Wednesday, June 3, 2026

DI BAWAH HUJAN BUNGA WARNA-WARNI

 

“Bojomu iku sejenis mutan,” ujar suamiku saat mencoba menirukan penjelasan teman lamanya.

Pilkada tahun 2018 menjadi momen reuni dadakan suamiku yang kali ini didapuk menjadi petugas pemutakhiran data pemilih oleh ketua PPS, setempat. Mendatangi undangan untuk berkumpul bersama seluruh petugas PPDP se-kota Batu di Balai Among Tani menjadi pembuka nostalgia, baginya. Bertemu dengan beberapa teman semasa SMP. Bincang-bincang singkat sepanjang masa pelatihan dan pengambilan sumpah terus bersambung meski masa pemungutan suara sudah lama berlalu.

Qodarullah. Aku sedang tidak tinggal satu atap dengan suami sejak pertengahan tahun 2017 dan hanya sesekali saling berkunjung saat rindu sudah tak lagi dapat dibendung atau pulang ke kampung halaman suami jika ada keperluan yang tidak bisa dihindari. Memenuhi undangan untuk ikut berpartisipasi dalam pesta demokrasi, salah satunya.

Harus menahan rasa penasaran pada sosok Chipenk yang diceritakan suami. Teman SMP yang sudah kembali dari perantauan. Anak laki-laki yang semasa sekolah terkenal dengan perangainya yang Santai dan slenge’an, suamiku bilang. Meski tidak banyak yang berubah, tapi kerasnya tanah perantauan telah menguatkan karakternya.

“Nggak kebayang, Chipenk yang dulu suka ngasal kalo ngomong sekarang bisa berubah jadi bijaksana. Kata-katanya juga puitis kayak kamu.”

Mungkin kurang lebih seperti itu kalimat yang bisa kurangkai untuk mempersingkat ulasan suamiku tentang temannya sebelum sampai pada informasi yang membuatku tak sabar untuk membeli tiket Matarmaja dan kembali menghirup udara segar kota Batu.

“Yang aku heran. Dia bisa baca kamu, Und. Keterangan yang dia kasih juga bisa sama persis kayak yang pernah kamu cerita’in.”

Rasa penasaran kian menari, terlebih ketika suami menolak untuk menjelaskan lebih rinci tentang apa saja yang sudah disampaikan Chipenk terkait dilemma sisi miring-ku.

“Aku ceritain kalo kamu pulang, aja,” pungkas suami dengan nada yang sengaja membuatku bertambah penasaran saat mendengarnya.

“Kamu hanya sedang terjebak dengan tulisan-tulisan yang kamu buat, sendiri. Tersugesti dengan buku-buku yang kamu baca.”

Hasil Analisa konseling dadakan yang kudapat di tahun 2008, kembali terngiang. Bekerja sebagai buruh setrika di satu rumah yang kepala keluarganya pernah menjadi salah satu bapak asuh saat mondok, dulu. Salah satu anaknya menjadi pemenang di ajang MTV VJ Hunt, melihat seluruh keluarga ikut merayakan kemenangannya turut menumbuhkan optimisme di hati. Keyakinan bahwa segala peraturan yang mengikat di dalam organisasi bisa dibuat sefleksibel mungkin selama setiap lakon dijalani demi kelancaran beribadah.

Satu lagi keberuntungan kurasa semenjak melangkahkan kaki ke lingkungan Bintaro sektor-9. Nyonya rumah ternyata berprofesi sebagai psikolog. Meski seringnya tak pernah bertatap muka saat datang giliranku untuk bekerja, tapi dari pertemuan-pertemuan yang sekilas itulah yang berusaha kumanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Terjebak tulisan yang kubuat. Tersugesti buku-buku yang kubaca. Awalnya, menulis adalah bentuk upayaku mengikat mimpi-mimpi gelap agar tak sampai terbawa ke dunia nyata. Bisikan-bisikan, penglihatan yang datang silih berganti seperti potongan tekateki. Jika ada bagian sugesti, itu adalah saat sengaja mengubah hal-hal menakutkan menjadi sebuah cerita indah yang utuh.

Seorang hamba diqadar mendapat cobaan dari dua dimensi yang berbeda tanpa terkena gangguan mental dan semacamnya menjadi rahmat tersendiri ketika menjalaninya. Tetap bersahabat dengan akal sehat meski tanpa bantuan para ahli yang dapat menjelaskan setiap situasi absurd yang tengah dihadapi. Banyaknya prasangka buruk yang disematkan tetap tak mampu membandingi jerit malam yang dilalui dalam kesendirian.

Aku menulis ketika ingat dan membacanya kembali saat lupa. Buku-buku fiksi yang berdatangan memang membantu menguatkan sugesti yang susah payah kubangun sejak lama. Mempelajari gaya bertutur dari setiap penulis yang berbeda. Membayangkan sang penulis saat menghadapi ide cerita terbaru dan bagaimana cara mereka membangun dan mempertahankan alur sampai di titik terakhir. Dan bagian yang paling sering kuamati, bagaimana cara mereka menarik masuk para pembacanya tanpa mempertanyakan alur yang terkadang sulit diterima logika.

Dari Laskar Pelangi aku dikuatkan dengan keajaiban yang selama ini kuyakini, bahwa mimpi-mimpi indah yang kita simpan bisa menjadi awal penghidupan yang cemerlang andai terus bergerak untuk mewujudkannya. Dari novel Alif aku merasa mendapat teman dalam masa pencarian. Dari Sang Alkemist pun aku ikut merengkuh barang temuan yang hilang. Belajar memilah suara hati dan melepas kemelekatan dari diri. Lewat Dunia Sophie aku mendapati sudut pandangku tidaklah seaneh seperti yang sering disebutkan, perjalanan hidup pun tak seharusnya tersendat hanya karena perdebatan klasik tentang bumi datar dan bulat. Entah Hilde atau Sophie yang sedang terperangkap dalam kerangka cerita, toh, kedua tetap dihadirkan oleh sang penulis sebagai satu kesatuan cerita yang utuh.

Banyak buku. Dari The Secret sampai Supernova yang sempat membuatku terobsesi menemukan sosok seperti ibu Sati setelah ruqyah terakhir, di tahun 2010. Berharap bisa seberuntung Elektra yang mendapat bimbingan dan arahan.

“Apa jangan-jangan Chipenk itu sosok ibu Sati yang selama ini aku tunggu, ya, Mas?” Melantur menjawab saat suami bertanya kapan pastinya aku akan kembali datang mengunjunginya.

DI BAWAH HUJAN BUNGA WARNA-WARNI

  “Bojomu iku sejenis mutan,” ujar suamiku saat mencoba menirukan penjelasan teman lamanya. Pilkada tahun 2018 menjadi momen reuni dadakan...