Dua tahun berlalu. Hari-hari yang kujalani menjadi seperti terjebak
dalam sinema Poltergeist. Akal sehat rasanya kian menjauh dari ambang
kesadaran. Kembali tenggelam dalam duniaku sendiri. Mengamati kehidupan yang
berjalan dari kedua sisi. Dunia yang kuhuni dan sisi miring yang tak
mengizinkan aku untuk melangkah keluar. Percayalah, semua itu sungguh menguras
energi dan memang sedikit mengusik ketenangan mentalku.
Bayang-bayang jin timur tengah yang mengancam akan tetap
mempersuntingku meski sudah tak lagi tinggal di pesantren sesekali datang
menghantui, ditambah lagi dengan efek berantai yang datang setelah drama antara
bapak dan uang tumbal yang beliau ambil di jalan. Seakan-akan gangguan
metafisik yang kudapat terus bertambah semenjak menghuni rumah besar, itu.
Belum putus menyusuri lorong Poltergeist, datang satu kabar di
pertengahan tahun 2006 yang membuatku seketika terkulai. Kesulitan bernapas
bukan karena asma yang mendadak kambuh sebab gagal menahan efek kejut yang tertangkap
telinga, tapi karena kabar yang datang telah mematahkan keyakinan bahwa selama
satu tahun ke belakang aku hanya sedang mengalami delusi.
“Tapi Mbak harus janji dulu, asmanya nggak boleh kambuh. Kalau Mbak
Wie’ aja kuat ngejalaninnya, Mbak sebagai sahabatnya juga harus kuat ndenger
ceritanya.”
Sang pembawa pesan kembali menekankan syarat yang diajukan jika aku
ingin mendengar keseluruhan cerita meski sebenarnya sudah lebih dari cukup
bagiku mendengar kalimat pembuka.
“Suami mba Iwenk meninggal.”
Cukup dengan mendengar kabar bahwa suami sahabatku itu telah tiada,
rasanya tak ingin lagi mendengar kelanjutan cerita terlebih tentang apa yang
menjadi perantara maut menjemputnya. Tak sabar rasanya hati menunggu jadwal
asrama Kutubusitta gelombang berikutnya karena memang hanya lewat kegiatan
rutin tahunan itu satu-satunya peluang yang kupunya untuk bisa bertemu
dengannya.
Setelah menunggu selama satu tahun, waktu yang kunanti-nanti itupun
akhirnya tiba. Meski sadar niat yang kubawa tak murni untuk menimba ilmu.
Namun, aku tetap bersyukur telah mengambil kesempatan untuk ikut mengkaji hadis
Muslim yang belum pernah terisi.
Pak Pur, sang penyampai hadis sudah bersiap di mimbar. Rasa hati
dibawa bernostalgia melihat penampilan dan mendengar suaranya yang khas, masih sama
seperti saat aku masih menjadi santriwatinya di tahun 1997. Hahaa … siswinya
inipun masih dengan dilema yang sama. Kantuk selalu saja bergegas menggelitik
pelupuk mata setiap kali berusaha fokus mencatat setiap keterangan penyampai. Namun,
di sela kantuk kali ini datang seorang ibu muda yang menghampiriku.
"Ya ampuun, Jeung ...." Hanya itu yang terucap saat
menyapa lantas duduk di sampingku dan mengeluarkan Mushaf miliknya dari dalam
tas.
Sengaja mengerutkan kening dan melirik ke samping kirinya. Ada
balita imut mengenakan baju model lebah madu yang terus menempel padanya. Baru
setelah itu, kembali memandangi wajah sang ibu yang terlihat mirip sekali
dengan artis Inneke Koesherawati.
Aku takut salah mengingat karena orang yang kukenal dan memang
sedang kutunggu memiliki lensa mata seperti umumnya pribumi. Akan tetapi,
kenapa orang yang menyapaku bermata biru?
" Iwenk ...?" Si pemilik nama hanya mencubit pipiku
kemudian fokus menyimak kajian tanpa sekali pun berbincang.
Peluang untuk berbagi cerita baru terbuka saat waktu istirahat
makan siang, tiba. Aku yang bukan peserta resmi otomatis tidak mendapat jatah
makan dan berniat menghabiskan waktu dengan mencari makan di luar pondok. Namun,
entah ide dari mana dan tanpa sedikit pun rasa gengsi, sahabat Ivory-ku itu
mengisi jatah piringnya dengan porsi yang cukup untuk disantap bertiga. Jujur, momen
mengantri jatah makan membuatku menahan marah karena melihat banyak ikhwan yang
menggodanya saat sahabatku ikut berbaris di dekat meja prasmanan yang
diletakkan bersisian tanpa tabir pembatas. Ya, meski tahu dengan status
barunya, tapi aku masih mengingkari kabar yang pernah kudengar. Aku menolak percaya
sebelum mendengar langsung darinya.
