Wednesday, May 20, 2026

CINTA MATI(3)

 

Dua tahun berlalu. Hari-hari yang kujalani menjadi seperti terjebak dalam sinema Poltergeist. Akal sehat rasanya kian menjauh dari ambang kesadaran. Kembali tenggelam dalam duniaku sendiri. Mengamati kehidupan yang berjalan dari kedua sisi. Dunia yang kuhuni dan sisi miring yang tak mengizinkan aku untuk melangkah keluar. Percayalah, semua itu sungguh menguras energi dan memang sedikit mengusik ketenangan mentalku.

Bayang-bayang jin timur tengah yang mengancam akan tetap mempersuntingku meski sudah tak lagi tinggal di pesantren sesekali datang menghantui, ditambah lagi dengan efek berantai yang datang setelah drama antara bapak dan uang tumbal yang beliau ambil di jalan. Seakan-akan gangguan metafisik yang kudapat terus bertambah semenjak menghuni rumah besar, itu.

Belum putus menyusuri lorong Poltergeist, datang satu kabar di pertengahan tahun 2006 yang membuatku seketika terkulai. Kesulitan bernapas bukan karena asma yang mendadak kambuh sebab gagal menahan efek kejut yang tertangkap telinga, tapi karena kabar yang datang telah mematahkan keyakinan bahwa selama satu tahun ke belakang aku hanya sedang mengalami delusi.

“Tapi Mbak harus janji dulu, asmanya nggak boleh kambuh. Kalau Mbak Wie’ aja kuat ngejalaninnya, Mbak sebagai sahabatnya juga harus kuat ndenger ceritanya.”

Sang pembawa pesan kembali menekankan syarat yang diajukan jika aku ingin mendengar keseluruhan cerita meski sebenarnya sudah lebih dari cukup bagiku mendengar kalimat pembuka.

“Suami mba Iwenk meninggal.”

Cukup dengan mendengar kabar bahwa suami sahabatku itu telah tiada, rasanya tak ingin lagi mendengar kelanjutan cerita terlebih tentang apa yang menjadi perantara maut menjemputnya. Tak sabar rasanya hati menunggu jadwal asrama Kutubusitta gelombang berikutnya karena memang hanya lewat kegiatan rutin tahunan itu satu-satunya peluang yang kupunya untuk bisa bertemu dengannya.

Setelah menunggu selama satu tahun, waktu yang kunanti-nanti itupun akhirnya tiba. Meski sadar niat yang kubawa tak murni untuk menimba ilmu. Namun, aku tetap bersyukur telah mengambil kesempatan untuk ikut mengkaji hadis Muslim yang belum pernah terisi.

Pak Pur, sang penyampai hadis sudah bersiap di mimbar. Rasa hati dibawa bernostalgia melihat penampilan dan mendengar suaranya yang khas, masih sama seperti saat aku masih menjadi santriwatinya di tahun 1997. Hahaa … siswinya inipun masih dengan dilema yang sama. Kantuk selalu saja bergegas menggelitik pelupuk mata setiap kali berusaha fokus mencatat setiap keterangan penyampai. Namun, di sela kantuk kali ini datang seorang ibu muda yang menghampiriku.

"Ya ampuun, Jeung ...." Hanya itu yang terucap saat menyapa lantas duduk di sampingku dan mengeluarkan Mushaf miliknya dari dalam tas.

Sengaja mengerutkan kening dan melirik ke samping kirinya. Ada balita imut mengenakan baju model lebah madu yang terus menempel padanya. Baru setelah itu, kembali memandangi wajah sang ibu yang terlihat mirip sekali dengan artis Inneke Koesherawati.

Aku takut salah mengingat karena orang yang kukenal dan memang sedang kutunggu memiliki lensa mata seperti umumnya pribumi. Akan tetapi, kenapa orang yang menyapaku bermata biru?

" Iwenk ...?" Si pemilik nama hanya mencubit pipiku kemudian fokus menyimak kajian tanpa sekali pun berbincang.

Peluang untuk berbagi cerita baru terbuka saat waktu istirahat makan siang, tiba. Aku yang bukan peserta resmi otomatis tidak mendapat jatah makan dan berniat menghabiskan waktu dengan mencari makan di luar pondok. Namun, entah ide dari mana dan tanpa sedikit pun rasa gengsi, sahabat Ivory-ku itu mengisi jatah piringnya dengan porsi yang cukup untuk disantap bertiga. Jujur, momen mengantri jatah makan membuatku menahan marah karena melihat banyak ikhwan yang menggodanya saat sahabatku ikut berbaris di dekat meja prasmanan yang diletakkan bersisian tanpa tabir pembatas. Ya, meski tahu dengan status barunya, tapi aku masih mengingkari kabar yang pernah kudengar. Aku menolak percaya sebelum mendengar langsung darinya.

