[ …. Bukan hanya sekadar
dongeng belaka. Kisah tentang bulan terbelah kini juga disuguhkan dengan
bukti-bukti nyata dan semakin memperkuat penjelasan ilmiah yang sudah ada.]
***
Penasaran setelah ikut menyimak isi narasi dari tayangan yang
sedang dipantengi mas bojo usai salat Zuhur. Terpaksa membatalkan niat untuk muroja’ah
dan bergegas melepas rukuh dan melipat sajadah. Menuang dan mngoleskan sedikit
minyak zaitun untuk menghibur kulit wajah yang menjerit kekeringan karena belum
terbiasa dengan dinginnya kota Batu, sebelum akhirnya ikut rebahan di samping
suami dan memintanya memutar ulang tayangan, tadi.
Rasa takjub membuncah. Ilustrasi saat menggambarkan momen rembulan
terbelah seketika mengajakku bernostalgia. Keterangan sang narrator, disertai
bukti-bukti yang telah diklaim oleh para astronom tentang jejak yang tertinggal
menjadi bukti nyata bahwa rembulan memang pernah terbelah.
Konon katanya, nabi Muhammad pernah memanah rembulan untuk menjawab
sikap kaum Quraisy yang terus mendustakan dakwah beliau. Akan tetapi, meskipun
kaum Quraisy telah mendapat jawaban dari tantangan tersebut, mereka tetap saja mencari-cari
alasan untuk mengingkarinya. Namun, reaksi yang terjadi di luar kota Makkah
justru sebaliknya. Mukjizat tersebut ternyata telah menumbuhkan keimanan di hati
seorang raja dari luar jazirah Arab.
Lalu, apa hubungannya kisah bulan terbelah dengan catatan hidupku
kali ini?
Hmmm … masih dengan getaran yang sama setiap kali mendapati
penjelasan tentang kebenaran ayat-ayat di dalam Al-qur'an, juga kisah tentang
para Salafussalih yang menapaki jalan Tuhan. Kiranya, yang manakah aku setelah
mendapati banyak keterangan? Apakah menjadi kufur seperti Kafir Makkah meskipun
telah dihadirkan sang pembimbing langsung di tengah-tengah mereka ataukah menyatakan
diri beriman seperti raja India meski hanya sekilas melihat mukjizat tersebut dari
halaman istananya?
No comments:
Post a Comment