Friday, May 22, 2026

CINTA MATI(4)

Tanggal 13 Desember 2008, lagi-lagi sukma ditarik paksa, dibawa masuk ke dalam sebuah pesawat terbang. Sengaja memperhatikan setiap penumpang yang berpakaian serba putih, siapa tahu ada seseorang yang kukenal. Lama mencari, tetapi tak ada satu pun wajah yang dapat kukenali.

"Lalu, untuk apa aku dibawa ke sini?" Bertanya-tanya dalam hati saat perlahan menuju kursi penumpang paling depan.

Bisa jadi karena memang tak pernah naik pesawat sebelumnya, jadi wajar jika kukatakan pesawat itu agak sedikit aneh karena sebelum ditarik masuk, aku masih sempat melihat bagian luar armada yang memang terlihat seperti pesawat terbang. Tapi, setelah masuk penampakan di dalamnya terlihat seperti lantai dansa kapal Titanic. Deru mesin yang terdengar pun lebiih mirip laju kereta api, dan air muka setiap penumpang yang kuamati membuatku merasa sedang menaiki kereta hantu.

Rona wajah yang sama. Biru, pucat pasi, tatapan mata yang kosong kian menguatkan kesan pilunya kehidupan setelah mati andai gagal mempersiapkan bekal dengan sebaik-baiknya. Setelah semakin sering mengalami lucid dream, baru kali ini aku mendapat pengalaman yang berbeda karena ‘mereka’ yang kulihat seperti menyadari keberadaanku, beberapa penumpang bahkan mencoba berinteraksi, ada yang berusaha meraih tanganku, ada juga yang seperti sengaja memasang raut memelas ketika mendekatkan wajah mereka di depan hidungku. Di tengah kebingungan, datang satu pramugari yang kutahu sejak awal juga memperhatikan aku ikut memberiku tatapan yang membuat hati ini teringat gambaran penyesalan karena telah menyia-nyiakan kesempatan hidup di dunia.

Gerak bola matanya seolah memberi isyarat agar aku terus bergerak maju. Tak ingin banyak tanya, aku lantas bergerak sesuai arahan dan diam menunggu, di sana. Tak berselang lama, datang balita lucu menghampiri, menggayut manja di kaki tanpa berhenti menatapku. Tergoda hati ini untuk menimangnya setelah bocah kecil itu memberikan senyum lugunya. Tersentuh dengan tingkah comelnya, naluri keibuan menggerakkan tanganku untuk menimangnya dalam buaian. Namun, sebelum sempat meraih tubuh mungilnya, berdiri seorang pria yang juga memberiku senyuman tak kalah ramah.

Entah apa ada hubungannya. Namun, tak lama setelah melihat senyuman itu, aku merasa berada di ruang hampa udara. Para penumpang yang kulihat menjadi seperti balon udara yang terlepas dari tangan. Semua melayang, termasuk pria di hadapanku, juga bocah lucu yang sudah dalam gendongannya. Aku terpaku.

"Titip Wiwik, jaga dia baik-baik. Bilang, kami baik-baik, aja. Sampein ke dia, jangan suka naek ke atap rumah orang kalau tengah malem. Kalau kangen aku, suruh liat aja mata Reihan. O, iya, ini anak bungsu kami. Kamu belum sempet liat, kan? Kami harus pergi sekarang. Janji jaga Wiwik, yah …."

Air mata mengalir memandangi bocah lucu yang meringkuk nyaman dalam buaian sang ayah. Tak dapat mengucap sepatah kata pun saat menjumpai pusaran udara di depan mata yang kian membesar. Sinar putihnya terlihat begitu cemerlang, belum pernah aku melihat warna seindah itu, bahkan seberkas sinar yang pernah menuntunku saat mati suri dulu pun masih kalah terang.

Hati mengerut saat menyaksikan setiap pemunpang yang ada terhisap masuk ke dalamnya karena ingatan mengajakku kembali pada momen ditindih bola upil dan menghilang di dunia mimpi yang panjang.  Sekujur tubuh menggigil saat Netra tak lepas memperhatikan setiap penumpang yang memasuki pusaran tersebut dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang masuk dengan begitu mudahnya, ada yang seolah-olah tak terpengaruh dengan dahsyatnya pusaran dan justru sengaja melenggang mendekati titik masuk, tapi tak sedikit pula yang meronta, melakukan perlawanan sekuat tenaga dengan meraih benda-benda yang bisa menahan badan agar tak sampai tertarik masuk ke dalam pusaran.

