanyalah kesunyian dan kegelapan yang menakutkan.

Malam itu aku dinyatakan meninggal dunia. Usia yang masih terlalu kecil tak sanggup melawan virus campak yang sedang mendera, setidaknya demikian penjelasan ibuku saat membantu meluruskan kenangan semasa kecil yang terus membekas dan terbawa hingga dewasa.

Meski tak bisa mengingat persis berapa usiaku saat itu, tapi tembang Gelas-gelas kaca membantuku mengingat tahun kejadiannya karena ibuku baru saja membeli album dari artis favoritnya tersebut sebelum aku anfal di malam berikutnya.

Panas, hanya itu yang bisa kurasakan. Di mata, telinga, bahkan saat bernapas pun rasanya seperti menyemburkan api naga. Satu yang kuingat sebelum semua berubah menjadi titik-titik hitam bertebaran di udara adalah kotoran hidung yang menempel di ujung jari telunjukku. Benar, persis seperti Suneo yang senang mengumpulkan kotoran hidungnya, kala itu aku merasa sedikit terhibur saat memainkan upil di antara jemariku. Pelipur rasa tersebut baru berubah menakutkan ketika bola upil di jemari berubah menjadi bola besar dan berbalik menindihku.

Mungkin bobot bola yang menindih terlalu berat dan membuat tubuhku tak lagi bisa bergerak. Tak juga mampu meronta saat ruang bernapasku kian terhalang karena selimut tebal yang menutup seluruh badan. Sepertinya bola upil itu sudah membuatku tak sadarkan diri karena sebelum melihat titik-titik hitam bertebaran di sekelilingku, kulihat orang-orang yang sedang menungguiku pun ikut mengambang.

Kullu nafsin zaikatul maut. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dalil tersebut tentu saja baru kuketahui setelah dewasa. Penjelasan tentang tugas yang diemban oleh malaikat Izrail pun baru kuketahui setelah duduk di bangku sekolah. Apa iya aku termasuk yang pernah mengalami mati suri? Atau semua ingatan itu hanya sebatas mimpi buruk yang pertama kali kudapat dan berbekas di hati.

Malaikat maut yang hanya menjalankan tugas sesuai perintah. Mengucap salam, berlaku lembut kepada insan yang selama hidupnya senantiasa berbuat kebaikan, dan sebaliknya, sang malaikat bertindak sebagai pemberi peringatan pertama akan beratnya kehidupan setelah mati andai seorang hamba semasa hidupnya lalai terhadap kewajiban utamanya di bumi.

“Mana panda Uni sama kaset balu Mamah?” tanyaku setelah berhasil melarikan diri dari kejaran bola api.

Tertindih bola upil membuat penglihatanku menjadi terganggu, napas yang tersengal membuat sekujur tubuh kesemutan dan terasa seperti ikan buntal. Mungkin itu juga yang membuat telinga ikutan buntu dan tak lagi bisa menangkap suara di sekelilingku. Hening dalam sekejap, yang bisa kulihat hanya warna hitam pekat. Tak lagi berani meronta karena ukuran bola upil akan semakin membesar tiap kali aku membuat satu gerakan. Dalam kesendirian, kebingungan, dan ketakutan, yang bisa kulakukan hanya mengikuti satu-satunya suara yang masih bisa tertangkap telinga. Sebuah bisikan lembut yang menuntunku untuk tetap tenang

Umumnya balita yang penurut, aku lantas mengikuti instruksi. Diam dan tenang meski bola upil terus mengurangi jatah napasku, sambil berharap ibuku akan segera menimangku kembali dalam buaiannya. Baru berani membuat gerakan saat melihat setitik cahaya yang bergerak perlahan mendekatiku. Mencoba membebaskan diri sekali lagi dan ternyata berhasul!

Berlari mengikuti gerak sinar indah, itu. Riang untuk sesaat karena hangat kasih ibuku kembali menyertai sebelum akhirnya rasa yang membingungkan kembali hadir setelah Langkah mungilku berhasi mengejar sang penuntun jalan dan berhasil menggapainya. Cahaya yang lebih indah dari kilau mutiara membuatku terhisap lubang cacing Ketika jemariku menyentuhnya. Mungkin seperti yang digambarkan dalam cerita perjalanan lorong waktu karena dalam sekejap aku telah berpindah tempat. Kali ini aku sudah berdiri di tempat yang benar-benar berbeda.

Sebuah tempat yang begitu indah. Rembulan yang bersinar terlihat jauh lebih terang dari purnama yang biasa ditunjukkan ibuku. Pohon-pohon besar, pantai, wahana bermain, di setiap sudut yang kupandang adalah pemandangan yang menyenangkan hati. Meski sendirian, tapi entah kenapa yang terasa hanyalah kegembiraan. Aku senang karena tak lagi merasakan panas dan nyeri di sekujur badan sesak napas pun tak lagi kurasa. Berlarian di tempat yang menyerupai taman kanak-kanak. Ada ayunan, jungkat-jungkit, perosotan, dan jenis permainan lainnya yang tak kujumpai di TK dekat rumah.

Bosan dengan wahana bermain, rasa penasaran mengajakku menjelajahi setiap sudut yang kulihat. Taman bunga, air terjun, tebing tinggi. Berjalan tanpa alas kaki membuatku bisa merasakan lembutnya rerumputan yang kupijak. Saking lembutnya seperti berjalan di atas tumpukan roti kasur. Pepohonan yang kupandangi, dedaunan yang kuamati, dan keuntum bunga yang kusentuh, semuanya terlihat hampir sama dengan yang digambarkan dalam buku dongeng Tuan kelinci dan Nona Alice pemberian nyonya Salette; bosnya bapak. Pemandangan indah dan dihias oleh bias pelangi membuatku berpikir mungkin saat itu aku juga sedang menghuni Wonderland.