Di hadapan makan siang porsi jumbo akhirnya kami bernostalgia. Mengulang kisah semasa tinggal di penjara suci. Wajahnya terlihat begitu ceria sepanjang bercerita. Masih sama seperti Iwenk selebriti yang kukenal dulu, bahkan senyumnya pun masih sama persis seperti yang kulihat dalam mimpi. Tak berani menyinggung kabar yang telah kudengar, apalagi menceritakan mimpi-mimpi yang kudapat. Cukuplah dengan melihat wajahnya yang ceria untuk menguatkan keyakinan bahwa cerita yang kudapat hanya kabar burung dan mimpi-mimpi gelap itu hanyalah bagian dari bunga tidurku yang layu.

 "Nggak dianter suami, Wenk?" Setelah lama erbincang, akhirnya aku memberanikan diri menyebutkan kalimat itu.

"Enggak, suami aku lagi istirahat." Menjawab dengan ringan tanpa berhenti menyantap makanan dan sesekali menyuapi buah hatinya.

"Baru pulang dines, kah?" Aku kembali bertanya.

"Iya, selesai dines. Selamanya, insyaallah. Suami aku enak banget, Yan. Selesai tugas langsung dapet hadiah. Sekarang dia lagi tidur di atas kasur yang empuuk ... banget. Selimutnya juga alus banget_”

"Bunda!" Lebah kecil tiba-tiba saja menghardik sang bunda.

 "Apa sih, Vio ...?" jawabnya sambil menjulurkan lidah pada sang buah hati, tapi kemudian memutus cerita dan menyeruput sup kimlo yang tersisa.

"Dapet hadiah springbed, gituh? Terus, tempat tidur kamu yang dulu nggak dipake lagi, dong? O, iya … pantesan waktu itu aku sempet mimpiin kamu, tuh. Eh, nggak jadi, deh …." Urung melanjutkan cerita ketika menyadari tatapan tajam lebah mungil kali ini tertuju padaku.

"Eh? Loe masih suka ngimpi-ngimpi gitu, ya, Jeung? Kamu mimpiin apa tentang aku? Bagus, nggak? Ngimpiin suami aku juga, nggak?" tanyanya dengan nada riang.

Sungguh, aku dibuat penasaran dengan tingkah sahabatku saat itu karena dari waktu-waktu mengaji yang beberapa kali kami curi dengan sengaja melarikan diri dan mengisinya dengan acara temu kangen pribadi, tak sekali pun menunjukkan bahwa dirinya tengah tertimpa kesusahan. Hari-hari selalu kami lalui dengan canda dan tawa, sampai akhirnya kebenaran itu datang.

Kebenaran yang kutunggu, tetapi berharap tak pernah terucap darinya agar aku bisa terus mengingkari kabar itu. Sungguh, aku berharap semua itu hanyalah salah satu kisah yang ada dalam drama telenovela. Namun, sang pemilik cerita itu kini duduk di sampingku. Bercerita di atas dipan besar yang terbuat dari kayu jati. Di atas ranjang yang sama seperti yang pernah kulihat dalam mimpi, dengan orang yang sama dan sedang mengucapkan kalimat yang sama. Meski tanpa kuntum bunga yang layu, seprai dan nuansa kamarnya pun dihias dengan warna kesukaannya yang tak berubah. Ungu. Tapi, kenyataan bahwa kali ini tidak sedang mengalami lucid dream membuat persendianku seolah lumpuh layu.

"Pertamanya sih, gue emang nggak bisa terima,” lanjutnya. “Gue sempet nanya ke Allah, kenapa semua ini harus menimpa aku? Salah gue apa coba, kamu bayangin aja ... suami gue dipanggil pas gue baru ngerasa'in jatuh cinta. Kan kamu tau sendiri, dulu pas nikah boro-boro kita ada waktu buat saling kenal, ketemu juga cuma sekali, itu juga almarhum yang duluan ngeliat. Lah, aku...? Tau-tau dikasih surat lamaran sama bokap, terus langsung disuruh nerima. Tapi, ya udahlah, yah … kalo ngingetnya mundur terus ke belakang, bisa-bisa kita nggak sabar nerima cobaan. Jadi, yang bikin gue, eh, aku … bisa tetep semangat dan husnuzon billah sampe hari ini selain karena malaikat-malaikat kecil aku, tapi juga karena kata-kata yang diucap almarhum sebelum meninggal.”

