Thursday, May 14, 2026

OM WOWO DAN SISIR BESI (MISTERI TUMBAL DAN PATI)


November tahun 2019 kalau aku tidak salah ingat. Err, Catatan Sisi Miring yang memang sengaja kususun bukan dengan konsep buku harian justru membuatku banyak kehilangan detail waktu dan tanggal kejadian. Tapi, tidak apa-apa, biarkan kesalahan ini kujadikan sebagai pembelajaran.

Seharian merasa kurang enak badan membuatku tidur lebih awal, tapi sebelumnya masih sempat ikut berbalas pesan di grup keluarga meski setelahnya aku terlelap tanpa sempat pamit undur diri. Tidak sampai demam tinggi, tapi badan rasanya memang tidak seperti biasa. Aneh, hanya itu kata andalan yang biasa kugunakan untuk menggambarkan apa yang kurasa setiap kali akan bersinggungan dengan sisi miring.

Udara dingin kota wisata Batu terasa semakin menusuk sendi ketika untuk kesekian kalinya dipaksa bertualang tanpa membawa serta raga kasarku. Namun kali ini sedikit berbeda karena tidak ada yang datang menjemput atau berperan sebagai penunjuk jalan. Meski begitu, aku terus saja berjalan seolah-olah kakiku melangkah di luar kemauannya.

Menyusuri jalan dalam heningnya malam. Sejenak memperhatikan sekitar, menghirup udara sejuk pegunungan dan menikmati nuansa khas era ‘80-an yang tersaji di sepanjang perjalanan sambil terus bertanya-tanya dalam hati akan dibawa ke mana aku, kali ini. Tak lama berselang, nampak sebuah kawasan industri tak jauh dari tempatku berdiri. Terlihat banyak orang sibuk lalu-lalang di sana. Satu menara besar yang terlihat begitu mecolok ketika pintu gerbang dibuka lebar segera menarik perhatianku. Seperti cerobong asap karena di bagian bawahnya aku melihat tungku besar penuh bara api. Entah kenapa, sejak tiba di lokasi, pandanganku memang terus tertuju pada menara, itu.

            Lama mengamati satu titik yang sama, fokusku baru teralihkan ketika sebuah kendaraan mewah memasuki kawasan industri. Seorang pria dengan setelan kemeja warna biru muda turun lebih dulu, lalu disusul wanita anggun mengenakan kebaya dengan nuansa warna yang senada menuntun gadis kecil berkepang dua dengan tangan kanannya. Senyumku lantas mengembang menyaksikan pemandangan indah, itu. Bahasa tubuh serta sinar wajah yang terpancar menggambarkan kalau mereka adalah keluarga yang bahagia. Para pekerja yang bergegas menyambut membuatku berpikir kalau mereka adalah pemilik pabrik, tersebut.

Sayangnya, pemandangan indah itu tak berlangsung lama karena salah satu kawan lamaku ikut hadir dalam petualangan, ini. Ya, pusaran angin hitam yang senang mengajakku bercanda itu muncul entah dari mana. Masih dengan tingkah lamanya, segera pasang aksi dengan membuat pusaran tornadonya kian membesar. Terus bergerak dan melumat apa pun yang ada di dekatnya. Salah satu figur tetap dalam lucid dream-ku ini terlihat kian bersemangat saat membuat setiap orang yang ada di lokasi lari tunggang-langgang dan berusaha menyelamatkan diri.

Masih terpaku di tempatku berdiri, tapi tak putus memperhatikan pergerakan angin hitam itu karena terlihat ada yang aneh dengan setiap geraknya. Seakan-akan membuat pola, ia hanya menyasar setiap bangunan yang ada meski bisa menarik masuk orang-orang yang gagal menghindari pusarannya karena saat itu terjadi ia seperti sengaja meliukkan gerakkannya agar tak sampai bersentuhan dengan manusia.

