Sunday, May 17, 2026

DISAPA BANASPATI(MISTERI TUMBAL DAN PATI)

 

Misteri tumbal dan pati ternyata masih terus berlanjut meski bapak sudah kembali sehat seperti sedia kala. Entah sosok yang ditugaskan untuk menukar nyawa dengan lembar rupiah yang sengaja dibuang ke jalan masih menyimpan dendam atau memang tidak akan berhenti sebelum jatah makannya terpenuhi. Bapak yang sudah bisa kembali nyenyak terlelap saat malam, tapi tidak dengan kantukku. Rasanya seperti ada yang terus mengawasi sejak kejadian, itu.

Si pahit lidah. Julukan yang diberikan teman-teman sekelas sejak resmi mengenakan seragam putih-biru. Entah mereka yang menyematkan julukan tersebut sadar atau tidak, meski niatnya sebatas candaan, tetapi tetap saja sebutan itu menjadi beban baru di sudut batinku. Dijadikan semacam ahli nujum oleh teman-teman dengan alasan seru-seruan. Membaca garis tangan, menebak isi pikiran sebelum lisan sempat bergerak, meramal hubungan percintaan, dan terkadang membuat jalinan cinta terputus karena yang meminta bantuan juga jatuh cinta pada orang yang sama.

Ah, nasehat untuk tetap menulis meski sepi pembaca memang benar bermanfaat. Rasanya kepingan-kepingan hidup yang sempat menghilang pulang dengan sendirinya. Nostalgia. Aku bahkan sempat lupa kalau aku juga pernah muda. Ada lakon yang pernah kumainkan dengan begitu natural sebelum mengenal kata-kata penghukuman. Murni menjalani hidup. Setulus hati membawakan peran.

Saking takutnya dengan sebutan fasiq dan menjadi pengikut Khurafat tanpa sadar telah membuatku mengubur jati diri yang telah membuatku nyaman. Terus menghapus warna sejati yang telah kupilih dan sebelumnya telah banyak membantu mengenali wajah dunia. Seeing by believing. Meyakini ada kehidupan lain yang juga berjalan sebagaimana manusia menjalani hari-harinya. Meyakini bahwa selain cinta, kekuatan doa pun bisa disebut sebagai keajaiban yang paling nyata di dunia.

Mahasuci Allah dengan segala Firman-Nya. Entah sudah berapa ragaku berjalan tanpa gairah hidup yang membersamainya. Gagal memaknai masa yang terus disediakan hanya karena hati memberi celah untuk terus diintervensi oleh manusia lain yang berbeda sudut pandang. Menjadi permisif dengan segala bentuk intimidasi dan penyeragaman hanya karena merasa alur hidup yang kujalani memang berbeda, dan pada akhirnya ikut menghukumi bahwa kehidupan yang sudah kujalani adalah kebohongan semata.

Petualangan sisi miring. Perjalanan ke dimensi lain. Ditampakkan surga dan neraka sedari kecil. Bersahabat dengan malaikat maut, andai bisa aku menuturkannya dengan kalimat tersebut karena entah sudah seberapa sering aku ditempatkan dalam situasi seperti yang digambarkan film THE EYE.

Syirik! Aku sudah hapal benar dengan reaksi tersebut setiap kali mencoba membagikan pengalaman spritualku. Ah, seharusnya bukan syirik melainkan hikmah andai saja yang mendengar mau berfokus pada inti cerita yang kucoba bagikan. Bukti bahwa malaikat maut bukan datang tanpa permisi, tetapi juga memberi tanda andai kita mau menghayati kehidupan dengan lebih teliti. Sikap yang diambil seharusnya adalah menjadikan cerita tersebut sebagai bahan renungan, andai benar mendapat jeda sebelum malaikat maut selesai menggulung kembali naskah hidup kita. La haula wala quwata illa billah.

