Sedikit berbagi informasi tentang lucid dream dan istilah-istilah
dalam dunia metafisika yang kuperoleh dari berbagai sumber, termasuk lewat
mesin pencarian di internet.
Out-of-body experience (OBE) adalah sensasi kesadaran atau jiwa
seseorang seolah-olah terpisah dan keluar dari tubuh fisiknya, seringkali
disertai pengalaman melihat tubuh sendiri dari sudut pandang eksternal
(terapung di atas). Fenomena ini terkadang dikaitkan dengan astral projection,
bisa terjadi saat tidur, meditasi, atau situasi darurat. Para ahli saraf
menganggap OBE sebagai hasil dari gangguan integrasi sinyal tubuh (melihat,
mendengar, merasakan) di otak, yang menyebabkan representasi diri di luar
tubuh. Ini terkadang dianggap sebagai sensasi "anggota tubuh hantu"
(phantom limb) untuk seluruh tubuh. Meskipun terdengar mistis, sekitar 5%
populasi pernah mengalami satu atau dua kali OBE dalam hidup mereka.
Lucid dream sendiri adalah fenomena di mana seseorang sadar
sepenuhnya bahwa mereka sedang bermimpi saat mimpi itu sedang berlangsung.
Dalam keadaan ini, pemimpi sering kali dapat mengendalikan jalan cerita,
lingkungan, dan karakter dalam mimpi mereka. Fenomena ini umumnya terjadi pada
fase Rapid Eye Movement (REM). Lucid dream termasuk pengalaman umum dan survei
menunjukkan sekitar 55% orang dewasa pernah mengalaminya, setidaknya sekali.
Bulan Oktober tahun 2005 menjadi pengalaman lucid dream terpanjang
yang kualami selain petualanganku bersama Prameswari; jabang bayi yang menyapa
mimpiku di tahun 2012 dan terus mengajakku bertualang dan baru berakhir di
tahun 2016. Seperti diajak terlibat dalam proses syuting sinetron kejar tayang
yang dipersiapkan untuk beberapa musim, aku pun bertanya-tanya kapan kiranya perjalanan
kali ini akan berakhir.
Masih terbayang jelas kobaran api maha dasyat yang kulihat empat
bulan sebelum usiaku genap tujuh tahun. Perubahan warna apinya membuatku
seketika percaya ketika mengkaji kitab jannawannar yang menerangkan tentang
perubahan warna api neraka. Lidah api yang saling menjilat. Celakanya diri,
andai semua penampakan itu tetap tak mampu menumbuhkan keimanan dan menguatkan
keyakinan akan adanya hari pembalasan.
Kembali pada lucid dream di tahun 2005. Lelapku terganggu sebab
kehadiran seorang pria yang terus saja menatap ke arahku seolah-olah kami sudah
saling mengenal. Meski masih merasa asing, tapi anehnya aku lantas
menghampirinya. Berjalan di keheningan malam tanpa tahu tujuan, kulihat semesta
masih gelap gulita sementara teman seperjalananku tiba-tiba saja menghilang,
entah ke mana. Dan tak lama kemudian, sensasi terseret lubang cacing itu
kembali kurasakan.
Sekujur badan dibuat mengerut demikian pula dengan akal sehat yang
seakan-akan ikut terlepas dari kendali. Belum lagi berhasil menata diri, tiba-tiba
saja aku sudah ditempatkan dalam sebuah ruangan. Seperti kamar tidur karena aku
melihat ranjang besar tak jauh dari tempatku berdiri. Mencoba mengajak persendian
untuk kembali berfungsi, perlahan melangkah dan segera duduk di bibir ranjang
yang ternyata dipenuhi aneka kuntum bunga.
Hening. Tak lama kemudian lampu kamar menyala, tetapi tetap tak
mampu menundukkan gelap yang ada. Bukan hanya suhu di kamar yang terasa dingin,
tapi rupanya ranjang besar itupun tak kalah dinginnya dan membuat sendi-sendiku
bertambah ngilu. Sungguh tak mengerti, kenapa mendadak hati ini terasa nyeri.
