Misteri tumbal dan pati ternyata masih terus berlanjut meski bapak
sudah kembali sehat seperti sedia kala. Entah sosok yang ditugaskan untuk
menukar nyawa dengan lembar rupiah yang sengaja dibuang ke jalan masih
menyimpan dendam atau memang tidak akan berhenti sebelum jatah makannya
terpenuhi. Bapak yang sudah bisa kembali nyenyak terlelap saat malam, tapi
tidak dengan kantukku. Rasanya seperti ada yang terus mengawasi sejak kejadian,
itu.
Si pahit lidah. Julukan yang diberikan teman-teman sekelas sejak
resmi mengenakan seragam putih-biru. Entah mereka yang menyematkan julukan
tersebut sadar atau tidak, meski niatnya sebatas candaan, tetapi tetap saja
sebutan itu menjadi beban baru di sudut batinku. Dijadikan semacam ahli nujum
oleh teman-teman dengan alasan seru-seruan. Membaca garis tangan, menebak isi
pikiran sebelum lisan sempat bergerak, meramal hubungan percintaan, dan terkadang
membuat jalinan cinta terputus karena yang meminta bantuan juga jatuh cinta
pada orang yang sama.
Ah, nasehat untuk tetap menulis meski sepi pembaca memang benar
bermanfaat. Rasanya kepingan-kepingan hidup yang sempat menghilang pulang
dengan sendirinya. Nostalgia. Aku bahkan sempat lupa kalau aku juga pernah
muda. Ada lakon yang pernah kumainkan dengan begitu natural sebelum mengenal
kata-kata penghukuman. Murni menjalani hidup. Setulus hati membawakan peran.
Saking takutnya dengan sebutan fasiq dan menjadi pengikut Khurafat tanpa
sadar telah membuatku mengubur jati diri yang telah membuatku nyaman. Terus
menghapus warna sejati yang telah kupilih dan sebelumnya telah banyak membantu
mengenali wajah dunia. Seeing by believing. Meyakini ada kehidupan lain yang
juga berjalan sebagaimana manusia menjalani hari-harinya. Meyakini bahwa selain
cinta, kekuatan doa pun bisa disebut sebagai keajaiban yang paling nyata di
dunia.
Mahasuci Allah dengan segala Firman-Nya. Entah sudah berapa ragaku
berjalan tanpa gairah hidup yang membersamainya. Gagal memaknai masa yang terus
disediakan hanya karena hati memberi celah untuk terus diintervensi oleh manusia
lain yang berbeda sudut pandang. Menjadi permisif dengan segala bentuk
intimidasi dan penyeragaman hanya karena merasa alur hidup yang kujalani memang
berbeda, dan pada akhirnya ikut menghukumi bahwa kehidupan yang sudah kujalani
adalah kebohongan semata.
Petualangan sisi miring. Perjalanan ke dimensi lain. Ditampakkan
surga dan neraka sedari kecil. Bersahabat dengan malaikat maut, andai bisa aku
menuturkannya dengan kalimat tersebut karena entah sudah seberapa sering aku
ditempatkan dalam situasi seperti yang digambarkan film THE EYE.
Syirik! Aku sudah hapal benar dengan reaksi tersebut setiap kali
mencoba membagikan pengalaman spritualku. Ah, seharusnya bukan syirik melainkan
hikmah andai saja yang mendengar mau berfokus pada inti cerita yang kucoba bagikan.
Bukti bahwa malaikat maut bukan datang tanpa permisi, tetapi juga memberi tanda
andai kita mau menghayati kehidupan dengan lebih teliti. Sikap yang diambil seharusnya
adalah menjadikan cerita tersebut sebagai bahan renungan, andai benar mendapat jeda
sebelum malaikat maut selesai menggulung kembali naskah hidup kita. La haula
wala quwata illa billah.