Kenangan masa kecil saat selama beberapa tahun melihat nenekku yang kesehatannya kian menurun setelah divonis kanker payudara. Hari-hari yang kami lewati dengan ibuku yang setia merawat satu sayapnya yang tersisa dan aku yang terkadang sengaja bersembunyi saat dimintai bantuan untuk menyiapkan gulungan perban atau sekadar menuangkan cairan antiseptik ke dalam ember. Bukan enggan membantu, tapi pandanganku selalu tertuju pada bayangan hitam yang selalu berdiri di sisi kanan nenekku.

Pernah satu kali cerita, tapi tak ada yang percaya. Sedari dini aku ditanamkan untuk menjadi pribadi yang jujur, karenanya aku akan sangat marah jika ada yang menyebutku pembohong. Dikatakan berbohong hanya karena mereka tidak melihat apa yang kulihat sudah barang tentu membuatku kecewa. Dan sejak saat itu aku memilih diam dalam keanehanku.

“Sayang banget, anak secantik ini harus mati muda.”

Cikrak Sapuijuk sudah beranjak dewasa saat menggumamkan kalimat, tersebut.

Lidah yang tak bertulang ini tiba-tiba saja lancang berseloroh melangkahi tuannya. Menggumamkan kata-kata yang mengandung syirik samar karena mencoba mendahului ketetapan Ilahi. Rizki, jodoh, dan pati.

Cukup lama tak bersosialisasi setelah pendidikan putus di tengah jalan. Gagal membawa pulang dua ijazah. Ijazah SMA dan satu lagi ijazah yang paling didamba orang tua. Ijazah yang bisa membuatku mendapat sebutan sebagai Mubalighoh.

Rasa malu membuatku mengurung diri di rumah dan hanya keluar untuk belanja keperluan dagangan dan berjualan es dengan durasi waktu yang tak lebih dari lima jam. Kuusahakan sebelum waktu Zuhur tiba sudah kembali pulang ke rumah. Sengaja menghindari orang-orang pengajian bisa dikatakan demikian mengingat lapak yang kugelar ada di luar gerbang masjid tempat orang tuaku biasa mengaji. Aku pun sebenarnya sudah resmi menjadi anggota organisasi keagamaan yang sama dengan mereka setelah tahun kedua menjadi santriwati. Tapi, seperti yang sudah kusampaikan, rasa malu tengah membunuhku secara perlahan.

Gejolak moneter di awal masa pendidikan, bapak yang tak lagi memiliki sumber penghasilan tetap, ibu yang rela ikut banting tulang menjadi buruh cuci hanya cukup untuk menutupi sewa rumah setiap bulannya. Sementara aku yang sudah terlanjur berada di Jawa Timur hampir setengah tahun sempat ikut terombang-ambing karena ketiadaan biaya. Dua pendidikan yang sedang kujalani memakan biaya yang tidak sedikit. Hasbiallah, andai seperti kisah dalam sinema, seharusnya masa tuaku kini tengah dipenuhi kesejahteraan dan kelimpahan harta karena telah banyak menelan pahit dan getir kehidupan.

Menyaksikan teman-teman sebaya yang selaras dengan nuansa muda yang abadi. Tinggal jauh dari keluarga, tapi tetap bisa menjalani kehidupan seperti biasa. Dikunjungi, ditanya kabar meski sebatas panggilan suara. Mendapat uang saku tanpa harus menanggung malu terlebih dahulu karena Namanya disebut lewat pengeras suara saat mengumumkan nama-nama yang menunggak pembayaran.

Ah, mau tahu alasanku kenapa memilih berjualan es sarang burung selepas dari pondok? Itu karena aku tak mampu membelinya selama hampir tiga tahun menjadi santriwati. Bukan hanya es sarang burung, ada banyak makanan yang hanya bisa membuatku menelan ludah saat melihat teman-teman menenteng jajanan tersebut saat memasuki asrama putri. “Jika tidak mampu beli, maka aku harus bisa membuatnya sendiri.” Menjadi kalimat penghiburku, kala itu.

