“Coba, Yan … Gue mau buktiin, Loe beneran punya indera keenam apa
enggak.” Sahabatku mendadak menghentikan sepeda motor yang membawa kami dan
kedua anaknya menuju daerah Cimone di perempatan jalan.
“Heh? Maksudnya apa, ya? Awas, syirik loh percaya sama yang
begituan. Kan tadi pas berangkat dari rumah bilangnya kita cuma mau ketemuan
sama Cimon, aja. Nggak ada tuh keterangan bakalan ada sesi uji nyali segala.” Sengaja
menyelipkan tawa saat menjawab karena mendapati wajahnya yang tersipu setelah
mendengar nama tambatan hatinya disebut.
“Udah, deh. Diterima nggak nih tantangannya? Kalo enggak, kita
bakalan berenti di pangkalan ojek ini sampe Kamu setuju.”
“Lah … Kamu nggak kasian sama anak-anak? Panas-panasan gini di
pinggir jalan. Kalo Aku mah udah biasa.”
Sengaja menggoda dan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang ingin
ia sampaikan sementara ekor mataku terus saja mengawasi seorang pria yang pipi
gembilnya dihiasi rambut halus yang lumayan lebat di seberang jalan. Mengenakan
setelan biru berbahan parasit, uduk di antara tukang ojek yang sedang menunggu
penumpang.
“Ah, Oyan … seriusan, nih. Gue cuma pengen tau, pilihan hati Gue
ini beneran jodoh Gue apa bukan. Gue sih sebenernya udah yakin, tapi kalo Elo bisa
nerima tantanga ini, kan, bisa bikin Gue tambah yakin kalo pangeran tampan gue
ini emang beneran ganti yang dipilihin sama almarhum, juga.”
“Hmmh … Iya, iya. Udah cepetan, apa tantangannya? Kasian ini
anak-anak, keburu kepanasan.” Akhirnya menyerah karena tak tega mendengar kedua
peri kecilnya yang mulai merengek kepanasan.
“Siip! Nggak susah-susah kok. Gue cuma pengen loe nebak, kira-kira di
antara cowok yang nongkrong di seberang jalan sono, menurut Loe, ada pangeran Gue,
nggak?” Lalu menunjuk tempat yang dimaksud dengan gerakan kepalanya.
“Ada. Itu, cowok brewokan yang pake setelan parasit warna biru.”
“Ih, kok Elo tau sih, Yan,” ujarnya gemas, lalu melambaikan tangan
ke arah pria yang lantas merespon panggilannya.
“Haelah, yang begitu mah nggak perlu pake indera keenam juga bisa kali,
Bund. Wong dari awal kita masuk gang sini juga udah keliatan. Masa iya, ada
tukang ojek mukanya langsung tersipu-sipu gitu ngeliat orang yang nggak
dikenal.”
“Woy! Dia duduk di seberan jalan, kali, Jeung. Masa iya Kamu jeli
ngeliatin ekspresi orang satu-satu. Padahal dia duduknya juga di tengah-tengah
orang banyak, loh. Bisaan, ya, kalo ngeles. Udah kaya bajaj, aja. Hahaa ….”
Kompak terkekeh dan baru berhenti saat pangeran Cimone yang
dimaksud menghampiri kami dengan sepeda motor yang ia bawa.
Musim asramaan memang sudah selesai, tetapi temu kangen masih terus
berlanjut. Ya, setidaknya sampai hasil keputusan peserta pendidikan kilat yang
akan kuikuti diumumkan. Sebisa mungkin memanfaatkan waktu di masa-masa
penantianku, itu. Tak hanya mengisi waktu dengan mengulang kenangan semasa
mondok, tetapi juga mendadak menjadi nyamuk untuk dua sejoli yang sama-sama
tengah dimabuk cinta kedua. Ihiiir ….
Rasanya seperti disuguhkan langsung drama percintaan ala sinetron.
Namun, apalah dayaku yang meskipun usia sudah menjelang kepala tiga, tetapi
tetap tak mengerti apa itu cinta. Walhasil, aku hanya bisa tersenyum dan
menganggukkan kepala setiap kali kawan karibku ini memulai sesi curahan hati.
