November tahun 2019 kalau aku tidak salah ingat. Err, Catatan Sisi
Miring yang memang sengaja kususun bukan dengan konsep buku harian justru
membuatku banyak kehilangan detail waktu dan tanggal kejadian. Tapi, tidak
apa-apa, biarkan kesalahan ini kujadikan sebagai pembelajaran.
Seharian merasa kurang enak badan membuatku tidur lebih awal, tapi
sebelumnya masih sempat ikut berbalas pesan di grup keluarga meski setelahnya
aku terlelap tanpa sempat pamit undur diri. Tidak sampai demam tinggi, tapi
badan rasanya memang tidak seperti biasa. Aneh, hanya itu kata andalan yang
biasa kugunakan untuk menggambarkan apa yang kurasa setiap kali akan bersinggungan
dengan sisi miring.
Udara dingin kota wisata Batu terasa semakin menusuk sendi ketika
untuk kesekian kalinya dipaksa bertualang tanpa membawa serta raga kasarku. Namun
kali ini sedikit berbeda karena tidak ada yang datang menjemput atau berperan
sebagai penunjuk jalan. Meski begitu, aku terus saja berjalan seolah-olah
kakiku melangkah di luar kemauannya.
Menyusuri jalan dalam heningnya malam. Sejenak memperhatikan
sekitar, menghirup udara sejuk pegunungan dan menikmati nuansa khas era ‘80-an
yang tersaji di sepanjang perjalanan sambil terus bertanya-tanya dalam hati
akan dibawa ke mana aku, kali ini. Tak lama berselang, nampak sebuah kawasan industri
tak jauh dari tempatku berdiri. Terlihat banyak orang sibuk lalu-lalang di
sana. Satu menara besar yang terlihat begitu mecolok ketika pintu gerbang
dibuka lebar segera menarik perhatianku. Seperti cerobong asap karena di bagian
bawahnya aku melihat tungku besar penuh bara api. Entah kenapa, sejak tiba di
lokasi, pandanganku memang terus tertuju pada menara, itu.
Lama mengamati
satu titik yang sama, fokusku baru teralihkan ketika sebuah kendaraan mewah
memasuki kawasan industri. Seorang pria dengan setelan kemeja warna biru muda turun
lebih dulu, lalu disusul wanita anggun mengenakan kebaya dengan nuansa warna
yang senada menuntun gadis kecil berkepang dua dengan tangan kanannya. Senyumku
lantas mengembang menyaksikan pemandangan indah, itu. Bahasa tubuh serta sinar
wajah yang terpancar menggambarkan kalau mereka adalah keluarga yang bahagia. Para
pekerja yang bergegas menyambut membuatku berpikir kalau mereka adalah pemilik
pabrik, tersebut.
Sayangnya, pemandangan indah itu tak berlangsung lama karena salah
satu kawan lamaku ikut hadir dalam petualangan, ini. Ya, pusaran angin hitam yang
senang mengajakku bercanda itu muncul entah dari mana. Masih dengan tingkah
lamanya, segera pasang aksi dengan membuat pusaran tornadonya kian membesar. Terus
bergerak dan melumat apa pun yang ada di dekatnya. Salah satu figur tetap dalam
lucid dream-ku ini terlihat kian bersemangat saat membuat setiap orang yang ada
di lokasi lari tunggang-langgang dan berusaha menyelamatkan diri.
Masih terpaku di tempatku berdiri, tapi tak putus memperhatikan pergerakan
angin hitam itu karena terlihat ada yang aneh dengan setiap geraknya. Seakan-akan
membuat pola, ia hanya menyasar setiap bangunan yang ada meski bisa menarik
masuk orang-orang yang gagal menghindari pusarannya karena saat itu terjadi ia seperti
sengaja meliukkan gerakkannya agar tak sampai bersentuhan dengan manusia.