Kenangan masa kecil saat selama beberapa tahun melihat nenekku yang
kesehatannya kian menurun setelah divonis kanker payudara. Hari-hari yang kami
lewati dengan ibuku yang setia merawat satu sayapnya yang tersisa dan aku yang
terkadang sengaja bersembunyi saat dimintai bantuan untuk menyiapkan gulungan
perban atau sekadar menuangkan cairan antiseptik ke dalam ember. Bukan enggan
membantu, tapi pandanganku selalu tertuju pada bayangan hitam yang selalu
berdiri di sisi kanan nenekku.
Pernah satu kali cerita, tapi tak ada yang percaya. Sedari dini aku
ditanamkan untuk menjadi pribadi yang jujur, karenanya aku akan sangat marah
jika ada yang menyebutku pembohong. Dikatakan berbohong hanya karena mereka
tidak melihat apa yang kulihat sudah barang tentu membuatku kecewa. Dan sejak saat
itu aku memilih diam dalam keanehanku.
“Sayang banget, anak secantik ini harus mati muda.”
Cikrak Sapuijuk sudah beranjak dewasa saat menggumamkan kalimat,
tersebut.
Lidah yang tak bertulang ini tiba-tiba saja lancang berseloroh melangkahi
tuannya. Menggumamkan kata-kata yang mengandung syirik samar karena mencoba
mendahului ketetapan Ilahi. Rizki, jodoh, dan pati.
Cukup lama tak bersosialisasi setelah pendidikan putus di tengah
jalan. Gagal membawa pulang dua ijazah. Ijazah SMA dan satu lagi ijazah yang
paling didamba orang tua. Ijazah yang bisa membuatku mendapat sebutan sebagai
Mubalighoh.
Rasa malu membuatku mengurung diri di rumah dan hanya keluar untuk
belanja keperluan dagangan dan berjualan es dengan durasi waktu yang tak lebih
dari lima jam. Kuusahakan sebelum waktu Zuhur tiba sudah kembali pulang ke
rumah. Sengaja menghindari orang-orang pengajian bisa dikatakan demikian
mengingat lapak yang kugelar ada di luar gerbang masjid tempat orang tuaku
biasa mengaji. Aku pun sebenarnya sudah resmi menjadi anggota organisasi keagamaan
yang sama dengan mereka setelah tahun kedua menjadi santriwati. Tapi, seperti
yang sudah kusampaikan, rasa malu tengah membunuhku secara perlahan.
Gejolak moneter di awal masa pendidikan, bapak yang tak lagi
memiliki sumber penghasilan tetap, ibu yang rela ikut banting tulang menjadi
buruh cuci hanya cukup untuk menutupi sewa rumah setiap bulannya. Sementara aku
yang sudah terlanjur berada di Jawa Timur hampir setengah tahun sempat ikut
terombang-ambing karena ketiadaan biaya. Dua pendidikan yang sedang kujalani
memakan biaya yang tidak sedikit. Hasbiallah, andai seperti kisah dalam sinema,
seharusnya masa tuaku kini tengah dipenuhi kesejahteraan dan kelimpahan harta
karena telah banyak menelan pahit dan getir kehidupan.
Menyaksikan teman-teman sebaya yang selaras dengan nuansa muda yang
abadi. Tinggal jauh dari keluarga, tapi tetap bisa menjalani kehidupan seperti
biasa. Dikunjungi, ditanya kabar meski sebatas panggilan suara. Mendapat uang
saku tanpa harus menanggung malu terlebih dahulu karena Namanya disebut lewat
pengeras suara saat mengumumkan nama-nama yang menunggak pembayaran.
Ah, mau tahu alasanku kenapa memilih berjualan es sarang burung selepas
dari pondok? Itu karena aku tak mampu membelinya selama hampir tiga tahun
menjadi santriwati. Bukan hanya es sarang burung, ada banyak makanan yang hanya
bisa membuatku menelan ludah saat melihat teman-teman menenteng jajanan
tersebut saat memasuki asrama putri. “Jika tidak mampu beli, maka aku harus
bisa membuatnya sendiri.” Menjadi kalimat penghiburku, kala itu.
