“Bojomu iku sejenis mutan,” ujar suamiku saat mencoba menirukan
penjelasan teman lamanya.
Pilkada tahun 2018 menjadi momen reuni dadakan suamiku yang kali
ini didapuk menjadi petugas pemutakhiran data pemilih oleh ketua PPS, setempat.
Mendatangi undangan untuk berkumpul bersama seluruh petugas PPDP se-kota Batu di
Balai Among Tani menjadi pembuka nostalgia, baginya. Bertemu dengan beberapa
teman semasa SMP. Bincang-bincang singkat sepanjang masa pelatihan dan pengambilan
sumpah terus bersambung meski masa pemungutan suara sudah lama berlalu.
Qodarullah. Aku sedang tidak tinggal satu atap dengan suami sejak
pertengahan tahun 2017 dan hanya sesekali saling berkunjung saat rindu sudah
tak lagi dapat dibendung atau pulang ke kampung halaman suami jika ada
keperluan yang tidak bisa dihindari. Memenuhi undangan untuk ikut berpartisipasi
dalam pesta demokrasi, salah satunya.
Harus menahan rasa penasaran pada sosok Chipenk yang diceritakan
suami. Teman SMP yang sudah kembali dari perantauan. Anak laki-laki yang semasa
sekolah terkenal dengan perangainya yang Santai dan slenge’an, suamiku bilang. Meski
tidak banyak yang berubah, tapi kerasnya tanah perantauan telah menguatkan
karakternya.
“Nggak kebayang, Chipenk yang dulu suka ngasal kalo ngomong
sekarang bisa berubah jadi bijaksana. Kata-katanya juga puitis kayak kamu.”
Mungkin kurang lebih seperti itu kalimat yang bisa kurangkai untuk
mempersingkat ulasan suamiku tentang temannya sebelum sampai pada informasi
yang membuatku tak sabar untuk membeli tiket Matarmaja dan kembali menghirup
udara segar kota Batu.
“Yang aku heran. Dia bisa baca kamu, Und. Keterangan yang dia kasih
juga bisa sama persis kayak yang pernah kamu cerita’in.”
Rasa penasaran kian menari, terlebih ketika suami menolak untuk
menjelaskan lebih rinci tentang apa saja yang sudah disampaikan Chipenk terkait
dilemma sisi miring-ku.
“Aku ceritain kalo kamu pulang, aja,” pungkas suami dengan nada
yang sengaja membuatku bertambah penasaran saat mendengarnya.
“Kamu hanya sedang terjebak dengan tulisan-tulisan yang kamu buat,
sendiri. Tersugesti dengan buku-buku yang kamu baca.”
Hasil Analisa konseling dadakan yang kudapat di tahun 2008, kembali
terngiang. Bekerja sebagai buruh setrika di satu rumah yang kepala keluarganya
pernah menjadi salah satu bapak asuh saat mondok, dulu. Salah satu anaknya menjadi
pemenang di ajang MTV VJ Hunt, melihat seluruh keluarga ikut merayakan
kemenangannya turut menumbuhkan optimisme di hati. Keyakinan bahwa segala
peraturan yang mengikat di dalam organisasi bisa dibuat sefleksibel mungkin selama
setiap lakon dijalani demi kelancaran beribadah.
Satu lagi keberuntungan kurasa semenjak melangkahkan kaki ke
lingkungan Bintaro sektor-9. Nyonya rumah ternyata berprofesi sebagai psikolog.
Meski seringnya tak pernah bertatap muka saat datang giliranku untuk bekerja,
tapi dari pertemuan-pertemuan yang sekilas itulah yang berusaha kumanfaatkan
dengan sebaik-baiknya.
Terjebak tulisan yang kubuat. Tersugesti buku-buku yang kubaca. Awalnya,
menulis adalah bentuk upayaku mengikat mimpi-mimpi gelap agar tak sampai
terbawa ke dunia nyata. Bisikan-bisikan, penglihatan yang datang silih berganti
seperti potongan tekateki. Jika ada bagian sugesti, itu adalah saat sengaja mengubah
hal-hal menakutkan menjadi sebuah cerita indah yang utuh.
Seorang hamba diqadar mendapat cobaan dari dua dimensi yang berbeda
tanpa terkena gangguan mental dan semacamnya menjadi rahmat tersendiri ketika
menjalaninya. Tetap bersahabat dengan akal sehat meski tanpa bantuan para ahli yang dapat menjelaskan setiap situasi absurd yang tengah dihadapi. Banyaknya prasangka
buruk yang disematkan tetap tak mampu membandingi jerit malam yang dilalui
dalam kesendirian.
Aku menulis ketika ingat dan membacanya kembali saat lupa.
Buku-buku fiksi yang berdatangan memang membantu menguatkan sugesti yang susah
payah kubangun sejak lama. Mempelajari gaya bertutur dari setiap penulis yang
berbeda. Membayangkan sang penulis saat menghadapi ide cerita terbaru dan
bagaimana cara mereka membangun dan mempertahankan alur sampai di titik
terakhir. Dan bagian yang paling sering kuamati, bagaimana cara mereka menarik
masuk para pembacanya tanpa mempertanyakan alur yang terkadang sulit diterima
logika.
Dari Laskar Pelangi aku dikuatkan dengan keajaiban yang
selama ini kuyakini, bahwa mimpi-mimpi indah yang kita simpan bisa menjadi awal
penghidupan yang cemerlang andai terus bergerak untuk mewujudkannya. Dari novel
Alif aku merasa mendapat teman dalam masa pencarian. Dari Sang Alkemist
pun aku ikut merengkuh barang temuan yang hilang. Belajar memilah suara hati
dan melepas kemelekatan dari diri. Lewat Dunia Sophie aku mendapati sudut
pandangku tidaklah seaneh seperti yang sering disebutkan, perjalanan hidup pun tak
seharusnya tersendat hanya karena perdebatan klasik tentang bumi datar dan
bulat. Entah Hilde atau Sophie yang sedang terperangkap dalam kerangka cerita,
toh, kedua tetap dihadirkan oleh sang penulis sebagai satu kesatuan cerita yang
utuh.
Banyak buku. Dari The Secret sampai Supernova yang
sempat membuatku terobsesi menemukan sosok seperti ibu Sati setelah ruqyah
terakhir, di tahun 2010. Berharap bisa seberuntung Elektra yang mendapat
bimbingan dan arahan.
“Apa jangan-jangan Chipenk itu sosok ibu Sati yang selama ini aku
tunggu, ya, Mas?” Melantur menjawab saat suami bertanya kapan pastinya aku akan
kembali datang mengunjunginya.