Di hadapan makan siang porsi jumbo akhirnya kami bernostalgia. Mengulang
kisah semasa tinggal di penjara suci. Wajahnya terlihat begitu ceria sepanjang
bercerita. Masih sama seperti Iwenk selebriti yang kukenal dulu, bahkan senyumnya
pun masih sama persis seperti yang kulihat dalam mimpi. Tak berani menyinggung
kabar yang telah kudengar, apalagi menceritakan mimpi-mimpi yang kudapat. Cukuplah
dengan melihat wajahnya yang ceria untuk menguatkan keyakinan bahwa cerita yang
kudapat hanya kabar burung dan mimpi-mimpi gelap itu hanyalah bagian dari bunga
tidurku yang layu.
"Nggak dianter suami,
Wenk?" Setelah lama erbincang, akhirnya aku memberanikan diri menyebutkan
kalimat itu.
"Enggak, suami aku lagi istirahat." Menjawab dengan ringan
tanpa berhenti menyantap makanan dan sesekali menyuapi buah hatinya.
"Baru pulang dines, kah?" Aku kembali bertanya.
"Iya, selesai dines. Selamanya, insyaallah. Suami aku enak
banget, Yan. Selesai tugas langsung dapet hadiah. Sekarang dia lagi tidur di atas
kasur yang empuuk ... banget. Selimutnya juga alus banget_”
"Bunda!" Lebah kecil tiba-tiba saja menghardik sang bunda.
"Apa sih, Vio
...?" jawabnya sambil menjulurkan lidah pada sang buah hati, tapi kemudian
memutus cerita dan menyeruput sup kimlo yang tersisa.
"Dapet hadiah springbed, gituh? Terus, tempat tidur kamu yang
dulu nggak dipake lagi, dong? O, iya … pantesan waktu itu aku sempet mimpiin
kamu, tuh. Eh, nggak jadi, deh …." Urung melanjutkan cerita ketika menyadari
tatapan tajam lebah mungil kali ini tertuju padaku.
"Eh? Loe masih suka ngimpi-ngimpi gitu, ya, Jeung? Kamu mimpiin
apa tentang aku? Bagus, nggak? Ngimpiin suami aku juga, nggak?" tanyanya
dengan nada riang.
Sungguh, aku dibuat penasaran dengan tingkah sahabatku saat itu
karena dari waktu-waktu mengaji yang beberapa kali kami curi dengan sengaja melarikan
diri dan mengisinya dengan acara temu kangen pribadi, tak sekali pun menunjukkan
bahwa dirinya tengah tertimpa kesusahan. Hari-hari selalu kami lalui dengan canda
dan tawa, sampai akhirnya kebenaran itu datang.
Kebenaran yang kutunggu, tetapi berharap tak pernah terucap darinya
agar aku bisa terus mengingkari kabar itu. Sungguh, aku berharap semua itu
hanyalah salah satu kisah yang ada dalam drama telenovela. Namun, sang pemilik
cerita itu kini duduk di sampingku. Bercerita di atas dipan besar yang terbuat
dari kayu jati. Di atas ranjang yang sama seperti yang pernah kulihat dalam mimpi,
dengan orang yang sama dan sedang mengucapkan kalimat yang sama. Meski tanpa
kuntum bunga yang layu, seprai dan nuansa kamarnya pun dihias dengan warna
kesukaannya yang tak berubah. Ungu. Tapi, kenyataan bahwa kali ini tidak sedang
mengalami lucid dream membuat persendianku seolah lumpuh layu.
"Pertamanya sih, gue emang nggak bisa terima,” lanjutnya. “Gue
sempet nanya ke Allah, kenapa semua ini harus menimpa aku? Salah gue apa coba,
kamu bayangin aja ... suami gue dipanggil pas gue baru ngerasa'in jatuh cinta.
Kan kamu tau sendiri, dulu pas nikah boro-boro kita ada waktu buat saling
kenal, ketemu juga cuma sekali, itu juga almarhum yang duluan ngeliat. Lah,
aku...? Tau-tau dikasih surat lamaran sama bokap, terus langsung disuruh
nerima. Tapi, ya udahlah, yah … kalo ngingetnya mundur terus ke belakang,
bisa-bisa kita nggak sabar nerima cobaan. Jadi, yang bikin gue, eh, aku … bisa
tetep semangat dan husnuzon billah sampe hari ini selain karena
malaikat-malaikat kecil aku, tapi juga karena kata-kata yang diucap almarhum
sebelum meninggal.”