Aku hanya mengulum senyum sepanjang mendengarnya bercerita. Sengaja memandangi wajahnya lebih dalam setiap kali tawa renyahnya terlepas.

"Aku baru tau kejadian yang sebenernya, ya, waktu temen-temen satu regunya nengokin almarhum di rumah sakit, terus minta maaf sambil nangis. Shock tau ga sih, Yan. Almarhum malah cuma bilang, ‘yang udah lewat ya udah, lupa'in aja. Angggep aja itu cuma kekhilafan kita sebagai manusia biasa,’ gituh. Kadang aku heran, tapi juga bersyukur. Kok bisa ada orang yang sabarnya kayak almarhum. Udah jelas-jelas dizolimi, tapi masih bisa maafin terus ndoain kebaikan buat mereka. Gue bakalan inget terus hari itu, Yan. Waktu di pemakaman, semua itu nggak bakal ilang dari ingatan gue.”

Selanjutnya, apa yang disampaikannya semakin membuat hati ngilu. Beberapa bulan setelah sang suami wafat, buah cinta mereka yang ketiga pun ternyata ikut menyusul kepergian sang ayah. Dari keterangan dokter yang menangani persalinannya menerangkan bahwa duka mendalam ternyata ikut dirasakan oleh janin di rahimnya dan tanpa disadari telah kehilangan anak bungsunya sejak bulan kelima.

Aku dibuat semakin termangu ketika cerita sampai pada detik-detik ajal menjemput sang suami. Mahabesar Allah dengan segala Sifat-Nya. Penguat, Penolong, Pemberi petunjuk. Aku turut bersyukur karena Allah senantiasa menguatkan Keberadaan-Nya di saat-saat tersulit sahabatku

"Ada jarum alus-alus bener di apel yang aku kupas, Yan. Untungnya suami aku nggak ngeliat karena sebelum meninggal almarhum kehilangan penglihatannya. Do'i juga udah nggak bisa jalan, jadi kemana-mana aku dorong pake kursi roda. Loe juga pasti nggak bakal percaya, kan? Gue, eh aku. Ah, Oyaaan ... ribet banget tau nggak, sih, ngomong sama Loe mah. Harus pake aku-kamu. Gue pake bahasa gue yang biasa aja, yah. Elo mah terserah kalo mau tetep berbinar sendirian.”

“Hahahaa ...." Spontan ikut tertawa melihat mimik wajahnya setiap kali tersandung aku-kamu untuk mengimbangi cara bicaraku.

Tak mungkin tidak percaya karena dari setiap cerita membuatku seperti disuguhkan potongan cerita yang hilang. Sedikit menangkap arti dari mimpi-mimpi yang kudapat. Namun, tak mungkin juga lantas menyampaikan semua cerita dari versi yang kudapat karena berpikir, apa yang telah terjadi di dalam mimpi maka biarlah tetap menjadi bunga tidur. Adapun apa-apa yang belum terjadi, jika bisa kucegah di dunia nyata maka itu yang akan aku coba lakukan.

Hasbunallah wa nikmal wakiil, nikmal maula wa nikmannashiir. Entah apa status orang seperti aku ini di dalam hukum agama karena yang bisa kumengerti hanyalah menjalankan peran dengan sebaik-baiknya. Jika hidupku ternyata diarahkan untuk menyusuri jalan di dekat jurang penyekutuan maka buat hati ini rida menapakinya selama itu menjadi bentuk penghambaan yang bisa kuberikan.

Diberi kesempatan membuktikan keberadaan dimensi lain tanpa harus melakoni tapa geni dan semacamnya. Berdialog dengan jiwa-jiwa lara yang masih berkelana di bumi tanpa menjadikan dupa dan kemenyan sebagai media pemanggil. Membuktikan dunia yang pernah diminta Khurafat agar ditampakkan lewat doanya hanya dengan meyakini bahwa niat beliau berdoa seperti itu hanyalah untuk membuktikan bahwa jin dan manusia benar hidup berdampingan.

Lucid dream terpanjangku, entah benar ruh almarhum suami sahabatku mendapat izin untuk ikut mengisi alam mimpiku dan menyampaikan endapan rasa yang ikut terbawa saat beliau menutup mata atau sebatas jin qorin yang juga mendapat izin untuk merekam ulang setiap adegan yang pernah disaksikannya, maka yang bisa kulakukan hanyalah berusaha semampuku untuk menepati janji. Setidaknya sampai belahan jiwa kembali menemukan tambatan hati.

No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...