Masih di tahun yang sama, lucid dream itu datang seperti cerita
berseri. Sosok pria yang sama rutin mengintervensi tidurku hanya bedanya aura
yang dibawa jauh lebih bersahabat jika dibandingkan dengan kehadirannya pertama
kali. Kali ini, aku pun bisa melihatnya dengan lebih jelas. Datang selalu
dengan pakaian yang sama, nampak seperti seragam tantara, tapi sayang, dia selalu
menyembunyikan wajah dengan topinya. Meski masih tanpa sepatah kata yang
terucap di sepanjang perjalanan kami, tetapi aku tetap berperan layaknya adik
yang penurut dan terus mengekor di belakangnya.
Setelah cukup jauh berjalan, kuduga kami telah tiba pada tempat
yang dituju karena ia seketika berhenti. Masih membisu, aku hanya bisa membuang
pandangan ke segala penjuru. Maksud hati berusaha mencari tahu lokasi tempat
kami berdiri.
Suasana yang gelap membatasi jarak pandang dan hanya mampu
menangkap buram penampakan tembok-tembok tinggi dengan jalinan besi yang dibuat
seperti pagar berduri. Ada sebuah drum besar dengan api yang menyala di
dalamnya, samar-samar kulihat pula beberapa pemuda dengan postur tubuh yang
sama. Tinggi dan tegap, sama seperti pemandu perjalananku. Kulihat mereka berkumpul
dalam beberapa barisan dan tak lama kemudian merubah formasi menjadi dua
kelompok besar.
Sempat terlintas dalam hati saat melihat perubahan formasi,
tersebut. “Oke, mungkin sebenarnya alam bawah sadarku hanya sedang mereka
ulang adegan dua gangster yang siap berseteru yang pernah kutonton.”
Laga pun dimulai, aku yang memang kurang suka dengan tayangan
bertema kekerasan sontak mengalihkan perhatian. Anehnya, suasana yang samar di
sekelilingku sepertinya tak berlaku ketika adegan itu terjadi karena ke mana pun
arah pandangan kubuang, aku tetap saja menjumpai penglihatan yang sama. Sebuah adegan
baku hantam dengan lawan yang tak seimbang.
Dua kubu yang semula terlihat sedang berseteru, tiba-tiba
menyatukan diri dalam satu lingkaran besar dan hanya menyisakan dua pemuda
berdiri di tengahnya. Bergantian dipukuli tanpa bisa memberikan perlawanan.
Terus seperti itu, hingga tersisa satu pemuda yang tetap berusaha untuk bangkit
meskipun telah berulangkali jatuh tersungkur. Sementara teman yang semula
menemaninya menahan derita, kulihat ia telah ikut mengisi lingkaran.
Tak dapat mendekat, tak pula bisa segera melarikan diri ketika
kulihat lebam memenuhi wajah yang sedang dijadikan target. Warna kulitnya pun
mulai berubah, tertutupi merahnya darah. Lawan yang tak seimbang itu akhirnya
tumbang dan sebelum akhirnya jatuh tersungkur sempat memberikan tatapan yang
tak akan pernah bisa kulupakan.
Kelu, menyaksikan seseorang dipukuli tanpa bisa berbuat sesuatu
untuk menolongnya. Hanya bisa menahan marah pada wajah-wajah yang merasa
memiliki kuasa untuk berbuat semena-mena sambil berusaha menemukan pemandu
jalan, berharap dia juga menyaksikannya. Kupikir, mengenakan pakaian yang sama
bisa sedikit membantu meredakan situasi, andai ia mampu untuk mendekat.
Namun, harapanku pupus karena yang kucari ternyata bertingkah tak
jauh berbeda denganku. Diam mematung. Tak hanya itu, pria misterius itupun
sempat memberi efek terapi kejut setelah melepas topinya. Wajahnya, tatapan
yang ia berikan, kenapa bisa sama persis seperti sang korban.
"Tatapan macam apa, itu? Apa maksudnya? Siapa sih kamu ini,
sebenernya? Seenaknya nyuruh aku ke sana kemari. Ugh! Mana yang aku liat
bawaannya bikin emosi melulu!" Aku mulai menggerutu.
Tak peduli apakah suaraku didengar, atau lagi-lagi hanya berbicara
dengan diri sendiri. Sudah pasrah, karena kutahu tak bisa terjaga mengikuti
mauku.
Lama sengaja mematung dan memandang lurus pria, itu. Sengaja pasang
aksi seperti bocah cilik yang sedang merajuk saat menolak melanjutkan perjalanan.
Semakin ia memaksa, berulangkali pula kutegaskan bahwa aku hanya ingin pulang.
Benar-benar seperti sedang beradu akting, mungkin pengalamanku ini
akan lebih mudah diterima jika berjalan dalam sebuah sinema. Tak ada bukti yang
dapat menguatkan petualangan sisi miring yang kubagikan. Satu-satunya alasan
untuk tetap membagikan kisah hidupku hanyalah keyakinan bahwa aku juga punya
hak hidup yang sama dan ini adalah kisah hidup yang kujalani. Percaya atau
tidak, tapi tidak sedikit orang-orang baru yang hadir dalam hidupku sebelumnya
telah lebih dulu mengisi bunga tidurku.