Wajah-wajah yang melakukan perlawanan, itu. Tatapan terakhir yang mereka arahkan sebelum menghilang sepenuhnya, seakan-akan aku dapat menangkap apa yang mereka coba sampaikan. Rasa takut yang tak berujung, kebingungan yang tak bertepi. Penyesalan yang tak memiliki akhir. Perasaan yang sebenarnya tak jauh berbeda seperti yang kurasakan saat memasuki tidur panjangku, dulu.

Mungkin bedanya saat mengalaminya dulu aku masih berupa lembar putih yang bersih, jadi ketakutan yang kurasa saat itu sepertinya lebih sederhana. Terjebak kebingungan karena sebelum menghilang dalam gelap sempat melihat ibuku menangis dan menutupi seluruh wajahku dengan selimut. Aku ketakutan karena setelah melihat banyak orang menungguiku di kamar, tapi dalam sekejapan mata tiba-tiba saja aku hanya sendirian dan tak lagi berada di tempat yang sama, dan satu-satunya penyesalanku saat itu hanyalah saat menuruti ajakan orang asing untuk memandang rembulan yang selesai ia panah.

Belum lepas merekam ulang rasa, lagi-lagi dibuat terkejut karena beberapa penumpang yang sebelumnya sempat mengajak berinteraksi ternyata bisa menyentuhku, tatapan mata mereka benar-benar membuat hati ngilu. Tak ada niat untuk menepis genggaman mereka dan menurut saja saat dituntun untuk berjalan mendekati pusaran. Perlahan tubuhku pun mulai terasa seperti seringan kapas, rasa takjub pada sinar indah itu membuatku ingin juga memasuki pusarannya. Namun, tanpa kuduga, pria yang menggendong balita tadi sengera mendorongku.

“Ini bukan waktunya kamu! Titip Wiwik!” hardiknya sebelum menghilang di balik pusaran.

Dan seperti biasa, seakan-akan dientak alat pacu jantung, akhirnya aku pun terjaga.

"Ah, Dot …. Kalau emang benar yang dateng dalam mimpi itu kamu, aku harus apa buat nepatin janji aku?”

Lama termenung menatap langit-langit rumah yang tak berplavon dan baru tersadar ketika dering gawai berbunyi.

Satu pesan baru masuk di waktu sepertiga malam. Bergegas menuju kamar mandi untuk berwudu setelah mengetahui siapa yang mengirim pesan dan membaca isi kabar yang diberikan. Satu kabar bahagia yang sedang kami tunggu akhirnya datang juga, tepat di hari lahir sahabatku. Hasil sidang telah diputuskan, ia mendapatkan kembali hak asuh untuk kedua anaknya.

***

Asrama rutin Kutubussita menjadi sarana menambah ilmu sekaligus ajang reuni. O, iya, tentang Penjara Suci, aku dan sahabatku terbiasa menggunakan istilah itu selama kami tinggal di pondok pesantren. Dulu, ia sengaja memilih kata-kata itu untuk menghibur dan menyemangati aku saat masih menjadi santriwati baru.

“Jangan mikir kalo kamu lagi mondok, anggap aja kita lagi tinggal di penjara suci, Yan. Kita di sini bukan dihukum atau diasingkan, tapi justru sama Allah kita dijadiin orang-orang pilihan. Fokus nimba ilmu, fokus ibadah, nanti lama-lama pasti nemuin jalan kamu sendiri buat jatuh cinta sama agama ini. Ayo, ah … semangat!”

(Hey, Bund. Kalau kamu sempat membaca catatanku ini, terbukti aku masih mengingat dengan baik petuah bijak yang pernah kamu kasih, bukan?)

Musim Asrama tahun 2009, Pondok mini Nurul Aini kembali penuh sesak dengan para pencari ilmu dan di antara para penyampai agama itulah aku mencoba memberanikan diri-mengejar ketertinggalanku meskipun tanpa ijazah resmi sebagai seorang da’i.

"Ini Dewa, Yan. Taun kemaren pas Loe ke sini kan anak gue masih ikut ibu mertua di Surabaya. Alhamdulillah, taun ini udah bisa kumpul bareng lagi sama kakaknya. Eh, tapi biasanya cuma almarhum yang manggil dia Dewa. Loe panggil dia Rehan juga nggak papah.” Segera mengenalkan buah hatinya yang kedua, setibanya di rumah.