Singkat cerita, entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba saja aku sudah terdaftar dalam program anak asuh yang digalakan oleh pengurus organisasi dengan beberapa syarat yang qadarullah pada akhirnya gagal kupenuhi dan ikut mencoreng arang di wajah orang tuaku.

Aku baru mulai memberanikan diri kembali mengikuti pengajian setelah pindah ke rumah kontrakan, tersebut. Lokasinya kebetulan memang ada di belakang masjid tempat kami mengaji. Tidak begitu dekat, tapi seringnya aktifitas kami memang harus melewati pelataran masjid. Sejak itulah, mau tidak mau aku harus belajar mengubur rasa malu dan menutupi rasa bersalahku dengan memperbanyak kegiatan amalsalih yang diadakan. Salah satunya dengan merutinkan jadwal pengajian muda-mudi yang sebelumnya selalu kulewati.

Jadwal anjangsana, pengajian muda-mudi yang dilakukan bergilir ke rumah setiap jamaah yang memiliki anak remaja. Ada di satu malam, yang mana itu menjadi kali pertamaku mengikuti pengajian anjangsana. Perumahan Pondok pucung menjadi tujuan kami. Angkutan umum yang kami sewa sudah tersedia, satu persatu peserta pengajian pun sudah mulai mengisi kursi penumpang, dan di saat menunggu giliran itulah lisan ini lancing bergumam.

Tak pernah menyangka bahwa adik kelasku yang selama dua tahun menjadi kakak kelasnya tak pernah sekali pun melihatnya berhijab ternyata mengikuti organisasi keagamaan yang sama denganku. Memang sempat heboh sendiri karena setelah empat tahun menjadi anggota jamaah aku baru melihatnya di hari itu.

Satu tahun berlalu dan kami semakin sering bertemu dalam forum pengajian, baik yang rutin diselenggarakan di masjid ataupun jadwal anjangsana. Meski tidak terlalu akrab, tapi aku memang sering memperhatikannya. Bukan, bukan karena wajahnya yang memang tidak membosankan untuk dilihat, tetapi lebih kepada aura berbeda yang selalu mengikutinya. Sebisa mungkin menepis suara yang terus membisikkan kalimat yang sama setiap kali menyadari keberadaannya, terlebih ketika aku tahu ia mulai sakit-sakitan di tahun berikutnya.

“Dede takut, Mba’un. Rasanya tuh kayak ditarik-tarik paksa, gituh. Dede udah nggak kuat. Dede capek kalo diginiin terus,” lirih suaranya berbisik di telingaku ketika remaja masjid datang untuk membesuk.

Saat itu kami hanya berdua di ruangan yang bersekat lemari kayu sebagai pemisah antara tempatnya beristirahat dan ruangan tempat muda-mudi lainnya berbincang dengan orang tuanya. Kupandangi gadis remaja yang kutahu dulu menjadi kembang sekolah, demikian pula di forum pengajian muda-mudi.

Postur tubuhnya yang ideal terlihat semakin ringkih. Rona yang selalu terlihat di wajahnya pun ikut sirna dan menjadi pucat pasi seiring binar mata yang seolah ikut meredup. Jemarinya tak lepas menggenggam tanganku, dengan mata terpejam sesekali kudengar seperti sedang menginggau. Namun, tak lama kemudian kembali membuka matanya dan menatapku dan mengulang kalimat yang sama.

 “Hust, nggak boleh ngomong gitu. Kan katanya selama sakit, dosa-dosa kita diampunin sama Allah. Dede hapal Asma’ul Husna, kan? Atau, kita baca bareng-bareng, yah? Pelan-pelan aja, baca yang bisa Dede inget. Diulang-ulang yang bisa bikin Dede nyaman juga nggak papah. Insyaallah, Allah tambah seneng.”

Aku pun duduk di tepian ranjang dan mulai membisikkan lafaz Asma’ul Husna sambil mengusap punggungnya. Sementara remaja masjid yang datang bersamaku terdengar semakin serius berdialog dengan pemilik rumah. Samar kudengar saat sang ibu menceritakan penyebab sakit yang diderita oleh anak semata wayangnya, itu.