Aku hanya mengulum senyum sepanjang mendengarnya bercerita. Sengaja
memandangi wajahnya lebih dalam setiap kali tawa renyahnya terlepas.
"Aku baru tau kejadian yang sebenernya, ya, waktu temen-temen
satu regunya nengokin almarhum di rumah sakit, terus minta maaf sambil nangis.
Shock tau ga sih, Yan. Almarhum malah cuma bilang, ‘yang udah lewat ya udah,
lupa'in aja. Angggep aja itu cuma kekhilafan kita sebagai manusia biasa,’
gituh. Kadang aku heran, tapi juga bersyukur. Kok bisa ada orang yang sabarnya
kayak almarhum. Udah jelas-jelas dizolimi, tapi masih bisa maafin terus ndoain
kebaikan buat mereka. Gue bakalan inget terus hari itu, Yan. Waktu di
pemakaman, semua itu nggak bakal ilang dari ingatan gue.”
Selanjutnya, apa yang disampaikannya semakin membuat hati ngilu.
Beberapa bulan setelah sang suami wafat, buah cinta mereka yang ketiga pun ternyata
ikut menyusul kepergian sang ayah. Dari keterangan dokter yang menangani
persalinannya menerangkan bahwa duka mendalam ternyata ikut dirasakan oleh
janin di rahimnya dan tanpa disadari telah kehilangan anak bungsunya sejak
bulan kelima.
Aku dibuat semakin termangu ketika cerita sampai pada detik-detik
ajal menjemput sang suami. Mahabesar Allah dengan segala Sifat-Nya. Penguat,
Penolong, Pemberi petunjuk. Aku turut bersyukur karena Allah senantiasa
menguatkan Keberadaan-Nya di saat-saat tersulit sahabatku
"Ada jarum alus-alus bener di apel yang aku kupas, Yan.
Untungnya suami aku nggak ngeliat karena sebelum meninggal almarhum kehilangan
penglihatannya. Do'i juga udah nggak bisa jalan, jadi kemana-mana aku dorong
pake kursi roda. Loe juga pasti nggak bakal percaya, kan? Gue, eh aku. Ah,
Oyaaan ... ribet banget tau nggak, sih, ngomong sama Loe mah. Harus pake aku-kamu.
Gue pake bahasa gue yang biasa aja, yah. Elo mah terserah kalo mau tetep
berbinar sendirian.”
“Hahahaa ...." Spontan ikut tertawa melihat mimik wajahnya setiap
kali tersandung aku-kamu untuk mengimbangi cara bicaraku.
Tak mungkin tidak percaya karena dari setiap cerita membuatku seperti
disuguhkan potongan cerita yang hilang. Sedikit menangkap arti dari mimpi-mimpi
yang kudapat. Namun, tak mungkin juga lantas menyampaikan semua cerita dari
versi yang kudapat karena berpikir, apa yang telah terjadi di dalam mimpi maka
biarlah tetap menjadi bunga tidur. Adapun apa-apa yang belum terjadi, jika bisa
kucegah di dunia nyata maka itu yang akan aku coba lakukan.
Hasbunallah wa nikmal wakiil, nikmal maula wa nikmannashiir. Entah
apa status orang seperti aku ini di dalam hukum agama karena yang bisa
kumengerti hanyalah menjalankan peran dengan sebaik-baiknya. Jika hidupku
ternyata diarahkan untuk menyusuri jalan di dekat jurang penyekutuan maka buat hati
ini rida menapakinya selama itu menjadi bentuk penghambaan yang bisa kuberikan.
Diberi kesempatan membuktikan keberadaan dimensi lain tanpa harus melakoni
tapa geni dan semacamnya. Berdialog dengan jiwa-jiwa lara yang masih berkelana
di bumi tanpa menjadikan dupa dan kemenyan sebagai media pemanggil. Membuktikan
dunia yang pernah diminta Khurafat agar ditampakkan lewat doanya hanya dengan
meyakini bahwa niat beliau berdoa seperti itu hanyalah untuk membuktikan bahwa
jin dan manusia benar hidup berdampingan.
Lucid dream terpanjangku, entah benar ruh almarhum suami sahabatku
mendapat izin untuk ikut mengisi alam mimpiku dan menyampaikan endapan rasa
yang ikut terbawa saat beliau menutup mata atau sebatas jin qorin yang juga
mendapat izin untuk merekam ulang setiap adegan yang pernah disaksikannya, maka
yang bisa kulakukan hanyalah berusaha semampuku untuk menepati janji. Setidaknya
sampai belahan jiwa kembali menemukan tambatan hati.
No comments:
Post a Comment