Seperti orang yang sedang mencari sesuatu. Aku pun dibuat penasaran
dengan apa yang sebenarnya sedang ia tuju. Seakan-akan angin hitam itu juga
memiliki bola mata dan itu baru kusadari ketika saling beradu pandang setelah
tatapan kami tertuju pada satu titik yang sama. Keluarga bahagia, itu.
“Jangan! Kumohon, jangan ….”
Tubuhku menggigil saat akhirnya mengerti misi yang dibawa olehnya.
“Awaas!!! Hati-hati!” Aku lantas menjerit ketika melihat sang ibu berlari
mengejar buah hati yang terlepas dari genggaman, sementara suaminya seketika jatuh
tersungkur ke tanah.
“Jahat, ya …!” Sekali lagi mengecam tindakan angin hitam, tapi kali
ini dengan perasaan hampa.
Membeku seketika ketika dipaksa menyaksikan seorang ibu yang sekuat
tenaga melindungi buah hatinya meski hanya dengan dekapan hangat. Keduanya tak
lagi berusaha menyelamatkan diri setelah cerobong asap besar yang roboh tersapu
angin jatuh menimpa punggung sang ibu.
“Kenapa harus seperti itu? Tidakkah ada jalan lain? Memangnya apa
yang akan didapat jika selalu mengaitkan tumbal dengan kematian?” Mencoba mengingkari apa yang baru saja kusaksikan.
Dengan langkah gontai, aku kembali melanjutkan perjalanan. Berusaha
mengisi sisa waktu yang ada sambil bertanya-tanya kapan kiranya aku diizinkan
untuk terjaga. Kembali menyusuri setiap jalan yang kutemui dan sempat berhenti
sejenak di sebuah tempat yang banyak ditumbuhi semak belukar. Terlihat seperti
hutan karena rupanya di balik semak belukar itu ditumbuhi pohon-pohon besar,
tapi banyak rumah warga di dalamnya. Bangunannya pun terlihat sudah cukup modern
begitu juga dengan perabotannya yang kujumpai setelah memasuki beberapa rumah
yang pintunya dibiarkan terbuka. Aneh, hunian asri itu dibiarkan terbengkalai begitu
saja.
Selesai mengamati desa tak berpenghuni di dalam hutan, aku kembali
menyusuri jalan setapak yang ternyata membawaku kembali ke tempat semula.
Namun, dengan nuansa yang berbeda. Kembali berdiri di kawasan industri, tapi kali
ini para pekerjanya mengenakan seragam rapi.
Mungkin aku tiba saat jam istirahat, karena terlihat sebagian pekerja
asyik menikmati bekal yang mereka bawa, sedangkan sebagian yang lain sudah
selesai mencuci alat makannya. Tergelitik hati mengikuti setiap kegiatan yang
mereka lakukan dan rasa penasaran itu membuatku ikut menyusuri satu gang kecil
menuju kamar mandi.
“Tidak mungkin aku dibawa sejauh ini hanya untuk menyaksikan
sesuatu yang bukan menjadi urusanku.”
“Lah, elu telor busuk? Ngapain, dah, ndepis di situ?”
Perkenalkan, ini adalah salah satu keponakanku; yang mari kita
sebut saja ia dengan julukan semasa kecilnya. Eits, tenang saja … meski
panggilannya begitu, tapi sebenarnya dia adalah bunga desa di manapun ia
berada.
“Sieun, Bund. Tah, eta … sok meuni malototan wae.” Keponakanku yang
cantik menjawab sambil menunjuk ke arah kamar mandi yang pintunya sedikit
terbuka.
Kulihat ada kolam air yang cukup besar di tempat yang ia tunjuk. “Ealah,
jauh-jauh dipanggil ke sini cuma buat diliatin beginian, tah? Ayo, ah … bangun.
Nggak ada ceritanya, keturunan pak Acang takut sama yang beginian.” Segera kutarik
lengannya dan memintanya untuk berdiri di sampingku.
“Akhirnya, kamu datang juga! Coba kita liat, sehebat apa, sih, kamu
ini!”