***

“Jahat! Jahat! Jahat!”

Aku terus memaki di dalam hati. Sengaja mempercepat langkah dan memisahkan diri dari rombongan muda-mudi. Tak kupedulikan mereka yang asyik bersenda gurau di sepanjang perjalanan pulang. Isi kepala kian ramai bersuara, sibuk menyalahkan diri sendiri. Takut, jika apa yang sempat kuucapkan di awal perjumpaan ikut menjadi perantara sakitnya. .

“Kenapa harus dengan cara itu? Tidak adakah cara lain untuk menjadi kaya? Terus, kenapa seenaknya mengorbankan nyawa orang lain demi kesenangan pribadi? Jahat! Jahat!”

Satu minggu berlalu, tetapi keterangan yang ikut kudengar saat menjenguk Dede terus mengganggu. Entah alasan apa yang membuatku terus berpikir bahwa sakitnya berhubungan dengan tumbal pesugihan. Entah kenapa pikiranku terus tertuju pada isu banaspati yang tiba-tiba rajin berkeliling di desa kami.

Mungkin aku akan terus menyalahkan diri sendiri andai tidak mengalami kejadian aneh itu, lagi. Kuingat saat itu, aku baru selesai salat Zuhur. Sengaja berlama-lama di atas sajadah sambil menunggu waktu Asar meski pada akhirnya wudu yang kusimpan kalah dengan kantuk yang tak bisa kulawan. Samar sejenak, tapi lambat laun aku bisa melihat dengan jelas diriku sendiri sudah terlelap di atas sajadah, masih kengkap dengan abaya salat.

Sudah sedikit terbiasa berdiri di samping jasad sendiri, untuk selanjutnya hanya bisa mempersiapkan diri menyambut apa pun itu yang akan menyapaku.

“Kamu lagi! Kita lihat, kalau sudah seperti ini, apa masih bisa melawan?!”

Seketika dibuat terkejut oleh sosok yang nampak tak asing bagiku meski sempat termangu karena melihatnya bisa membelah diri menjadi tiga. Iya, kini ada tiga sosok hitam tinggi besar di hadapanku yang siap menyerang. Sekali lagi melirik ragaku diriku yang masih nyenyak tertidur saat berusaha menyembunyikan rasa takut yang mulai menjalar sekaligus berharap ibuku yang terdengar ramai berbincang dengan tetangga di teras depan rumah menyudahi percakapan agar masuk dan membangunkan aku.

“Hahaa …! Kenapa? Takut, ya? Makanya, jangan sok-sok’an kamu! Nantang-nantang, ikut campur urusan orang! Urusin aja masalahmu sendiri dan jangan mengganggu majikan kami!” seru salah satu dari mereka.

Jujur, aku bingung kenapa tiapkali makhluk-makhluk semacam itu mendatangiku mereka selalu mengucapkan kalimat yang sama.

 “Maaf, ini maksudnya apa, ya? Ikut campur dalam hal, apa? Memangnya siapa majikan kalian? Lagian, kapan aku pernah nantang kalian? Memang benar aku takut, tapi aku lebih takut sama Pencipta kita. Lagian juga, apa kalian nggak malu maen keroyokan gini? Tiga lawan satu, yang dilawan perempuan, pula.” Dan di saat genting seperti itu, kuda-kuda yang kupasang selalu tingkah lucu raja kura-kura tua tiap kali menceritakan pengalaman mistiknya.

“Halah, jangan kebanyakan ngomong, kamu! Sekarang, tanggung sendiri akibatnya karena sudah berani menghalangi jatah majikan kami!”

