Saturday, May 23, 2026

CINTA MATI(6)

 

[Sini, liat my baby. Namanya Orlin.]

Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan anak keenam, di tahun 2016. Menyusul beberapa foto bayi mungil terbungkus kain bedong instan berwarna merah muda. Aku terharu saat memandangi potretnya yang sedang menggelayut manja pada bahu sang Arjuna. Ikut merasakan kebahagiaan menyaksikan indahnya buah manis yang didapat sebagai hadiah dari kesabarannya selama ini.

Sementara aku? Ah, tanpa kusadari, aku telah membuat hati ini patah dengan mengamini banyaknya prasangka buruk setelah kisah cinta beda organisasiku terendus dan terus berkembang saat mengetahui bahwa aku tetap meneruskan niatku untuk menikah meski rambu-rambu bahaya telah dipasang. Lemah. Ternyata aku tak cukup berlapang dada meski menyadari bahwa doa baik yang kuharapkan datang saat duduk di pelaminan akan diiringi kalimat istirja dan guratan kekecewaan. Sempat berpikir pula bahwa aku yang tak kunjung menimang buah hati memang dari hukuman yang harus kuterima karena nekat melanggar ijtihad keimaman.

Baju, ini. Organisasi yang seharusnya menjadi penyatu umat dan penguat bangsa justru terasa seperti duri dalam daging. Janji yang kubuat setelah Dodot menghempasku agar menjauh dari puasaran cahaya yang menghisapnya. Berjanji untuk melipat baju yang kami kenakan setelah mengetahui penyebab ia mendapat penganiayaan semasa bertugas menjadi abdi negara. Sungguh, aku terus berusaha untuk menepatinya. Mencari cara untuk bisa memutus mata rantai, ini. Berharap tak ada lagi khilaf seperti yang dialami suami sahabatku.

Perpecahan, perseteruan. Ringan mengalirkan darah hanya karena fanatik buta. Mengambil keuntungan pribadi dengan mengatasnamakan agama.

Perdebatan klasik tentang Mazhab yang terus dilestarikan, sifat Mahmuda dan Karima yang terus dibuat seakan-akan tak mungkin bisa disandingkan. Hawa nafsu kita sebagai manusia, membuat jalan yang lurus menjadi terkesan bercabang dan sulit untuk dilalui. Dengan begitu banyaknya keterangan tentang keadaan akhir zaman, kita seolah-olah dipaksa meyakini bahwa semakin lama umat yang meyakini risalah sang nabi memang tak ubahnya seperti buih di lautan.

Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya. Benar, aku meyakini setiap keterangan yang pernah kudapat, tetapi aku pun mempercayai akal dan hati yang dititipkan dalam raga ini. Berusaha menjaga dan menggunakan ajal yang kumiliki dengan sebaik-baiknya. Agar saat jatah napasku diminta kembali bisa kukembalikan dengan tenang karena telah memenuhi kewajibanmya ketika diminta untuk merenungi setiap Keesaan Sang Khaliq.

Seberat biji sawi. Ya Hakkam-Ya ‘Adl, dua Sifat yang semakin kuat kupatri dalam hati sejak mendapat sebutan ‘Anjing neraka.’ Mahasuci Allah dengan segala Kebijaksanaan-Nya, aku semakin memahami arti sebuah peran. Tak lagi berani menyimpan amarah apalagi memaki, terlebih kepada insan yang telah dipilih untuk menjadi perantara rusaknya mutiara terindah di bumi.

Tergores ego. Tamak. Jumawanya kita sebagai manusia. Menjadi ternoda hanya karena perbedaan sudut pandang dan cara yang kita pilih dalam menyikapi nubuat sang nabi.

Entah reaksi apa yang akan kudapati setelah membagikan endapan rasa, ini. Namun, hati telah bertekad untuk menepati janji. Melipat baju yang ada dan kembali mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh Sang Pencipta karena organiasi hanya sebatas wadah dan sebaik-baiknya pakaian yang disebutkan hanyalah ketakwaan

Wa kafa billahi syahida; ayat indah yang kupilih sebagai tameng andai dua kalimat syahadatku tetap diragukan. Muhammadarasulullah; tetap kujaga kedua ayat suci tersebut meskipun semakin banyak yang meragukan keimananku.

No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...