Thursday, May 14, 2026

MELEBUR DALAM GELAP(2)

Melebur dalam gelap tanpa harus ikut lenyap. Lancang menjadi Tuhan kecil untuk sesaat. Ikut mengatur bidak di atas papan catur yang sudah tergelar meski langkah dalam permainan yang kutahu hanya sebatas pion digerakkan pertama kali sebagai pembuka langkah.

Pion. Sama halnya seperti aku yang tak ubahnya bidak-bidak catur itu. Digerakkan tanpa bisa menentang arah. Dikorbankan tanpa bisa melakukan perlawanan. Tanpa sempat terpikir tentang hasil akhir dari sebuah permainan. Menang atau kalah, karena Gerak bidak-bidak tersebut sepenuhnya ada dalam kendali jemari yang menggenggam.

Kedepannya aku berharap dapat menemukan penjelasan yang lebih masuk akal terkait kondisi mentalku, kala itu. Sisi miring yang terus menarikku lebih jauh ke dalam dimensi yang membuat nama Khurafat diabadikan sebagai bentuk konotasi negatif dari sebuah keyakinan yang tak dapat dibuktikan. Diberi kesempatan untuk membuktikan keberadaan entitas yang memiliki aktivitas spiritual sama halnya dengan manusia pada umumnya.

Wa ma kholaqtuljinna wal insa illa liya’budun. Apa sebenarnya penjelasan dari keterangan tersebut. Jika benar memiliki arti bahwa manusia dan jin diciptakan adalah untuk beribadah pada Sang Pencipta, lalu mengapa laju kehidupan seolah-olah mengeliminasi keberadaan salah satu makhluk dan merendahkan makhluk lainnya hanya karena memiliki pandangan yang berbeda.

Mengapa seseorang bisa begitu mudah memberikan reaksi untuk sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan mereka. Kenapa bisa seseorang dengan begitu mudahnya ikut mencibir bahkan membenci hanya karena menerima kabar yang bahkan tidak ditangkap oleh mata dan telinga, sendiri. Bagaimana mungkin lisan yang setiap harinya digunakan untuk menyanjung asma Allah bisa dengan mudah menguatkan dan ikut menebar prasangka buruk meski tabayun telah dilakukan. Betapa tidak berimbangnya penghukuman yang dilepas ketika satu kasus yang sama dihadapkan pada dua kasta yang berbeda.

Ah, lagi-lagi tentang pengkelasan. Hasil akhir ragam ujian hidup pun seringnya berujung pada kasta yang sedang menjalaninya. Entah itu romansa, ekonomi, kesehatan, dan dalam catatan sisi miring ini tentu saja cobaan yang berkaitan dengan dunia metafisika.

Mungkin alur kisahku akan sedikit berbeda andai aku terlahir dari keluarga yang berada seperti halnya tetangga dekat rumah yang anaknya tak sepi sanjungan hanya karena satu kejadian. Melihat aktivitas entitas di rumahnya, makhluk kecil botak sedang bermain di anak tangga yang mengarah ke lantai yang digunakan untuk menjemur pakaian. Penglihatan yang kurang lebih sama, yang pernah kusampaikan jauh sebelumnya, tapi mendapat respon berbeda.

Hahaa …. Ternyata dunia metafisika juga menerapkan sistem kasta. Fungsi dan kemampuan Indra keenam seseorang juga harus terlebih dahulu ditimbang lewat jumlah saldo dalam rekening yang bersangkutan. Semakin tinggi status sosialnya maka setiap cerita yang disampaikan akan menguat dengan sendirinya.

Berbanding terbalik dengan peran yang akhirnya kuambil. Tak mengapa disebut menjadi pengikut Khurafat selama aku bisa melewati babak sisi miring ini secepatnya. Menyelipkan sebanyak mungkin jejak di setiap episodenya agar bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan.

Puding kopi yang berampas, sendok goreng tanpa kertas kado, undangan bergambar wayang, pelaminan dengan nuansa hijau-maroon. Gaun biru yang urung kugunakan di hari Istimewa sang kumbang.

Mengutak-atik kisah cinta segi banyak. Bunga pertama yang dilamar oleh kumbang baru yang sebelumnya sempat meminang bunga kedua sementara sang kumbang idola memilih mereguk madu hanya dari kuntum bunga yang membuatnya jatuh hati sejak kecil. Lalu, bunga kedua menikah dengan kumbang pengelana yang baru beberapa kali dijumpainya. Kumbang dengan wajah sama persis seperti yang kulihat dalam mimpi. Sosok yang mendorongku menjauh dari pelaminan bernuansa hijau-maroon.

Mendorongku sampai terjatuh sekali lagi ke dalam kubangan lumpur. Tapi, kali ini aku terjatuh dengan senyuman serta hati seringan kapas.

“Tak mengapa, karena setelah ini aku bisa bebas menari di bawah hujan bunga warna-warni.” 

No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...