Langkah mungilku kali ini telah sampai pada tebing tinggi yang sejak awal memang menarik perhatianku. Meski terbersit rasa takut, tetapi pemandangan yang tertangkap mata membuatku kerasan dan sengaja berlama-lama di sana. Debur ombak yang menyapu pantai, kilau air laut di bawah sinar bulan. Rembulan dengan ukuran seperti fenomena super moon yang sering didapati beberapa tahun belakangan, ini.

Masih terhanyut dengan keindahan yang tersaji. Tak hentinya kegirangan saat memandangi kilau air laut dan sinar purnama secara bergantian, bahkan kian tenggelam dalam kegembiraan ketika menyadari kehadiran seseorang yang berdiri di samping kananku.

Pria berjubah hitam keabuan itu terus menatapku dengan senyuman. Mulai merasa tak nyaman dan berniat kembali ke tempat bermain. Namun, sebelum beranjak, aku sempatkan menyapa orang asing itu dengan sedikit senyuman dan kulihat yang kusapa membalasnya dengan kedipan mata.

Entah kenapa, niat berpindah tempat urung kujalankan. Sebaliknya, aku justru sengaja berbantalan tangan saat memiringkan kepala di atas tumpukan batu pembatas antara tebing dan jurang kemudian melanjutkan kegiatanku menikmati pemandangan. Namun, kali ini kuselingi dengan memainkan kerikil di kakiku. Bukan tanpa alas an, rasa hati ingin segera beranjak pergi, tapi badanku terasa seperti saat ditindih bola upil. Terlebih, setelah melihat benda di tangan orang asing, itu.

Sebuah busur panah. Perlahan, benda di tangan kirinya terangkat, menyusul tangan kanan yang menempatkan anak panah. Aku tahu benda itu karena kakak laki-lakiku punya mainan semacam itu, hanya bentuk dan ukurannya saja yang berbeda. Setelah memastikan target yang akan dibidik, orang itu lagi-lagi mengedipkan mata dan seakan-akan mengajakku melihat aksinya dengan menganggukan kepalanya.

Meski takut, tapi aku hanya bisa menurut. Anak panah pun melesat, terbang tinggi ke angkasa. Aku sempat bersorak demi melihat atraksi memanah yang lebih bagus dari kakakku, tapi kegembiraan itu memudar setelah melihat anak panah yang menyentuh sasaran.

Konsisten melihat rumput yang kupijak saat orang itu memintaku untuk kembali menatap langit bersamanya meski penolakanku tak bertahan lama. Kupandangi satu-satunya orang yang kutemui di tempat itu. Mengamati gurat di wajahnya, lalu kembali meneliti busur panah dalam genggamannya. Kulihat satu sisinya telah kembali menyentuh tanah, jadi kupikir busur itu sudah selesai digunakan dan tak akan ada lagi anak panah berikutnya yang akan dilesatkan.

Detik berikutnya, kemilau purnama berubah menakutkan. Merah membara, lingkaran yang semula terlihat seperti cincin pernikahan perlahan membelah diri, satu bagian berada tetap di tempatnya dan kembali bersinar seperti semula, sementara bagian yang lain terjun bebas dan meluncur jatuh ke bumi.

Tubuh mungilku kembali menggigil seperti saat dikejar bola upil. Mulai kembali berkeringat seperti saat merasakan semburan api naga tiap kali bernapas. Rasa takut kian menjalar ketika menyadari potongan rembulan yang telah sampai ke bumi mulai menggelinding dan bergerak cepat mengejarku.

Untuk terakhir kalinya aku memberanikan diri menatap lurus sang pemanah dan memberinya tatapan yang biasa kugunakan sebagai jurus andalan saat merajuk. Entah orang tersebut marah atau bahkan justru balik menggoda karena guratan di wajahnya justru terlihat lucu. Aku tak peduli karena yang kupikirkan saat itu hanyalah melarikan diri.

 “Enggak ...! Mamah bilang nggak boleh deket-deket sama orang yang belum kita kenal. Mamah ... Mamah ...? Mamaah ...!” Berteriak sekuat tenaga begitu teringat pesan ibuku agar tidak berbicara dengan orang asing.

Memaksa diri untuk berlari dan berusaha mencari tempat bersembunyi karena rembulan yang mengejar terus bertambah jumlahnya. “Dua, tiga, lima, tujuh. Kenapa bulan itu berubah jadi bola api? Kenapa bisa jadi banyak? Kenapa aku yang dikejar, kenapa bukan bapak itu? Bukan aku yang bikin bulan itu jatuh. Bukan aku!”

“Mamaaah ...!” Aku terus berusaha berteriak sekuat tenaga meski tak sekali pun menghasilkan suara.

Mamah. Teringat raut sedih di wajahnya, air mata yang ikut membasahi pipiku, dekapan hangat yang beliau berikan sebelum aku menghilang ke dalam dunia mimpi sepenuhnya.

Cahaya putih, lubang cacing, bola upil, titik-titik hitam. Semuanya seperti berjalan mundur dan entah bagaimana caranya bisa kembali ke tempat aku dibaringkan. Melihat senyuman di wajah ibu dan nenek, memandangi satu persatu kelima kakakku dan para tetangga yang setia mendampingi. Memeluk erat panda kesayangan, tak ketinggalan kaset biru milik ibuku.

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...