“Jadi, menurut feeling Loe gimana, Yan? Akhir kisah cinta Gue ini
bakalan gimana? Gue sih sebenernya nyantai aja, tapi wajarkan kalo Gue ngerasa
sedikit sakit hati. Gue udah simpen semua buktinya, Yan. Rekamannya juga masih
ada. Ya, Gue juga sadar, nggak bisa nyalahin apalagi marah sama keluarga Gue.
Gue anggep aja ini bagian dari qadar. Satu lagi rintangan buat nguji ketulusan
niat Gue sama doi buat nikah,” ungkap sahabatku suatu hari, di saat membahas dilema
kisah cintanya yang hanya bisa dipendam seorang diri.
Maaf, jika aku tak dapat menceritakan secara rinci di bagian ini
karena saat meminta izin untuk mengangkat kisah hidupnya menjadi bagian dari
Catatan Sisi Miring-ku ini pun, kuniati hanya mengambil kisah yang bisa menjadi
pelajaran bersama. Jujur, apa yang sempat dialami sahabatku untuk kembali
menyempurnakan agamanya, telah memberiku pelajaran tersendiri. Pelajaran yang
sangat berarti dalam menghayati peran agama dalam kehidupan. Ada di dalam satu
wadah keyakinan yang sama ternyata tetap tak bisa menjamin kita untuk mendapat
kisah cinta seindah Sayyidina Ali dan Fatimah.
Dogma. Bahkan keterangan tentang Islam yang akan terpecah menjadi
tujuh puluh tiga golongan pun ternyata bisa disesuaikan dengan kebutuhan para
pemangku kepentingan. Aku yang telah susah payah menjaga dan merawat tunas
cinta yang mulai bertumbuh reflkes menutup pintu hati kembali dan mulai
memajukan logika dalam beragama. Mungkin benar seorang hamba tak ubahnya
seperti sapi yang keluh, hanya diminta menurut saat diarahkan.
Namun, manusia bukanlah hewan dan gambaran tersebut tidak bisa
mutlak dipraktekkan. Lalu, apa gunanya akal diberikan jika berpikir disebut
sebagai bentuk pemberontakan. Di mana seharusnya menempatkan nurani, kebebasan
berkehendak yang diiringi dengan kesadaran akan adanya pertanggungjawaban sikap
jika setiap keputusan sudah ditetapkan bahkan sebelum langkah kita mulai. Peraturan
yang dibuat begitu sesak dengan mengatasnamakan penyeragaman sementara Sang
Khaliq sendiri menciptakan begitu banyak keragaman agar setiap hambanya dapat
menggali dan mengenali warna sejati yang mereka yakini.
“Hmmh, kamu kan tau, Bund … biar kata udah setua ini tapi aku masih
nggak ngerti apa itu cinta. Ndenger cerita begini aja malah bikin hati Aku makin
ciut buat nikah. Apa kabarnya coba, kalo pengurus di tempatku juga akhirnya tahu
kalo calon imam yang Aku pilih beda organisasi sedangkan Kamu yang udah
sama-sama ngaji aja harus nemuin batu sandungan macam begini. Terus, kalo
ngomongin feeling, Kamu sendiri kan tau apa jawaban Aku kalo mbahas tentang
keyakinan. Prinsip Aku dari dulu, satu-satunya konsekuensi dari niat baik, ya,
cuma pahala. Kalau pun dirasa langkah
yang kita buat dinilai salah, tapi selama yang kita sebut di awal itu namanya
Allah, yakin aja, Allah pasti ngejaga. Udah, gampangnya Kamu fokus aja sama
pesen Cimon, fokus sama niat kalian nyempurnain agama. Kan, Allah juga emang
nggak tidur, Bund.”
Hanya itu jawaban yang bisa kuberikan pada perjumpaan terakhir kami
dan berusaha mengenali pil pahit yang mulai terbayang di pelupuk mata.
No comments:
Post a Comment