Seperti orang yang sedang mencari sesuatu. Aku pun dibuat penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang ia tuju. Seakan-akan angin hitam itu juga memiliki bola mata dan itu baru kusadari ketika saling beradu pandang setelah tatapan kami tertuju pada satu titik yang sama. Keluarga bahagia, itu.

 “Jangan! Kumohon, jangan ….” Tubuhku menggigil saat akhirnya mengerti misi yang dibawa olehnya.

“Awaas!!! Hati-hati!” Aku lantas menjerit ketika melihat sang ibu berlari mengejar buah hati yang terlepas dari genggaman, sementara suaminya seketika jatuh tersungkur ke tanah.

“Jahat, ya …!” Sekali lagi mengecam tindakan angin hitam, tapi kali ini dengan perasaan hampa.

Membeku seketika ketika dipaksa menyaksikan seorang ibu yang sekuat tenaga melindungi buah hatinya meski hanya dengan dekapan hangat. Keduanya tak lagi berusaha menyelamatkan diri setelah cerobong asap besar yang roboh tersapu angin jatuh menimpa punggung sang ibu.

“Kenapa harus seperti itu? Tidakkah ada jalan lain? Memangnya apa yang akan didapat jika selalu mengaitkan tumbal dengan kematian?” Mencoba mengingkari apa yang baru saja kusaksikan.

Dengan langkah gontai, aku kembali melanjutkan perjalanan. Berusaha mengisi sisa waktu yang ada sambil bertanya-tanya kapan kiranya aku diizinkan untuk terjaga. Kembali menyusuri setiap jalan yang kutemui dan sempat berhenti sejenak di sebuah tempat yang banyak ditumbuhi semak belukar. Terlihat seperti hutan karena rupanya di balik semak belukar itu ditumbuhi pohon-pohon besar, tapi banyak rumah warga di dalamnya. Bangunannya pun terlihat sudah cukup modern begitu juga dengan perabotannya yang kujumpai setelah memasuki beberapa rumah yang pintunya dibiarkan terbuka. Aneh, hunian asri itu dibiarkan terbengkalai begitu saja.

Selesai mengamati desa tak berpenghuni di dalam hutan, aku kembali menyusuri jalan setapak yang ternyata membawaku kembali ke tempat semula. Namun, dengan nuansa yang berbeda. Kembali berdiri di kawasan industri, tapi kali ini para pekerjanya mengenakan seragam rapi.

Mungkin aku tiba saat jam istirahat, karena terlihat sebagian pekerja asyik menikmati bekal yang mereka bawa, sedangkan sebagian yang lain sudah selesai mencuci alat makannya. Tergelitik hati mengikuti setiap kegiatan yang mereka lakukan dan rasa penasaran itu membuatku ikut menyusuri satu gang kecil menuju kamar mandi.

“Tidak mungkin aku dibawa sejauh ini hanya untuk menyaksikan sesuatu yang bukan menjadi urusanku.”

“Lah, elu telor busuk? Ngapain, dah, ndepis di situ?”

Perkenalkan, ini adalah salah satu keponakanku; yang mari kita sebut saja ia dengan julukan semasa kecilnya. Eits, tenang saja … meski panggilannya begitu, tapi sebenarnya dia adalah bunga desa di manapun ia berada.

“Sieun, Bund. Tah, eta … sok meuni malototan wae.” Keponakanku yang cantik menjawab sambil menunjuk ke arah kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka.

Kulihat ada kolam air yang cukup besar di tempat yang ia tunjuk. “Ealah, jauh-jauh dipanggil ke sini cuma buat diliatin beginian, tah? Ayo, ah … bangun. Nggak ada ceritanya, keturunan pak Acang takut sama yang beginian.” Segera kutarik lengannya dan memintanya untuk berdiri di sampingku.

“Akhirnya, kamu datang juga! Coba kita liat, sehebat apa, sih, kamu ini!”

Yang berbicara ini memiliki tubuh tinggi besar yang ditumbuhi rambut lebat dari kepala sampai ujung kaki. Hitam legam, hanya kedua matanya saja yang terlihat merah menyala. Entah memerah karena menahan marah atau tak tahan terkena percikan air sebab tak hentinya mengguyurkan air di kolam ke badannya.