Singkat cerita, entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba saja aku sudah
terdaftar dalam program anak asuh yang digalakan oleh pengurus organisasi
dengan beberapa syarat yang qadarullah pada akhirnya gagal kupenuhi dan ikut
mencoreng arang di wajah orang tuaku.
Aku baru mulai memberanikan diri kembali mengikuti pengajian
setelah pindah ke rumah kontrakan, tersebut. Lokasinya kebetulan memang ada di
belakang masjid tempat kami mengaji. Tidak begitu dekat, tapi seringnya
aktifitas kami memang harus melewati pelataran masjid. Sejak itulah, mau tidak
mau aku harus belajar mengubur rasa malu dan menutupi rasa bersalahku dengan
memperbanyak kegiatan amalsalih yang diadakan. Salah satunya dengan merutinkan
jadwal pengajian muda-mudi yang sebelumnya selalu kulewati.
Jadwal anjangsana, pengajian muda-mudi yang dilakukan bergilir ke
rumah setiap jamaah yang memiliki anak remaja. Ada di satu malam, yang mana itu
menjadi kali pertamaku mengikuti pengajian anjangsana. Perumahan Pondok pucung menjadi
tujuan kami. Angkutan umum yang kami sewa sudah tersedia, satu persatu peserta
pengajian pun sudah mulai mengisi kursi penumpang, dan di saat menunggu giliran
itulah lisan ini lancing bergumam.
Tak pernah menyangka bahwa adik kelasku yang selama dua tahun
menjadi kakak kelasnya tak pernah sekali pun melihatnya berhijab ternyata mengikuti
organisasi keagamaan yang sama denganku. Memang sempat heboh sendiri karena
setelah empat tahun menjadi anggota jamaah aku baru melihatnya di hari itu.
Satu tahun berlalu dan kami semakin sering bertemu dalam forum
pengajian, baik yang rutin diselenggarakan di masjid ataupun jadwal anjangsana.
Meski tidak terlalu akrab, tapi aku memang sering memperhatikannya. Bukan,
bukan karena wajahnya yang memang tidak membosankan untuk dilihat, tetapi lebih
kepada aura berbeda yang selalu mengikutinya. Sebisa mungkin menepis suara yang
terus membisikkan kalimat yang sama setiap kali menyadari keberadaannya,
terlebih ketika aku tahu ia mulai sakit-sakitan di tahun berikutnya.
“Dede takut, Mba’un. Rasanya tuh kayak ditarik-tarik paksa, gituh.
Dede udah nggak kuat. Dede capek kalo diginiin terus,” lirih suaranya berbisik
di telingaku ketika remaja masjid datang untuk membesuk.
Saat itu kami hanya berdua di ruangan yang bersekat lemari kayu
sebagai pemisah antara tempatnya beristirahat dan ruangan tempat muda-mudi lainnya
berbincang dengan orang tuanya. Kupandangi gadis remaja yang kutahu dulu menjadi
kembang sekolah, demikian pula di forum pengajian muda-mudi.
Postur tubuhnya yang ideal terlihat semakin ringkih. Rona yang
selalu terlihat di wajahnya pun ikut sirna dan menjadi pucat pasi seiring binar
mata yang seolah ikut meredup. Jemarinya tak lepas menggenggam tanganku, dengan
mata terpejam sesekali kudengar seperti sedang menginggau. Namun, tak lama
kemudian kembali membuka matanya dan menatapku dan mengulang kalimat yang sama.
“Hust, nggak boleh ngomong
gitu. Kan katanya selama sakit, dosa-dosa kita diampunin sama Allah. Dede hapal
Asma’ul Husna, kan? Atau, kita baca bareng-bareng, yah? Pelan-pelan aja, baca
yang bisa Dede inget. Diulang-ulang yang bisa bikin Dede nyaman juga nggak
papah. Insyaallah, Allah tambah seneng.”
Aku pun duduk di tepian ranjang dan mulai membisikkan lafaz Asma’ul
Husna sambil mengusap punggungnya. Sementara remaja masjid yang datang
bersamaku terdengar semakin serius berdialog dengan pemilik rumah. Samar
kudengar saat sang ibu menceritakan penyebab sakit yang diderita oleh anak
semata wayangnya, itu.