Yang berbicara ini memiliki tubuh tinggi besar yang ditumbuhi
rambut lebat dari kepala sampai ujung kaki. Hitam legam, hanya kedua matanya saja
yang terlihat merah menyala. Entah memerah karena menahan marah atau tak tahan
terkena percikan air sebab tak hentinya mengguyurkan air di kolam ke badannya.
“Maksudnya apa, ya? Terus, kenapa bawa-bawa keponakan aku sega—, o
… ngerti aku sekarang kenapa bisa dibawa ke sini ….” Urung melanjutkan
pertanyaan karena akhirnya mengerti kenapa aku dipaksa melakukan perjalanan,
kembali.
“Hahaa …. Udah pernah dibilang, jangan pernah ikut campur urusan orang!
Pilihannya lawan atau keponakan kamu jadi taruhannya!” Sosok itu masih terus
membasahi badannya saat melontarkan ancaman.
“Heran, aku. Kenapa selalu dibilang suka ikut campur urusan orang,
sih? Lagian, nggak masuk akal, juga, kali. Aku di Jawa, keponakanku tinggal di
Majalengka. Terus, gimana caranya aku ikut campur urusan kalian? Ada masalah
apa di tempat kerjanya juga aku nggak tahu.”
“Halaah, udah, jangan kebanyakan ngomong!”
Dialog di atas hanya improvisasi untuk menggambarkan keadaan saat
itu karena agak sulit menjelaskan yang terjadi selanjutnya dengan kata-kata. Satu-satunya
yang bisa kusampaikan tanpa kesulitan hanyalah bagian di mana kenalan baruku
ini tetap sibuk dengan gayung berisi air di tangannya, juga mata merahnya yang
semakin menyala saat aku terus membaca doa. Yups, satu-satunya senjata yang kupunya
saat diajak bertualang ke dimensi lain hanyalah doa.
Fun fact, entah para pembacaku butuh tahu atau tidak, tapi jujur …
aku ini aslinya penakut tapi gengsi untuk mengakuinya. Jadi, seringnya aku
menggunakan jalan ninja yang pernah dicontohkan bapak semasa hidupnya agar
terlihat seperti orang yang pemberani.
“Nyang begituan jangan ditanggepin serius. Bawa becanda, entar juga
dia malu ati sendiri,” tutur almarhum saat mengetahui bahwa aku juga bisa merasakan
keberadaan makhluk astral sepertinya.
“Hadapi sisi miring dengan otak yang sedikit lebih miring dari
biasanya.” Hahaa … saran unik, tapi terbukti cukup efektif.
Segera teringat dengan kejadian pocong sanggul Sailormoon, aku
memilih menyudahi membaca doa dan mencoba mengikuti ilham baik yang terselip di
hati. Ya, mengapa tidak mencoba untuk melawan klenik dengan logika. Lalu, sebisa
mungkin menyelaraskan akal dan hati dengan memperhatikan lebih teliti sosok
yang sedang memaksa adu kesaktian. Senyum kemenangan pun kugurat lebih awal
setelah berhasil menemukan apa yang bisa mendatangkan keuntungan lebih cepat bagiku.
“Udah, lah. Capek. Terserah, dah, Situ mau ngapain, tapi awas aja
kalo sampe berani ngeganggu keponakan Ane. Awas, ya, nanti Ane sisir tuh rambut
Ente yang berantakan sampe rapih, kalo perlu direbonding sampe lurus biar tau
rasa. Mau?!” kubilang sambil mengacungkan sisir besi yang tiba-tiba saja ada
dalam genggaman. “Udah, Egg. Kalo kerja bawa sisir, aja. Kalo dia masih usil juga,
suruh nginget-nginget pesen aku,” kubilang sambil menyerahkan sisir besi tersebut
pada keponakanku.
Hahaa … serem-serem lucu. Sosok berbulu yang semula terlihat gahar mendadak bertingkah seperti anak kucing yang takut tersiram air. Tanpa diminta, makhluk itu segera menutup pintu kamar mandi dan aku pun kembali pada rumah jiwaku.
No comments:
Post a Comment