Kembali pada dua pengelana dimensi lain yang tengah beradu ego. Kami
terus terpaku pada keinginan masing-masing, sampai akhirnya pertahanan egoku lebih
dulu runtuh bersamaan dengan robohnya dinding pembatas jalan yang berada tak
jauh dari tempat kami berdiri. Tak ada guncangan hebat ataupun benda berat yang
menghantam tembok besar itu, tetapi tiba-tiba runtuh begitu saja. Dari
celah-celah dinding yang tersisa itulah, aku kembali melihat sahabatku. Berdiri
sendirian di seberang jalan. Bingung dan ketakutan.
"Wenk ... jangan ke situ!" Aku berusaha memperingatinya.
Sontak berlari melompati puing-puing yang menghalangi langkahku
ketika melihatnya mengayunkan langkah tanpa memperhatikan arah. Aku khawatir,
trotoar tempatnya berdiri terlalu tinggi dan dia bisa saja terjatuh jika tidak
memperhatikan langkahnya dengan benar. Bukan hanya itu, entah kenapa aku merasa
di depannya telah disiapkan sebuah perangkap yang bisa membahayakan hidupnya.
Meskipun masih tak mengerti sepenuhnya dengan situasi yang sedang
kuhadapi, tapi sebisa mungkin aku berusaha menepati janji yang kuucap pada
perjalanan, sebelumnya. Tak jauh berbeda dengan Alice saat menghitung semua
kejadian aneh yang pernah dilaluinya demi bisa menghadapi serangan Jabberwocky,
seperti itu pula yang biasa kulakukan agar tetap bisa menjaga akal sehatku setiap
kali terjebak mimpi aneh semacam, ini.
Teringat pada sang pemandu jalan, aku segera balik badan dan
berniat membujuknya untuk menolong sahabatku. Namun, lagi-lagi ia
mengecewakanku karena ternyata tak lagi ada di dekatku.
Setelah bersusah payah,
akhirnya berhasil melewati semua puing yang berserakan dan berjalan mendekati
sahabatku. Betapa terkejutnya aku ketika melihat sosok yang kucari ternyata sudah
berdiri di sisi kawan karibku. Hati semakin sibuk menduga-duga, siapa sebenarnya
orang ini. Seorang penolong, kah? Atau justru sedang berniat tidak baik pada
sahabatku.
Tak kurang dari sepuluh langkah, kini aku dapat melihat sahabat
yang selalu kurindukan dari dekat. Tatapan matanya, raut wajahnya masih
terlihat sama seperti saat ia mengatakan bahwa suaminya tak akan pernah pulang.
"Wenk … jangan takut, kamu nggak sendirian. Ada Dodot yang
selalu nemenin di samping kamu." Lisan seketika
tercekat ketika nama itu tiba-tiba saja terucap saat reflex beradu pandang
dengan sosok yang kini berdiri semakin dekat, dengannya.
"Kalo Iwenk nggak bisa denger suara aku, paling nggak aku bisa
mbantu njaga dia dari sesuatu yang nggak bisa dia liat."
Kembali membulatkan tekad dan mulai mempersiapkan diri dengan kemungkinan
yang akan terjadi karena aku mulai merasakan sensasi setiap kali sosok-sosok
negatif mulai mengganggu.
Dan benar saja, aura gelap yang meliputi sahabatku semakin terasa
dan kini ikut mengepungku. Bersamaan dengan kabut pekat yang datang, kulihat
sekumpulan anjing hitam menyeruak keluar. Mereka menyerang pemandu perjalananku
yang sedang berusaha melindungi sahabatku meski seketika itu juga ia terjatuh.
Tubuhnya menjadi tak berupa karena terkoyak taring-taring tajam gerombolan
hewan liar, itu. Isi perutnya terburai, bagian tubuhnya tercerai-berai, dan darah
tercecer di mana-mana.
Tubuhku seketika membeku ketika cipratan noda merah itu juga
mengenai wajahku. Rasa basah, hangat, licin, dan lengket yang kurasakan di
telapak kaki membuatku menyadari tengah berdiri di atas genangan darah. Namun,
tetap tak bisa berpindah tempat.
Selesai dengan pemandu perjalanan, mereka tengah bersiap pada
target berikutnya. Bergerak bersamaan mendekati sahabatku yang kini berdiri
tanpa perlindungan. Tak mungkin tinggal diam, tetapi juga tak tahu apa yang harus
kulakukan. Memintanya untuk segera pergi dari tempat itu pun sepertinya sia-sia
karena ia sama sekali tak menyadari keberadaanku.
Seperti dibuat mati kutu karena meski tahu apa yang sedang kualami
hanya sebatas mimpi, tapi anyirnya darah yang terciprat di wajah membuat semua terasa
begitu nyata. Masih berusaha mencari jalan keluar meski benda yang bisa
kutemukan hanyalah pecahan batu bata putih dari tembok yang runtuh. Aku mencoba
mengambil beberapa dan melemparkannya ke arah mereka.
"Pergi kalian! Awas aja kalo berani macem-macem! Pergi sana
... pergi!"
Aku terus melempari kumpulan anjing hitam itu sampai akhirnya terjaga.
Tepat di saat berhasil menarik perhatian mereka yang akhirnya berbalik arah dan
bersiap menyerangku.
No comments:
Post a Comment