Rasanya seperti masuk ke dalam adegan film Mandarin yang terperangkap dalam dunia siluman ketika tiga makhluk besar itu mulai menyerang sementara aku hanya bisa mempertahankan diri dengan menghindari setiap serangan. Sempat kewalahan saat ketiganya menyerang secara bersamaan dan membuatku jatuh tersungkur. Mustahil yang kualami saat itu hanya sebatas mimpi buruk karena aku bisa merasakan panas dan nyeri ketika kulitku beradu dengan aspal kasar saat terjatuh, demikian pula ketika ketiganya berhasil membuatku terseret ke dalam angin puyuh buatan mereka. Sempat menjerit karena memang terasa sakit, tapi itu juga kusengaja, berharap ada yang mendengar dan membangunkan aku.

 Namun, rupanya usahaku sia-sia. Ketiga makhluk itu kulihat semakin menikmati saat menjadikan aku bulan-bulanan mereka. Pongah tertawa, merasa kemenangan mereka sudah di depan mata karena melihatku yang tak lagi mampu berdiri.

Rasa sakit semakin menjalar di sekujur badan, napas pun kian tersengal. Aku berpikir, andai benar hanya mimpi, setidaknya bunga tidur ini tetaplah punyaku dan aku tak rela jika dirampas oleh tamu tak diundang. Jadi, sudah seharusnya aku serius memberikan perlawanan.

 “Astaghfirullahal’azhiim! Jahat, ya. Emang nggak ada cara lain? Inget, ajal pati itu Allah yang kuasa. Kalau usaha kalian sampai berhasil pun itu udah atas seizin Allah.” Aku ingat sengaja menarik napas Panjang karena sekilas teringat adegan saat biksu Tong khusyuk merapal mantra untuk mengikat Sun go kong yang mulai nakal. “Dari awal udah kubilang, kalaupun aku takut, aku cuma takut sama Pencipta kita. Bilang sama majikan kamu, aku sama sekali nggak punya urusan sama dia! Yang aku lakuin selama ini cuma ngelindungin keluarga aku. Itu, aja!”

Hehee … aku masih ingat efek greenscreen yang kubayangkan selesai membaca doa andalan tiapkali menjumpai situasi serupa. Membayangkan rangkaian doa itu berubah menjadi rantai Andromeda milik Sun dan kugunakan sebagai senjata untuk melawan mereka. Ujung mata rantai yang tak pernah melepaskan sasarannya dan segera berubah menjadi besi panas begitu berhasil melilit tubuh musuh Masih membekas jelas momen saat tubuh dua di antaranya hancur menjadi debu dan hilang terbawa angin.

Terkejut melihat kedua temannya musnah, sang ketua sempat melontarkan ancaman sebelum tubuhnya juga terikat oleh rantai doa yang kubuat. Adegannya sama persis seperti saat pertama kali kami bertemu. Dan tak lama kemudian, akhirnya aku pun terjaga.

            Seperti biasa, aku akan terlihat seperti orang linglung setelah mengalami mimpi semacam, itu. Tak berani beranjak dari tempat salat dan enggan menjauhkan diri dari sahabat terbaikku. Ya, Al-qur’an kecil bersampul hijau yang kubeli saat asrama Ramadan tahun 2003.

            Azan Asar bersahutan tak lama kemudian. Bergegas merapikan rumah agar bisa segera kembali duduk di atas sajadah menunggu waktu maghrib di sana. Mengulang ayat-ayat yang bisa membuatku merasa lebih tenang dan membantu melupakan ancaman yang terus terngiang. Belum lagi berhasil menghapus rasa cemas, jantungku kembali dibuat berdebar kencang ketika ibuku membawa kabar duka usai menunaikan salat Magrib di masjid.

“Bund, si Dede meninggal. Mama mau ngelawat, kamu mau ikut, nggak?”

            “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un …. Nggak langsung dimakamin malam ini, kan, Mim? Nie’ bareng muda-mudi aja, lah.” Menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari Al-Qur’an yang kupegang.

Hanya bisa mematung setelah mendengar berita, tersebut. Berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semua yang terjadi murni ketetapan Sang Khaliq.

No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...