Melebur dalam gelap tanpa harus ikut lenyap. Lancang menjadi Tuhan
kecil untuk sesaat. Ikut mengatur bidak di atas papan catur yang sudah tergelar
meski langkah dalam permainan yang kutahu hanya sebatas pion digerakkan pertama
kali sebagai pembuka langkah.
Pion. Sama halnya seperti aku yang tak ubahnya bidak-bidak catur
itu. Digerakkan tanpa bisa menentang arah. Dikorbankan tanpa bisa melakukan
perlawanan. Tanpa sempat terpikir tentang hasil akhir dari sebuah permainan. Menang
atau kalah, karena Gerak bidak-bidak tersebut sepenuhnya ada dalam kendali
jemari yang menggenggam.
Kedepannya aku berharap dapat menemukan penjelasan yang lebih masuk
akal terkait kondisi mentalku, kala itu. Sisi miring yang terus menarikku lebih
jauh ke dalam dimensi yang membuat nama Khurafat diabadikan sebagai bentuk
konotasi negatif dari sebuah keyakinan yang tak dapat dibuktikan. Diberi
kesempatan untuk membuktikan keberadaan entitas yang memiliki aktivitas
spiritual sama halnya dengan manusia pada umumnya.
Wa ma kholaqtuljinna wal insa illa liya’budun. Apa sebenarnya
penjelasan dari keterangan tersebut. Jika benar memiliki arti bahwa manusia dan
jin diciptakan adalah untuk beribadah pada Sang Pencipta, lalu mengapa laju
kehidupan seolah-olah mengeliminasi keberadaan salah satu makhluk dan
merendahkan makhluk lainnya hanya karena memiliki pandangan yang berbeda.
Mengapa seseorang bisa begitu mudah memberikan reaksi untuk sesuatu
yang tidak ada kaitannya dengan mereka. Kenapa bisa seseorang dengan begitu
mudahnya ikut mencibir bahkan membenci hanya karena menerima kabar yang bahkan
tidak ditangkap oleh mata dan telinga, sendiri. Bagaimana mungkin lisan yang
setiap harinya digunakan untuk menyanjung asma Allah bisa dengan mudah
menguatkan dan ikut menebar prasangka buruk meski tabayun telah dilakukan.
Betapa tidak berimbangnya penghukuman yang dilepas ketika satu kasus yang sama
dihadapkan pada dua kasta yang berbeda.
Ah, lagi-lagi tentang pengkelasan. Hasil akhir ragam ujian hidup pun seringnya berujung pada kasta yang sedang menjalaninya. Entah itu romansa, ekonomi, kesehatan,
dan dalam catatan sisi miring ini tentu saja cobaan yang berkaitan dengan dunia
metafisika.
Mungkin alur kisahku akan sedikit berbeda andai aku terlahir dari
keluarga yang berada seperti halnya tetangga dekat rumah yang anaknya tak sepi
sanjungan hanya karena satu kejadian. Melihat aktivitas entitas di rumahnya, makhluk
kecil botak sedang bermain di anak tangga yang mengarah ke lantai yang
digunakan untuk menjemur pakaian. Penglihatan yang kurang lebih sama, yang
pernah kusampaikan jauh sebelumnya, tapi mendapat respon berbeda.
Hahaa …. Ternyata dunia metafisika juga menerapkan sistem kasta. Fungsi
dan kemampuan Indra keenam seseorang juga harus terlebih dahulu ditimbang lewat
jumlah saldo dalam rekening yang bersangkutan. Semakin tinggi status sosialnya
maka setiap cerita yang disampaikan akan menguat dengan sendirinya.
Berbanding terbalik dengan peran yang akhirnya kuambil. Tak mengapa
disebut menjadi pengikut Khurafat selama aku bisa melewati babak sisi miring
ini secepatnya. Menyelipkan sebanyak mungkin jejak di setiap episodenya agar bisa
membedakan antara mimpi dan kenyataan.
Puding kopi yang berampas, sendok goreng tanpa kertas kado,
undangan bergambar wayang, pelaminan dengan nuansa hijau-maroon. Gaun biru yang
urung kugunakan di hari Istimewa sang kumbang.
Mengutak-atik kisah cinta segi banyak. Bunga pertama yang dilamar
oleh kumbang baru yang sebelumnya sempat meminang bunga kedua sementara sang
kumbang idola memilih mereguk madu hanya dari kuntum bunga yang membuatnya
jatuh hati sejak kecil. Lalu, bunga kedua menikah dengan kumbang pengelana yang
baru beberapa kali dijumpainya. Kumbang dengan wajah sama persis seperti yang kulihat
dalam mimpi. Sosok yang mendorongku menjauh dari pelaminan bernuansa
hijau-maroon.
Mendorongku sampai terjatuh sekali lagi ke dalam kubangan lumpur.
Tapi, kali ini aku terjatuh dengan senyuman serta hati seringan kapas.
“Tak mengapa, karena setelah ini aku bisa bebas menari di bawah hujan bunga warna-warni.”
No comments:
Post a Comment