“Kenapa bertabur bunga? Kenapa ditaburi bunga di atasnya, jika
bunga yang ditabur adalah kuntum-kuntum yang telah layu? Siapa pemilik kamar,
ini?” Aku sibuk dengan isi kepalaku.
Masih bertanya-tanya mengapa aku dibawa ke tempat, itu. Meski sadar
semua hanya mimpi, tapi aku sungguh berharap bisa segera terjaga. Namun,
seperti biasa, sekuat apa pun aku berusaha untuk bangun, tetap tak akan bisa.
Sementara gelap di dalam kamar kian merayap, udara dinginnya pun semakin
membut tubuhku menggigil. Sengaja memeluk bantal-guling yang ada dan tetap
kupertahankan dalam pelukan meski benda dalam pelukan tak kalah dinginnya
dengan suhu yang mengepung. Mencoba mengalihkan perhatian dengan memperhatikan
lebih seksama situasi dalam ruangan. Nampak kamar tersebut sebenarnya dihias
layaknya kamar pengantin baru, tetapi nuansa yang diciptakan justru membuatnya terlihat
kelabu. Ranjang yang dihias bunga menjadi tak selaras karena warna seprai yang
dipilih terlalu gelap, begitu juga dengan kuntum-kuntum bunga yang didominasi
mawar hitam yang telah layu membuat ruangan ranjang pengantin jadi terkesan
sendu.
Sungguh, inginnya melarikan diri saat itu juga. Berusaha sekuat
tenaga mendekati lubang yang telah menarikku dengan paksa. Namun, apalah daya. Berulangkali mencoba, tapi terus saja gagal, aku
pun akhirnya menyerah.
"Silakan, terserah apa maumu. Walaupun tidak menjamin bisa
membantu, tapi setidaknya aku akan mencoba semampuku." Ah, bisa jadi
kalimat tersebut memang sengaja kutujukan pada sang penunjuk jalan yang masih
bertahan dalam persembunyiannya.
Tak lama berselang, satu-satunya pintu yang terlihat jelas meski
terkurung pekat perlahan terbuka. Sinar yang dibawanya dari luar tetap tak
dapat menembus ke dalam kamar yang sedang membuatku ketakutan. Dari balik pintu
itu aku melihat siluet anggun berjalan mendekat.
Akhirnya dapat tersenyum lega ketika ternyata tak salah mengenali
postur Anggun yang kini telah berdiri di sampingku. Benar, aku tak mungkin bisa
melupakan sosok yang telah menjadi penguat sekaligus pemandu sorak terbaik selama
hampir tiga tahun melewati hari-hari penuh tekanan saat menjadi santriwati.
"Iwenk?"
Yang kusebut namanya hanya membalas sapaanku dengan senyuman, lalu duduk
di sampingku dan ikut mendekap bantal yang tersisa. Memainkan kuntum-kuntum
bunga kering dengan jemari tangan kanannya. "Dingin ya, Yan?" ucapnya,
datar.
Ah, setelah sekian lama berpisah, ternyata ia masih saja
memanggilku dengan nama panggilan itu. Oyan.
"Iya, aku sampe nggigil
gini. Liat deh ...," kujawab sambil menunjukkan tanganku yang gemetar.
"Ini kamar kamu? Milih warna sepreinya nggak banget, sih? Ciee, romantis
banget pake ditaburin bunga segala. Biar serasa jadi penganten baru terus,
niyeee ...." Masih berusaha mencairkan suasana.
Lagi-lagi, sahabatku semasa mondok hanya menjawab dengan senyuman.
Tatapan hampanya membuatku bertanya-tanya.
"Aku pulang ya, Wenk. Abis, dari tadi kamu cuma senyam-senyum,
aja. Takut aku liatnya. Nggak enak juga sama suami kamu. Entar kalo dia pulang
mau tidur di mana, hayo?"
Seketika, ia menarik dan menggenggam tanganku. Mengucapkan sesuatu
yang membuatku semakin bertanya-tanya, "Dia nggak akan pulang, Yan. Dia
udah punya rumah sendiri, sekarang."
Dan aku seketika terjaga setelah mendengarnya mengucapkan kalimat, itu.
No comments:
Post a Comment