Saturday, May 23, 2026

CINTA MATI(5)

 

“Coba, Yan … Gue mau buktiin, Loe beneran punya indera keenam apa enggak.” Sahabatku mendadak menghentikan sepeda motor yang membawa kami dan kedua anaknya menuju daerah Cimone di perempatan jalan.

“Heh? Maksudnya apa, ya? Awas, syirik loh percaya sama yang begituan. Kan tadi pas berangkat dari rumah bilangnya kita cuma mau ketemuan sama Cimon, aja. Nggak ada tuh keterangan bakalan ada sesi uji nyali segala.” Sengaja menyelipkan tawa saat menjawab karena mendapati wajahnya yang tersipu setelah mendengar nama tambatan hatinya disebut.

“Udah, deh. Diterima nggak nih tantangannya? Kalo enggak, kita bakalan berenti di pangkalan ojek ini sampe Kamu setuju.”

“Lah … Kamu nggak kasian sama anak-anak? Panas-panasan gini di pinggir jalan. Kalo Aku mah udah biasa.”

Sengaja menggoda dan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang ingin ia sampaikan sementara ekor mataku terus saja mengawasi seorang pria yang pipi gembilnya dihiasi rambut halus yang lumayan lebat di seberang jalan. Mengenakan setelan biru berbahan parasit, uduk di antara tukang ojek yang sedang menunggu penumpang.

“Ah, Oyan … seriusan, nih. Gue cuma pengen tau, pilihan hati Gue ini beneran jodoh Gue apa bukan. Gue sih sebenernya udah yakin, tapi kalo Elo bisa nerima tantanga ini, kan, bisa bikin Gue tambah yakin kalo pangeran tampan gue ini emang beneran ganti yang dipilihin sama almarhum, juga.”

“Hmmh … Iya, iya. Udah cepetan, apa tantangannya? Kasian ini anak-anak, keburu kepanasan.” Akhirnya menyerah karena tak tega mendengar kedua peri kecilnya yang mulai merengek kepanasan.

“Siip! Nggak susah-susah kok. Gue cuma pengen loe nebak, kira-kira di antara cowok yang nongkrong di seberang jalan sono, menurut Loe, ada pangeran Gue, nggak?” Lalu menunjuk tempat yang dimaksud dengan gerakan kepalanya.

“Ada. Itu, cowok brewokan yang pake setelan parasit warna biru.”

“Ih, kok Elo tau sih, Yan,” ujarnya gemas, lalu melambaikan tangan ke arah pria yang lantas merespon panggilannya.

“Haelah, yang begitu mah nggak perlu pake indera keenam juga bisa kali, Bund. Wong dari awal kita masuk gang sini juga udah keliatan. Masa iya, ada tukang ojek mukanya langsung tersipu-sipu gitu ngeliat orang yang nggak dikenal.”

“Woy! Dia duduk di seberan jalan, kali, Jeung. Masa iya Kamu jeli ngeliatin ekspresi orang satu-satu. Padahal dia duduknya juga di tengah-tengah orang banyak, loh. Bisaan, ya, kalo ngeles. Udah kaya bajaj, aja. Hahaa ….”

Kompak terkekeh dan baru berhenti saat pangeran Cimone yang dimaksud menghampiri kami dengan sepeda motor yang ia bawa.

Musim asramaan memang sudah selesai, tetapi temu kangen masih terus berlanjut. Ya, setidaknya sampai hasil keputusan peserta pendidikan kilat yang akan kuikuti diumumkan. Sebisa mungkin memanfaatkan waktu di masa-masa penantianku, itu. Tak hanya mengisi waktu dengan mengulang kenangan semasa mondok, tetapi juga mendadak menjadi nyamuk untuk dua sejoli yang sama-sama tengah dimabuk cinta kedua. Ihiiir ….