Hahaa, masih dengan siklus asrama seperti tahun sebelumnya. Nekat mencuri waktu istirahat dan mengisinya dengan bernostalgia.

"Emh, Wenk ... kamu kalo tengah malem hobi naek ke genteng rumah orang, ya? O, iya … Dodot juga sempet bilang, kalo kamu tiba-tiba ngerasa kangen pengen ketemu dia, disuruh liat matanya Dewa, aja__”

"Heh …? Loe tau dari mana kalo mata Rehan mirip almarhum, Yan? Kan Elo baru ketemu Rehan hari, ini? Ketemu almarhum juga cuma sekali pas nikahan doang. Iya, kan? Ah, Elo mah dari dulu aneh, Yan. Loe jangan kelewat aneh, dong … takut gue jadinya.”

Aku terkekeh melihat ekspresi wajahnya yang tiba-tiba mengerut.

"Iih … gemes, deh. Penasaran, Gue. Kok Elo bisa tau, sih? Bukan genteng orang juga kalee, cuma nyambung aja. Sini, sini … Gue kasih tahu tempat rahasia yang selalu Gue datengin sepeninggal almarhum. Tapi Elo harus janji, kasih tau Gue, dari mana Loe bisa tau rahasia ini." Lalu ia menarik tanganku dan bersama-sama naik ke lantai dua. "Ini tempat salat, itu kamar ade Aku yang cowo. Nah, dan Elo tau apa yang ada di balik pintu ini ...?" Sambil menunjuk satu pintu mungil yang ada di ruangan, tersebut.

Aku menggeleng, kemudian ia pun memutar gagang pintu itu yang ternyata menuju loteng. Padatnya rumah penduduk di daerah Kreo membuat atap setiap rumah terlihat berdekatan dan saling menyatu. Ditariknya tanganku dan kami berjalan sedikit merapat ke dinding. Hahaa ... bak duo Spidergirl saja kami saat itu. Berpetualang di atas atap rumah orang.

"Singgasana Gue kalo malem, Yan. Kalo lagi kangen suami pasti langsung naek ke sini. Duduk sendirian, apalagi kalo pas ada bulan, Gue betah duduk lama-lama di sini. Ngomong sama bintang, sama bulan, mandangin langit sambil mbayangin dia lagi ngeliatin Aku dari langit sana. Kadang, Gue ngerasa udah kaya orang gila, aja. Ngomong-ngomong sendiri, entar ketawa sendiri tiap inget kebiasaan almarhum pas pulang. Masyaallah, deh, suami Aku, tuh. Hmm …. Tapi, semua itu udah berlalu, Yan. Sekarang yang ada cuma tinggal kenangannya, aja."

Hanya bisa menjadi pendengar yang baik dan ikut menikmati pemandangan kota Jakarta menjelang senja dari ketinggian sambil sesekali memandangi wajah tangguhnya saat bercerita. Tak berani lagi menyinggung tentang mimpi-mimpi lain yang kudapat, jauh sebelum kami dipertemukan kembali.

"Kan masih ada Vio sama Rehan, Wenk. Masa Kamu mau egois nikmatin perasaan yang Kamu lagi rasa'in sekarang. Pantes aja pesennya almarhum Kamu disuruh berhenti dari kebiasaan ini. Selain bahaya, keseringan kena udara malem juga kan nggak baik buat kesehatan Kamu. Terus, kalo Kamu sakit, siapa yang bakal ngurus peri-peri kecilmu, hayo? Bukannya sok tau, tapi Aku yakin Allah udah nyiapin banyak hal indah buat Kamu setelah hari ini. Janji yah … setelah hari ini Kamu nggak boleh naek-naek ke sini lagi, jadi Aku juga bisa netepin janji ke almarhum."

“Maksud Loe, apa? Janji apaan? Pasti rahasia lagi, deh ….”

“Eh, enggak-enggak. Anggep aja barusan Aku ngelantur. Turun, yuk.”

Hahaa ... maaf bila membuat para pembaca kecewa, tetapi memang tak ada adegan berpelukan diiringi derai air mata sebagai penutup kisah kami di sore, itu. Selain harus bergegas kembali ke tempat asrama, aku sendiri memang kurang bisa mengekspresikan gambaran jiwa. Menangis sambil berpelukan, untukku … itu adalah sesuatu yang hanya biasa dilakukan dalam sebuah telenovela.


No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...