Tuesday, May 19, 2026

CINTA MATI(2)

Masih di tahun yang sama, lucid dream itu datang seperti cerita berseri. Sosok pria yang sama rutin mengintervensi tidurku hanya bedanya aura yang dibawa jauh lebih bersahabat jika dibandingkan dengan kehadirannya pertama kali. Kali ini, aku pun bisa melihatnya dengan lebih jelas. Datang selalu dengan pakaian yang sama, nampak seperti seragam tantara, tapi sayang, dia selalu menyembunyikan wajah dengan topinya. Meski masih tanpa sepatah kata yang terucap di sepanjang perjalanan kami, tetapi aku tetap berperan layaknya adik yang penurut dan terus mengekor di belakangnya.

Setelah cukup jauh berjalan, kuduga kami telah tiba pada tempat yang dituju karena ia seketika berhenti. Masih membisu, aku hanya bisa membuang pandangan ke segala penjuru. Maksud hati berusaha mencari tahu lokasi tempat kami berdiri.

Suasana yang gelap membatasi jarak pandang dan hanya mampu menangkap buram penampakan tembok-tembok tinggi dengan jalinan besi yang dibuat seperti pagar berduri. Ada sebuah drum besar dengan api yang menyala di dalamnya, samar-samar kulihat pula beberapa pemuda dengan postur tubuh yang sama. Tinggi dan tegap, sama seperti pemandu perjalananku. Kulihat mereka berkumpul dalam beberapa barisan dan tak lama kemudian merubah formasi menjadi dua kelompok besar.

Sempat terlintas dalam hati saat melihat perubahan formasi, tersebut. “Oke, mungkin sebenarnya alam bawah sadarku hanya sedang mereka ulang adegan dua gangster yang siap berseteru yang pernah kutonton.”

Laga pun dimulai, aku yang memang kurang suka dengan tayangan bertema kekerasan sontak mengalihkan perhatian. Anehnya, suasana yang samar di sekelilingku sepertinya tak berlaku ketika adegan itu terjadi karena ke mana pun arah pandangan kubuang, aku tetap saja menjumpai penglihatan yang sama. Sebuah adegan baku hantam dengan lawan yang tak seimbang.

Dua kubu yang semula terlihat sedang berseteru, tiba-tiba menyatukan diri dalam satu lingkaran besar dan hanya menyisakan dua pemuda berdiri di tengahnya. Bergantian dipukuli tanpa bisa memberikan perlawanan. Terus seperti itu, hingga tersisa satu pemuda yang tetap berusaha untuk bangkit meskipun telah berulangkali jatuh tersungkur. Sementara teman yang semula menemaninya menahan derita, kulihat ia telah ikut mengisi lingkaran.

Tak dapat mendekat, tak pula bisa segera melarikan diri ketika kulihat lebam memenuhi wajah yang sedang dijadikan target. Warna kulitnya pun mulai berubah, tertutupi merahnya darah. Lawan yang tak seimbang itu akhirnya tumbang dan sebelum akhirnya jatuh tersungkur sempat memberikan tatapan yang tak akan pernah bisa kulupakan.

Kelu, menyaksikan seseorang dipukuli tanpa bisa berbuat sesuatu untuk menolongnya. Hanya bisa menahan marah pada wajah-wajah yang merasa memiliki kuasa untuk berbuat semena-mena sambil berusaha menemukan pemandu jalan, berharap dia juga menyaksikannya. Kupikir, mengenakan pakaian yang sama bisa sedikit membantu meredakan situasi, andai ia mampu untuk mendekat.

Namun, harapanku pupus karena yang kucari ternyata bertingkah tak jauh berbeda denganku. Diam mematung. Tak hanya itu, pria misterius itupun sempat memberi efek terapi kejut setelah melepas topinya. Wajahnya, tatapan yang ia berikan, kenapa bisa sama persis seperti sang korban.

"Tatapan macam apa, itu? Apa maksudnya? Siapa sih kamu ini, sebenernya? Seenaknya nyuruh aku ke sana kemari. Ugh! Mana yang aku liat bawaannya bikin emosi melulu!" Aku mulai menggerutu.

Tak peduli apakah suaraku didengar, atau lagi-lagi hanya berbicara dengan diri sendiri. Sudah pasrah, karena kutahu tak bisa terjaga mengikuti mauku.

Lama sengaja mematung dan memandang lurus pria, itu. Sengaja pasang aksi seperti bocah cilik yang sedang merajuk saat menolak melanjutkan perjalanan. Semakin ia memaksa, berulangkali pula kutegaskan bahwa aku hanya ingin pulang.

Benar-benar seperti sedang beradu akting, mungkin pengalamanku ini akan lebih mudah diterima jika berjalan dalam sebuah sinema. Tak ada bukti yang dapat menguatkan petualangan sisi miring yang kubagikan. Satu-satunya alasan untuk tetap membagikan kisah hidupku hanyalah keyakinan bahwa aku juga punya hak hidup yang sama dan ini adalah kisah hidup yang kujalani. Percaya atau tidak, tapi tidak sedikit orang-orang baru yang hadir dalam hidupku sebelumnya telah lebih dulu mengisi bunga tidurku.

