[Sini, liat my baby. Namanya Orlin.]
Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat
dua belas hari pasca melahirkan anak keenam, di tahun 2016. Menyusul beberapa
foto bayi mungil terbungkus kain bedong instan berwarna merah muda. Aku terharu
saat memandangi potretnya yang sedang menggelayut manja pada bahu sang Arjuna.
Ikut merasakan kebahagiaan menyaksikan indahnya buah manis yang didapat sebagai
hadiah dari kesabarannya selama ini.
Sementara aku? Ah, tanpa kusadari, aku telah membuat hati ini patah
dengan mengamini banyaknya prasangka buruk setelah kisah cinta beda
organisasiku terendus dan terus berkembang saat mengetahui bahwa aku tetap
meneruskan niatku untuk menikah meski rambu-rambu bahaya telah dipasang. Lemah.
Ternyata aku tak cukup berlapang dada meski menyadari bahwa doa baik yang
kuharapkan datang saat duduk di pelaminan akan diiringi kalimat istirja dan
guratan kekecewaan. Sempat berpikir pula bahwa aku yang tak kunjung menimang
buah hati memang dari hukuman yang harus kuterima karena nekat melanggar ijtihad
keimaman.
Baju, ini. Organisasi yang seharusnya menjadi penyatu umat dan
penguat bangsa justru terasa seperti duri dalam daging. Janji yang kubuat setelah
Dodot menghempasku agar menjauh dari puasaran cahaya yang menghisapnya.
Berjanji untuk melipat baju yang kami kenakan setelah mengetahui penyebab ia
mendapat penganiayaan semasa bertugas menjadi abdi negara. Sungguh, aku terus berusaha
untuk menepatinya. Mencari cara untuk bisa memutus mata rantai, ini. Berharap
tak ada lagi khilaf seperti yang dialami suami sahabatku.
Perpecahan, perseteruan. Ringan mengalirkan darah hanya karena
fanatik buta. Mengambil keuntungan pribadi dengan mengatasnamakan agama.
Perdebatan klasik tentang Mazhab yang terus dilestarikan, sifat
Mahmuda dan Karima yang terus dibuat seakan-akan tak mungkin bisa disandingkan.
Hawa nafsu kita sebagai manusia, membuat jalan yang lurus menjadi terkesan
bercabang dan sulit untuk dilalui. Dengan begitu banyaknya keterangan tentang
keadaan akhir zaman, kita seolah-olah dipaksa meyakini bahwa semakin lama umat
yang meyakini risalah sang nabi memang tak ubahnya seperti buih di lautan.
Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya. Benar, aku meyakini
setiap keterangan yang pernah kudapat, tetapi aku pun mempercayai akal dan hati
yang dititipkan dalam raga ini. Berusaha menjaga dan menggunakan ajal yang
kumiliki dengan sebaik-baiknya. Agar saat jatah napasku diminta kembali bisa
kukembalikan dengan tenang karena telah memenuhi kewajibanmya ketika diminta
untuk merenungi setiap Keesaan Sang Khaliq.
Seberat biji sawi. Ya
Hakkam-Ya ‘Adl, dua Sifat yang semakin kuat kupatri dalam hati sejak mendapat
sebutan ‘Anjing neraka.’ Mahasuci Allah dengan segala Kebijaksanaan-Nya, aku
semakin memahami arti sebuah peran. Tak lagi berani menyimpan amarah
apalagi memaki, terlebih kepada insan yang telah dipilih untuk menjadi
perantara rusaknya mutiara terindah di bumi.
Tergores ego. Tamak. Jumawanya kita sebagai manusia. Menjadi ternoda
hanya karena perbedaan sudut pandang dan cara yang kita pilih dalam menyikapi
nubuat sang nabi.
Entah reaksi apa yang akan kudapati setelah membagikan endapan
rasa, ini. Namun, hati telah bertekad untuk menepati janji. Melipat baju yang
ada dan kembali mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh Sang Pencipta
karena organiasi hanya sebatas wadah dan sebaik-baiknya pakaian yang disebutkan
hanyalah ketakwaan
Wa kafa billahi syahida; ayat indah yang kupilih sebagai tameng andai
dua kalimat syahadatku tetap diragukan. Muhammadarasulullah; tetap kujaga kedua
ayat suci tersebut meskipun semakin banyak yang meragukan keimananku.
No comments:
Post a Comment