***
“Jahat! Jahat! Jahat!”
Aku terus memaki di dalam hati. Sengaja mempercepat langkah dan
memisahkan diri dari rombongan muda-mudi. Tak kupedulikan mereka yang asyik bersenda
gurau di sepanjang perjalanan pulang. Isi kepala kian ramai bersuara, sibuk
menyalahkan diri sendiri. Takut, jika apa yang sempat kuucapkan di awal
perjumpaan ikut menjadi perantara sakitnya. .
“Kenapa harus dengan cara itu? Tidak adakah cara lain untuk menjadi
kaya? Terus, kenapa seenaknya mengorbankan nyawa orang lain demi kesenangan
pribadi? Jahat! Jahat!”
Satu minggu berlalu, tetapi keterangan yang ikut kudengar saat
menjenguk Dede terus mengganggu. Entah alasan apa yang membuatku terus berpikir
bahwa sakitnya berhubungan dengan tumbal pesugihan. Entah kenapa pikiranku
terus tertuju pada isu banaspati yang tiba-tiba rajin berkeliling di desa kami.
Mungkin aku akan terus menyalahkan diri sendiri andai tidak
mengalami kejadian aneh itu, lagi. Kuingat saat itu, aku baru selesai salat Zuhur.
Sengaja berlama-lama di atas sajadah sambil menunggu waktu Asar meski pada
akhirnya wudu yang kusimpan kalah dengan kantuk yang tak bisa kulawan. Samar
sejenak, tapi lambat laun aku bisa melihat dengan jelas diriku sendiri sudah terlelap
di atas sajadah, masih kengkap dengan abaya salat.
Sudah sedikit terbiasa berdiri di samping jasad sendiri, untuk
selanjutnya hanya bisa mempersiapkan diri menyambut apa pun itu yang akan menyapaku.
“Kamu lagi! Kita lihat, kalau sudah seperti ini, apa masih bisa melawan?!”
Seketika dibuat terkejut oleh sosok yang nampak tak asing bagiku
meski sempat termangu karena melihatnya bisa membelah diri menjadi tiga. Iya,
kini ada tiga sosok hitam tinggi besar di hadapanku yang siap menyerang. Sekali
lagi melirik ragaku diriku yang masih nyenyak tertidur saat berusaha menyembunyikan
rasa takut yang mulai menjalar sekaligus berharap ibuku yang terdengar ramai
berbincang dengan tetangga di teras depan rumah menyudahi percakapan agar masuk
dan membangunkan aku.
“Hahaa …! Kenapa? Takut, ya? Makanya, jangan sok-sok’an kamu! Nantang-nantang,
ikut campur urusan orang! Urusin aja masalahmu sendiri dan jangan mengganggu majikan
kami!” seru salah satu dari mereka.
Jujur, aku bingung kenapa tiapkali makhluk-makhluk semacam itu
mendatangiku mereka selalu mengucapkan kalimat yang sama.
“Maaf, ini maksudnya apa,
ya? Ikut campur dalam hal, apa? Memangnya siapa majikan kalian? Lagian, kapan
aku pernah nantang kalian? Memang benar aku takut, tapi aku lebih takut sama
Pencipta kita. Lagian juga, apa kalian nggak malu maen keroyokan gini? Tiga
lawan satu, yang dilawan perempuan, pula.” Dan di saat genting seperti itu, kuda-kuda
yang kupasang selalu tingkah lucu raja kura-kura tua tiap kali menceritakan
pengalaman mistiknya.
“Halah, jangan kebanyakan ngomong, kamu! Sekarang, tanggung sendiri
akibatnya karena sudah berani menghalangi jatah majikan kami!”