“Maksudnya apa, ya? Terus, kenapa bawa-bawa keponakan aku sega—, o … ngerti aku sekarang kenapa bisa dibawa ke sini ….” Urung melanjutkan pertanyaan karena akhirnya mengerti kenapa aku dipaksa melakukan perjalanan, kembali.

“Hahaa …. Udah pernah dibilang, jangan pernah ikut campur urusan orang! Pilihannya lawan atau keponakan kamu jadi taruhannya!” Sosok itu masih terus membasahi badannya saat melontarkan ancaman.

“Heran, aku. Kenapa selalu dibilang suka ikut campur urusan orang, sih? Lagian, nggak masuk akal, juga, kali. Aku di Jawa, keponakanku tinggal di Majalengka. Terus, gimana caranya aku ikut campur urusan kalian? Ada masalah apa di tempat kerjanya juga aku nggak tahu.”

“Halaah, udah, jangan kebanyakan ngomong!”

Dialog di atas hanya improvisasi untuk menggambarkan keadaan saat itu karena agak sulit menjelaskan yang terjadi selanjutnya dengan kata-kata. Satu-satunya yang bisa kusampaikan tanpa kesulitan hanyalah bagian di mana kenalan baruku ini tetap sibuk dengan gayung berisi air di tangannya, juga mata merahnya yang semakin menyala saat aku terus membaca doa. Yups, satu-satunya senjata yang kupunya saat diajak bertualang ke dimensi lain hanyalah doa.

Fun fact, entah para pembacaku butuh tahu atau tidak, tapi jujur … aku ini aslinya penakut tapi gengsi untuk mengakuinya. Jadi, seringnya aku menggunakan jalan ninja yang pernah dicontohkan bapak semasa hidupnya agar terlihat seperti orang yang pemberani.

“Nyang begituan jangan ditanggepin serius. Bawa becanda, entar juga dia malu ati sendiri,” tutur almarhum saat mengetahui bahwa aku juga bisa merasakan keberadaan makhluk astral sepertinya.

“Hadapi sisi miring dengan otak yang sedikit lebih miring dari biasanya.” Hahaa … saran unik, tapi terbukti cukup efektif.

Segera teringat dengan kejadian pocong sanggul Sailormoon, aku memilih menyudahi membaca doa dan mencoba mengikuti ilham baik yang terselip di hati. Ya, mengapa tidak mencoba untuk melawan klenik dengan logika. Lalu, sebisa mungkin menyelaraskan akal dan hati dengan memperhatikan lebih teliti sosok yang sedang memaksa adu kesaktian. Senyum kemenangan pun kugurat lebih awal setelah berhasil menemukan apa yang bisa mendatangkan keuntungan lebih cepat bagiku.

“Udah, lah. Capek. Terserah, dah, Situ mau ngapain, tapi awas aja kalo sampe berani ngeganggu keponakan Ane. Awas, ya, nanti Ane sisir tuh rambut Ente yang berantakan sampe rapih, kalo perlu direbonding sampe lurus biar tau rasa. Mau?!” kubilang sambil mengacungkan sisir besi yang tiba-tiba saja ada dalam genggaman. “Udah, Egg. Kalo kerja bawa sisir, aja. Kalo dia masih usil juga, suruh nginget-nginget pesen aku,” kubilang sambil menyerahkan sisir besi tersebut pada keponakanku.

Hahaa … serem-serem lucu. Sosok berbulu yang semula terlihat gahar mendadak bertingkah seperti anak kucing yang takut tersiram air. Tanpa diminta, makhluk itu segera menutup pintu kamar mandi dan aku pun kembali pada rumah jiwaku. 

No comments:

Post a Comment

CINTA MATI(6)

  [Sini, liat my baby. Namanya Orlin.] Pesan singkat yang dikirim sahabatku lewat messenger setelah lewat dua belas hari pasca melahirkan ...