Rasanya seperti disuguhkan langsung drama percintaan ala sinetron. Namun, apalah dayaku yang meskipun usia sudah menjelang kepala tiga, tetapi tetap tak mengerti apa itu cinta. Walhasil, aku hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala setiap kali kawan karibku ini memulai sesi curahan hati.

“Jadi, menurut feeling Loe gimana, Yan? Akhir kisah cinta Gue ini bakalan gimana? Gue sih sebenernya nyantai aja, tapi wajarkan kalo Gue ngerasa sedikit sakit hati. Gue udah simpen semua buktinya, Yan. Rekamannya juga masih ada. Ya, Gue juga sadar, nggak bisa nyalahin apalagi marah sama keluarga Gue. Gue anggep aja ini bagian dari qadar. Satu lagi rintangan buat nguji ketulusan niat Gue sama doi buat nikah,” ungkap sahabatku suatu hari, di saat membahas dilema kisah cintanya yang hanya bisa dipendam seorang diri.

Maaf, jika aku tak dapat menceritakan secara rinci di bagian ini karena saat meminta izin untuk mengangkat kisah hidupnya menjadi bagian dari Catatan Sisi Miring-ku ini pun, kuniati hanya mengambil kisah yang bisa menjadi pelajaran bersama. Jujur, apa yang sempat dialami sahabatku untuk kembali menyempurnakan agamanya, telah memberiku pelajaran tersendiri. Pelajaran yang sangat berarti dalam menghayati peran agama dalam kehidupan. Ada di dalam satu wadah keyakinan yang sama ternyata tetap tak bisa menjamin kita untuk mendapat kisah cinta seindah Sayyidina Ali dan Fatimah.

Dogma. Bahkan keterangan tentang Islam yang akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan pun ternyata bisa disesuaikan dengan kebutuhan para pemangku kepentingan. Aku yang telah susah payah menjaga dan merawat tunas cinta yang mulai bertumbuh reflkes menutup pintu hati kembali dan mulai memajukan logika dalam beragama. Mungkin benar seorang hamba tak ubahnya seperti sapi yang keluh, hanya diminta menurut saat diarahkan.

Namun, manusia bukanlah hewan dan gambaran tersebut tidak bisa mutlak dipraktekkan. Lalu, apa gunanya akal diberikan jika berpikir disebut sebagai bentuk pemberontakan. Di mana seharusnya menempatkan nurani, kebebasan berkehendak yang diiringi dengan kesadaran akan adanya pertanggungjawaban sikap jika setiap keputusan sudah ditetapkan bahkan sebelum langkah kita mulai. Peraturan yang dibuat begitu sesak dengan mengatasnamakan penyeragaman sementara Sang Khaliq sendiri menciptakan begitu banyak keragaman agar setiap hambanya dapat menggali dan mengenali warna sejati yang mereka yakini.

“Hmmh, kamu kan tau, Bund … biar kata udah setua ini tapi aku masih nggak ngerti apa itu cinta. Ndenger cerita begini aja malah bikin hati Aku makin ciut buat nikah. Apa kabarnya coba, kalo pengurus di tempatku juga akhirnya tahu kalo calon imam yang Aku pilih beda organisasi sedangkan Kamu yang udah sama-sama ngaji aja harus nemuin batu sandungan macam begini. Terus, kalo ngomongin feeling, Kamu sendiri kan tau apa jawaban Aku kalo mbahas tentang keyakinan. Prinsip Aku dari dulu, satu-satunya konsekuensi dari niat baik, ya, cuma pahala.  Kalau pun dirasa langkah yang kita buat dinilai salah, tapi selama yang kita sebut di awal itu namanya Allah, yakin aja, Allah pasti ngejaga. Udah, gampangnya Kamu fokus aja sama pesen Cimon, fokus sama niat kalian nyempurnain agama. Kan, Allah juga emang nggak tidur, Bund.”

Hanya itu jawaban yang bisa kuberikan pada perjumpaan terakhir kami dan berusaha mengenali pil pahit yang mulai terbayang di pelupuk mata.

No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...