Rasanya seperti masuk ke dalam adegan film Mandarin yang
terperangkap dalam dunia siluman ketika tiga makhluk besar itu mulai menyerang
sementara aku hanya bisa mempertahankan diri dengan menghindari setiap
serangan. Sempat kewalahan saat ketiganya menyerang secara bersamaan dan
membuatku jatuh tersungkur. Mustahil yang kualami saat itu hanya sebatas mimpi
buruk karena aku bisa merasakan panas dan nyeri ketika kulitku beradu dengan
aspal kasar saat terjatuh, demikian pula ketika ketiganya berhasil membuatku terseret
ke dalam angin puyuh buatan mereka. Sempat menjerit karena memang terasa sakit,
tapi itu juga kusengaja, berharap ada yang mendengar dan membangunkan aku.
Namun, rupanya usahaku
sia-sia. Ketiga makhluk itu kulihat semakin menikmati saat menjadikan aku
bulan-bulanan mereka. Pongah tertawa, merasa kemenangan mereka sudah di depan
mata karena melihatku yang tak lagi mampu berdiri.
Rasa sakit semakin menjalar di sekujur badan, napas pun kian
tersengal. Aku berpikir, andai benar hanya mimpi, setidaknya bunga tidur ini
tetaplah punyaku dan aku tak rela jika dirampas oleh tamu tak diundang. Jadi, sudah
seharusnya aku serius memberikan perlawanan.
“Astaghfirullahal’azhiim! Jahat,
ya. Emang nggak ada cara lain? Inget, ajal pati itu Allah yang kuasa. Kalau
usaha kalian sampai berhasil pun itu udah atas seizin Allah.” Aku ingat sengaja
menarik napas Panjang karena sekilas teringat adegan saat biksu Tong khusyuk
merapal mantra untuk mengikat Sun go kong yang mulai nakal. “Dari awal udah
kubilang, kalaupun aku takut, aku cuma takut sama Pencipta kita. Bilang sama
majikan kamu, aku sama sekali nggak punya urusan sama dia! Yang aku lakuin
selama ini cuma ngelindungin keluarga aku. Itu, aja!”
Hehee … aku masih ingat efek greenscreen yang kubayangkan selesai
membaca doa andalan tiapkali menjumpai situasi serupa. Membayangkan rangkaian
doa itu berubah menjadi rantai Andromeda milik Sun dan kugunakan sebagai
senjata untuk melawan mereka. Ujung mata rantai yang tak pernah melepaskan
sasarannya dan segera berubah menjadi besi panas begitu berhasil melilit tubuh
musuh Masih membekas jelas momen saat tubuh dua di antaranya hancur menjadi
debu dan hilang terbawa angin.
Terkejut melihat kedua temannya musnah, sang ketua sempat
melontarkan ancaman sebelum tubuhnya juga terikat oleh rantai doa yang kubuat. Adegannya
sama persis seperti saat pertama kali kami bertemu. Dan tak lama kemudian, akhirnya
aku pun terjaga.
Seperti biasa, aku
akan terlihat seperti orang linglung setelah mengalami mimpi semacam, itu. Tak
berani beranjak dari tempat salat dan enggan menjauhkan diri dari sahabat
terbaikku. Ya, Al-qur’an kecil bersampul hijau yang kubeli saat asrama Ramadan
tahun 2003.
Azan Asar bersahutan
tak lama kemudian. Bergegas merapikan rumah agar bisa segera kembali duduk di
atas sajadah menunggu waktu maghrib di sana. Mengulang ayat-ayat yang bisa
membuatku merasa lebih tenang dan membantu melupakan ancaman yang terus
terngiang. Belum lagi berhasil menghapus rasa cemas, jantungku kembali dibuat berdebar
kencang ketika ibuku membawa kabar duka usai menunaikan salat Magrib di masjid.
“Bund, si Dede meninggal. Mama mau ngelawat, kamu mau ikut, nggak?”
“Innalillahi wa
inna ilaihi roji’un …. Nggak langsung dimakamin malam ini, kan, Mim? Nie’
bareng muda-mudi aja, lah.” Menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari Al-Qur’an
yang kupegang.
Hanya bisa mematung setelah mendengar berita, tersebut. Berusaha
meyakinkan diri sendiri bahwa semua yang terjadi murni ketetapan Sang Khaliq.
No comments:
Post a Comment