Kembali pada dua pengelana dimensi lain yang tengah beradu ego. Kami terus terpaku pada keinginan masing-masing, sampai akhirnya pertahanan egoku lebih dulu runtuh bersamaan dengan robohnya dinding pembatas jalan yang berada tak jauh dari tempat kami berdiri. Tak ada guncangan hebat ataupun benda berat yang menghantam tembok besar itu, tetapi tiba-tiba runtuh begitu saja. Dari celah-celah dinding yang tersisa itulah, aku kembali melihat sahabatku. Berdiri sendirian di seberang jalan. Bingung dan ketakutan.

"Wenk ... jangan ke situ!" Aku berusaha memperingatinya.

Sontak berlari melompati puing-puing yang menghalangi langkahku ketika melihatnya mengayunkan langkah tanpa memperhatikan arah. Aku khawatir, trotoar tempatnya berdiri terlalu tinggi dan dia bisa saja terjatuh jika tidak memperhatikan langkahnya dengan benar. Bukan hanya itu, entah kenapa aku merasa di depannya telah disiapkan sebuah perangkap yang bisa membahayakan hidupnya.

Meskipun masih tak mengerti sepenuhnya dengan situasi yang sedang kuhadapi, tapi sebisa mungkin aku berusaha menepati janji yang kuucap pada perjalanan, sebelumnya. Tak jauh berbeda dengan Alice saat menghitung semua kejadian aneh yang pernah dilaluinya demi bisa menghadapi serangan Jabberwocky, seperti itu pula yang biasa kulakukan agar tetap bisa menjaga akal sehatku setiap kali terjebak mimpi aneh semacam, ini.

Teringat pada sang pemandu jalan, aku segera balik badan dan berniat membujuknya untuk menolong sahabatku. Namun, lagi-lagi ia mengecewakanku karena ternyata tak lagi ada di dekatku.

 Setelah bersusah payah, akhirnya berhasil melewati semua puing yang berserakan dan berjalan mendekati sahabatku. Betapa terkejutnya aku ketika melihat sosok yang kucari ternyata sudah berdiri di sisi kawan karibku. Hati semakin sibuk menduga-duga, siapa sebenarnya orang ini. Seorang penolong, kah? Atau justru sedang berniat tidak baik pada sahabatku.

Tak kurang dari sepuluh langkah, kini aku dapat melihat sahabat yang selalu kurindukan dari dekat. Tatapan matanya, raut wajahnya masih terlihat sama seperti saat ia mengatakan bahwa suaminya tak akan pernah pulang.

"Wenk … jangan takut, kamu nggak sendirian. Ada Dodot yang selalu nemenin di samping kamu." Lisan seketika tercekat ketika nama itu tiba-tiba saja terucap saat reflex beradu pandang dengan sosok yang kini berdiri semakin dekat, dengannya.

"Kalo Iwenk nggak bisa denger suara aku, paling nggak aku bisa mbantu njaga dia dari sesuatu yang nggak bisa dia liat."

Kembali membulatkan tekad dan mulai mempersiapkan diri dengan kemungkinan yang akan terjadi karena aku mulai merasakan sensasi setiap kali sosok-sosok negatif mulai mengganggu.

Dan benar saja, aura gelap yang meliputi sahabatku semakin terasa dan kini ikut mengepungku. Bersamaan dengan kabut pekat yang datang, kulihat sekumpulan anjing hitam menyeruak keluar. Mereka menyerang pemandu perjalananku yang sedang berusaha melindungi sahabatku meski seketika itu juga ia terjatuh. Tubuhnya menjadi tak berupa karena terkoyak taring-taring tajam gerombolan hewan liar, itu. Isi perutnya terburai, bagian tubuhnya tercerai-berai, dan darah tercecer di mana-mana.

Tubuhku seketika membeku ketika cipratan noda merah itu juga mengenai wajahku. Rasa basah, hangat, licin, dan lengket yang kurasakan di telapak kaki membuatku menyadari tengah berdiri di atas genangan darah. Namun, tetap tak bisa berpindah tempat.

Selesai dengan pemandu perjalanan, mereka tengah bersiap pada target berikutnya. Bergerak bersamaan mendekati sahabatku yang kini berdiri tanpa perlindungan. Tak mungkin tinggal diam, tetapi juga tak tahu apa yang harus kulakukan. Memintanya untuk segera pergi dari tempat itu pun sepertinya sia-sia karena ia sama sekali tak menyadari keberadaanku.

Seperti dibuat mati kutu karena meski tahu apa yang sedang kualami hanya sebatas mimpi, tapi anyirnya darah yang terciprat di wajah membuat semua terasa begitu nyata. Masih berusaha mencari jalan keluar meski benda yang bisa kutemukan hanyalah pecahan batu bata putih dari tembok yang runtuh. Aku mencoba mengambil beberapa dan melemparkannya ke arah mereka.

"Pergi kalian! Awas aja kalo berani macem-macem! Pergi sana ... pergi!"

Aku terus melempari kumpulan anjing hitam itu sampai akhirnya terjaga. Tepat di saat berhasil menarik perhatian mereka yang akhirnya berbalik arah dan bersiap menyerangku.


No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...